
“Sayang, dimana Tn. William? Kenapa dia tidak ada disini menjagamu?” Liliana yang khawatir dengan kondisi putrinya saat ia mendengar kabar itu secara langsung dari Sekretaris William membuatnya hampir mati sebelum menjenguk anaknya di rumah sakit. “Tadi ibu dapat telpon dari Tn Nathan buat jagain kamu sebentar di rumah sakit, karna William mau ngerjain sesuatu dulu. Apa itu benar sayang? Apa sesuatu yang dia maksud adalah yang itu?”
Evelyne menggeleng, ia tahu bahwa Liliana cukup dekat dengan sosial media dan dia pasti sudah tahu tentang permasalahannya dengan William sejak awal. Namun Liliana terlihat seperti berpura-pura tidak tahu agar ia bisa menguji Yoona, kalau dia ingin bercerita padanya atau tidak. “Dia memang sedang mengerjakan beberapa kerjaannya di kantor, bu. Dia tidak seperti itu, aku juga sudah beberapa kali melihatnya selalu fokus kepada laptopnya saat di malam hari. Karna dia selalu menjagaku dengan baik di pagi hari, maka ia akan menghabiskan waktu malam untuk menyelesaikannya.” Jelas Evelyne dengan kebenarannya.
“Sayang, tidak perlu membelanya! Ibu sudah tahu semuanya sejak awal...apa kau ingin terus menutupinya padaku?” Liliana memegang salah satu tangan Evelyne dengan kepala yang menunduk.
Evelyne mengangguk “Aku tidak membelanya, lagipula jika bukan Liam yang membawaku kerumah sakit. Lalu siapa lagi?” Evelyne menatap Liliana yang sedang mengangkat kepalanya untuk menatap kembali dengan manik matanya yang menunjukkan kekhawatirannya “Aku minta maaf padamu, karna aku sudah membuatmu khawatir bu. Tapi tolong jangan terlalu cepat menyimpulkan seseorang lagi di masa depan! Karna William memang dari segi luar, dia sangat dingin dan kejam. Tapi kau tahu kah ibu? Bagaimana dia dari segi hati yang hangat dan perhatiannya?” Tanya Evelyne pada Liliana.
“....” Liliana terdiam, sedangkan Evelyne kembali berkata “Jika dia sudah kembali, ibu pasti akan melihatnya sendiri bagaimana William merubah sikapnya padaku”.
Evelyne yang mengucapkan kata-kata itu pun seketika terdiam karna suatu pertanyaan juga muncul di pikirannya. Memangnya dia merubah sikapnya pada Evelyne karna apa? Dia tidak memiliki sesuatu yang istimewa untuk membuat seseorang yang pernah membenci berubah menjadi seperti mencintainya. Tapi...apakah William mencintainya?
...--🥀🕊—
...
Tap...tap...tap...
William dan Nathan yang sedang berjalan di iringi oleh beberapa bodyguard di belakang mereka saat berjalan memasuki sebuah lorong yang panjang menuju penjaga bahwa tanah. Tempat dimana para pelaku kejahatan di dunia gelap di tahan di dalam sana. Termaksud salah satu orang yang berhasil selamat dari pembantaian Evelyne saat di dalam markas mereka.
Awalnya William berniat untuk menghabisi semua orang yang ada di dalamnya untuk meninggalkan jejak, tapi karna melihat kondisi dan pemandangan bagaimana Evelyne terlihat seperti mengenali salah satu anggota di dalam markas tersebut. Bahkan mereka tampak terlihat seperti memiliki hubungan darah berkeluarga.
Jadi, William menghabisi semuanya terkecuali lelaki yang ada di depannya ini. Ia bernama Han jua, salah satu ketua dari anggota yang menjadi saksi atas kejadian beberapa hari yang lalu. William memberikannya sebuah pengobatan dan bahkan ia juga di perlakuan baik sebelum ajalnya menjemputnya setelah ia menyelesaikan pertanyaannya pada Han jua.
