Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 90 : Maafkan aku yang telah jatuh cinta padamu


__ADS_3

“Elyne! Kau wanita kejam!” Ucap beberapa bayangan hitam yang terus meneriaki Evelyne seraya menunjukkan jari telunjuknya kepada-Nya. Evelyne memejamkan matanya, Ia tidak ingin mendengar suatu hinaan yang setelah ia mendapatkan julukan sebagai “Si galak, wanita penghibur”.


Evelyne menggeleng sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Ia menutupnya dengan erat karna semua hinaan yang terlontar dari mulut ara bayangan hitam itu terus menyelimuti pikirannya, hingga ia merasakan suatu perasaan yang aneh muncul di dalam hatinya. “Tidak, Tidak!....aku bukan wanita kejam! Aku hanya membunuh kalian yang sudah menggangguku, aku bukan wanita kejam!!”


“Kalau kau bukan wanita kejam, lalu kenapa kau membunuh kami semua tanpa rasa belas kasih sedikitpun?! Apa kau tidak memiliki keluarga? Hingga itu membuatmu berpikir bahwa keluarga seseorang yang kau bunuh tidak akan menunggunya di rumah?!”


Evelyne membantah “Lalu...lalu bagaimana denganku?!! Kalian sudah tahu bahwa hidupku dan keluargaku dalam bahaya di dalam sana, tapi kenapa kalian malah diam saja?!!!”


“....” bayangan itu terdiam.


Sementara Evelyne kembali membuka suaranya dengan tangan yang terus memegang erat pisau tajam yang kini sudah dilumuri oleh banyak darah. “Kalian marah padaku, karna aku membunuh kalian semua. Kalian marah padaku, karna aku memisahkan kalian dengan keluarga kalian. Lalu...lalu bagaimana denganku?!!” Evelyne menunjuk dirinya sendiri dengan tangan yang sedang memegang pisau. “Kalian mencabuliku, ibuku, dan kakakku....kalian membuat tangisan dan teriakan kami sebagai lagu penghiburmu! Kalian menganggap air mata kami sebagai penambah gairah kalian saat melakukan suatu hubungan ****. Jadi apa salahnya, jika aku mengambil semua itu kembali?!!”


Sakit, hati Evelyne begitu sakit hingga ia merasakan sesaknya nafas. Evelyne memang tidak berhak berbicara itu kepada mereka, tapi mereka semualah yang membuatnya seperti ini. Jadi, jangan salahkan dirinya jika mereka bisa mati kapan saja, dan di mana saja..


“Evelyne?” Panggilan yang begitu lembut di hati membuat, Evelyne dengan sontak menolehkan kepalanya kesamping untuk mengikuti arah datangnya suara tersebut.


Lingkaran cahaya yang menyinari sebagian dunia kesadaran Evelyne yang begitu gelap, ia dapat melihatnya begitu jelas 2 orang wanita yang sedang berdiri di dekat cahaya itu seperti sedang memanggilnya untuk pergi ke sana.


Evelyne yang seperti terhipnotis oleh panggilan itu pun membuat dirinya langsung berlari menghampiri 2 wanita itu. Dan baru saja Evelyne berhenti di hadapan Kedua wanita itu, manik matanya langsung terbelalak mengecil karna terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya. “I-ibu? K-kak A-adriella?”


Sungguh tidak dapat di percaya, Evelyne yang kini sedang membayangkan alam sadarnya penuh dengan penderitaan di masalah lalunya membuat perasaan benci terus muncul di dalam hatinya. Tetapi saat melihat kehadiran ibu dan kakaknya tepat di depannya, membuat suatu kerinduan yang tidak dapat di jelaskan membuat Evelyne langsung memeluk keduanya dengan pelukan yang erat.


Air mata yang kini menetes di pipi Evelyne serta tubuh yang gemetar karena ia tengah menangis dalam pelukan hangat itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia masih bisa merasakan pelukan ini walau hanya sebentar ataupun tidak nyata. Karna bagaimanapun, pelukan ini terasa begitu menenangkan hati Evelyne yang terus berantakan sejak ia berada di dunia gelap ini.


