
Di kantor perusahaan Maxime.
William yang sudah selesai bekerja pun langsung meminta Nathan untuk datang membawa beberapa berkas yang telah ia tanda tangani hari ini, dan Nathan juga memberikan sebuah map yang di titipkan oleh Evelyne kepadanya saat ia datang ke perusahaan William. “Tuan, ini dokumen yang Anda minta kepada Nona Yoona agar memeriksanya dan memperbaiki beberapa kesalahan yang Anda disana.” Ucap Nathan seraya menyerahkan map tersebut kepada William.
Melihat Evelyne mengerjakan itu dalam setengah hari pun membuat William sedikit merasa kagum dengan keahlian yang di miliki oleh wanita itu. Evelyne memang baru belajar beberapa ha tentang dunia perbisnisan, tapi siapa yang akan menyangka bahwa ia bisa berkembang secepat ini dalam waktu yang pendek. “Hm...Cukup bagus! Tapi...kenapa dokumen ini bisa ada di tanganmu? Bukankah aku menyuruhnya untuk memberikanku dokumen ini secara pribadi?”
William mengerutkan keningnya saat mengingat bahwa Evelyne harusnya memberikan dokumen ini secara pribadi kepadanya, tapi kenapa ia malah memberikannya kepada Nathan? Sungguh tidak bertanggung jawab! Nathan yang melihat raut wajah kesal William pun langsung membuka suaranya untuk menghindari kesalahpahaman kepada Evelyne.
“Maaf tuan, bukan seperti itu. Sebenarnya Nona Yoona ingin memberikannya secara pribadi kepada Anda, namun karna saat itu Nona sedang sibuk hingga membuatnya terburu-buru untuk kembali ke kantor. Jadinya beliau menitipkan map ini kepada saya, dan Nona Yoona juga ingin memberikan makanan kepada Tuan, saat ia tahu bahwa tuan belum makan siang karna meeting.” Jelas Nathan dengan akhiran menghembuskan nafas. “Saya memberitahu Nona, bahwa anda beberapa hari yang lalu telat akan jadwal makan anda. Dan saya juga mengatakan pada Nona untuk menetap sejenak di dekat tuan, hingga tuan bisa memakan makanan itu sampai habis. Karna saya takut, tuan akan membuangnya seperti makanan yang kami hidangkan sebelumnya.”
William terdiam, lalu manik matanya tajam melirik kearah jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 20.30 dan Evelyne masih belum kembali ke ruangannya setelah ia meminta izin untuknya mencari angin di luar. “Lalu...dimana dia?” tanya William dengan nada dinginnya.
“L-lho, bukankah Nona Yoona selama ini bersama anda di dalam ruangan, tuan?” Nathan mengingat bahwa Evelyne datang ke ruangan William untuk mengantarkan makanan dan ia juga belum melihat Evelyne keluar dari ruangan William hingga ia berpikir bahwa selama ini ia masih bersama William di dalam ruangannya.
William menggeleng “Tidak! Tadi dia izin padaku untuk keluar sebentar, tapi sampai jam segini dia belum kembali. Bahkan menghubungiku saja ia tidak”
“Apaa?!!” Sungguh masalah apalagi yang akan datang nantinya. Nathan yang mendengar Evelyne keluar tanpa sepengetahuannya pun membuat dirinya merasa jantungnya akan melompat keluar karna saking tidak kuatnya dengan sikap wanita itu. “Tuan, bukankah anda menyuruh beberapa bodyguard untuk mengawasi Nona Yoona selama ia berada di kota. Apakah anda sudah mencoba menanyakan keberadaan Nona Yoona kepada mereka?”
Nathan yang teringat ide yang cermelang pun membuat William dengan sontak mengacungkan jempolnya pada lelaki itu sebelum ia mengambil hp nya diatas meja untuk mencoba menghubungi para bodyguard yang ia tugaskan itu. Menunggu beberapa saat sampai telpon itu tersambung, Nathan yang melihatnya sampai tidak sadar akan telpon itu tersambung.
“Bagaimana tuan, apakah mereka mengangkatnya?” tanya Nathan dengan penasaran.
