DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 95


__ADS_3

Bryan keluar dari UGD melihat Clara tertidur dikursi tunggu bersama Audira dalam dekapannya yang juga ikut tidur. Bryan menghampirinya dan duduk disisi Clara.


"Aku sangat mencintaimu, Clara." Hanya itu yang sanggup Bryan ucapkan saat memandang wajah Clara yang terlihat lelah dengan masalah yang sedang dihadapinya.


Kemudian Bryan mengambil cincin dalam saku celananya yang diberikan oleh bi Susan. Bryan kembali melihat Clara sambil sesekali melihat cincin ditangannya.


"Bagaimana mungkin aku melamarmu saat cinta kita tidak mendapat restu dari papa dan mamamu..." Batin Bryan terlihat sedih tapi tidak putus asa.


Tak lama kemudian Clara terbangun dari tidurnya dan sedikit kaget melihat Bryan sudah duduk disampingnya, sedangkan Bryan kaget dan langsung memasukkan cincinnya kedalam saku lagi.


"Waktu jenguknya sudah habis ya?" Tanya Clara.


"Ayo kita pulang dulu." Ucap Bryan tanpa menjawab.


"Aku tidak mau, aku akan selalu disini memastikan kondisi ibu sampai benar-benar pulih."


"Baiklah aku juga akan berada disini menemanimu."


"Besokkan kamu harus kerja, kamu pulang saja ya Bryan."


"Aku tidak akan kemana-mana, aku juga akan berada disini sampai bibi benar-benar pulih, dan pekerjaan aku sudah menyuruh Riko untuk menghandlenya."


Bryan langsung merangkul Clara menyandarkan kepala Clara didadanya yang bidang.


"Apa kamu akan tidur lagi?" Tanya Bryan.


"Sekarang rasa kantukku sudah hilang karna kamu ada disini."


"Dasar!!!" Ucap Bryan sambil mengelus rambut Clara.


"Oo iya tapi Audira tidak mungkin dia harus tidur dalam posisi seperti ini terus."


"Ya sudah aku antar kamu dan Dira pulang ya! Nanti biar aku yang menemani bi Susan disini, besok pagi aku akan menjemputmu untuk datang kemari lagi."


"Kamu serius?"


"Iya sayang, kasian Dira kan harus tidur dirumah sakit seperti ini."


"Baiklah Tuanku." Ucap Clara menolehkan kepalanya memandang Bryan.


Esok Hari


Clara terlihat sudah duduk disamping bi Susan sambil menyuapi bi Susan bubur sedangkan Bryan duduk disamping Clara sambil memperhatikan mereka berdua. Bryan bahagia bisa mempertemukan anak dan ibu yang sudah puluhan tahun lamanya terpisah.


"Nak, ibu senang melihat kalian bersama sepeti sekarang." Ucap bi Susan, Bryan dan Clara tersenyum malu-malu.


"Kapan kalian akan menikah? Apa harus menunggu ibu tiada dulu baru kalian akan menikah?" Lanjutnya dengan sedikit omelan.


Belum sempat Bryan menjawabnya tiba-tiba bi Susan batuk mengeluarkan darah secara bersamaan hidungnya juga mengeluarkan darah membuat mereka panik dan Bryan keluar mencari dokter.


Dokter yang akan menangani bi Susan meminta agar Clara dan Bryan untuk keluar.


Namun Clara menolak dia ingin menemani ibunya tapi sesuai peraturan pengunjung memang harus keluar saat dokter akan menangani kasus darurat jadi dengan sangat terpaksa Bryan pelan-pelan menyeret Clara keluar.


1 Jam Kemudian


Dokter keluar dari ruangan.


"Pak Bryan dan bu Clara ikut saya keruangan saya." Ucap sang dokter.


*****


"Sampai sekarang kita belum menemukan pendonor sumsum tulang belakang yang cocok dengan pasien, dengan sangat menyesal kami harus mengatakan kami menyerah menangani pasien, tidak ada harapan lagi untuk pasien bisa sembuh." Jelas dokter, Bryan dan Clara sangat kaget mendengarnya.


"Dok, dokter tidak bisa menyerah begitu saja, tolong dok selamatkan beliau." Rintih Bryan.


"Kita hanya bisa pasrah kepada Tuhan, kami hanya seorang dokter pak, kemampuan kami semua atas kehendaknya."


Bryan benar-benar menyesal tidak bisa menyembuhkan penyakit yang diderita oleh bi Susan.


"Dok, saya putri beliau, saya siap menjadi pendonor untuk ibu saya." Ucap Clara.

__ADS_1


"Kamu serius Clara?" Tanya Bryan pelan.


"Aku akan melakukan apapun demi ibu." Jawab Clara.


"Dok, cepatlah lakukan pemeriksaan kepada saya, saya yakin hasilnya akan cocok."


