Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 112 : Aku takut kehilanganmu, Yoona.


__ADS_3

Sesampainya disana, William dan 2 orang yang datang bersamanya dibuat terkejut saat melihat kepulan asap yang tebal berwarna hitam serta gedung yang hampir runtuh entah karna apa. ketiga orang yang masih berada di dalam mobil pun seketika tertegun dengan apa yang mereka lihat di hadapannya. “H-hey...A-apa yang terjadi disana?!” ucap Nathan dengan menunjuk.


“Seperti habis terkena ledakan kecil, tapi..apa mungkin bisa ledakan kecil membuat gedung itu seperti akan hancur.” Sahut lelaki lain yang berada di mobil yang sama.


William melirikkan matanya, lalu bergumam sesuatu dengan suara yang pelan. “Hancur?” ia seketika tersadar akan keberadaan Evelyne yang berada di dalam gedung tersebut, dan hal itu membuat william dengan sontak membuka pintu mobilnya seraya berteriak. “YOONAA..”


Kedua orang yang berada di dalam mobil pun seketika terdiam saat melihat William keluar dari mobil sambil meneriaki nama ‘Yoona’ dengan suaranya yang keras. Bahkan William terlihat seperti tengah berlari menghampiri gedung itu untuk berbuat nekad.


“Tuan...tidak tuan!!” ucap Nathan yang langsung keluar dari mobil untuk menyusul William.


Sementara lelaki yang masih berada di dalam mobil pun mengeluarkan hp nya di balik jaket hitamnya, lalu memotret kejadian yang ada di depannya untuk seseorang. Setelah ia mengirimnya, sebuah panggilan pun masuk ke dalam hp nya dan membuat lelaki itu langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang.


“Kirim lokasinya padaku! Aku akan mengirim beberapa pasukan untuk menangkap mereka, kau tetaplah disana dan jangan membuat dia sampai mencurigaimu!”


Lelaki itu mengangguk dingin “Baik tuan, semua bisa terlaksanakan dengan sempurna. Saya akan menunggu pasukan anda datang kesini”


Disisi yang sama, Nathan yang sedang mencoba untuk menghentikan William berbuat nekad disana pun membuat dia terus memohon agar ada sesuatu yang bisa menghentikan William untuk tidak pergi kesana. Bahkan permohonannya mengatakan bahwa Nathan lebih menginginkan Evelyne keluar dari tempat ini dengan selamat.


Jadi..tidak akan ada pertengkaran lagi setelah William menemukan Evelyne.


“Tuan, aku mohon berhentilah berbuat nekad seperti ini!! lihatlah...bangunan itu sudah tidak bisa bertahan lebih lama, jadi akan sangat berbahaya jika anda memasukinya tuan.” Kata Nathan dengan menahan salah satu tangan William.


William menepis tangan Nathan dengan kasar, lalu menatap lelaki itu dengan tatapan yang tajam. “Jika menurutmu bangunan ini berbahaya untukku, lalu begaimana dengan Yoona? Kondisi tubuhnya jauh lebih buruk dibandingkan denganku, jadi untuk apa aku hanya diam saja saat dia berada di bangunan yang hampir akan hancur ini?!!”


“T-tapi..tuan” cicit Nathan dengan mengakui.


Sementara William membuang pandangannya kearah bangunan itu, lalu ia membuka suaranya kembali “Jika kau tidak ingin pergi, maka aku saja yang akan masuk untuk menyelematkannya.”


Baru saja William hendak melangkahkan kakinya untuk berjalan menghampiri gedung itu, seketika ia dikejutkan oleh berdirinya seseorang wanita di depan gedung itu. Wanita dengan tubuh yang sangat kotor serta dipenuhi oleh banyaknya cipratan darah, entah milik siapa. Wajahnya cantik, namun dinodai oleh beberapa goresan luka serta kotoran debu yang menempel di pipi mulusnya.

__ADS_1


Manik mata yang indah kini terlihat tajam saat berjalan tegak keluar dari kepulan asap itu,dan William juga terkejut saat melihat seorang lelaki ikut keluar dari sana dengan jalan yang agak sedikit pincang. William bisa mengenali siapa wanita itu..dan William juga langsung berlari menghampirinya dengan hati yang sangat mengkhawatirkan Evelyne.