“Selamat sore, tuan Han jua. Bagaimana kabarmu? Apa semua baik-baik saja?” William duduk di kursi berhadapan dengan lelaki yang kini sedang duduk di depannya, namun sebuah kaca dan dinding sebagai batasan untuk mereka dalam berbicara.
Han jua mengangguk, “Selamat sore, Master. Senang bisa melihat anda datang menjenguk saya disini. Maaf atas kesalahan yang saya buat dalam beberapa hari lalu”
“Kau masih mengingatnya? Padahal itu sudah terjadi begitu lama” ucapnya dengan mengangkat salah satu alisnya.
Han jua menundukkan kepalanya dan terdiam, sementara Nathan yang berada di samping William seketika membuat mulutnya untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang sudah mereka siapkan sejak dulu. “Maaf tuan Han jua, jika kau tidak keberatan. Apa kau memiliki waktu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang akan kuajukan padamu?”
“Pertanyaan?” gumam Han jua seraya menatap Nathan dengan terheran “Ya, mungkin aku akan menjawabnya jika aku mengetahui apa yang kau maksud dalam pertanyaanmu”
Nathan mengangguk “Pertanyaan ini tidak jauh-jauh dari pengetahuanmu, lagipula ini memiliki kaitannya dengan kejadian yang terjadi di markas sebelumnya”
“O-oh...apa yang kau ingin tanyakan dari kejadian itu? Bukankah kau juga berada disana saat kejadian itu berlangsung?” Han jua menatap William dengan takut, karna akhir dalam hidupnya yang sekarang sudah berada di tangannya. Jadi, ia hanya menunggu saat datangnya waktu itu.
Nathan menggangguk kembali, lalu membuka beberapa lembar kertas yang ada di amplop coklat yang sudah ia sejak tadi. “Kami memang berada di tempat kejadian, tapi aku tidak mengetahui lebih banyak dari apa yang kamu ketahui. Jadi...bisakah tuan Han jua, meluangkan sedikit waktu untuk membicarakannya kembali?”
__ADS_1
“Membicarakannya lagi? Memangnya, apa lagi yang diinginkan oleh kalian jika wanita gila itu sudah benar-benar bangkit dari kematiannya” ucapnya dengan kepala yang menunduk serta tubuhnya yang sedikit gemetar saat pikirannya mulai membayangkan bagaimana mengerikannya wanita itu saat berdiri di depannya.
Mendengar kata-kata wanita gila, William pun secara sontak mengerutkan keningnya. Sedangkan Nathan kembali melanjutkan pertanyaannya itu “Wanita gila? Apa ada orang lain yang memiliki kaitannya dalam insiden itu?”
“Entahlah! Aku hanya tidak menyangka bahwa wanita itu benar-benar datang dan berdiri di depanku. Bahkan aku sempat merasa bahwa jantungku akan melompat keluar jika aku melihatnya lebih dekat lagi” Han jua mulai menjelaskan. “Aku juga tidak akan mengira bahwa dia akan benar-benar ada disana saat lelang para penjual manusia mulai di laksanakan”
Nathan mengangguk, ia juga mendengar semua penjelasan Han jua dengan baik dan ia juga tidak lupa untuk Mencatatnya sebagai barang bukti atas penjelasan yang Han jua berikan. “Kalau kau masih mengingatkan bagaimana insiden itu terjadi, apa kau juga mengingat bagaimana wajah dari wanita gila yang kau maksud?”
“Aku...mengingatnya dengan jelas. Tapi...aku sedikit aneh saat melihatnya disana. Walau dia dipenuhi oleh banyak darah, tetapi aku bisa melihat bagaimana ia memiliki tubuh yang rapuh namun dipaksakan untuk melakukan yang diluar batasannya” Han jua tidak tahu kenapa ia harus memberikan penjelasan ini pada William.
Padahal William tidak pernah melakukan hal seperti ini sejak dulu, tapi...kenapa ia seperti ingin tahu bagaimana insiden yang mengerikan itu terjadi. Apa ia ingin memperhitungkannya dengan wanita itu? William memang lelaki yang kejam, bahkan ia bisa melakukan segala cara untuk membuat seseorang menderita.