William menajamkan matanya “Tidak, sepertinya mereka sedang sibuk.”
“Sibuk? Sibuk dengan apa mereka? Bukankah tugas mereka hanya menjaga Nona Yoona?” cibir Nathan dengan membandingkan pekerjaannya yang jauh lebih merepotkan daripada menjaga satu wanita saja.
William menyeringai, menatap Nathan bagaikan orang bodoh saat ia tidak mengetahui siapa itu Evelyne. “Kau pikir mudah untuk menjaga gerak-gerik dari wanita yang suka menipu banyak orang dengan wajah polosnya?”
“A-apa maksudmu tuan?” Nathan terheran.
__ADS_1
William menggeleng kepalanya “Kau seharusnya cukup bersyukur dengan pekerjaanmu ini, karna menurutku pekerjaan mereka memang terlihat mudah namun jika melakukaj sedikit kesalahan maka nyawalah bayarannya”
“Shit! Jangan bercanda kau, tuan. Bagaimana bisa hanya melakukan sedikit kesalahan maka nyawa menjadi taruhannya?” Protes Nathan dengan nada yang tidak senang “Apa kau pikir itu tidak terlalu kejam kepada seseorang yang sudah melakukan tugasmu dengan baik?”
William tertawa saat ia kembali mengambil hp nya untuk melihat sesuatu di layar hpnya tersebut. “Tidak ada yang namanya kejam dalam dunia perbisnisan itu! Karna semuanya mereka lakukan untuk hidup, dan jika kalian ingin hidup dengan damai maka untuk pertama kali kalian harus mengorbankan nyawa kalian untuk dunia yang kalian harapkan!”
“Huh...tuan, anda tidak bisa seperti itu kepada orang lain! Apakah anda tidak pernah berpikir bahwa orang yang di bawah lebih membutuhkan orang yang di atas untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik?” Nathan berkata saat melihat William tengah terfokuskan pandangannya kearah layar hp. “Tuan, anda benar-benar tidak mengan....”
Nathan menghentikan perkataannya saat melihat raut wajah William seketika berubah menjadi sangat gelap saat fokusnya tertuju ke layar HP nya. “T-tuan, a-ada apa? K-kenapa anda seperti itu?” tanya Nathan dengan hati-hati.
“Siapkan mobil! Kita pergi sekarang!” Pinta William dengan nada yang sangat dingin, bahkan Nathan sendiri bisa merasakan aura gelap yang keluar dari tubuh William tampak begitu mengerikan. “K-kenapa tuan?” Nathan mencoba bertanya.
William dalam kondisi hati yang buruk pun langsung menatap Nathan dengan tatapannya yang tajam, dan hal itu membuat Nathan dengan sontak berlari keluar dari ruangan William untuk menyiapkan mobil sesuai dengan apa yang di katakan oleh lelaki itu tadi.
Sementara William ikut berjalan keluar mengikuti Nathan yang kini sedang berlari kencang di depannya. Manik matanya yang tajam terus menatap layar HP nya tanpa diketahui apa yang membuat lelaki ini berubah seperti ini. Bahkan Ingin bertanya hanya akan membuat diri mereka seperti memancing nyawanya sendiri di kandang singa.
“Kenapa diam saja? Dimana mobilnya?!” William mengejutkan Nathan yang kini dalam keadaan panik.
Nathan tergagap-gagap “A-anu...i-itu...t-tuan....m-mobil anda!”
“Hah?” mendengar perkataan yang tidak jelas satu Nathan pun membuat William dengan sontak mengangkat kepalanya untuk ikut mencari mobilnya.
Namun sangat disayangkan, william juga tidak menemukan mobil sport putih miliknya. Dan saat ia memeriksa di alat pendeteksi, mobil itu ada di dekat bar yang jaraknya lumayan jauh dari perusahaannya ini. William merasa curiga dengan Evelyne, karna tidak ada satupun orang yang bisa membuka mobil itu terkecuali Evelyne dan Nathan.
Karna Nathan selalu bersamanya dan Evelyne yang tidak bersamanya membuat William semakin di ambang firasat buruk mengenai Evelyne dengan mobil tersebut. “Ambil mobil perusahaan, kita pergi ke bar!” ucapnya dengan nada yang menekan.
