
Dessy mengangguk, ia memang mengingatnya. Tapi jika dibandingkan dengan sikapnya yang sekarang, entah kenapa Dessy sulit sekali untuk menyimpulkan bahwa Nyonya besarnya yang sekarang telah berubah. Berubah secara alami dan itu bukanlah akting yang biasanya ia lakukan dulu. “ Ya, mungkin untuk saat ini kau bisa menyimpulkan seperti itu. Tapi kau bisa mencobanya nanti untuk meminta ia melakukan sesuatu, dan kau lihatlah! Dia menerima dengan senyuman atau menolak dengan kasar.”
Kepala asisten itu terdiam, dan secara bersamaan pintu ruang utama terbuka. Menampilkan seorang wanita yang tengah berjalan masuk kedalam dengan tenang, tidak ada keributan yang biasanya ia lakukan. Dan hal itu tentu saja membuat kepala asisten serta Dessy menolehkan kepalanya. “Nyonya?” gumam Dessy saat melihat tangan Evelyne tengah melambaikan di depan dadanya seperti sedang menyapa tanpa berbicara.
Kepala asisten yang melihat Evelyne tengah berlari menaiki tangga ke lantai 2 dengan tangan yang masih melambai serta bibir yang tersenyum lebar membuat dirinya seketika terdiam, sampai Dessy harus menepuk lengan bagian atas kepala asisten itu dengan pelan “Bagaimana? Apa kau melihatnya tadi?” tanya Dessy yang berubah raut wajahnya menjadi datar.
“Hn... Ya, aku melihatnya. Senyuman dan sikap kekanak-kanakannya itu... Seharusnya tidak ada didalam diri nyonya.” Kata kepala asisten seraya memandang kearah lantai 2. “Dan ini adalah pertama kali aku melihatnya”
Dessy mengangguk setuju, “Aku sudah mengatakannya padamu sejak awal, tapi kau sama sekali tidak pernah mendengarkanku, dan sekarang bagaimana? Apa kau percaya?” kepala asisten itu mengangguk, namun masih terdiam menatap kearah yang sama. “Masa iya? Hanya sebuah kecelakaan dapat membuatnya berubah total seperti itu? Apakah dia benar-benar berubah atau hanya sekedar akting saja?”
“Heem..” Dessy mengangkat bahunya sambil menggeleng “Sandiwara atau tidak, aku tidak terlalu peduli. Karna selagi perubahan itu baik, maka aku akan menerimanya”
Kepala asisten itu melirik, “Lalu bagaimana jika semua itu hanya sandiwara?”
“Eum... Kalau memang hanya sandiwara ya sandiwara, memangnya ada itu bermasalah denganku?” tanya Dessy yang membuat kepala asisten itu terdiam kebingungan “Aku bekerja disini itu untuk menjaga dan melayani nyonya saja, bukan untuk memikirkan sikap baiknya yang sekarang itu adalah sandiwara atau murni. Karna menurutku manusia itu bisa berubah menjadi jahat ataupun baik tergantung dari lawan bicaranya.”
Setelah menyelesaikan itu, Dessy pun menepuk lengan bagian atas kepala asisten itu untuk kedua kalinya. Lalu berjalan melewati lelaki itu sambil tersenyum.
__ADS_1
...__🥀🕊__
...
Disisi lain, Evelyne baru saja memasuki kamar pun langsung berlari kearah kasur lalu dengan cepat melemparkan tubuh mungilnya keatas kasur yang empuk. Baru saja tubuhnya mendarat di sana, Evelyne sudah tertidur begitu cepat. Sampai-sampai wanita itu melupakan sesuatu yang harus ia lakukan terlebih dulu sebelum beristirahat.
Tak lama menjelang sore, pintu kamar terbuka dengan lebar. Menampilkan seorang lelaki yang tengah berjalan masuk kesana dengan membawa jas hitam yang berada di lengan kekarnya. Saat memasuki ruangan, manik nata dari lelaki itu langsung tertuju kearah wanita yang tengh tertidur diatas kasur.