“Sayang, apa kau sedang menangis?” Salah satu wanita mengelus lembut kepala Evelyne dengan tangannya sendiri. “Kenapa kau menangis? Apa yang kau tangisi? Dunia? Apa kau sedang menangisi dunia yang telah kau buat ini?”


Evelyne menggeleng “Tidak ibu, aku tidak menangi...” Kata-kata itu terhenti, membuat suatu keterkejutan pada diri Evelyne yang melihat sosok ibu dan Adriella kini di penuhi oleh darah serta penampilan yang begitu mengerikan.


Disana, Evelyne dengan sontak melepaskan pelukan itu dan melangkah mundur untuk melihat tangannya kini di penuhi oleh banyak darah. Dan pisau yang sebelumnya ada di tangannya, kini sudah menetapkan di dada sebelah kiri ibunya atau lebih tepatnya lagi di posisi jantung.


Evelyne menggeleng dengan kuat, “T-tidak! T-tidak mungkin! B-bagaimana bisa...p-pisau itu ada disana?!”


“Hahaha... Tentu saja, bisa. Pisau ini kan beranggapan dengan sikap keegoisanmu yang telah membunuh kami semua. Apa kau telah melupakan itu, Elyne? Apa kau mau, kakak bantu mengingatkannya kembali?” Ucap salah satu wanita itu dengan tawanya yang mengerikan.

__ADS_1


Evelyne bergidik ngeri “Tidak! Aku tidak pernah membunuh kalian!! Tapi...mereka semualah yang membuat kalian seperti ini! Ini bukan salahku!”


Benar, ini murni bukan kesalahannya. Karna disini, ia hanya berperan sebagai wanita yang suka memberontak dan terpaksa membunuh hanya untuk melindungi dirinya dan orang yang ia sayangi. Ia tidak pernah memiliki niatan untuk membunuh tanpa alasan, tapi keadaan yang menyedihkan inilah yang memaksanya untuk melakukan hal kejam seperti itu.


“Y-yoona?”


Evelyne lagi-lagi dibuat terkejut saat ia melihat sosok laki-laki yang tengah berdiri tak jauh darinya sedang memandangnya dengan senyuman hangat di wajahnya, serta tangan yang terulur seperti menerimanya dengan sepenuh hati untuknya kembali kepada pelukannya. Evelyne menahan tangisannya, disaat kesadaran ini terus mengingatkannya pada masa lalu yang menyedihkan. Hatinya secara perlahan menunjukkan sosok lelaki yang sedang menunggunya dengan sabar.


Seseorang yang pernah ia benci dan seseorang yang pernah ia targetkan sebagai mangsanya karna ia pernah mengira bahwa seseorang itu memiliki kemiripan yang sama dengan Dion. “Y-yoona, apa yang kau lakukan disana? Kembalilah! Aku disini menunggumu. Aku terima siapapun kamu, kembalilah padaku!”


Evelyne terdiam, menahan semua air mata yang kini tergelimang di matanya seketika menetes satu per satu di pipi mulusnya. Hatinya sakit, bahkan rasanya sangat sakit karna ia sudah benar-benar terjatuh pada sosok lelaki yang ada di depannya ini. “L-liam!!!” Evelyne berlari dengan sekuat tenaga untuk meraih bayangan William yang semakin menghilang. Bahkan Evelyne memiliki perasaan, jika ia tidak bisa meraihnya disini maka ia akan kehilangan lelaki ini selamanya.


Baru saja ingin menggapai lelaki itu, Evelyne seketika tersadar dalam kondisi tubuh yang terbaring diatas kasur serta tangannya yang terangkat ke udara seperti layaknya ia ingin mengambil sesuatu yang ada di depannya. “Eughh..” Evelyne menurunkan tangannya untuk memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.


