
Saat memasuki ruang ICU dimana Bryan sedang dirawat, Clara berlari lalu memeluk Bryan yang masih tidak sadarkan diri bahkan sekarang kondisinya semakin melemah karna proses produksi sel darah merah yang terhambat dan mengalami gangguan pernafasan akibat infeksi luka yang sudah menyebar. Clara menangis sambil memanggil nama Bryan berulang kali dengan harapan Bryan bisa segera siuman.
Clara duduk di samping Bryan sambil menggenggam tangannya. Tubuh Bryan semakin dingin dan tiba-tiba garis naik turun yang menunjukkan adanya detakkan jantung pada bedside monitor berubah menjadi garis lurus yang menandakan sudah tidak adalagi detakkan jantung atau pasien sudah tidak lagi bernafas diselingi suara alarm kecemasan ikut berbunyi.
Clara semakin cemas terus mengguncang tubuh Bryan dan memanggil nama Bryan berharap Bryan akan membuka matanya sedangkan Riko langsung memanggil dokter.
"Tolong semuanya keluar! kami akan menangani pasien." tegas sang dokter.
"Dok, tolong selamatkan teman saya." ucap Riko.
"Kami usahakan pak! Tapi tolong semuanya keluar."
"Saya tidak mau keluar, saya ingin disini." Ucap Clara.
Clara bersikeras untuk memastikan bahwa Bryan akan baik-baik saja tapi menurut peraturan rumah sakit pengunjung harus keluar saat dokter menangani kasus darurat sehingga dengan sangat terpaksa pelan-pelan kedua orang tua Clara menyeret Clara keluar.
"Ma, Bryan akan baik-baik sajakan? katakan ma Bryan akan hidupkan? dia tidak pergi meninggalkan Clara kan?"
"Iya sayang semua pasti akan baik-baik saja."
Tak lama kemudian dokter yang menangani Bryan pun keluar dengan kepala tertunduk.
Dengan sangat menyesal dokter harus mengatakan kabar duka ini.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain..." Ucap dokter.
Clara sangat shock mendengarnya tak hanya Clara tapi semua yang mengharapkan Bryan bisa selamat ikut shock mendengar bahwa Bryan telah tiada.
"Dokter, Anda pembohong!" Clara dengan sangat berani mendorong sang dokter karna merasa tidak terima namun sang dokter sangat mengerti posisi Clara sekarang.
"Aku akan memastikannya sendiri." Ucap Clara kemudian langsung masuk ke dalam ruangan dan melihat seluruh tubuh Bryan sudah ditutupi dengan kain.
__ADS_1
Riko, dan kedua orang tua Clara juga ikut masuk untuk memastikannya, ternyata benar Bryan sudah tiada.
"Sir, maafkan aku! Aku asisten yang tidak berguna semua salahku Sir, tapi jika kamu bilang dari awal bahwa lukamu itu belum sembuh maka aku pasti secepat mungkin membawamu kerumah sakit, aku tidak akan membiarkan kamu kesakitan Sir." sesal Riko. Riko juga tidak kuasa menahan air matanya.
"Kenapa kamu meninggalkanku Sir? Bangun Sir! Bukankah kamu akan melamarku? sekarang mama dan papaku sudah setuju Sir, kamu harus bangun Sir, demi aku dan Audira, kamu sangat menyayangi Audira bukan? jadi kamu harus bangun Sir! kamu tidak boleh pergi."
Clara terus menangis sambil menghuyung tubuh Bryan yang sudah kaku itu tidak akan ada gunanya Clara membantingnya sekalian pun Bryan tidak akan bangun.
Dokter dan dua orang perawat datang untuk memindahkan Bryan keruang mayat. Namun Clara tidak terima baginya Bryan masih hidup dia tidak akan membiarkan perawat itu memindahkan Bryan.
"Pergi kalian! Bryanku masih hidup, aku akan membawanya pulang kerumah, dia belum mati kalian tidak berhak membawanya." Ucap Clara.
Namun sesuai peraturan rumah sakit kedua orang tua Clara menahan tubuh Clara agar Clara tidak menentang peraturan dan membiarkan kedua perawat itu memindahkan Bryan.
Saat tubuh Bryan sudah dibawa oleh kedua perawat itu, Clara yang masih tidak bisa menerima kenyataan tiba-tiba merasa sekujur tubuhnya sangat lemas sehingga dia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan jatuh pingsan.
Dokter dan semuanya yang masih berada diruang ICU langsung memindahkan Clara kembali keruangannya.
Tak lama kemudian Clara pun sadar dari pingsannya dia masih shock dan tidak percaya bahwa Bryan sudah tiada.
Hiks... hiks...
"Ma, pa, Bryan dia tidak matikan? dia hanya tidurkan, besok dia akan bangun kan ma?" lirih Clara menangis dalam pelukkan mamanya.
"Sadar sayang! ikhlaskan Bryan, agar dia bisa pergi dengan tenang." lirih mama kemudian menghapus air mata Clara.
"Clara ingin melihatnya lagi ma." Ucap Clara.
Mama, papa dan juga Riko pun menuruti keinginan Clara melihat Bryan untuk terakhir kalinya sebelum Clara benar-benar tidak bisa lagi melihat Bryan.
Clara diantar ke kamar mayat untuk melihat Bryan. Tangis Clara pecah dan tubuhnya lemas saat tiba didepan kamar mayat sehingga dia tidak sanggup untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
"Mengapa ini lebih menyakitkan dibanding perceraian yang pernah ku alami? Ya Allah kenapa aku harus kehilangan dia, aku tidak sanggup." lirih Clara.
"Clara tidak sanggup ma, antar Clara kembali keruang inap saja." Ujar Clara.
Saat semua pergi dari kamar tersebut. Tiba-tiba angin bertiup kencang membuka kain yang menutupi sekujur tubuh Bryan yang sudah kaku itu. Tak disangka-sangka jari tangan Bryan bergerak. Mulai terdengar sayup nafas yang tersendat-sendat berasal dari Bryan tapi tak satupun ada orang yang mendengarnya.
Mata Bryan terbuka lebar dan bangkit melihat disekelilingnya hanya ada kegelapan.
"Aku dimana?" Tanya Bryan pada dirinya sendiri dan Bryan melihat dia dikelilingi oleh mayat.
"Astarghfirullah! Kenapa aku bisa berada disini? apa yang terjadi padaku, aku masih hidup atau..." Bryan tidak melanjutkan kalimatnya karna sedang berusaha menyadarkan dirinya.
Bryan menggigit bibirnya tapi terasa sakit. Menampar wajahnya juga terasa sakit, mencubit tangannya tetap terasa sakit ini berarti Bryan masih hidup.
Bryan sangat bersyukur dia diberi kesempatan kedua oleh Allah yang tak semua orang bisa mendapatkannya. Bryan juga mengingat kejadian terakhirnya yang dialaminya saat itu dia sedang menunggu operasi Clara dan tiba-tiba dia pingsan.
"Clara??? Clara pasti sudah sadar sekarang, dia pasti mengira aku sudah mati." Ucap Bryan cemas mengingat Clara.
"Aku masih hidup Clara, kamu jangan sedih lagi aku akan segera keluar dari tempat ini dan menemuimu."
Bryan yang masih sempoyongan tetap berusaha keluar dari kamar mayat untuk menemui Clara, sekarang dipikiran Bryan hanya ada Clara Clara dan Clara.
.
.
.
BERSAMBUNG
Mohon maaf mungkin ada kejanggalan saat membaca episodenya. Sekarang novel sedang dalam masa perbaikan.
__ADS_1