
Tengah malam pun tiba, suasana halaman kediaman Maxime yang begitu sunyi kini di bisingkan oleh suara mobil yang datang dari luar. Mobil itu berwarna hitam gelap, namun di malam hari mobil itu tampak berkilau hingga membuat seseorang yang melihatnya tidak bisa berpaling di mobil tersebut.
Bukan dari kilauan nya saja, mobil itu juga memiliki desain yang bagus, hingga membuat bentu dari mobil itu tampak begitu mewah dan unik. Tidak ada yang memilikinya kecuali pemilik dari mobil ini, karna mobil ini terkhusus di ciptakan untuk keluarga besar Maxime.
Bruukk!!
Seorang lelaki keluar dari mobil itu dengan tampilannya yang berantakan, bahkan raut wajahnya sangat menggelap hingga membuat aura yang di keluarkannya begitu menyeramkan. Itulah william, lelaki yang pulang dalam keadaan mabuk, membuat dirinya terlihat begitu kacau. Emosi serta kekesalan yang terlihat di wajahnya, membuat lelaki itu dengan acuh tak acuh membanting pintu mobil saat ia ingin menutupnya.
“Tuan, anda sudah kembali? Kupikir anda akan bermalam di kantor lagi” kata seseorang yang keluar dari kediaman karna mendengar suara pintu mobil yang terbanting. “Tuan? Apa anda baik-baik saja? Sepertinya anda mabuk, tuan”
William menoleh dengan spontan, menatap seorang pelayan wanita dengan tatapan tajam nya. “Aku tidak mabuk!!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, William pun langsung berjalan melewati pelayan untuk pergi masuk kedalam aula utama kediaman Maxime. Disana begitu gelap dan sepi, hal itu tentu saja membuat William berpikir bahwa ia terlalu lama menghabiskan waktunya disana. “Sudah jam segini, apa dia sudah tidur di kamarnya?” gumam William dengan suara seraknya.
Baru saja hendak menaiki tangga, langkah kaki William seketika terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu yang terukir sebuah lambang naga yang besar di suatu kayangan membuat lelaki itu merasa ada sesuatu aneh terus menghantui pikiran dan hatinya.
Kreekk!
Pintu kayu yang berukir naga itu tiba-tiba terbuka dari dalam, menunjukkan sebuah cahaya yang terang dari dalam ruangan serta seorang wanita yang sedang keluar dari ruangan itu. Keduanya terkejut saat pandangan mereka saling tertuju satu sama lain. Entah karna bau dari tubuh William yang begitu kuat, Wanita itu dengan sontak menutup hidungnya karna tidak menyukai bau tersebut.
“Liam, kau mabuk?” tanya wanita itu seraya menatap William dengan tatapan mata indahnya.
Melihat dan mendengar wanita itu di depannya, William hanya terdiam seraya memalingkan wajahnya kearah tangga untuk bersiap melangkahkan kakinya kembali untuk menaiki tangga tersebut untuk ke lantai 2. Namun saat lelaki itu hendak melangkah, Wanita itu dengan cepat menahan lengan panjang William untuk tidak pergi melewati tangga.
“Liam, jangan gunakan tangga saat kau sedang mabuk! Ayo pergi ke lift untuk menaikinya” ucap wanita itu seraya menarik tangan William untuk mengikutinya pergi ke lift yang berada di pojok aula.
Di kediaman Maxime memang sudah terdapat lift setiap bagiannya. Namun karna semua orang yang ada di kediaman lebih menyukai tangga, hal itu membuat lift yang ada disana jarang di gunakan. Sesampainya di depan lift, Evelyne langsung menyuruh William untuk pergi terlebih dahulu ke kamarnya, sementara ia akan pergi ke dapur untuk membuatkan sup pereda mabuk.
__ADS_1
William menolak, ia hanya terus terdiam di depan lift tanpa menggerakkan satupun anggota tubuhnya. Tatapan dari lelaki itu juga sangat kosong, entah apa yang membuatnya harus meminum begitu banyak hingga malam ini dia terlihat aneh di mata Evelyne.
Karna tidak tahu harus bagaimana lagi, Evelyne pun pergi memasuki lift bersama William untuk pergi ke kamarnya. Di dalam lift, hanya ada keheningan di antara mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka suaranya, hingga William harus secara tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke atas salah satu bahu milik Evelyne.
Evelyne terkejut, merasakan nafas yang panas dari lelaki ini membuat tubuhnya dengan sontak merasakan ketegangan itu. Ditambah lagi dengan tangan lelaki yang terus menggenggam erat pada tangannya.
Ting!
Suara bunyi yang menandakan lift itu sudah sampai di lantai yang mereka tuju, Evelyne hendak menjauhkan kepala William dari bahunya, namun lelaki itu sudah lebih dulu mengangkat kepalanya dan berjalan dingin melewatinya. Evelyne terdiam, ia benar-benar dibuat bingung dengan sikap William yang sedang mabuk ini.
“Liam, kau ingin kemana?” tanya Evelyne seraya berlari mengikuti William dari belakang.
William terus berjalan tanpa mempedulikan Evelyne yang tengah mengejarnya dari belakang. Sampai tibanya mereka di depan pintu, William dengan reaksi cepatnya tiba-tiba ia menarik pergelangan tangan dari Evelyne yang tengah berjalan di belakangnya. Evelyne terkejut saat melihat tubuhnya tertarik ke depan untuk memasuki kamar.
Braakk!
Pintu kamar terbanting begitu keras di tengah malam hingga membuat Evelyne sendiri terlonjak kaget saat mendengarnya. “Liam, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” kata Evelyne dengan tangan yang masih di tarik oleh William menuju ranjang.
