DARI HATI

DARI HATI
Kita Akan Selalu Bersama


__ADS_3

Saat Clara tengah menemani Audira bermain di kamarnya, tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Clara pun menelpon Bryan yang kala itu sedang berada di kantor. Tak lama kemudian Bryan pun datang. Bryan menghampiri Clara yang meringis kesakitan dia melihat air ketuban mulai mengalir di kaki Clara dan membasahi lantai rumahnya. Bryan pun langsung menggendong Clara masuk ke mobil untuk segera membawanya menuju rumah sakit.


"Bi, tolong jaga Audira..." kata Bryan pada asisten rumah tangganya.


"Baik tuan..." ujarnya.


"Di, perutku sakit sekali, cepatlah..." Clara tak henti merengek kesakitan.


"Sabar sayang, sebentar lagi sampai, tenanglah Ara semua akan baik-baik saja..." Bryan pun menambah kecepatan mobilnya agar dia cepat sampai kerumah sakit.


Tak menunggu waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Clara langsung dibawa masuk ke ruang bersalin. Bryan juga ikut masuk untuk mendampingi istrinya berjuang disana melahirkan penerusnya. Clara terus menangis, merengek kesakitan menahan sakit yang luar biasa. Hanya wanita lah yang mampu melewati semua ini, Bryan bisa melihat dengan jelas perjuangan sang istri melahirkan anaknya mempertaruhkan antara hidup dan mati. Hingga tanpa sadar Bryan tak kuasa membendung air matanya saat melihat istrinya kesakitan.


"Didi, aku gak kuat, sakit Diii..." rengek Clara menangis kesakitan, dia terus mencengkram lengan Bryan. Rasanya Clara ingin menyerah, namun Bryan terus memberi semangat untuk istrinya yang putus asa itu.


"Kamu harus kuat sayang, bertahanlah jangan menyerah, demi anak kita dan demi aku, kita akan bersama-sama merawat dan membesarkan mereka kelak, aku yakin kamu pasti bisa sayang..." bisik Bryan ketelinga Clara, Bryan menggenggam erat tangan istrinya. Clara pun semakin semangat.


Tak lama akhirnya terdengar suara tangisan bayi memecah seisi ruangan tersebut. Tubuh Clara melemas sedikit bisa bernafas lega. Clara melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Hanya berselang 10 menit Clara kembali mengalami kontraksi, dia akan melahirkan lagi. Dan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan pun terlahir.


Akhirnya Clara bisa bernafas dengan lega. Melahirkan secara normal, bayi kembarnya sangat tampan dan cantik, sehat dan sempurna tanpa kekurangan apapun. Setelah bayi itu dimandikan 1 orang dokter dan 2 orang perawat menghampiri Bryan dan Clara.


"Nona Clara, bayi sangat sehat, cantik dan juga tampan seperti papanya." kata dokter. Perawat-perawat itu pun mengalihkan gendongannya membaringkan 2 bayi kembar itu disisi Clara. Clara dan Bryan memandang bayinya dengan perasaan penuh haru.


"Didi... anak kita, Di..." lirihnya. air mata bahagia mengalir dari kedua sudut matanya.


"Iya sayang, mereka sangat imut..." Bryan menyeka air mata istrinya dan mencium keningnya.


"Mereka kecil dan juga imut-imut, Didi aku sangat bahagia." tutur Clara begitu gemes menyentuh wajah sang buah hati yang masih sangat sensitif itu.


"Mereka persis sepertiku, terima kasih Ara kamu sudah mempertaruhkan hidupmu demi melahirkan penerusku." tutur Bryan dengan mata berkaca-kaca.


"Cepatlah kamu namai anak kita, Di." kata Clara.


"Seperti janjiku, aku akan menamai anak kita, untuk putraku ini dia aku beri nama Khanza Adipati Mirza kelak dia harus dermawan dan bijaksana sepertiku, dan untuk putriku ini aku beri nama Keysara Adipati Mirza kelak dia harus menjadi wanita yang kuat dan tangguh seperti ibunya." tutur Bryan kemudian mengecup bayinya.


"Aku mencintaimu Di..." tutur Clara.


"Aku juga sangat mencintaimu Ara, tidak akan pernah aku menyia-nyiakanmu sampai Tuhan memanggilku, aku mencintaimu sampai kapanpun akan selalu seperti itu." Bryan memeluk Clara dan mencium keningnya.


"Aku juga sangat mencintaimu." ucap Clara sangat terharu.


