
"Aku belum menanyakan kabarnya, aku tidak bisa melakukannya Rik, aku tidak mau Clara berhubungan denganku lagi, aku rasa dia lebih aman bersama Rendi, setidaknya Rendi tidak punya banyak musuh sepertiku."
"Aduh Sir! Sir gimana sih, Rendi itu berbahaya, Sir lupa dia begitu nekat melakukan hal itu pada nona, Sir, kenapa sih malah bilang nona lebih aman bersamanya?"
"Ya itu aku bilang setidaknya Rendi tidak punya banyak musuh dan hidup Clara bisa lebih aman."
"Oh begitu! Baiklah, biar saya saja yang mengirim pesan ke nona melalui ponsel ini." Riko langsung mengambil ponsel Bryan berpura-pura akan menghubungi Clara supaya Bryan mau memberi Clara kabar.
Bryan langsung merampas ponselnya kembali.
"Ok... Ok... Saya sendiri yang akan menanyakan kabarnya."
Isi Pesan
"Clara, saya harap sekarang kamu sudah lebih baik dan bisa melupakan masalah yang terjadi kemarin. Maafkan saya telah membawamu kedalam masalah yang seharusnya tidak terjadi padamu dan saya juga minta maaf sekarang baru bisa mengabarimu, setelah kejadian itu saya harus mengurus pemakaman tante, tapi saya tau sekarang kamu bersama Rendi mungkin kamu akan lebih aman dan jujur Clara saya sangat mengkhawatirkanmu. Kamu tau Clara? Hari ini sangat berbeda, membosankan karna kamu tidak ada bersama saya, saya sangat merindukanmu Clara benar-benar rindu, aneh tapi ini benar terjadi, saya tidak tau bagaimana saya melanjutkan hari-hari tanpamu. Mungkin hanya ini yang bisa saya katakan, saya tidak tau harus mengatakan apa lagi karna saya memang tidak pandai merangkai kata-kata, tapi saya harap kamu tidak marah karna saya terlambat mengabarimu."
*****
"Sini berikan ponselmu!" Pinta Rendi pada Clara tapi Clara tidak mendengarnya karna Clara masih terbayang dengan Bryan.
"Clara, kamu mendengarku atau tidak?"
"Ah... Maaf Ren, ada apa ya?"
"Ada apa sih denganmu?"
"Tidak ada apapun, aku hanya tidak mendengarmu dibandara sekarang sedang banyak orang jadi tidak kedengaran."
"Berikan ponselmu!"
"Untuk apa?"
"Mulai sekarang kamu tidak perlu menggunakan ponsel pemberian laki-laki itu."
Clara ragu-ragu untuk memberikan ponselnya pada Rendi tapi Rendi malah merampasnya sehingga Clara tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sir, jangan diambil!" Ucap Clara tiba-tiba saja dia memanggil Rendi seperti saat memanggil Bryan.
__ADS_1
Rendi jelas kesal dan menatap Clara dengan tajam membuat Clara tak mampu berkutik.
"Masih berani dia mengirim pesan untuk Clara." Batin Rendi setelah membaca pesan singkat yang dikirim oleh Bryan lalu segera dihapusnya.
"Ada apa Ren? Apa ada pesan masuk di ponselku? Apa itu dari Bryan?" Tanya Clara karna melihat Rendi seperti sedang membaca pesan di ponselnya.
"Bukan, hanya pesan dari operator." Rendi merahasiakannya dan memasukkan ponsel Clara ke dalam saku.
"Sudahlah Clara, harusnya kamu sadar diri, siapa Bryan, dia itu boss, orang kaya, dan masih lajang, kamu tidak pantas Clara mengharapkannya apa lagi berharap dia peduli padamu." Ucap Clara dalam hati menyadarkan dirinya.
"Ayo Clara, sebentar lagi pesawat akan take-off kita harus segera masuk."
Rendi menggenggam tangan Clara sepanjang jalan, Clara hanya bisa menurutinya.
Di Sisi Lain
"Rik, dia tidak membalas pesan singkatku." Keluh Bryan setelah beberapa jam menunggu balasan dari Clara.
"Coba telpon saja!" Saran Riko.
Bryan pun mencoba menelpon Clara tapi ponselnya sudah tidak aktif.
"Aku yakin nona tidak marah Sir, kan Sir yang menolongnya jadi mana mungkin dia marah, mungkin saja ponselnya sedang di ces makanya tidak bisa dihubungi."
Bebera Hari Kemudian
"Kakak..." Panggil Kathryn yang baru pulang dari tour study.
Clara menolehnya dan berlari memeluknya.
"Kath senang banget akhirnya kakak kembali ke rumah ini lagi."
Dengan susah payah Clara melebarkan senyumnya, sedangkan hatinya merintih, tersiksa harus tinggal bersama Rendi lagi.
Rendi datang menghampiri mereka berdua, lalu merangkul Clara, Kathryn tersenyum senang melihat kakaknya bisa baikan dengan Clara.
"Princess, gimana holidaynya?"
__ADS_1
Kathryn langsung memeluk kakaknya itu.
"Sangat menyenangkan kak, kakak tau disana Kath bertemu seorang pria."
"Wah, sepertinya adikku ini mulai pandai jatuh cinta?"
"Eeumh begitulah kak, dia sangat baik terhadap Kath."
"Oo iya kak Clara, Kath selalu berharap kakak dan kak Rendi menikah lagi."
"Kalau kakak sih siap banget buat nikah lagi." Sahut Rendi.
"Aha... Gimana kak Clara apakah kakak juga siap?"
"Ayo kita makan dulu Kath, nanti dilanjut lagi ceritanya, kamu pasti belum makan kan Kath?" Ucap Clara mengalihkan pembicaraan.
"Ah! Tapi kakak belum jawab pertanyaan Kath."
"Bantu kakak nyiapin makanan Kath."
Lagi-lagi Clara tidak menanggapi pertanyaan Kathryn yang membahas tentang pernikahannya dengan Rendi.
*****
Diruang makan Clara hanya diam saja, makanan dipiringnya sedikitpun tidak disentuh membuat Rendi kesal.
"Kamu kenapa? Akhir-akhir ini setiap mau makan selalu melamun, apa sih yang kamu pikirkan?" Tanya Rendi kesal.
"Ah... Aku ke kamar dulu! Kathryn kamu makan yang banyak ya, kakak mau melihat Audira di kamarnya."
Clara beranjak dari tempat makan disusul oleh Rendi, sedangkan Kathryn dia bingung melihat masalah yang terjadi pada kakaknya.
"Sebenarnya ada apa sih, kenapa kak Rendi dan kak Clara terlihat tidak akur lagi ya? Tapi jika mereka tidak ingin balikan kenapa kak Clara mau tinggal disini, seharusnya kan kak Clara tidak disini."
Di Kamar
Clara tidak fokus menemani Audira bermain, karna sejak kejadian itu pikiran Clara hanya tertuju pada Bryan. Clara bingung, sekaligus kecewa pada Bryan yang hingga sampai sekarang sama sekali tidak mengabarinya, padahal Clara sangat berharap Bryan menjeputnya dan membawanya pulang bersama.
__ADS_1
BERSAMBUNG