Tapi akan berbeda cerita jika ia harus berhadapan dengan wanita gila itu. Di mana ia akan melakukan segala cara untuk membuat seseorang itu menangis, berteriak, dan kesakitan karna ulah tangannya sendiri. “Tuan Han jua, bisakah kau jelaskan bagaimana ciri-ciri orang itu? Kami ingin melakukan penyelidikan tentangnya, karna kami tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang bisa mengetahui markas dari kalian”
“Kau memintaku untuk menjelaskan dia yang dulu, atau yang sekarang?” Han jua bertanya dengan serius.
Nathan yang mendengar itu pun seketika terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karna yang ia lakukan hanyalah bertanya dan untuk memilih bagaimana ia harus menjelaskan adalah William. “Memangnya dulu dan sekarang, apa bedanya?”
“Bedanya, dia dulu memiliki rambut seputih perak namun saat aku melihatnya sekarang ia memiliki rambut hitam seperti pada orang umumnya. Ia juga memiliki mata berwarna merah yang indah, namun itu akan sangat mengerikan jika mata merah itu sudah menjadi terang disaat wajahnya berubah menjadi gelap.” Jelas Han jua dengan mendeskripsikan ciri-ciri yang mereka dapat melihatnya dengan jelas.
Nathan menyangkal “Tidak mungkin! Bagaimana bisa ada orang yang memiliki rambut berwarna putih perak? Apa kau tidak salah bicara? Mungkin saja ia mengecatnya menjadi”
“Awalnya saya juga mengira begitu, tapi...dia memang memiliki rambut putih yang alami.” Ucapnya dengan yakin.
“Namanya kalau tidak salah ingat....Elyne! Tapi dia memiliki nama panjang yang bernama Evelyne Hyung” Han jua menjawab dengan melirikkan matanya pada William.
William bergumam “Evelyne...Hyung?” ia tidak pernah berpikir bahwa ada seseorang yang memiliki suatu kaitan di dalam permasalahan itu. Tapi saat ia mendengar nama Evelyne dan ciri-ciri tersebut membuatnya sedikit penasaran dengan wanita gila itu.
“Apa kau memiliki foto dari wanita itu?” Tanya William yang membuat Nathan sedikit terkejut akan permintaannya.
Mereka disini untuk melakukan wawancara terhadap saksi yang masih hidup, namun bukan berarti ia akan Memperdalam penyelidikan itu untuk wanita yang seharusnya mereka tidak selidiki. “Tidak! Aku tidak memilikinya!” Han jua menjawabnya dengan santai.
“Bukankah kau mengenalinya? Lalu kenapa hanya sebuah foto kau tidak memilikinya?” protes William.
Han jua terdiam sejenak, “Dia sudah mati untuk beberapa bulan yang lalu, dan aku juga sudah memutuskan hubungan dengannya sebelum ia mati tanpa sebab yang jelas.”
“Mati? Lalu wanita gila yang kau maksud itu siapa?!” Nathan membentak han jua dengan suara yang keras. Karna ia merasa seperti sedang dipermainkan olehnya.
William menatap Han jua dengan dingin. Sementara Han jua yang di tatap oleh William pun membuat dirinya kembali membuka suaranya untuk menghilangkan rasa kesalahpahamannya pada Nathan. “Dia memang sudah mati dalam 5 bulan yang lalu, tapi aku tidak tahu kenapa dia bisa berdiri di depanku dengan tubuh yang dipenuhi oleh banyak darah. Awalnya aku mengira bahwa itu hanyalah orang lain yang memiliki wajah yang mirip dengannya. Tapi aku menyangkal itu semua, karna tidak ada orang lain yang mengetahui letak di mana markas dunia gelap itu berada. Jadi, aku tidak bisa menyimpulkan siapa wanita itu, dan kenapa wajah, tindakan serta mata yang tajam membuatku mengira bahwa itu adalah Evelyne. Di pembunuh berdarah dingin!”