“YOONAA..” teriak William disela-sela lariannya.


Wanita yang tengah berdiri di depan kepulan asap pun seketika terkejut saat melihat seorang lelaki yang tampak familiar baginya tengah berlari mendekat kearah nya, namun Evelyne tidak begitu yakin karna suara yang terdengar olehnya adalah suara yang hampir menangis serta hati yang rapuh. “L-liam? L-liam...A-apa yang kau lakukan disini?”


“Tentu saja aku mencarimu” ucapnya saat memeluk Evelyne dengan begitu erat, bahkan tubuhnya yang kini merasakan suhu yang hangat dari tubuh Evelyne membuat William dengan nyaman meletakkan kepalanya diatas salah satu bahu Evelyne. “Kau ini bodoh ya?!! Kenapa kau selalu saja membuatku khawatir seperti ini?! apa kau ingin membunuhku secara tidak langsung?”


Evelyne tertegun, ia kira William akan memarahinya saat mereka bertemu. Tapi siapa yang akan menyangka bahwa William saat ini tengah memeluknya dan...menangis? Evelyne mengusap punggung william yang kini membungkuk karna perbedaan jauh antara tinggi mereka “L-liam...M-maafkan aku, a-aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir seperti ini. Maafkan aku, liam. Maafkan aku, aku salah"


“Kau curang, kau selalu saja meminta maaf saat aku sedang marah kepadamu. Seharusnya kau menungguku sampai aku selesai marah, baru kau bisa meminta maaf padaku.” Protes william saat menggeleng diatas bahu Evelyne.


Evelyne terkekeh lembut, lalu mengangkat kepala William dari bahunya. “Jika aku menunggumu sampai selesai dengan amarahmu, lalu kapan aku bisa meminta maaf. Aku tahu, aku salah akan hal ini. Maafkan aku ya..”


“Tidak!...aku tidak akan menerimanya disini” ucap William seraya melirikkan matanya pada seorang lelaki dewasa yang berada di belakang Evelyne. “Eum...mari kita pulang, dan biarkan semuanya mereka yang mengurusnya.”


Evelyne terlonjat kaget saat melihat tubuhnya terangkat keatas dan mendarat di dekapan william yang hangat. Bahkan Evelyne juga menyandarkan kepalanya di dada William agar ia bisa mendengar detak jantung William. “Bodoh, kau seharusnya tidak melemparku seperti itu ya..”


Sementara lelaki yang membantu Evelyne sebelumnya hanya terdiam saat melihat kedekatan William kepada Evelyne. “Mereka tampak dekat, apa mereka partner kerja yang baik?” tanyanya pada diri sendiri.


“Tidak, kau salah. Mereka sudah menikah sejak 2 tahun yang lalu, mungkin kau orang baru. Jadi tidak akan mengetahuinya.” Sahut Nathan yang berjalan menghampiri lelaki itu. “Ayo ikut saya! Beberapa bantuan datang untuk merawatmu, dan kau tidak perlu khawatir...semua ini dilakukan untuk rasa terimakasih tuan kepadamu yang sudah menyelamatkan nona Yoona kembali dengan aman.”


Lelaki itu tersenyum “Aku hanya membantunya sedikit, selebihnya...dia yang mengurus semuanya. Bahkan aku sebagai laki-laki merasa malu saat melihatnya membantuku hingga pintu keluar.”


“Tidak perlu dikagetkan lagi, nona Yoona memang wanita yang selalu akan kejutan dalam dirinya.” Ucap Nathan dengan angguk.


Lelaki itu mengangguk, lalu mengingat akan sesuatu hal. “Sikap dan keberaniannya saat ini membuatku sempat berpikir bahwa dia adalah Evelyne, bukan Yoona.”


“Kau mengatakan seperti itu, memangnya kau tahu perbedaan dari mereka?” tanya Nathan dengan sinis “Lagipula kau tidak bisa menyamakan nona Yoona dengan Evelyne yang telah dikabarkan meninggal dunia untuk beberapa bulan yang lalu”

__ADS_1


Lelaki itu tertawa “Bagaimana bisa kau mempercayai berita itu? Apa kau yakin, iblis kejam sepertinya akan mati dengan mudah?”


“Ya, jika itu sudah menjadi takdir maka ia bisa mati kapan saja. Walau dia adalah iblis yang kejam.” Ucap Nathan seraya berjalan meninggalkan lelaki itu di belakangnya.


