DARI HATI

DARI HATI
Lagi Lagi Masalah


__ADS_3

Malam hari sepulang dari kantor polisi dengan diantar oleh Kathryn, Clara mendapat hasil tes DNA dari pihak rumah sakit.


Clara memejamkan matanya, dia ragu untuk melihat hasil tersebut, takut jika hasilnya positif maka hatinya akan benar-benar hancur.


Karna itu Clara menyerahkan hasil tersebut pada Kathryn, agar Kathryn membacakan hasil tes DNA untuk dirinya. Kathryn pun membuka amplop dan mulai membaca isinya.


Namun benar adanya hasil tes DNA memang positif, itu berarti anak yang dikandung oleh Angelica memang anak dari Bryan.


Clara merasa sangat kecewa, susah payah dia memperjuangkan dan membela suaminya berharap suaminya memang tidak bersalah, namun ternyata hasil tersebut tetap sama sia-sia saja perjuangannya.


Seketika Clara hendak menghempaskan tubuhnya kelantai untungnya Kathryn langsung menopang tubuh mantan kakak iparnya itu.


"Kath, rumah tanggaku hancur untuk ke sekian kalinya..." tuturnya hanya bisa menangis.


"Aku tau ini sangat berat untuk kakak, tapi kakak jangan lemah, ayo kak kita pulang temui kak Bryan, minta kejelasan padanya." kata Kathryn berusaha menenangkan Clara yang sangat hancur itu.


"Tidak ada gunanya mendengar penjelasan, semua ini sudah cukup." lirih Clara.


"Ayo kak bangkit, kita harus pulang dan memberikan ini pada kak Bryan."


Tiba-tiba ponsel Clara berdering, Clara mendapat panggilan telpon dari suaminya yang kini tengah mengkhawatirkannya karna Clara bersama Audira sedari tadi pagi hingga malam hari belum kembali kerumah.


"Ara, kamu dimana, kenapa lama sekali angkat telponku." tutur Bryan didalam telpon merasa khawatir.


"Ara, kamu baik-baik saja kan?"


"Aku segera pulang." jawab Clara singkat, mendengar nada suara sang istri yang terdengar serak membuat Bryan merasa cemas.


"Baiklah Ara, ibu, mama, dan papa ada dirumah sekarang." kata Bryan.


"Iya, aku tutup telponnya." lirih Clara dan menutup telpon.


Kathryn pun mengantar kakak iparnya pulang kerumahnya.


*****


Di rumah selain Bryan juga ada mama, papa, dan ibu yang sedang menunggu Clara dan Audira pulang.


Clara masuk kedalam rumah dengan tubuh lemas dan mata sembab, Bryan langsung memeluknya dan lega istrinya kembali dengan aman.


"Cucu oma, dari mana sayang kenapa malam sekali baru pulang, dan kamu Kath bagaimana kalian bisa bertemu?" mama mengambil alih Audira yang berada di dalam gendongan Kathryn, lalu bertanya pada Clara dan Kathryn.


"Tante, Kath tidak sengaja bertemu kakak tadi di pusat perbelanjaan lalu kami jalan-jalan sebentar." jelas Kathryn.


"Kalian ini membuat kami cemas saja." mama akhirnya bisa bernafas lega.


Clara sedari tadi menatap tajam kearah Bryan, Clara merasa lelah menahan rasa sakit dihatinya, Bryan menatap istrinya itu yang bertingkah aneh.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Bryan lembut.


Clara mengambil amplop dari dalam tasnya dan menyerahkannya ketangan Bryan tanpa mengatakan apa-apa. Orang tua mereka sama sekali tidak tau masalah apa yang tengah dihadapi anak-anak mereka, sehingga mereka tidak terlalu menanggapinya dan sibuk menimang Audira.


"Di, aku mempercayaimu lebih dari diriku, tapi hari ini kamu menghancurkan kepercayaanku, apa ini balasan yang kamu berikan padaku?" lirih Clara dengan nada suara yang tinggi membuat orang tuanya menoleh kearah mereka.


Suasana mulai memanas saat Bryan tidak bisa mengatakan apa-apa, selain bimbang dan tidak percaya bahwa dia sudah terbukti melakukan perbuatan yang telah melukai hati istrinya.


Ditambah lagi dengan kedatangan seorang wanita yang sudah mengaku-ngaku hamil anak Bryan.