"Yoona, Kamu sudah sadar?” seseorang yang tengah tertidur di sampingnya pun seketika terbangun saat merasakan suatu gerakan dan suara lembut dari Evelyne.


Mendengar suara serak yang begitu mengagetkan dirinya, Evelyne pun dengan sontak menolehkan kepalanya ke samping. Dan benar saja, ia melihat wajah seorang lelaki tampan dengan kedua mata yang terbuka sedikit karna masih ada rasa mengantuk dalam diri lelaki itu membuat Evelyne seketika merasakan tubuhnya tertarik kedalam pelukkannya.


Bahkan rasa dingin yang dirasakan oleh Evelyne, kini berganti menjadi rasa hangat yang membuat Evelyne hanya terdiam seraya menyandarkan kepalanya di dekat dada bidang milik lelaki itu yang terhalang oleh kain baju tidurnya. “Hari masih begitu gelap. Kembalilah tertidur dan berjanjilah padaku untuk bangun dipagi hari!” ucap lelaki itu dengan meletakkan tangannya di belakang kepala Evelyne.


Evelyne sadar bahwa tindakannya ini sangat kurang ajar jika William melihatnya melakukan ini disaat ia tertidur, jadi hal itu membuat Evelyne dengan sontak menjauhkan tangannya dari wajah William. Lalu dengan perlahan ia menurunkannya dan meletakkannya di dada lelaki itu. ‘Hey, kenapa...orang yang pertama kali aku lihat saat aku terbangun adalah kau? Kenapa kau berada disini? Disampingku? Kenapa kau terlihat seperti menunggu kedatanganku?’ Evelyne membatin.


‘Aku...tidak bisa jatuh dalam cinta lagi! Aku tidak bisa terus-menerus di dekatmu, atau aku akan menyukaimu dan akan memberikan hatiku yang mati padamu. Aku tidak ingin, aku tidak ingin terluka lagi....tapi kenapa?...sikap dan perhatianmu....seakan-akan, menyuruhku untuk tetap bersamamu....apa kau menginginkanku?....apa kau mencintaiku, sama seperti hatiku yang mulai mencintaimu?’


Evelyne mengerutkan keningnya, ia menangis dalam pelukan William. ‘T-tapi...aku bukanlah Yoona...aku bukan wanita yang kau nikahi...aku...hanya seorang wanita pengganti di dalam tubuh ini...dan aku juga...wanita asing...yang terjebak dalam cinta yang seharusnya tidak aku rasakan dalam pernikahan ini... Maafkan aku...maafkan aku... Maafkan aku yang telah jatuh cinta pada lelaki sepertimu'


Ya...dunia sungguh tidak adil! Kenapa saat ia ingin membalaskan dendamnya saat ia terlahir kembali di tubuh seseorang, selalu ada hati, selalu ada perasaan terhadap seseorang yang membuatnya tidak bisa melakukan itu dengan sempurna. Perasaan ini muncul secara tiba-tiba, bahkan perasaan ini terasa begitu murni saat datang di dalam hatinya.


Tapi....itu juga seperti rasanya kejam, karna William bukanlah miliknya. Dia milik Yoona, wanita yang kini ia sedang tepati. Walau dia sudah menempatkan tubuh Yoona secara sempurna, apakah ia masih pantas mengambil alih perasaan William kepadanya? Apa ia pantas mendapatkan itu semua?


-Hey, Liam...bisakah kau beritahuku, siapa yang membuatmu seperti ini? Aku atau Yoona?-


...--🥀🕊—

__ADS_1


...


Di restoran bintang 5.


Seorang lelaki dengan pakaiannya yang rapih sedang duduk di ruang tunggu bersama dengan seorang lelaki dengan pakaiannya yang sangat tertutup. Bahkan wajah dari lelaki itu sampai tidak terlihat sedikitpun, karna terhalang oleh kacamata hitam, topi, dan masker. Mereka berdua tampak seperti saling mengenal satu sama yang lain, namun siapa dia? Kenapa tampilannya seperti artis yang sedang menghindari kejaran Fans?