...--🥀🕊—...


Di dalam mobil.


William yang baru saja memasukkan Evelyne ke dalam mobil pun seketika suasana disana berubah menjadi sangat canggung, karena entah kenapa William merubah aura menjadi serius. “Sejak kapa kau bersamanya? Apa kau mengenalinya?” tanya William dengan nada dinginnya.


“Siapa yang kau maksud? Lelaki yang bersamaku tadi?” Evelyne mengira bahwa William sedang membicarakan lelaki itu disaat seperti ini. “Aku tidak mengenalinya, dia datang membawaku ke gedung tua itu bersama teman-temannya. Namun ia juga yang membantuku untuk keluar dari sana. Aku tidak tahu siapa dia, tapi sepertinya dia mengenaliku.”


William mengerutkan keningnya “Apa maksudmu?”


“Dia tampak mengenaliku, hanya saja cara pandangnya seperti tengah memandang seseorang. dan aku...tidak mengetahuinya.” Ucap Evelyne dengan menundukkan kepalanya “Maafkan aku...aku sungguh tidak memiliki urusan apapun dengannya. Dia hanya datang kepadaku untuk membantu, tetapi untuk maksud yang lain..aku tidak peduli itu.”


William melirikkan matanya “Apa dia mengatakan sesuatu padamu?”


“Eum...tidak, dia hanya mengatakan bahwa aku adalah wanita yang menarik sama seperti seseorang yang ia kenal dulu dan ia juga mengatakan bahwa kau beruntung saat memiliki ku” Jelas Evelyne dengan memalingkan wajahnya.


William tahu bahwa Evelyne tidak sepenuhnya tahu siapa lelaki tadi, jadi..William memutuskan untuk berhenti bertanya mengenai lelaki itu atau Evelyne akan mencurigainya. “Lupakan saja, aku hanya bertanya kenapa kau bisa bersama dengan lelaki itu. Padahal dessy mengatakan kepadaku bahwa kau pergi seorang diri ke kantor tanpa penjaga ataupun supir bersamamu”


“A-ahh...itu, maafkan aku..” cicit Evelyne dengan malu.


Sementara william yang melihat Evelyne menundukkan kepalanya karna mengaku bersalah membuat lelaki itu merenggangkan tangannya untuk mengelus kepala Evelyne dengan lembut. “Jika kau merasa tidak nyaman dengan supir yang aku tugaskan, maka aku yang akan secara pribadi mengantarkanmu mulai sekarang. Dan kamu..juga tidak boleh pergi kemanapun tanpa aku ataupun penjaga.”


“T-tapi..” Evelyne yang hendak menolak pun seketika di hentikan oleh william yang kini tengah memandangnya dengan manik mata yang dingin. Namun manik mata itu tidaklah mengerikan, tetapi hanya memberikan kesan peringatan kepada Evelyne. “Jika kau merasa keberatan akan hal itu, maka jangan salahkan aku jika aku mengurungmu di tempat yang tidak dapat orang bisa menemuimu ataupun melukaimu lagi.”


Evelyne terdiam, ia mengingat bagaimana Dessy pernah mengatakan kepadanya tentang ketraumaan pada hati William membuat Evelyne merasa bahwa dirinya juga memiliki. Tapi ia selalu menyimpangkan perasaan itu dengan rasa ketidakpeduliannya. “Aku paham kau merasa keberatan, aku juga tidak akan mempermasalahkan itu lagi. Maafkan aku..”

__ADS_1


William yang baru saja ingin menjauhkan tangannya dari atas kepada Evelyne pun seketika ditahan oleh wanita itu. Bahkan Evelyne sampai berpindah ke atas pangkuan william untuk memeluk lelaki itu dengan erat. “Aku sama sekali tidak keberatan akan hal itu, Liam. Kau berhak menjagaku, kau berhak melakukan apapun yang kau inginkan”


“Tidak, aku tidak akan pernah mengaturmu. Aku melakukan ini agar kau tidak lagi membuatku khawatir. Kau tahu? Saat aku mengetahui kau pergi dalam kondisi yang tidak baik dan berdiam diri di dalam gedung tua itu, hatiku hancur. Aku takut kehilanganmu, Yoona.”


__ADS_2