Bryan terkejut melihat Angelica yang tiba-tiba datang ke rumahnya disaat suasana rumah senang panas. Dia tak menyangka Angelica bisa senekat ini untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Siapa yang mengundangmu kemari...?" kata Bryan.


Angelica berjalan mendekat kearah Bryan dan Clara, dia menatap Clara dan orang tuanya yang kebetulan malam ini datang ke rumah Clara.


"Kalian pasti sudah membaca hasilnya kan, maksud saya datang kemari hanya untuk meminta pertanggung jawaban Bryan, laki-laki yang telah menghamili saya." ungkapnya tanpa rasa malu.


Seketika orang tua Clara terkejut mendengar pengakuan tersebut dan membaca hasil tes DNA yang membuat mereka semakin terkejut.


"Kamu siapa, ini pasti bohong, kamu wanita yang ingin merusak kebahagiaan anak saya kan?" ujar mama dengan lantang.


"Saya tidak perlu menjelaskannya, tanyakan saja pada menantu Anda." ketus Angelica.

__ADS_1


"Angelica, bagaimana hasilnya bisa seperti ini, aku tidak pernah melakukan hal kotor itu." Bryan masih menyangkal.


"Istrimu sudah memintaku untuk tes DNA dihadapannya dan aku melakukannya, itulah hasil yang keluar masih tetap sama."


"Pa, ma, dia wanita gila... kalian percaya padakukan." lirih Bryan namun kedua orang tua Clara menatapnya tajam.


"Aku kecewa Di..." lirihnya.


"Ara, dia tidak benar, aku sama sekali tidak bersalah Ara, tolong percaya padaku." memohon sungguh-sungguh.


"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi Di..." Clara mendorong tubuh Bryan yang hendak berlutut di depannya.


Clara menangis dan berlari masuk ke kamarnya. Dia masih tak menyangka suaminya bisa melakukan perbuatan yang sangat menjijikkan dan sangat dibenci Tuhan


"Ara, dengarkan aku..." Bryan hendak mengejar Clara namun sang ayah menghadang didepannya.


Plakkk....


tamparan keras sang ayah menghujam wajah Bryan hingga meninggalkan bekas tapak 5 disana.


"Menantu kurangajar..." ayah angkat bicara.


"Ini balasan yang kamu berikan untuk anak saya... kamu tidak sadar saat melakukannya, apa kamu tidak mengingat istrimu yang tengah mengandung anakmu, apa kamu kehilangan akal saat melakukan hal paling menjijikkan itu." amarah sang ibu meledak-ledak hingga dia pun ikut menampar wajah Bryan.


*****


Di dalam kamar, Clara menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala rasa sakit dihatinya pada janin dikandungannya. Clara merasa sangat benci mengandung anak dari laki-laki yang sudah mengkhianatinya.


Tak lama kemudian Kathryn dan Riko yang tak saling mengenal pun masuk menemui Clara.


Kathryn langsung memeluk tubuh Clara, mereka ikut prihatin saat menyaksikan kejadian yang menimpa rumah tangga Bryan dan Clara.


"Kakak, jangan pukul perut kakak..." tutur Kathryn memegang kedua tangan Clara agar berhenti memukuli perutnya.


"Nona, nona yang sabar, nona sangat kuat pasti nona bisa melawati semua ini." Riko mencoba ikut menenangkan Clara.


Clara hanya bisa menangis dipelukkan Kathryn.


"Sabar kak, sabar..." tutur Kathryn.


"Aku pikir dia laki-laki terakhir yang bisa mencintaiku dengan tulus, tapi apa yang dia lakukan dia sangat menjijikkan." Clara terus saja mengatakan hal buruk tentang Bryan yang sudah mengkhianatinya.


"Aku yakin semua ini hanya jebakkan." gumam Riko.


"Kamu siapa?" tanya Kathryn.


"Aku teman Bryan, aku tau betul temanku seperti apa." jelas Riko.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?


"Aku harus berbuat sesuatu..." pikirnya


*****


"Pa, tolong izinkan aku menemui Clara, aku ingin menjelaskan padanya bahwa aku dijebak ini tidak benar." Bryan memohon pada sang ayah.


Saat Bryan hendak menuju kamar lagi-lagi sang ayah menahannya, sang ayah tidak akan memberinya kesempatan sekalipun Bryan bersimpuh dikakinya, karna hati mereka sudah terlanjur dibuat terluka oleh perbuatan yang Bryan lakukan.