Akhirnya tiada lagi penganggu dalam rumah tangga mereka. Angelica sudah tiada, dan lambat laon Wulan menyesali kesalahannya dia pun mengikhlaskan Clara dan Bryan bahagia, untuk menebus kesalahannya dia pun harus meringkuk sendirian dibawah minimnya cahaya lampu dalam penjara.


1 Tahun Kemudian


Bryan dan Clara sedang merayakan anniversary mereka yang ke 2 tahun. Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya mereka bisa mengecap kebahagiaan dalam membina rumah tangga, yang memang seharusnya mereka rasakan karna mereka saling mencintai satu sama lain.


"Happy anniversary sayang, terima kasih untuk segalanya Ara, jangan pernah bosan melewati suka duka kehidupan bersamaku, semoga kita selalu bersama sampai akhir usia kita." kata Bryan lalu mencium kening Clara.


"Terima kasih juga untuk semuanya Didi, kamu sungguh suami yang luar biasa..." jawab Clara tersenyum dan memeluk suaminya.


"Selamat hari jadi pernikahan, sayang, restu kami selalu menyertai kalian..." ujar kedua orang tua Clara yang datang tanpa sepengetahuan mereka, lalu mencium kening Bryan dan Clara.


"Terima kasih pa, ma." kata Bryan dan Clara serentak.

__ADS_1


Suara tangisan si kembar Khanza dan Keysara pun terdengar, Clara langsung bergegas ke kamar untuk menenangkan putra dan putri kecilnya itu yang merengek untuk minum ASI. Cukup ribet karna pada saat bayi kembar itu menangis secara serentak Clara kualahan bingung harus menenangkan mereka satu persatu, tapi sepertinya Clara sudah terbiasa menanganinya. Saat si kembar mulai tenang dan tertidur kembali Clara menempatkan mereka kembali ditempat tidur bayi yang sudah dibuat khusus untuk bayi kembarnya. Clara, wanita yang tangguh dan juga mandiri, dia bisa mengurus keluarganya sendiri meski kadang sedikit kualahan karna harus mengurus 4 orang anak sekaligus, ya satunya lagi si bayi besar Bryan yang sangat manja itu.


Bryan sedari tadi berbaring ditempat tidur hanya menatap istrinya yang sedang menyusui buah hati mereka.


"Didi, dari pada kamu hanya memandangku, lebih baik kamu jemput Audira sebentar lagi dia pulang tuh." ujar Clara.


Audira sekarang sudah mulai bersekolah meski masih TK, dia anak yang pintar dan cepat tanggap.


"Sebentar sayang, apa Khanza dan Keysara sudah tertidur?" tanya Bryan.


"Sudah Di, siapa dulu mamanya..." sahut Clara menebar senyuman mendekati suaminya.


"Ara, boleh gak aku minta yang ke dua?" kata Bryan memeluk istrinya.


"Apa, kamu ingin punya istri ke dua..." dengus Clara menepis wajahnya.


"Maksudku anak, anak nomor duaaa..." rengek Bryan.


"Emmm... anak nomor 2 yaaa, kita sudah punya tiga baby, sayang..."


"Boleh ya Araaa, Arakuuu boleh gak ni?" bujuk Bryan mulai merayapkan tangannya ditubuh sang istri.


"Didiii... jangan menggodaku ah..." pipi Clara merona lalu dia berlari keluar dari kamar karna merasa malu, sedangkan Bryan tersenyum melihat tingkah istrinya.


Esok Harinya


Pagi hari Clara terbangun mendapati suaminya tidak ada disampingnya dan si kembar juga tidak ada di tempat tidur bayi. Clara pikir Bryan berada dikamar Audira, namun saat Clara tiba di sana Audira juga tidak ada di kamarnya.


Akhirnya Clara bisa bernafas lega setelah melihat suami dan anak-anaknya sedang memasak di dapur, Audira duduk disamping adik kembarnya, dia juga sudah rapi dengan seragam sekolahnya sedangkan si kembar berada di dalam kursi roda bayi.


"Sedang apa Di???" suara Clara membuat Bryan menyadari kehadiran istrinya.


"Ara, kapan kamu bangun sayang?" Tanya Bryan tersenyum sambil memasak nasi goreng.


"Baru aja Di." kata Clara menepiskan senyuman dan menghampiri Bryan.


"Didi, biar aku aja yang lanjutin masaknya." ujar Clara.


"Ara duduk aja, Ara pasti lelah setiap hari mengurus kami, sekarang biarkan aku sekali-sekali masak untuk anak dan istriku..." ujarnya membuat Clara tersipu dan dia pun duduk bersama buah hatinya sambil menunggu sang suami memasak.


Clara mencium buah hatinya satu persatu, dilihatnya bayi kembarnya juga sudah mandi.


