
Aku mencoba menguatkan diriku sambil berpikir kuatkah aku jika aku melepaskannya. Aku tidak yakin dengan keputusanku untuk berpisah dari Rendi apakah sudah tepat. Akan tetapi keadaan memaksaku untuk melepaskannya, tapi aku tetap tidak bisa membohongi diriku sendiri aku sangat mencintainya begitupun dia sangat mencintaiku.
Aku melihat air mata jatuh membasahi wajahnya, Rendi sangat rapuh saat aku memaksanya untuk menalakku, aku tau cintanya padaku sangat luar biasa tapi aku takut keluarganya tidak bisa menerimaku saat mereka tau aku telah gagal menjadi istri yang sempurna dimata mereka. Rendi sudah pasrah untuk mendengar jawaban dariku. Dia hanya termenung duduk dikursi seolah sudah tidak sanggup memandangku dan akhirnya aku pun menjawabnya.
"Aku takut kehilanganmu..." ucapku hanya sekali aku tidak tau apakah Rendi mendengarnya tapi aku tidak akan mengulanginya, jika dia benar mencintaiku pasti dia merasakan hal yang sama dan tidak perlu ku ulang.
Ternyata Rendi mendengar yang ku katakan, dia langsung sumringah dan berjalan mendekat kearahku. Dia memelukku seakaan dia sangat takut kehilanganku.
"Aku mohon jangan pernah memintaku menalakmu, Clara." Ucap Rendi sambil menghapus air mata yang mengalir dipipiku.
"Kamu tau, betapa hancurnya aku saat kamu ingin berpisah denganku, aku tidak tau bagaimana caranya melanjutkan hidup jika tanpamu lebih baik aku tiada, aku sangat mencintaimu istriku, tolong jangan katakan hal ini lagi." Ini bukan yang pertama aku membuat Rendi menangis karna keputusanku yang bodoh itu, entahlah sebagai seorang istri yang mempunyai kekurangan kenapa aku begitu bodoh, aku selalu menyakiti hatinya padahal dia selalu menjaga perasaanku.
__ADS_1
Meskipun aku tau cinta Rendi padaku begitu besar seharusnya aku tidak perlu meragukannya lagi, tapi bagaimana dengan keluarganya itu yang selalu menjadi beban di pikiranku.
"Kita hadapi semua bersama, kita akan menjelaskan semuanya aku yakin mereka bisa menerima kenyataan ini sayang." Ucap Rendi yang ternyata Rendi juga bisa membaca pikiranku.
"Kamu jangan takut istriku, ada aku yang selalu disisimu, aku akan membuat mereka mengerti, tapi sekarang kamu harus sembuh dulu jangan banyak pikiran lagi." Ujar Rendi. Dia kembali memelukku aku tidak bisa berkata apa-apa lagi karna Rendi sudah memahami semua rasa takutku, dia memang suami yang ideal bagiku tanpa ku beritahu pun dia sudah bisa menebaknya dan membuatku tenang.
"Maafkan aku, Ren. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Hanya kata maaf yang terlintas dibenakku saat masih berada dalam dekapannya.
"Sayang bolehkan?" Tanya Rendi dengan nada manja aku lihat dari wajahnya mulai timbul sifat nakalnya, aku jadi takut Rendi akan berbuat macam-macam padaku.
"Tidak boleh, aku lagi sakit Ren."
__ADS_1
"Jangan piktor dulu sayang, masa mau nyium juga gak boleh."
"Ya tetap tidak boleh." Aku berpura-pura menolaknya tapi Rendi membuatku kaget dia langsong nyosor mencium bibirku.
Bibir Rendi yang lembut terasa menempel di bibirku. Rendi menekan kepala bagian belakangku seakan dia ingin merasakan sensasi berciuman lebih dalam lagi. Tanpa rasa malu aku pun membalasnya. Untuk apa malu pada suami sendiri😁 lagipula kami menikah sudah 5 tahun jadi ini bukan yang pertama aku gak perlu malu-malu lagi. Kami saling memejamkan mata dan terus bertukar saliva seolah saling menikmati ciuman ini sampai akhirnya datanglah seseorang membuat kami kaget.
Sssrrreeekkk... suara pintu dibuka Rendi langsung melepaskan ciumannya karna dokter Meta berhasil melihat kejadian ini sehingga membuatnya melotot dan tersenyum memandangi kami.
"Sial, ketahuan lagi!" Gumam Rendi pipinya mulai merona sama sepertiku. Kami jadi malu setelah kejadian ini rasanya tidak ingin bertemu dokter Meta.😂
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like dan komen ya guys😊