“Kau kembali kapan? Kenapa memberitahuku secara mendadak?” tanya surya dengan menatap datar lelaki yang berpakaian tertutup itu.


Ia menoleh, lalu dengan perlahan ia membuka kacamata hitamnya dan diikuti oleh lepaskan masker dan topi hingga menampilkan wajah tampan yang memiliki tato di bagian pipi atasnya. Atau persis di samping bawah mata kanannya. “Memberimu kejutan? Kenapa? Kau terlihat seperti tidak menyukai kejutan seperti ini? Apa kau tidak merindukanku?”


“Merindukan? Bukankah kita tidak lama berkontak saat kau masih ada di luar negeri?” Surya mengingatkan lelaki yang ada di depannya ini. “Lagipula, kau memanggilku di jam segini juga waktu yang pas untukku beristirahat sejenak.”


Lelaki itu tertawa “Kau masih saja sibuk di pekerjaanmu? Apa kau tidak memiliki waktu untuk berlibur akhir-akhir ini? Lihatlah! Wajahmu saja sudah hampir terlihat tua, karna kau terlalu sering begadang”


“Ya, begitulah. Aku akhir-akhir ini selalu di kejutkan oleh pasien yang menurutku seperti orang gila” ucapnya dengan suara pelan.


Hal itu tentu saja membuat suatu ketertarikan dari dalam hati Lelaki itu muncul. “Oh ya kah? Siapa itu? Bukankah dia orang yang luar biasa, karna sudah membuat orang sehebatmu kewalahan dengan sikap gila itu?”


“Cckk... Dia bukan orang yang luar biasa! Tapi hanya wanita kuat yang bermain-main dengan kematian!” sahutnya dengan ketus.


Lelaki itu terkejut dan bahkan ia tidak bisa menebak siapa wanita yang di maksud oleh surya ini. “wanita? Siapa wanita yang kau maksud? Bukankah wanita pada umumnya selalu menjaga dirinya dari sesuatu yang dapat melukainya, lalu siapa wanita yang berpikir di luar pemikiran wanita?”


“Ahh...mungkin karna kau terlalu banyak pergi ke luar negeri, jadi kau tidak tahu apa yang terjadi di negeri ini beberapa hari yang lalu” ucapnya dengan mengangkat kedua bahunya.


Lelaki itu mengerutkan keningnya “Memangnya apa yang terjadi? Bukankah setiap yang terjadi di negeri ini akan selalu meledak ke seluruh dunia? Tapi kenapa sekarang tidak?”


“Ya mungkin, itu kerjaannya kakak pertama yang ingin melindungi kakak ipar dari sosial media” surya menanggapi lelaki itu dengan tidak serius.


Mendengar kata-kata itu terlontar di mulut Surya membuat Lelaki itu tertegun di tepat seraya membeku di tempat seperti tersambar petir di malam hari. “A-apa kau bilang? K-kakak ipar?” dan Surya mengangguk sebagai pembenaran dari pertanyaan lelaki itu. “Bagaimana mungkin? Bukankah kakak pertama sangat membenci kakak ipar? Lalu kenapa dia melindunginya? Apa kakak ipar melakukan suatu kesalahan yang menyeret kakak pertama di dalam permasalahan itu?”


“Tidak! Kau terlalu memandangnya begitu remeh, Leon!” ucapnya dengan kepala yang menggeleng.


Lelaki yang bernama Leon pun langsung berdecih kesal karna Surya tampak sedang mempersulitnya hingga ia harus menebak-nebak seperti tadi. “Sialan! Bisakah kau beritahu aku secara langsung apa yang terjadi pada mereka?! Kenapa kau seperti sedang mempersulitku?”

__ADS_1


“Hahaha...leon, tenangkanlah dirimu! Apa kau akan menghajar kakak ipar jika kau tahu dia menyeret kakak pertama dalam permasalahan yang tidak pernah kau bayangkan?” cibirnya dengan senyuman aneh di wajahnya.


__ADS_2