
William baru ke dalam mobil saat Evelyne tengah duduk di kursi menumpang seraya memainkan hpnya di salah satu tangannya, dan Evelyne juga hanya terdiam saat melihat William tengah memasangkan sabuk pengamannya pada tubuhnya. “Hpmu sepertinya memiliki peran penting dalam hidupmu ya, bahkan kau sampai mendiami lelaki sempurna seperti aku.” Ucap William dengan dramatis.
“Diam! Apa kau tidak bisa berhenti berbiacar dengan omong kosongmu itu?!!” Evelyne menurunkan hpnya diatas pangkuannya. Ia juga menatap william dengan tajam saat rasa kesal pada lelaki itu masih ada di dalam hatinya.
William tersenyum “Baiklah, aku akan menghentikannya. Sekarang simpanlah dulu hpmu di dalam tas, dan jangan lupa pasang sabuk pengamanmu untuk berjaga-jaga.”
“Eum...baiklah” Evelyne meletakkan hpnya di dalam tasnya, lalu ia memasangkan sabuk pengamannya sesuai dengan perkaatan William. “Sebenarnya, kau ingin mengajakku kemana? Bukankah akan sangat sepi jika kita pergi di jam kerja seperti ini?”
William terdiam, lalu mulai menjalankan mobilnya sebelum ia membuka mulutnya untuk menjawab. “Tidak, tempat itu selalu ramai dengan banyak orang. Bahkan orang yang memiliki pasangan, juga akan datang ketempat itu. Aku sudah lama ingin mengajakmu, tapi akhir-akhir ini kamu tampak sibuk hingga aku harus mengatur ulang jadwalnya untuk pergi bersamamu.”
“Maafkan aku. Pekerjaan di kantor dengan padat sekali, aku tidak bisa meninggalkannya karna mereka membutuhkan aku untuk membimbing.” Ucap Evelyne dengan rasa bersalah.
William tersenyum menggeleng “Tidak apa, aku mengerti itu. Lagipula aku juga yang menjadikanmu direktur di perusahaan itu.”
“Benarkah? Kenapa begitu? Aku pikir atasan menyukai kinerja yang aku miliki, jadi itulah alasanku bisa menduduki posisi ini.” Ucapnya dengan kecewa.
Evelyne lebih suka meningkat di dunia pekerjaan dengan hasil kerjanya sendiri, tapi setelah mendengar bahwa William lah yang membuat Evelyne bisa menduduki tempatnya sekarang membuat Evelyne merasa tidak cocok lagi dengan posisinya itu. “Aku menaikimu dalam posisi sekarang, bukan karna kau istriku. Melainkan banyak pekerja serta klien yang merasa puas dengan apa yang kau bawakan untuk mereka. Jadi..tidak ada alasan yang konyol untukku menaiki jabatanmu.”
“....” Evelyne terdiam.
Sementara William merentangkan sedikit tangannya untuk mengelus kepala Evelyne yang kini tengah menunduk kecewa. “Semua yang kau dapatkan adalah hasil kerja kerasmu sendiri. Kau pantas menerima semua itu, jadi berhentilah merendah karna ini adalah kebaikkan yang aku berikan kepadamu.”
“Baiklah, aku tahu itu.” Ucap Evelyne dengan mengangguk pelan.
...--🥀🕊—...
Di Mall terkenal di kota Seoul.
Evelyne turun dari mobil bersama dengan Wiilliam, membuat mereka menjadi pusat perhatian banyak orang.bahkan William juga menggandeng tangannya agar ia tidak tertinggal dan menghilang di kerumunan banyak orang. Semua orang terkagum-kagum dengan keistimewaan yang ada di diri William serta ia juga memfokuskan tangan besar William yang kini tengah menggenggam erat tangannya di sebelah pinggangnya.
Evelyne saat berjalan disamping William terlihat seperti seorang anak kecil yang tengah berjalan bersama ayahnya di sebuah mall yang terkenal ini.
“Lihat! Itu bukankah, Tuan muda maxime yang tampan itu?”
