
Ini saatnya aku mundur. Terkadang dalam situasi tertentu mundur bukan berarti kalah, mundur karna tidak ingin menyakiti dan tersakiti bisa di sebut dengan sikap pendewasaan. Itulah yang ingin aku lakukan. Tadinya aku tidak ingin menghampiri Nanda bersama keluargaku yang sedang bahagia tapi karna satu alasan aku menebalkan mukaku untuk bergabung dengan mereka.
Aku senang akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya kebahagiaan menghampiri mereka, walau sebenarnya hatiku terasa teriris. Tapi tidak mengapa, kini aku akan belajar menguatkan diriku sendiri.
Berat rasanya untuk mengatakan apa yang terpendam dibenakku, tapi ini menjadi jalan terbaik untuk kebahagiaan Rendi yang mungkin juga menjadi yang terbaik untukku.
"Rendi, Nanda, semuanya! Aku ingin mengatakan sesuatu." Ucapku mencairkan suasana.
"Katakanlah! Sayang." Sahut mama.
"Rendi... Nanda... aku senang kalian bersama."
"Kita bertiga akan selalu bersama, sayang." Ucap Rendi.
"Tidak! Ren." Ucapku membuat suasana menegang.
"Apa maksudmu?" Tanya Rendi.
"Ren, aku ingin mengakhiri pernikahan kita." Akhirnya tanpa rasa gugup sedikit pun aku mengatakannya.
"Apaaa...???" Rendi mulai meninggikan suaranya.
"Tidak Clara! Kamu tidak boleh melakukan itu aku sangat mencintaimu." Ucap Rendi sambil memelukku tapi dengan segera aku melepaskannya.
__ADS_1
"Maaf Ren, aku tidak bisa berbagi suami sekalipun itu untuk sahabatku."
"Clara jangan bodoh!" Ucap Rendi.
"Aku tidak bodoh Ren. Ini jalan terbaik untuk kalian dan untukku."
"Mungkin jika Nanda berada diposisiku dia akan melakukan hal yang sama tidak ada wanita manapun yang bisa membagi cinta suaminya termasuk aku Ren, terkecuali hanya wanita yang tidak memirikan perasaan wanita lain yang mau dijadikan yang kedua." Secara tidak langsung mungkin aku menyindir Nanda.
"Clara, aku mohon jangan lakukan itu, percaya padaku Rendi sangat mencintaimu, dia menikahiku karna ada alasan tertentu percayalah padaku, kamu pertimbangkan lagi untuk berpisah!!!." Nanda mencoba membuatku mempertimbangkan keputusanku.
"Dengan mudah kamu mengatakannya karna hal itu tidak terjadi padamu, aku yang mengalaminya kamu tidak akan pernah tau bagaimana sakitnya aku."
"Tidak Clara! Aku mengerti perasaanmu tapi tolong jangan kamu tinggalkan Rendi."
"Rendi... Aku akan mengurus semuanya dipengadilan." Ucapku saat itu Rendi tidak bisa berkata apa-apa dia hanya diam menahan air matanya.
"Clara mama mohon pikirkan kembali keputusanmu."
"Maaf ma! Mungkin ini yang terbaik, mama tenang saja aku akan selalu mengingat kebaikan mama."
"Assalamualaikum, Clara pergi." Aku memutuskan untuk keluar dari rumah itu.
"Aku mohon jangan pernah meninggalkanku." Rendi menarik tanganku menghentikan langkahku tapi tiba-tiba Nanda pingsan membuat cemas kami semua.
__ADS_1
"Nanda!!!" Aku langsung menghampiri Nanda yang tergeletak pingsan lalu Rendi membawanya ke kamar.
Kami semua panik takut terjadi sesuatu pada Nanda, walau bagaimanapun Nanda tetap sahabatku aku sama sekali tidak membencinya. Setelah dokter memeriksanya kami semua tau ternyata kanker Nanda sudah memasuki stadium 4, sungguh ini membuatku kaget.
"Nanda." Aku mendekati Nanda yang mulai sadar dia menggenggam erat tanganku Nanda sangat pucat dan lemah.
"Clara!!! Kamu harus tau alasan dibalik pernikahanku dengan Rendi."
FLASHBACK NANDA DAN RENDI 1,5 Tahun Yang Lalu!!!
Saat itu ayah Nanda sedang sakit parah dan terlilit hutang karna perusahaannya bangkrut dan Rendi yang telah membayar semua hutang-hutangnya.
"Nak Rendi terima kasih kamu sangat baik pada om dan Nanda jika kamu tidak ada mungkin Nanda akan menikah dengan penjahat itu."
"Iya om, sebagai sesama Rendi berkewajiban membantu orang yang sedang kesusahan."
"Kamu bersediakan menikah dengan putri om?"
"Tidak ayah! Nanda dan Rendi tidak bisa melakukannya, Rendi sudah...." tiba-tiba Rendi membungkam mulut Nanda.
jangan lupa berikan vote, like dan komentarnya guys😊
__ADS_1