DARI HATI

DARI HATI
Episode 18


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit aku berbaring dikamar. Aku masih sakit hati sama Rendi yang akhir-akhir ini mulai berubah, tapi aku tidak boleh berburuk sangka selama tidak ada bukti.



Drrrt... drrrt... drrrt... aku mendapat telpon dari Rendi.



"Assalamualaikum, sayang." Ucap Rendi.



"Waalaikumsallam..." jawabku dengan nada lesu.



"Kamu kenapa sayang, suaramu tidak seperti biasanya?"



"Baik, hanya sedikit lelah baru pulang dari rumah sakit."



"Kamu sakit, kenapa semalam tidak beritahu."



"Aku beritahu juga kamu tidak akan pulang Ren."



"Iya, tapi setidaknya aku tau yang terjadi pada istriku, aku tidak suka kamu seperti itu main rahasia-rahasiaan."



"Harusnya aku yang marah, bukan kamu."



"Aku tidak marah, aku hanya tidak suka kamu berbohong padaku, aku suamimu harusnya kamu beritahu."



"Setengah jam lagi aku sampai dirumah, aku tutup dulu telponnya." Rendi menutup telpon. Aku kesal padanya kenapa dia marah-marah padahal aku tidak bermaksud membohonginya, dia yang membuatku kecewa tapi aku tidak bisa mengutarakan perasaanku padanya.



Sampai akhirnya aku merasa mengantuk sehingga membuatku tertidur pulas sampai membuatku lupa kalau Rendi akan pulang.



"Cup..." Rendi mencium keningku.

__ADS_1



"Maaf sayang, aku membuatmu kecewa aku tau kamu bersusah payah menyiapkan kejutan untukku tapi aku malah merusak malam yang seharusnya aku habiskan bersamamu."



"Aku tidak bermaksud menyakitimu, mungkin ini tidak sebanding dengan luka yang telahku goreskan dalam hatimu, percayalah sayang aku sangat mencintaimu tulus dari hati."



Begitulah yang terdengar ditelingaku. Aku tidak tau aku sedang bermimpi atau ini nyata sepertinya aku mendengar Rendi bicara padaku dan memasangkan sebuah cincin dijari manisku. Tetapi saat aku bangun sebuah cincin yang indah sudah melingkar tapi aku tidak melihat Rendi.



"Aku ketiduran, Rendi dimana dia?" Aku beranjak dari tempat tidur mencari suamiku. Saat aku turun ke lantai bawah rumah sudah dipenuhi oleh taburan bunga mawar. Lalu menyala papan yang berbentuk love dihiasi lampu warna warni bertuliskan kalimat SORRY.



Lalu Rendi muncul dari balik layar yang menampilkan foto-foto momen romantis kami dari awal kami menikah.



Rasanya semua kemarahanku padanya hilang begitu saja. Rendi selalu bisa membuatku terkesan, sampai aku melupakan kejadian semalam.



"Rendi, kamu yang melakukan semua ini?"




"Kamu, benar-benar membuatku tidak bisa berkata apapun lagi."



"Apa yang tidak bisa aku lakukan, aku tau istriku pasti sangat kecewa karna semalam aku tidak datang makanya sekarang aku melakukan ini untuk membujuknya."



"Hmmm..." Aku hanya bisa mengangguk sambil memukul dada Rendi.



"Cincin ini, kapan kamu membelinya?"



"Semalam sehabis menelponmu, aku tidak ingin membuat istriku bersedih karna itu aku langsung mencari cara untuk membuatnya tersenyum."



"Kamu suka, sayang?"

__ADS_1



"Sangat, sangat, sangat menyukainyai." Ternyata curigaku salah lagi, aku memang sangat bodoh terus mencurigai suamiku padahal dia tidak berubah sama sekali.



"Aku juga punya sesuatu untukmu, ayo ikut." Aku menarik tangan Rendi kami pergi ke kamar. Aku mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemari.



"Bukalah!" Ucapku.



"Ini apa sayangku?"



"Lihat saja, jangan banyak tanya."


Rendi membuka kotaknya yang berisi dasi.



"Jangan tanya harganya." Ucapku karna dasinya memang bukan harga mahal.



"Aku tidak punya banyak uang untuk membeli yang mahal."



Rendi tersenyum menatapku, aku pikir dia tidak menyukai hadiah dariku.



"Ini dasi terindah, aku sangat menyukainya sayang." Rendi memelukku.



"Besok pagi kamu harus memasangkan dasi ini untukku."



"Tentu... tapi sayang aku jadi teringat sama Nanda, kamu sudah janjikan untuk mempertemukan aku dengan dia, kapan kamu akan membawanya kesini?" Tiba-tiba aku kembali mengingat Nanda sahabatku yang sedang sakit.



"Nanti sayang, setelah kamu sembuh dan masalah yang kita hadapi selesai pasti Nanda akan aku bawa ke rumah ini."



__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2