“Iya, iya..Hey lihatlah! Ia sedang menggandeng tangan wanita yang ada di sebelahnya.”
__ADS_1
“Waw...benarkah? Apa mereka sepasang kekasih?”
“Sepertinya begitu, tapi mereka terlihat sangat cocok bukan?”
Semua orang yang ada di mall itu seketika membicarakan Evelyne dengan William yang hanya datang untuk membeli sesuatu disana malah menjadi pusat perhatian serta pembincangan banyak orang. Evelyne sedikit merasa terganggu dengan teriakkan para wanita yang sedang menganggumi William, tapi William sendiri yang melihat Evelyne tampak mengerutkan keningnya serta menutup matanya untuk menahan semua suara itu membuat William secara tiba-tiba menarik tubuh Evelyne masuk ke dalam dekapannya.
“Jika tidak nyaman, apa kau ingin pulang?” tanya William dengan suara yang serak.
Evelyne mengangkat pandangannya saat William tengah menatapnya dengan lembut. “Tidak perlu, kita sudah sampai sini. Bagaimana bisa kau pulang tanpa membawa apapun di tanganmu?”
“Tidak masalah, kau terlihat tidak nyaman. Kita bisa pergi lain kali saja” ucap William dengan memeluk Evelyne seperti menyembunyikan wanita itu dari orang-orang yang ada disana.
Evelyne mengerutkan keningnya “Liam, seharusnya yang bersembunyi itu kamu. Lihatlah! Banyak wanita yang sekarang menatapmu dengan terkagum-kagum seperti itu.”
“Hehehe...Apa kau merasa cemburu dengan itu, Sayang?” tanya William dengan berbisik.
Evelyne berdecak kesal “Tentu saja tidak! Sudahlah ayo kita pergi, aku terlalu malas untuk berlama-lama disini.”
“....” William terdiam dengan senyuman yang lembut diwajahnya yang taman saat melihat Evelyne dengan berjalan menjauh meninggalkannya. Sementara William yang masih terdiam disana, seketika menolehkan kepala kebelakang. Tepat dimana para wanita itu sedang berkumpul. “Tolong jaga sikapmu, Aku sudah menjadi milik dia selamanya..”
“Aaaaaaaahhhhhhh”
Teriakan para wanita itu terdengar di telinga Evelyne yang kini sudah berjalan menjauh dari tempat itu, ia merasa kesal dengan William karna lelaki itu selalu menebarkan pesonanya di tempat umum. Bahkan hanya berjalan di sampingnya saja, William selalu bisa menarik perhatian banyak orang. “Benar-benar lelaki haus akan pujian!” umpatnya dengan kesal.
“Sayang, kau begitu kejam meninggalkan suamimu dibelakang saat banyak wanita yang merebutinya. Apa kau tidak takut, aku diambil oleh orang lain disaat kau tidak mengetahuinya?” tanya William dengan nada manjanya.
Evelyne menolehkan kepalanya, menatap William dengan tajam seperti ingin membunuh lelaki itu disaat rasa kesalnya muncul. “Aku akan membunuhmu jika begitu!”
“Eheheh...Sayang, apa itu tidak masuk akal? Kenapa kau malah ingin membunuhku? Bukan mereka yang ingin merebutku darimu?” William tersenyum kikuk saat Evelyne selalu mengatakan hal yang kejam kepadanya.
Evelyne mengangkat bahunya dengan sekilas “Jika kau tidak menebarkan pesonamu, mungkin tidak ada wanita yang akan merebutmu dariku. Jadi..aku harus membunuhmu terlebih dahulu.”
“Sayang, kau benar-benar wanita gila!” cibir Willliam dengan rasa yang terheran.
...--🥀🕊—...
__ADS_1
Di kediaman WU.
Clara yang tampak tengah duduk bersama ayahnya di aula utama, membuat suasana menjadi sangat serius karna tuan WU ingin clara bisa cepat menikah dengan seseorang di umurnya yang sudah matang ini. Tuan WU juga sudah sangat menginginkan seorang cucu untuk dijadikannya penerus untuk kepergiannya nanti.
