
Sedangkan Rendi langsung menghampiri Clara dan langsung mendorong Bryan kebelakang lalu Rendi yang memeluk Clara menggantikan posisi Bryan.
Rendi tak kalah histerisnya saat melihat kondisi Clara sedang terkulai lemah.
"Semua ini karnamu Clara jadi terluka, kamu hanya membawa sial untuknya." Ucap Rendi marah pada Bryan.
"Jauhi Clara! Jangan coba-coba mendekat! Pergi kamu dari sini!" Ancam Rendi pada Bryan yang baru saja ingin mendekati Clara.
Bryan hanya bisa diam sekaligus menyalahkan dirinya sendiri. Bryan mundur dan kedua temannya menopang tubuh Bryan yang terkulai lemah tak berdaya.
Riko dan Wulan membawa Bryan keluar dari ruangan itu dan mereka menyaksikan Rendi begitu sangat mengkhawatirkan Clara.
"Auhhh..." Clara mulai sadar.
"Bryan!!!" Panggilnya masih dengan mata tertutup.
"Sayang, ini aku Rendi, syukurlah kamu sudah sadar, sayang aku disini." Ucap Rendi memeluk Clara dengan erat.
"Rendi... Dimana tante Maria...?"
"Tante Maria meninggal, polisi sudah mengamankannya."
"Apa???" Clara syok mencoba bangkit tapi sangat lemah serta kepalanya juga sakit.
"Bryan dimana? Di-dia, dia dimana?"
"Bryan tidak ada disini, dia hanya peduli pada tantenya, dia sama sekali tidak peduli denganmu, Clara."
"Aku disini Clara, aku senang kamu baik-baik saja." Gumam Bryan sambil menangis hanya bisa melihat Clara dari kejauhan.
Padahal Bryan berada di luar ruangan, ingin sekali Bryan menghampiri Clara tapi kedua sahabatnya menahannya. Bryan juga sadar hidup Clara selalu dalam bahaya saat mereka bersama.
"Aargh... Kamu, bagaimana kamu bisa disini?" Tanya Clara bingung.
"Untuk menyelamatkanmu Clara, aku tau kamu diculik, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, aku rela melakukan apapun demi kamu.."
"Terima kasih Ren, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada yang datang."
"Aku akan selalu melindungimu Clara, karna aku masih sangat mencintaimu."
Clara merasa kecewa saat membutuhkan pertolongan dari Bryan, tapi Bryan malah tidak datang.
__ADS_1
"Bantu aku berdiri!" Pinta Clara dengan cepat Rendi membantunya.
Di Luar
"Ayo Sir! Kita pergi." Ucap Riko.
"Aku masih ingin disini, aku ingin melihat Clara, aku ingin dia menyadari keberadaanku."
"Sir, sekarang Rendi bersamanya, kita tidak bisa menemui nona, Sir dengarkan apa yang barusan Rendi katakan padanya."
"Iya Sir, sebaiknya kita pulang, kita harus mengurus persiapan untuk pemakaman tante dan mengobati lukamu, Sir." Ucap Wulan juga.
"Benar Sir, yang penting sekarang kita sudah melihat Clara baik-baik saja, Sir yang sabar, dan harus kuat."
"Baiklah, ayo kita pulang."
"Hatiku mengatakan kamu ada disini, Sir!" Batin Clara berjalan perlahan keluar dari ruangan tempat dia disekap namun ternyata memang benar Bryan tidak ada.
Clara sedih ternyata harapannya salah dengan menganggap Bryan sebagai seorang penyelamat. Rendi lah yang ternyata masih peduli padanya.
"Ayo Clara, kita pulang, kita obati lukamu dan besok kita akan kembali ke Indonesia."
Esok Hari
Bryan masih dalam kondisi berduka, matanya sembab dan bengkak setelah kepergian tantenya yang sudah seperti ibunya, ditambah harus menjauh dari Clara, rasanya Bryan tidak sanggup untuk menjauhi Clara namun apa dayanya Bryan hanya ingin Clara hidup dengan aman dan bahagia.
Dan Bryan merasa Rendi lebih pantas bersama Clara.
Di Sisi Lain
"Ren, aku mohon izinkan aku pergi ke pemakaman tante Maria."
Clara memohon sambil menangis.
"Tidak boleh Clara! Bryan itu tidak peduli denganmu, lihatlah apa sekarang dia menelponmu? apa dia menanyakan kabarmu? tidakkan, dia sama sekali tidak peduli padamu,Clara."
"Tapi aku hanya ingin melihat tante Maria untuk terakhir kalinya, aku mohon Ren."
"Sekali tidak tetap tidak. Sebentar lagi kita akan ke bandara."
Clara hanya diam menahan tangis.
__ADS_1
"Apa kamu sejahat ini padaku Sir, kenapa disaat aku mulai merasa nyaman bersamamu, kamu malah meninggalkanku, ternyata aku salah menganggap kebaikanmu selama ini, Rendi benar kamu sama sekali tidak peduli padaku hanya aku saja yang salah mengartikan kebaikanmu." Ucap Clara dalam hati pikirannya selalu tertuju pada Bryan meskipun Clara kecewa saat dia membutuhkan Bryan yang ternyata tidak peduli padanya.
"Ayo Clara, kita berangkat ke bandara." Ujar Rendi setelah berkemas.
Clara hanya mengangguk dan mengikuti setiap perkataan Rendi.
Riko dan Wulan setia mendampingi Bryan yang saat ini tengah terpuruk dalam situasi yang paling menyedihkan.
"Luka ditubuh tidak sebanding sakitnya dengan luka dihati." Ucap Bryan saat Riko meminta Wulan untuk mengganti perban pada lukanya.
"Tapi Sir, lukamu itu cukup serius jika tidak diganti maka bisa infeksi." Jelas Riko.
"Tuhan tidak adil padaku, mengapa dia merenggut satu persatu orang yang ku cintai, ayah dan ibuku, pamanku, bibiku dan sekarang juga Clara, aku tidak sanggup Rik."
"Tidak boleh bicara seperti itu, Sir, Tuhan itu maha adil, dia selalu punya cara yang terbaik untuk hambanya."
Riko merangkul Bryan dalam pelukkan, mereka sudah seperti saudara.
"Aku tidak sanggup, Rik, bertahun-tahun aku mencari Clara, aku sempat kecewa saat tau dia sudah menikah, tapi saat aku mendengar perceraiannya aku mencoba mendekatinya, aku pikir aku punya kesempatan untuk memilikinya."
Bryan begitu lemah berada dalam pelukkan Riko sampai air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
"Kamu taukan Rik, aku hampir putus asa saat tau dia sudah menikah dan sekarang disaat aku bisa mendekatinya, aku tidak bisa melakukan apapun lagi."
"Sir, jangan putus asa!"
"Katakan Rik! Apakah aku salah jatuh cinta dengan wanita yang pernah menjadi istri orang lain? katakan apakah aku salah Rik? bahkan aku lebih dulu mencintainya."
"Riko, ada apa sih sebenarnya? siapa Clara sebenarnya? kenapa dia begitu berarti bagi Bryan?" Tanya Wulan bicara pelan dengan Riko.
"Nanti akan ku jelaskan padamu." Ucap Riko.
"Sir, apa kamu sudah memberi nona Clara kabar? Saya khawatir nanti nona pikir Sir tidak mengkhawatirkannya."
.
.
.
Bersambung
__ADS_1