"Ma, temui Clara, kita akan membawanya pergi dari sini." perinta papa, mama pun menyetujuinya.


"Pa, jangan bawa Clara, aku mohon pa biarkan kami menyelesaikan masalah kami bersama-sama." rintih Bryan bersujud di kaki sang ayah yang bahkan tidak mau mendengarkannya.


"CLARAAA..." teriak Bryan hingga terdengar sampai dikamar. Clara hanya bisa memeluk Kathryn dengan erat dia merasa sakit saat mengingat Bryan bahkan saat mendengar Bryan memanggil namanya.


Keluarga Clara merasa sangat kecewa dengan Bryan, mereka tidak pernah terima melihat anak mereka dipermainkan olehnya, duka lama yang dulu pernah Clara rasakan kini kembali terulang bahkan sangat menyakitkan.


Sehingga mereka memutuskan untuk membawa Clara ikut bersama mereka, agar Clara tidak akan merasakan penderitaan lagi dibanding tetap tinggal bersama seorang pengkhianat yang bisa membuatnya bertambah stress, dan untuk menjaga kandungan Clara agar bisa tetap sehat jadi Clara juga harus sehat jangan sampai stress.


"Ara, jangan tinggalkan aku..." lirih Bryan menarik tangan Clara, namun begitu saja sang ayah menghempaskan tangan Bryan yang menyentuh putrinya.


"Tangan kotormu bahkan tidak pantas untuk menyentuh lengan putri saya." tegas sang ayah yang masih tersulut emosi.

__ADS_1


"Pa, ma, jangan pisahkan kami..." pinta Bryan terus memohon.


Clara merasa kasihan melihat suaminya menangis saat memohon dihadapan orang tuanya agar mereka tidak berpisah, namun Clara tak berdaya sakit dihatinya sudah begitu dalam dan dia pun digiring keluar oleh mama dan ibunya menuju mobil.


"ARAAA JANGAN PERGI." teriak Bryan hendak mengejarnya namun ayah Clara mendorongnya hingga dia tersungkur kelantai dan Clara pun pergi dari rumah tersebut diantar oleh Riko dan Kathryn.


"Jangan pernah harap kamu bisa melihat anakmu lahir kedunia kami tidak akan membiarkannya, kami akan mengurus Clara dia akan lebih aman bersama kami, bersenang-senanglah bersama wanita pilihanmu itu, terima kasih sudah sempat mencintai putri saya meskipun kamu hanya memberinya kebahagian semu." tutur ayah Clara, lalu dia pun pergi begitu saja dari kediaman Bryan tanpa memberi Bryan kesempatan untuk bicara.


*****


Saat ini dirumahnya, Bryan ditemani oleh Angelica yang sedari tadi terus menggadeng lengannya mereka duduk di sofa, Bryan sangat membenci wanita itu meski dia sudah mengusirnya tapi wanita itu tetap menempel seperti parasit.


"Kapan kita akan menikah, semakin lama kandunganku akan bertambah besar." katanya dengan manja, menyandarkan kepalanya di bahu Bryan namun Bryan menyingkirkan kepala wanita itu dari bahunya.


"Hentikan!!! Menjauhlah dariku." tiba-tiba Bryan berbalik dan mendorong Angelica untungnya Anglica tidak terjatuh.


"Bryan, aku hanya ingin anak kita mendapat pengakuan darimu..." katanya sambil menangis agar Bryan merasa iba, namun itu sama sekali tidak membuat Bryan luluh.


Bryan bangkit dia merasa kepalanya sangat berat mungkin lelah menghadapi masalah yang bertambah rumit ini.


Yang ada dipikirannya hanyalah istri dan anak-anaknya. Bryan tak bisa berhenti memikirkan keadaan Clara saat ini yang pastinya sangat tertekan, Bryan benar-benar benci pada dirinya sendiri lagi lagi dia melukai perasaan Clara.


Di dalam pikiran Bryan hanya ada Clara, dan hanya Clara yang bisa mengisi hatinya.


"Kamu harus tanggung jawab, aku tidak mau anak ini terlahir tanpa seorang ayah." rengek Angelica.


membuat Bryan mengacak-acak rambutnya dia benar-benar pusing mendengar celotehan Angelica.


"Aku akan tanggunh jawab, tapi kamu harus pergi dari sini..."