...--🥀🕊—
...
__ADS_1
Di bar xxx.
Evelyne yang masih berjuang keras untuk mendorong Edgar menjauh darinya pun terus gagal akibat tenaga yang di berikan oleh lelaki itu jauh lebih kuat darinya akibat pengaruh dari alkohol yang ia minum tadi. Bahkan bukan Edgar saja yang mabuk, melainkan Evelyne juga merasa bahwa pernafasan sudah terasa begitu sesak.
Jantungnya yang terus berdegup dengan kencang dan tubuh gemetar saat ia merasakan sentuhan demi sentuhan yang di berikan oleh lelaki itu kepadanya.
Tidak! Ia tidak bisa berakhir seperti ini bersama bajingan gila tidak tahu malu, Ia tahun pergi darisini! Pergi keluar dari tempat ini sebelum William menyadari bahwa ia telah pergi begitu lama. “Eugh...E-edgar...tolong hentikan!!!” ucapnya dengan tangisan.
“Yoona, kenapa kau menangis? Bukankah melewati batas bersamaku itu keinginan terbesarmu? Kau bahkan mengatakan kepadaku bahwa kau sangat jijik jika William menyentuhmu” Edgar lagi-lagi berbisik di telinga Evelyne untuk mengambil semua tenaga yang ada di dalam diri wanita itu.
Evelyne menggeleng “Tidak! Aku tidak pernah jijik dengan lelaki itu, tetapi aku jijik dengan bajingan sepertimu!!!”
“Ha? Kau bilang apa tadi? Bajingan?” Edgar menatap Evelyne dengan matanya yang tajam, serta tahanan pada kedua tangannya juga semakin mengerat hingga ia merasakan sakit di punggungnya serta lengan bagian atasnya. “Jika aku bajingan di matamu, maka jangan salahkan aku jika aku mengambil sesuatu yang selalu kau jaga selama ini Yoona!!!”
Sreekk!!!
Edgar melepas jas hitam Evelyne, lalu merobek kasar kemeja putihnya hingga mengekspos tubuh dalamnya yang begitu putih dan mulus. Pandangan Edgar yang melihat itu pun lanbaunh di penuhi oleh nafsu yang membawa, dan secara tidak sabar ia pun langsung membukakan bajunya dengan cepat.
Tak lupa ia juga mengingat kedua tangan Evelyne di atas kepalanya agar wanita itu akan selalu kalah di bawahnya. “Kau bilang aku bajingan, bukan? Sini...biar aku kasih lihat bagaimana bajingan yang sesungguhnya!” bisiknya dengan suara seraknya.
Evelyne tidak ingin, ia tidak ingin merasakan sakitnya seperti di masa lalu. Ia tidak ingin berakhir sama, tapi bagaimana? Bagaimana caranya melawan disaat tubuhnya di hempit oleh tubuh besar milik Nathan serta tangannya yang di ikat begitu kuat di atas kepalanya.
“Yoona ku sayang...aku harap, William bisa melihat bagaimana dirimu sekarang saat ini bersamaku. Apakah dia akan menceraikanmu, atau dia akan membunuhmu?” Evelyne menggeleng saat mendengar Edgar masih mengingat William disaat ia melakukan hal keji kepadanya. “Jika dia melakukan sesuatu yang kejam kepadamu, maka kau harus kembali kepadaku!”
Evelyne menggelengkan kepalanya dengan kencang, ia juga berusaha mencari sesuatu yang ada di dekat tangannya untuk mencoba melakukan pembelaan diri terhadap pelecehan ini. Baru bergerak beberapa kali, Evelyne langsung menemukan suatu benda yang keras seperti kaca namun ia berbentuk seperti gelas.
Evelyne sempat berpikir bahwa ini adalah gelas yang sebelumnya di gunakan oleh Edgar untuk meminum alkohol itu. Tak menunggu lama, Evelyne pun langsung mengambil gelas itu, lalu dengan tangannya yang diayunkan begitu keras ke arah depan atau lebih tepatnya ke arah kepala Edgar pun seketika...
Praakk....
__ADS_1