
Masalah kantor beres, semua Bryan tangani dengan hati-hati namun berjalan mulus.
"Boss, saya tidak tau siapa yang meneror kantor kita." ujar Riko.
"Tenang saja teror itu tidak akan kembali, meski kita belum tau siapa pelakunya tapi aku pastikan dia tidak akan berani meneror lagi."
Byan berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh Riko dan Wulan dibelakangnya. Bryan berhenti dan menoleh kebelakang.
"Oh ya Rik, saya akan ambil cuti seminggu, saya dan Clara akan ke Tokyo, saya titip urusan kantor denganmu."
"Siap boss, saya akan menjalankan amanah boss sebaik mungkin."
Setelah menitipkan pekerjaan kantor pada Riko, Bryan pun segera pulang tapi sebelum itu Bryan mampir dulu ke super market membeli susu dan ke mall membeli pakaian serta dalaman untuk sang istri dan anak tercintanya.
"Papa pulang..." Audira berlari menghampiri Bryan, Bryan langsung menggendongnya.
"Papa, papa beli apa?" tanya Audira melihat papanya belanja sangat banyak.
Bryan duduk di ruang tamu bersama anaknya.
"Papa beliin Dira susu dan coklat kesukaan Dira."
Dira sangat antusias melihat makanannya.
"Mommy dimana sayang?"
"Tidak tau." menggeleng.
Bryan merasa rumah sangat sepi, Bryan meninggalkan Audira diruang tamu untuk mencari Clara.
"Ibu, Clara..." panggil Bryan sembari melihat seiisi kamar sepi.
"Dimana ibu dan Clara?" batin Bryan, Bryan turun dari atas menuju dapur dia melihat pelayannya.
"Bibi, dimana Clara dan ibu, kenapa mereka meninggalkan Audira sendirian?"
"Nona dan Nyonya pergi katanya ada sesuatu yang penting, Nona kecil kami yang mengurusnya." jelasnnya.
"Apa hal penting yang Clara lakukan, kenapa dia tidak izin saat mau pergi." batin Bryan heran.
Bryan kembali ke ruang tamu, Audira masih duduk sendirian disana.
Tak lama kemudian Ibu dan Clara pun datang, Bryan lega melihat mereka.
"Kamu sudah pulang sayang? udah lama?" tanya Clara.
"Iya sejak tadi." Bryan cuek.
"Ibu bawa Audira kedalam dulu." ucap Ibu dan berlalu meninggalkan Clara dan Bryan berdua.
"Kenapa keluar tidak izin?"
"Aku sudah izin kok cek saja ponselmu."
Bryan pun melihat ponselnya benar ada pesan dari Clara, Bryan baru sempat melihat ponsel setelah teror yang mengancam perusahaannya.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku pikir kamu tidak izin."
"Lihatlah." ucap Clara mengunjukkan berkas-berkas pada Bryan.
"Kamu memenangkan kasusnya, selamat ya sayang, akhirnya kita resmi mengangkat Dira sebagai anak."
Bryan memeluk Clara, dia sangat senang akhirnya hak asuh Audira berada ditangan Clara mengingat Rendi pun sudah tidak bisa lagi untuk menjaga anaknya karna kesalahan yang telah dilakukannya, jadi sekarang Bryan dan Clara menjadi orang tua asuh Audira resmi secara hukum.
"Oh iya ini untukmu." Bryan memberikan paper bag pada Clara.
Clara membuka tas belanjaannya dan melihat isinya hanyalah pakaian dalam semua.
"Sangat memalukan..." gumam Clara kesal dan pipinya merona.
"Didi....." panggil Clara sekarang itu menjadi panggilan barunya untuk Bryan.
"Siapa Didi?" Bryan bingung mencari kesetiap sudut untuk menemukan orang yang Clara panggil.
"Didi, kamu sangat memalukan." ucap Clara.
"Jangan-jangan dia bertemu pria lain." batin Bryan kesal.
"Didi, kamu mendengarkan aku tidak sih?" kesal Clara menatap Bryan.
"Maksudmu Didi itu aku???"
"Ya, iyalah, memangnya siapa lagi." Clara kesal ternyata Bryan dari tadi tidak konek.
"Oo... Bagus, aku suka." tersenyum.
"Ini kamu semua yang milih?" memperlihatkan pakaian dalamnya.
"Apa kamu tidak tau malu membeli ini? aku bisa membelinya sendiri"
"Kenapa harus malu Ara?"
"Semua pegawai di Mall tau siapa kamu."
"Seorang Direktur+CEO juga manusia biasa, punya kehidupan masing-masing, aku sama sekali tidak malu."
"Makasih Didi..."
"Untuk?"
"Untuk ini, apa lagi?"
"Cium dong." goda Bryan.
"Ishh... Apa tidak ada hal lain selain ciuman..." kesal Clara.
"Ada, mari ikut..." Bryan membawa Clara ke kamar.
*****
"Ini." Bryan memberikan 2 tiket tour to Tokyo.
__ADS_1
"Tiket ke Jepang? untuk apa?" Clara bingung.
"Honeymoon Ara, aku ingin mengajakmu ke sana, kamu suka kan?"
Clara tertunduk di kursi, wajahnya tiba-tiba lesu.
"Kamu kenapa Ara, sepertinya tidak suka dengan rencana bulan madu kita?"
"Aku suka Di, tapi ini terlalu berlebihan."
"Kenapa Ara, apa aku salah?"
"Kamu tidak salah Di, aku lah masalahnya."
"Ara, kenapa bicara seperti itu."
"Untuk apa kita bulan madu, aku juga tidak akan bisa memberi keturunan."
"Ara, aku ingin mengajakmu kesana bukan hanya untuk honeymoon, aku ingin mengajakmu jalan-jalan membuatmu bahagia, selama aku bisa aku ingin mengabulkan setiap impianmu untuk keliling dunia, bukankah dulu kamu yang mengatakan itu?"
"Iya itu dulu, tapi sekarang situasinya berbeda."
"Sama saja Ara, please jangan menolakku Ara." Bryan memohon.
"Jika kamu ingin membuatku bahagia maka turuti saja aku."
"Ara, jangan seperti ini aku hanya ingin kamu bahagia."
"Ya sudah turuti saja aku."
"Baiklah Ara, aku akan batalkan penerbangan ke sana."
Bryan sedikit kecewa dia beranjak sedikit menjauh dari Clara. Clara menyesali kata-katanya dan langsung memeluk Bryan.
"Maafkan aku Didi."
"Kamu tidak salah sayang, jangan minta maaf."
"Didi, aku mau honeymoon." ucapnya tiba-tiba.
"Kamu serius sayang?" Bryan senang.
"Iya suamiku, bagaimana mungkin aku bisa menolaknya." diiringi senyum menggodanya.
"Didi, tapi kita jangan keluar negeri, kita honeymoon di dalam negeri saja ya." lanjut Clara.
"Iya, yang penting kamu mau aku sudah sangat senang, sebutkan saja istriku mau bulan madu dimana, raja ampat, bali, lombok atau....."
"Lombok saja." lanjut Clara tersenyum.
"Baiklah sekarang aku langsung pesan tiket dan hotelnya, besok kita tinggal berangkat."
"Iya sayang, sekarang aku beres-beres dulu ya."
"Siap istriku."
__ADS_1
cup.....
satu kecupan dari Clara mendarat di bibir Bryan, itu membuat Bryan semakin bersemangat.