Namun Clara tampak terus menolaknya dengan berbagai cara, karna lelaki yang sangat ia ingin nikahi adalah William bukan yang lain.
“Clara, kapan kau ingin menikah? Umurmu sudah terus bertambah, tapi kenapa kau belum memiliki rencana untuk menikah? Ayah sudah beberapa kali mengatur kencan butamu, tapi kenapa kau selalu menolaknya?” tanya tuan WU dengan penasaran.
Clara terdiam sejenak “Maafkan aku, ayah...Aku bukan ingin melawanmu, tapi aku selalu merasa tidak cocok dengan semua lelaki yang pernah kukencani buta. Ayah, tolong biarkan aku yang memilih jodohku sendiri.”
“Jodohmu sendiri? Siapa? Kau tidak pernah mengatakan apapun kepada ayah tentang lelaki yang kau cintai, bagaiman bisa ayah mengetahui apa yang kau inginkan?” Tuan WU menatap Clara dengan serius.
Clara mengangguk “Aku tahu, Ayah. Aku tidak pernah berbicara soal lelaki yang aku cintai kepadamu, tapi...aku rasa mungkin sudah saatnya aku menginginkan pernikahanku dengannya”
“Apa kau menyukai lelaki itu? Apa dia lelaki yang baik? Lalu, apa aku mengenal lelaki yang sukai?” tanya tuan WU.
Clara mengangguk dengan semangat “Ya, ayah. Kau mengenalinya. Dia lelaki yang baik, bahkan ia juga selalu menjagaku saat dulu. Kau juga memandangnya dengan penilaian yang baik, apa kau melupakannya?”
“Hah? sepertinya aku melupakannya. Maafkan aku..bisakah kau ceritakan kembali siapa lelaki itu?” tuan WU tertarik dengan lelaki yang di maksud oleh Clara.
Clara tersenyum bahagia “Dia tumbuh bersamaku sejak kami kecil, ayah. Dia anak yang cukup pendiam, namun rasa kepekaan yang ada di dalam hatinya selalu membuat aku merasa nyaman dengannya. Dai selalu baik denganku. Bahkan saat aku memiliki masalah, ia selalu datang membantu tanpa berat hati. Dia berbeda dengan lain. Dia pekerja keras, setia, baik, dan perhatian. Aku menginginkannya, ayah. Dia lelaki yang aku inginkan selama ini..”
“Memangnya siapa dia? Ayah akan datang kepadanya untuk mengurus pernikahanmu dengannya.” Ucap ayah dengan memegang salah satu bahu clara.
Clara terdiam, ia terlihat seperti sangat sedih. Hal itu tentu saja membuat tuan WU merasa cemas dengannya. “Clara, apa denganmu? Kenapa kau terlihat begitu murung?”
“Ayah..kita tidak bisa menikah. Bahkan menyatu kembali saja tidak bisa..” ucapnya dengan menangis.
Tuan WU yang melihat clara menangis pun langsung mendekatkan duduknya dengan duduk Clara, lalu menarik tubuh Clara agar menyandarkan kepalanya diatas bahunya yang tegak. “Kenapa begitu? Bukankah kalian tumbuh bersama, kenapa tidak bisa menyatu? Bilang sama ayah, apa yang dia lakukan padamu?”
“Dia William maxime, ayah. Dia sudah menikah. Dia sudah meninggalkan aku dengan janji-janji manisnya itu. Aku kecewa dengannya ayah, bahkan aku masih begitu mengingat bagaimana hangatnya dia memperlakukanku bagaikan ratu saat di sampingnya” ucap clara dengan mengejutkan tuan WU.
Tuan WU terdiam sejenak, “Jadi, lelaki yang selama ini kamu tunggu adalah william?”
“Iya, ayah. Aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa merelakan dirinya bahagia dengan wanita lain, setelah ia memberikan harapan yang besar kepada hati kecil ku ini ayah.” Clara berkata dengan tangisannya.
__ADS_1