"Didi, apa kamu yang melakukan semua ini?" tanya Clara.


"Iyaa sayang, aku ini hebat bukan? suami yang serba bisa." kata Bryan terkekeh.


"Dasarrr Didi, aku akui kamu sempurna sayang." Clara mengacungkan 2 jempolnya.


Clara pun mengambil kotak makanan menyiapkan roti bakar yang sudah diolesi selai strawberry kesukaan Audira, lalu menyimpannya ke ransel Audira.


"Dira, sekolah yang benar ya nak jangan nakal." ucap Clara.


"Iya ma, pa, Audira berangkat sekolah dulu ya." ujarnya sembari menyalami mama dan papanya, tak lupa Clara dan Bryan selalu menciumnya sebelum dia berangkat kesekolah.

__ADS_1


*****


"Ara, aku jemput Audira ke sekolah sebentar." teriak Bryan.


"Iya Di, jangan lupa ya belanja ke super market keperluan dapur sudah menipis." sahut Clara dengan berteriak karna dia berada dikamar habis memandikan si kembar, sedangkan Bryan berada di ruang tamu.


"Dasar istriku sekarang aku harus menjadi asistennya." Bryan terkekeh karna dia harus belanja sesuai perintah istrinya, tapi Bryan senang bisa membantu istrinya selama dia cuti dari kantor, Bryan ingin menghabiskan wkatu senggangnya hanya untuk bersama keluarganya.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti dipekarangan rumahnya. Ternyata Riko dan Kathryn yang datang mereka juga bersama Audira.


"Riko, Kathryn," sapa Bryan yang tadinya hendak menjemput Audira tapi ternyata Riko dan Kathryn sudah membawa Audira pulang.


"Maaf ya kak, kami sengaja jemput Audira sekalian mau mampir kemari." ujar Kathryn.


"Kak Clara dimana, kak?" tanya Kathryn.


"Ada, mari masuklah..." Bryan mempersilakan mereka masuk.


"Sayang, kemarilah ada Riko dan Kathryn datang." teriak Bryan.


"Iya Didi, tunggu sebentar."


Clara dan anak kembarnya pun keluar dari kamar, menuju ruang tamu.


"Kakak, aku sangat merindukanmu." sapa Kathryn memeluk Clara.


"Loh, Audira kalian yang jemput Kath?"


"Hehe iya kak, kebetulan pengen mampir kemari."


"Aduhhh lucunya, kak aku jadi pengen cepat-cepat punya baby..." ujar Kathryn memegang pipi Khanza dan Keysara.


"Kakak, boleh Kath gendong Keysara..." pinta Kathryn.


"Aku juga donk kakak ipar, aku gendong Khanza..." pinta Riko.


"Tentu saja boleh..." Riko dan Kathryn pun mengambil si kembar dari roda bayi dan menggendongnya.


Mereka pun berbincang-bincang, Bryan dan Riko membahas bisnis sedangkan Clara dan Kathryn bicara masalah pernikahan.


"Kak, aku dan Riko kemari sebenarnya mau memberikan undangan ini untuk kalian..." ujar Kathryn sembari mengeluarkan undangan pernikahannya memberikan pada Clara.


"Ya ampun kalian berdua akan menikah." kata Clara tak menyangka karna dia tidak tau kalau Riko dan Kathryn sudah sangat dekat sampai sudah merencanakan pernikahan.


"Boss, kalian merestui hubunganku dengan Kathryn kan?" tanya Riko, karna hanya Bryan lah satu-satunya keluarga yang dia miliki makanya dia meminga restu padanya.


"Akhirnya kamu menikah juga, pilihanmu ini sudah sangat tepat Rik, selamat ya adikku, aku pasti merestuinya..." Bryan memeluk Riko, Riko sangat bahagia bisa memiliki boss sekaligus sudah dianggap sebagai saudaranya.


Tiba-tiba saat berbincang-bincang Bryan merasakan sakit diperutnya, dia mual ingin muntah. Dia pun langsung permisi ke kamar mandi.


Saat di kamar mandi Bryan malah memuntahkan cairan merah yang cukup banyak, seketika itu tubuhnya lemas dan langsung pucat.


"Apa sudah separah ini..." gumam Bryan, matanya berkaca-kaca dia takut hidupnya akan berakhir sedangkan dia masih punya tanggung jawab yang harus dibahagiakannya.

__ADS_1


"Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat..." ucapnya sembari mengelap wajahnya dengan tissue menghapus noda darah dari bibirnya dan mulai menuju ruang tamu lagi.


__ADS_2