"Cepat keluar!!!" ucap Bryan dengan tegas dia tidak bisa mengontrol emosinya, namun wanita tidak tau diri itu masih kekeh berdiri dihadapannya.


Tanpa rasa kasihan melihat wanita yang mengaku-ngaku hamil anaknya itu, Bryan menarik tangan Angelica dan menyeretnya keluar.


"Pergi kamu... singkirkan wajahmu dari hadapanku..." Bryan menyeret wanita itu dengan kasar keluar dari dalam rumahnya, karna Bryan sudah benar-benar muak mendengar tiap kata yang keluar dari bibir Angelica.


"Kurangajar kamu Bryan, laki-laki tidak bertanggung jawab, awas kamu." dengusnya.


Namun Bryan sama sekali tidak takut pada wanita itu, dia malah membanting pintu dengan keras dan mengunci pintu rumahnya.


Tanpa Bryan sadari tubuhnya terduduk dengan sendirinya didepan pintu. Pandangan matanya kosong, terngiang di ingatannya merasa Clara dan buah hatinya sedang bermain dia ruang tamu sambil tertawa namun semua itu hanya bayangan hayalan semata yang membuatnya tak kuasa menahan tangis.


Emosi Bryan naik turun, kini dia benar-benar marah dengan kejadian hari ini, siapa yang akan dia salahkan, Bryan hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Wanita itu telah merampas kebahagiaannya, Bryan telah kehilangan istri dan bahkan tidak diizinkan untuk melihat calon anaknya yang sebentar lagi akan terlahir kedunia ini, semua itu karna Angelica.


Esok Pagi


Clara tengah menemani Audira bermain di halaman depan rumahnya. Namun, dia masih terbayang kejadian kemarin malam yang baru saja menimpanya.


Clara sesekali memandang perut buncitnya yang hanya tinggal menghitung hari akan melahirkan itu, dan dia memandangi gadis mungil dihadapannya. Clara kembali mengingat bagaimana Bryan menerima Audira dengan tulus, membesarkan Audira dengan penuh kasih sayang hingga dia tumbuh menjadi anak yang pintar seperti sekarang.


"Mengapa kamu melakukan itu Di, kamu membuatku dan Audira terluka." Clara menangis dan memejamkan kedua matanya berharap luka dihatinya bisa berkurang.


Dan Clara juga mengingat bagaimana perjuangan Bryan sampai rela mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan cinta Clara, namun kini hanya kekecewaan yang Clara rasakan perjuangan itu sama sekali tidak ada artinya lagi.


Ponsel Clara terus bergetar namun Clara mengabaikannya karna dia tau pasti Bryan yang terus menghubunginya. Lagi-lagi ponselnya bergetar begitu banyak panggilan dan pesan yang Bryan kirim, sampai akhirnya Clara terngiang untuk membuka pesan singkat yang dikirim oleh Bryan.


"Ara, kembalilah, jika kamu tidak kembali maka sekarang juga aku akan kerumah papa, aku akan menjemputmu dan Audira, Ara percayalah padaku aku sangat mencintaimu dan juga Audira hanya kalian semangat dan kebahagiaanku."


praakkkkk...


Clara melempar ponselnya ketanah hingga pecah, Audira seketika kaget.


"Mama, kenapa?" tanyanya memandang wajah sang mama yang tampak sedih. Clara memandangi wajah anaknya dan memeluknya.


Clara berusaha kuat agar anaknya tidak melihat dia menangis, tapi nyatanya Clara tetap menangis meski dia sudah sangat kuat menahan luka dihatinya namun air mata itu tidak bisa dia hentikan, saat ini hanya Audira dan calon bayinyalah yang menjadi kekuatannya untuk bertahan menghadapi masalah yang sedang terjadi.


"Sayang, ini surat perpisahan kalian..." papa mengunjukkan surat cerai pada Clara.


"Kami tidak akan bercerai pa." lirih Clara.


"Untuk apa mempertahankan orang yang jelas-jelas sudah mempermainkan kamu nak, lihatlah kamu menangis dan papa tidak akan membiarkan kamu seperti ini." Clara pun dipeluk oleh sang ayah, dia larut dalam setiap kesedihan dan akan menuruti saran sang ayah.

__ADS_1


Ok gengs, setelah episode ini kebenaran akan terungkap, jadi tunggu yaaa kelanjutannya😊💪💪💪


__ADS_2