Lelaki itu terdiam, hanya melepas beberapa jas yang ia kenakan di tubuh gagahnya dan hanya menyisakan kemeja putih yang kini terlihat basah karna Berkeringat. Tubuh yang di penuhi oleh otot-otot yang besar, pinggang yang ramping, bahu yang kekar serta wajah yang tampan kini tengah memerah karna mabuk.
Lelaki itu mulai merangkak keatas kasur hingga membuat Evelyne yang disana merasa ketakutan karnanya. “L-liam, apa yang kau lakukan?” tanya Evelyne dengan keringat dingin yang kini telah membasahi dahinya.
Evelyne yang hendak kabur dari sana pun dengan cepat di tangkap oleh William dengan menidurkan tubuh wanita itu di bawah nya. Posisi ini benar-benar sangat canggung, karna Evelyne yang kini berada di bawah William, sementara William berada di atasnya. Jarak mereka sangat dekat, hanya beberapa meter untuk membedakannya, karna William menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.
“T-tuan William?” cicit Evelyne dengan wajahnya yang memohon agar William mau melepaskan dirinya.
Melihat raut wajah yang ketakutan dari Evelyne pun seketika membuat hati William terasa sangat sakit. Ia tahu bahwa perilakunya saat ini pasti menyakiti Evelyne, tapi di saat yang sama William tidak ingin mereka terus berperang dingin saat bertemu ataupun berbicara. “Apakah itu menyakitkan?” tanya William.
__ADS_1
Evelyne mengangguk, wajahnya yang kini menangis tengah memohon kepada William agar menghentikan semua ini. William yang merasa bersalah pun langsung melepaskan tahanan dari kedua tangan Evelyne, lalu salah satu tangannya beralih ke wajah wanita itu. Tangan yang besar, kasar dan panas kini mengelus pipi wanita itu dengan lembut.
Suatu sengatan listrik pun menjalar di tubuh Evelyne, membuat bulu kunduknya berdiri karna merinding. “Apa tadi itu menyakitkan?” tanya William dengan mendekatkan sedikit tubuhnya kepada tubuh Evelyne.
Sekali lagi Evelyne mengangguk dengan air mata yang kembali menetes. “Ya, itu sangat menyakitkan. Kumohon, hentikan ini!”
“Aahh...maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu. Maafkan aku, Yoona” ucap William seraya menempelkan keningnya kepada kening Evelyne. “Jangan menangis, aku tidak akan menyakitimu lagi. Maafkan aku..”
Evelyne meraih kepala lelaki itu, mengelus nya dengan lembut saat Evelyne merasakan kehangatan datang dari tubuh lelaki itu. “Ada apa denganmu? Kenapa kau pulang dengan kondisi seperti ini? Apa yang kau lakukan?”
“Aku tidak melakukan apapun, tapi kaulah yang membuatku seperti ini” jawab William dengan menjauhkan keningnya saat berbicara.
Mendengar jawaban yang di lontarkan oleh lelaki itu, Evelyne pun mengerutkan keningnya seraya menatap William dengan tatapan kebingungan. “Aku? Memangnya apa yang aku lakukan?”
“Ckk...kau menghiraukanku, bahkan meninggalkan aku saat di kantor siang hari. Apa kau pikir, kau tidak melakukan hal yang salah padaku?” tanya William yang membuat Evelyne tertegun sejenak saat mendengar itu. “Aku pulang karna sudah sangat sore. Aku takut kakek mencariku jika aku tidak pulang tepat waktu, aku juga tidak meninggalkanmu. Kamunya saja yang terlalu sibuk hingga membuatku tidak sabar akan menunggumu”
William terdiam, menarik nafasnya begitu dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Emosi yang tadinya menyelimuti hatinya pun kini mereda secepat cepat, bahkan hati dan pikirannya secara perlahan merasakan ketenangan hingga membuat William dengan tubuh lemahnya terjatuh di atas tubuh Evelyne yang lebih kecil dari tubuhnya yang besar.
“L-liam, apa yang kau lakukan?!! Bangunlah!! Ini sangat berat” teriak Evelyne yang berusaha mendorong tubuh William untuk menyingkirkan dari atas tubuhnya.
William berdecih kesal, mengangkat sedikit tubuhnya lalu dengan suatu yang mengejutkan Evelyne dibuat tertegun dengan tindakan William ini. Bibir yang tebal dengan bibir yang tipis serta lembut kini bertemu saat William mencoba menghentikan Evelyne yang masih berusaha untuk mendorongnya menjauh.
Evelyne tertegun, tubuhnya yang sempat ia gerakkan untuk memberontak kini terdiam saat merasakan sentuhan bibir lelaki itu di depan bibir lembutnya. Pandangan Evelyne juga tertuju ke arah William yang sudah sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Evelyne. “Kau tidak marah, aku melakukan ini?” tanya nya dengan senyuman di wajahnya.
“....” Evelyne terdiam.
Melihat wanita itu hanya terdiam tanpa merespon apapun dari perkataannya membuat William kembali meraup bibir tipis wanita itu dengan lembut. Membuat suatu hasrat yang bergairah untuk menghindari penolakan dari wanita itu saat mereka melakukannya sedikit lebih lama.
__ADS_1
Evelyne menggeleng saat menerima hisapan demi hisapan dari bibir William yang masih berusaha membahasi bibirnya yang terus menutup rapat. “Katakan jika kau tidak nyaman, aku akan menghentikan semua ini” ucapnya dengan suara yang serak.
“aku ingin berhenti, tolong jangan lakukan ini padaku!” kata Evelyne dengan memalingkan wajahnya ke samping.