Setelah melakukan tes pemeriksaan ternyata hasilnya benar-benar cocok. Bryan dan Clara pun merasa lega dan senang, apa lagi Clara dia benar-benar berharap setelah melakukan operasi transpalasi sumsum tulang belakang ibunya pasti sembuh.


"Kita akan melakukan operasi malam ini juga, bu Clara siap?" Ucap dokter.


"Sangat siap dok." Jawab Clara penuh semangat ditambah ada Bryan yang selalu memberinya dukungan dan semangat.


Detik-detik sebelum melakukan operasi


"Sayang, doakan ya semoga operasi kami berjalan lancar." Ucap Clara.


"Iya sayang aku selalu berdoa yang terbaik untukmu dan juga bibi, semangat sayang." Ucap Bryan kemudian mencium kening Clara.


Akhirnya Clara dan bi Susan pun digiring masuk ke ruang operasi. Sedangkan Bryan tegang karna harus menunggu operasi yang akan memakan banyak waktu, Bryan tidak bisa tenang sebelum mendengar hasil opersinya.


Riko pun datang untuk menemui Bryan memberi Bryan semangat.


Tiba-tiba Bryan kesakitan lagi dibagian bahunya. Kali ini Bryan sangat kesakitan sampai berguling-guling di lantai, Riko benar-benar panik sambil berteriak memanggil dokter saat dokter sampai Bryan malah pingsan dan menambah kecemasan bagi Riko.


Bryan langsung mendapat penanganan medis diruang UGD. Riko setia menunggu diluar ruangan dengan rasa khawatir.


Beberapa menit kemudian keluarlah seorang dokter.


"Dok, apa yang terjadi pada teman saya?"


"Pasien mengalami infeksi yang sangat parah, infeksinya sudah mempengaruhi proses produksi sel darah marah, kenapa kalian baru membawanya sekarang? Peluru yang ada di bahu kanannya itu bisa membahayakan nyawanya." Ucap dokter panjang lebar.


"Sekarang apa yang bisa dilakukan dok, tolong selamatkan teman saya dok, dia akan menikah sekarang calon istri dan calon mertuanya sedang mempertaruhkan hidup dan mati mereka, tolong teman saya juga dok, saya tidak ingin terjadi apapun padanya."


"Tenanglah pak! Kami akan melakukan operasi pengangkatan peluru, semoga dengan dikeluarkannya peluru itu infeksi lukanya juga berangsung-angsur sembuh."


"Iya dok, lakukan saja yang terbaik selamatkan dia dok."


"Kami akan melakukannya semaksimal mungkin."


"Dok bagaimana operasinya, semua berjalan lancarkan?" Tanya Riko.


"Semua berjalan lancar pak, tapi pasien dan si pendonor masih belum sadarkan diri."


"Kapan mereka akan sadar dok?"


"Besok atau dalam waktu 24 jam mereka akan segera sadar."


"Baiklah dok, terima kasih."


Riko merasa lega setelah tau operasi Clara dan bi Susan berjalan dengan lancar. Akan tetapi Riko sedih sekarang Bryan sedang kritis, Riko hanya bisa berharap Tuhan memberi keajaiban untuk temannya itu.


Tak lama kemudian Kusuma dan Adinda orang tua angkat Clara datang ke rumah sakit untuk menemui Clara dan Susan. Mereka bertemu Riko yang sedang duduk di depan ruangan dimana bi Susan dan Clara dirawat.


"Bagaimana anak saya, apa operasinya berjalan lancar?" Tanya mama Clara.


"Operasi mereka berjalan lancar om, tan, tapi mereka belum sadarkan diri dokter bilang besok mereka akan siuman."


Kusuma dan Adinda lega mendengarnya tapi tiba-tiba mereka sadar bahwa mereka tidak melihat Bryan sedari tadi.


"Dia mana bossmu itu, apa ini yang dia lakukan menyuruh asistennya untuk menunggu, dia bersenang-senang diluar." Ucap papa Clara terlihat marah.


"Om, tante, kalian jangan salah menilai boss saya, sekarang dia sedang menjalani operasi dan saya sangat sedih."


"Operasi???" Ucapnya serentak kaget.


"Memangnya bossmu itu sakit apa sampai harus operasi, pasti kamu hanya ingin menutupi keburukannya kan."


"Om, boss saya sampai bisa operasi itu karna dia yang menyelamatkan nona Clara saat nona disekap sewaktu berada di Swiss, dan sekarang luka tembak yang ada di bahunya itu infeksi sekarang boss saya sedang sekarat." Ungkap Riko panjang lebar, Kusuma dan Adinda terhenyak setahu mereka Rendi lah yang telah menyelamatkan Clara.


"Apa? Jangan main-main kamu dengan saya! Saya tau betul Rendi yang telah menyelamatkan putri saya dan membawanya pulang."