Wanita itu tertidur diatas kasur dengan setengah dari tubuh atas berada di kasur sementara tubuh sebagiannya meng gelantungan di pinggiran ranjang. Ditambah lagi dengan pakaian wanita itu yang masih terbilang lengkap, dari kaos kaki yang panjang, sepatu, baju dan rok masih ia kenakan tanpa menggantinya terlebih dahulu.
William yang tidak peduli pun hanya melewati ranjang tersebut, dan berjalan menuju kamar mandi yang tepatnya di pojok ruangan. Tak lama, terdengarlah suara percikan air dari dalam kamar mandi. Dan itu berlansung selama 20 menit, hingga William keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Saat dicari-cari diatas kasur, William tidak menemukannya hingga itu membuat dirinya harus berjalan memutari ranjang. Benar saja, William melihat seorang wanita bertubuh mungil tengah meringkuk dibawah samping ranjang yang masih tertidur lelap. William yang melihat itu pun menghela nafasnya, lalu menggelengkannya. “Ahh... Membuatku panik saja!”
William berjalan menghampiri evelyne yang masih meringkuk disana, lalu dengan perlahan lelaki itu mengulurkan kedua tangannya yang kekar. Dan dengan hati-hati, William mengangkat tubuh mungil evelyne dalam gendongannya. William terkejut saat evelyne sudah berada di gendongannya, ia masih tertidur. ‘Sial! Kenapa rasanya aku seperti tengah menggendong anak kucing?’ batin William seraya meletakan tubuh evelyne diatas kasur.
Setelah menempatkannya disana, William terdiam sejenak sambil memandang wajah polos penuh kedamaian yang terukir di wajah evelyne. Namun dengan cepat William memalingkan pandangannya kearah lain, dan melihat sepasang sepatu masih berada di kaki evelyne. Hal itu membuat William kembali mengulurkn tangannya, lalu dengan perlahan ia melepaskan sepanjang sepatu itu dari kaki evelyne.
__ADS_1
William Lagi-lagi dibuat tertuju pada wajah evelyne yang kini tengah tertidur pulas diatas bantal. Wajah itu sangat cantik, manis dan bahkan secara tidak langsung William cukup mengaguminya.
“Tumben sekali, kau tidak memakai make up yang berlebihan. Padahal dulu kau begitu menyukainya. Tapi menurutku sekarang jauh lebih baik dibandingkan yang dulu.” Ucap William dengan membuat senyuman kecil di bibirnya yang tebal.
Namun Lagi-lagi William yang tersadar akan tindakannya itu pun langsung mengubah ekspresinya kembali menjadi dingin. Dan menganggap semua yang terjadi tadi, hanyalah mimpi buruknya. William yang merasa tidak enak pada moodnya pun langsung berjalan keluar dari kamar, dan berniat untuk mencari angin sejenak.
Baru saja William hendak meraih gagang pintu tersebut, Tiba-tiba ia mendengar suatu gumaman yang keluar dari mulut evelyne.
“Ibuu.. Ibu... Tolong jangan tinggalkan aku!!...”
“Kakak!!.... Kakak!!... Dimana kamu? Aku, aku takut sendirian. Disini gelap..”
“Ibu... Kakak... Dimana kalian?!!”
Gumaman dari evelyne semakin menjadi-jadi, suaranya yang pelan kini berubah menjadi suara teriakan yang disandingi oleh isakan tangis serta air mata yang menetes dipipi mulusnya. William yang melihat itu pun langsung berlari kearah evelyne yang tengah tertidur diatas kasur, terlihat salah satu tangan evelyne terangkat diudara.
Tangan itu seperti ini menggapai sesuatu, tetapi William disana tidak mengetahui dan ia hanya bisa duduk disamping evelyne sembari berusaha untuk membangun wanita itu. “Yoona, kamu kenapa?! Yoona?! Buka matamu!! Bangunlah!!” kata William seraya menepuk pelan pipi evelyne. Namun sayangnya wanita itu masih tidak terbangun, melainkan suara teriakan serta tangisannya semakin kuat.
__ADS_1
“Ibu...kakak... Maafkan aku!.... Maafkan aku yang telah menjadi orang yang tidak berguna dalam hidup kalian!... Tolong jangan pergi.... Aku takut sendirian....”