
Bryan dan Riko tiba di restoran.
"Apa Clara ada?" tanya Bryan pada Aliya.
"Nona ada di dalam Tuan." jawabnnya.
"Sir, aku ke kembali kekantor, jika perlu sesuatu hubungi saja aku." ucap Riko.
"Iya Rik, pergilah."
"Semoga permasalahan Sir dan Nona cepat selesai, saya akan urus Angelica."
"Ok Rik, terima kasih."
Bryan pun bergegas masuk ke dalam menemui Clara di ruangannya.
"Araaa" panggil Bryan berhasil membuka pintu ruang kerja Clara dengan tergesa-gesa dan nafas ngos-ngosan.
Clara sontak kaget melihat Bryan ternyata masih mengejarnya.
"Kamu masih mengejarku?"
"Ara, aku bisa jelaskan semuanya." Bryan mendekati Clara.
"Saat aku bertanya padamu, kenapa kamu hanya diam, sekarang apa yang ingin kamu jelaskan lagi."
"Ara, dia yang memelukku, bukan aku."
"Sama saja, kamu juga tidak menolaknya."
"Aku berusaha melepaskannya, tapi tiba-tiba kamu masuk dan salam paham."
Bryan menarik tangan Clara, mencoba bicara lebih dekat.
"Sekarang aku sudah tau siapa kamu sebenarnya." kata Clara kecewa.
"Ara, dia Angelica penasehat baru perusahaan, dia juga rekan bisnisku."
"Oh, jadi namanya Angelica, kamu tidak memberitahuku rekan bisnismu perempuan seperti dia."
"Ara, bukan seperti itu, aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu, aku hanya ingin menjaga rumah tangga kita."
"Hah, menjaga kamu bilang, justru sekarang setelah apa yang ku lihat bagiku kamu merusak semuanya, kepercayaanku, cintaku, dan hubungan kita."
"Ara, kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Ceraikan aku, aku tidak sudi punya suami seperti kamu, kamu sama saja seperti Rendi, tidak ada bedanya."
__ADS_1
"Ara, dengarkan aku, kamu hanya salah paham."
"Tolong keluar dari sini." bentak Clara.
"Tidak Ara, tolong dengarkan aku, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya."
Clara terdiam, dia sadar mereka bukan anak kecil lagi yang mengambil keputusan tanpa berpikir berulang kali, dan akhirnya Clara memberi Bryan kesempatan untuk menjelaskannya.
"Ara, dia hanya masalaluku, bahkan aku tidak pernah menjalin hubungan dengannya."
"Bagaimana mungkin dia bisa menjadi masalalumu tanpa pernah menjalin hubungan."
"Aku pernah dijodohkan dengannya oleh paman dan bibiku untuk membalas kebaikan orangtuanya yang sudah mau membantu pamanku yang saat itu hampir bangkrut, tapi sungguh aku tidak pernah menerima perjodohan itu, Ara lihat aku sekarang, aku sukses aku bertekat untuk membalas hutang-hutang pamanku padanya, dan demi bisa kembali ke Indonesia hanya untuk menemuimu, mungkin kamu tidak pernah menyadari itu karna aku tidak pernah ada di hatimu saat itu." jelas Bryan panjang lebar.
Bryan duduk dilantai dengan menundukkan kepala dia hanya bisa pasrah, Clara mau percaya atau tidak.
"Bangkitlah." Clara membantu Bryan berdiri.
"Ara, kamu harus percaya padaku." Bryan benar-benar memohon.
"Kenapa kamu masih menerimanya menjadi SC perusahaan, kamu tau dia masih mengejarmu?" tanya Clara dengan nada tenang.
"Awalnya aku juga tidak tau kalau SC baru perusahaan itu dia, saat rapat dimulai aku baru mengetahuinya, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain terpaksa memilihnya."
"Tapi sekarang dia sudah menjadi rekan bisnismu kan, kalian akan sering bertemu."
"Ara, aku sangat mencintaimu, jika kamu memintaku untuk menunggumu lagi maka aku siap menunggumu, mungkin dengan seperti itu kamu akan percaya betapa aku sangat mencintaimu."
"Di, jujur saja aku cemburu, tapi aku tidak akan marah lagi, maafkan aku ya sikapku mungkin seperti anak kecil." sesal Clara.
"Aku yang minta maaf Ara, maafkan aku sudah menyakiti perasaanmu, aku suka kamu cemburu, itu tandanya kamu juga mencintaiku."
Clara akhirnya bisa tersenyum, Bryan memeluknya.
"Maafkan aku Ara, kamu jangan nangis lagi ya, aku tidak bisa melihatmu seperti ini." ucap Bryan sambil membelai rambut Clara yang berada dalam pelukkannya.
"Di, bagaimana dia bisa masuk keruanganmu, kamu bilang hanya kita berempat yang tau sandinya."
"Iya, tadi aku lupa menguncinya, aku minta maaf Ara."
"Sudahlah Di, sekarang aku akan lebih tegas menghadapinya."
"Benarkah sayang?"
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan orang lain merebut suamiku."
"Dan aku juga tidak akan membiarkan orang lain merebutku dari istriku."
__ADS_1
Cup...
Bryan mencium kening Clara, lalu kembali memeluknya.
"Ara, aku punya sesuatu buat kamu."
"Apa Di?"
"Tada!!!" Bryan mengeluarkan kunci sepertinya kunci rumah.
"Kunci rumah siapa ini Di?"
"Buat kamu dan anak-anak kita." Bryan senang melihat Clara bisa tersenyum lagi.
"Rumah kita itu sudah sangat besar, Di."
"Iya aku tau sayang, karna itulah aku mencari rumah yang lebih kecil."
"Kenapa begitu, nanti kamu gak betah lagi tinggal di rumah kecil."
"Justru itu sayang, aku ingin belajar memulai hidup yang lebih sederhana."
"Iya sayang, terserah kamu saja aku senang banget jika kamu berpikir seperti itu, lalu mansion mewah itu akan kamu apakan?"
"Aku memutuskan untuk mengosongkan mansion itu, dan aku akan mewariskannya pada Audira."
"Ya ampun Di, kenapa kamu sudah berpikir sejauh itu, Audira bahkan masih sangat kecil."
"Iya, aku juga sudah membagi semua aset kekayaanku untuk Audira dan calon bayi kita, mereka akan mendapat hak yang sama, aku sudah membaginya secara adil."
"Di, maksudmu apa bicara seperti itu, kamu jangan membuatku cemas."
Clara tidak mengerti kenapa Bryan tiba-tiba bicara tentang warisan, sedangkan dia masih sehat dan berdiri kokoh.
"Ara, aku tidak punya alasan kenapa aku bicara seperti ini, aku hanya ingin menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita."
"Tapikan kamu masih bisa mengurusnya Di, ada apa sebenarnya, apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja Ara, kamu tidak perlu cemas, kamu pasti sudah tidak sabarkan melihat rumah baru kita."
"Emmm baiklah, iya aku mau."
"Besok, kita akan kesana, sekarang kita pulang ya sayang, jangan ngambek lagi." mencolek dagu istrinya.
"Iya Didi, aku gak ngambek kok, semua istri pasti akan marah saat melihat suaminya bersama wanita lain."
"Iya iya aku minta maaf Ara, aku akan lebih berhati-hati, terutama kamu sayang, jika dia mengganggumu maka segera beritahu aku."
__ADS_1
"Siap boss, aku tidak takut dengan wanita itu."
"Araku ini sangat pemberani."