__ADS_1


"Saya saksi kejadiannya om, saya bersama boss saya pergi ke tempat dimana nona di sekap, bahkan boss saya juga kehilangan bibinya disana, sedangkan Rendi dia hanya tau memutar balikkan fakta karna dia tidak rela melihat nona Clara dan boss saya bisa bersama."


Kusuma dan Adinda tidak menyangka Rendi ternyata sangat jahat.


"Om dan tante mau tau lagi satu keburukan tentang Rendi yang selalu kalian puji itu."


"Sewaktu di Swiss Rendi hampir memperkosa nona, dan kalian tau boss saya juga yang membebaskan nona dari pria ******** itu.


Kali ini Kusuma dan Adinda mulai tidak suka dengan Rendi setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Maafkan saya om, tante, saya terpaksa harus mengatakan kebenaran ini, saya sebagai teman Bryan tidak tahan harus menyembunyikan kenyataannya ini, selama ini kalian salah menilai boss saya, boss saya itu orang yang sangat baik, dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi nona orang yang sangat dia cintai." Lanjut Riko lagi, Kusuma dan Adinda hanya bisa menyesali perbuatan yang sudah mereka lakukan pada Bryan.


Tak lama kemudian operasi Bryan pun selesai tanpa halangan, namun Bryan masih kritis dokter tidak bisa memastikan kapan Bryan akan siuman.


*****


"Pa, apa benar ya yang dibilang pemuda itu?" Ucap Adinda pada suaminya sambil menuju rumah sakit untuk menemui Clara.


"Papa juga tidak yakin ma, mana mungkin Rendi bisa sejahat itu memfitnah dan ingin menodai anak kita, Rendi itu pemuda yang baik."


Tiba-tiba di perjalanan Kusuma mendadak menghentikan mobilnya melihat Rendi menggandeng seorang wanita keluar dari hotel.


"Kenapa papa berhenti?" Ucap Adinda kaget.


"Ma, ma! Lihat itu, bukankah itu Rendi?"


"Iya pa itu Rendi, siapa wanita yang bersamanya pa? bisa-bisanya dia bersama wanita lain saat Clara sedang koma dirumah sakit."


"Kita hampiri saja ma."


Kusuma dan Adinda pun menghampiri Rendi yang hendak masuk ke dalam mobil bersama wanita yang digandengnya.


"Nak Rendi, berhenti kamu." Ucap Kusuma, Rendi kaget melihatnya.


"Papa, mama, kalian kok bisa disini?"


"Kami yang seharusnya bertanya, ngapaian kamu di hotel dengan wanita ****** itu, Clara sedang dirawat dirumah sakit tapi kamu malah bersenang-senang seperti ini."


"Wah... Jadi Clara sakit, baguslah itu memang pantas untuknya karna dia telah mengkhianati Rendi dengan pria bernama Bryan itu."


"Keterlaluan kamu!" Kusuma hendak menanmpar Rendi namun ditahan oleh Adinda.


"Tampar pa, ayo tampar!" Ucap Rendi sambil tertawa.


"Ma, biarkan papa menamparnya dia harus diberi pelajaran."


"Jangan pa!"


"Jadi benar nak Rendi, kamu sudah memfitnah Bryan, bukan kamu yang menyelamatkan Clara tapi Bryan?" tanya Adinda dengan lembut.


"Jika iya kenapa? Apa masalahnya?"


"Tega kamu ya, sekarang Bryan juga koma dirumah sakit keadaannya kritis akibat luka tembak sewaktu di Swiss, sedangkan kamu seenak-enaknya mengambil keuntungan untuk mendapatkan Clara dengan memfitnahnya, gara-gara kamu kami jadi menyesal sudah menolak lamarannya."


"Oh! Jadi kalian menolak lamaran laki-laki itu? haha..."


"Bryan yang malang, lamaran ditolak sekarang malah sekarat di rumah sakit, itulah akibatnya karna sudah merebut hak orang lain." lanjut Rendi tertawa bahagia.


"Keterlaluan! Kami sangat menyesal pernah punya menantu sepertimu."


"Menyesal? asal papa dan mama tau kenapa saya bela-belain untuk balikan sama Clara? itu karna saya perlu dia untuk menjaga Audira sehingga saya tidak perlu mencari babysiter tidak perlu menggajinya dan diluaran saya bisa bersenang-senang, bukan karna saya mencintainya, sejujurnya rasa cinta itu sudah hilang sejak saya tau putri kalian itu tidak bisa punya anak lagi."


Kusuma dan Adinda sangat tidak menyangka kalau hati Rendi ternyata sangat busuk, selama ini mereka sudah salah menilai Rendi sebagai laki-laki yang baik.


"Ayo pa, kita pergi saja, tidak ada gunanya bicara padanya."


"Iya ma, jantung papa bisa kambuh berlama-lama disini."


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2