__ADS_1
“Ugh...tuan, bagaimana ini? Sepertinya kita tidak akan pernah menemukan penyebab dari insiden itu” keluh Nathan saat menatap William dengan wajahnya yang lelah.
William terdiam, lalu dengan sontak tangannya merebut amplop coklat yang berada di tangan Nathan. Membukanya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana yang terdapat beberapa foto diatas kertas tersebut.
Brak!!
William melemparkan tumpukan kertas itu pada Nathan dan membiarkannya waktu untuk melihat semua foto-foto serta identitas yang tercantum di atas kertas tersebut. Namun siapa yang menyangka bahwa William melihat ekspresi Han jua yang seketika berubah saat melihat beberapa foto di kelompok korban dalam insiden itu.
“Master, maaf atas ketidaksopananku untuk bertanya padamu. Kenapa wanita ini bisa ada di dalam kelompok korban? Bukankah dia seharusnya berada di kelompok yang terlibat?” Tanya Han jua seraya menunjuk ke arah Foto Yoona.
William dan Nathan dengan sontak terkejut. Nathan disana hampir berkata bahwa foto yang di tunjukan oleh Han jua adalah Yoona, istri sah dari William. Dan ia juga salah satu korban dalam insiden itu, tapi kenapa Han jua malah mengatakan bahwa Yoona adalah kelompok yang terlibat. “Tn. Han jua, kenapa kau memiliki wanita ini? Bukankah dia adalah salah satu korban dari insiden itu?”
“Ya, aku melihatnya dari 2 sisi. Dia memang korban dalam insiden itu, tapi ia juga kelompok yang terlibat karna dia adalah Evelyne! Wanita gila yang membuat keributan di aula perlelangan.” Jawabnya dengan tegas.
Degh!!
William terkejut setengah mati saat mendengar itu. Namun ia disana berusaha sekuat tenaga untuk mengatur ekspresi dinginnya agar tidak di ketahui oleh orang yang ada di sekitarnya. “Tidak mungkin!”
...--🥀🕊—
...
Di rumah sakit.
“Ibu...bisakah kau berikan aku satu manisan itu lagi? Aku benar-benar menginginkannya!” ucap Evelyne dengan manja, ia menempelkan tangan liliana di dekat wajahnya.
Liliana menggeleng, “Tidak sayang, kau baru saja memakannya begitu banyak! Kau tidak bisa memakannya lagi, apa kau ingin gigimu sakit jika memakan makanan seperti itu terus?”
“Aihs...ibu, katanya kau menyayangiku dan kau juga akan memberikan apapun yang ku inginkan. Tapi kenapa hanya sebuah manisan kau tidak memberikannya pada putrimu yang sedang sakit ini?” ucap Evelyne dengan membinarkan matanya untuk meminta bekas kasih dari Liliana. Namun karna Liliana adalah seorang ibu yang tegas dalam mendidik anak, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh trik jahat yang di lakukan oleh Evelyne kepadanya. “Berhenti membinarkan matamu, Yoona! Ibu tidak akan pernah luluh dengan trik seperti itu!”
Evelyne berteriak mengeluh. “ibuuuu.....berikan aku coklaaatttnyaa...!”
Krek!
Suara pintu dari kamar Evelyne terbuka dari luar. Menampilkan seorang lelaki dengan pakaiannya yang rapih serta raut wajah yang dingin tengah berdiri di depan pintu dengan beberapa bingkisan di tangannya. Liliana yang melihat William datang disaat yang tepat membuatnya menundukkan sedikit kepalanya saat menyapa lelaki itu dengan hormat.
“Tuan besar maxime, kau sudah kembali”
William terdiam tak menjawab pertanyaan yang di ucapkan oleh Liliana terhadapnya, namun tanpa mengucapkan kata sedikitpun William memberikan beberapa bingkisan yang ia bawa ditangannya kepada Liliana.
__ADS_1
Liliana terkejut dan dengan sontak ia menolaknya karna merasa bahwa ia begitu tidak pantas untuk menerima sesuatu yang diberikan oleh William kepadanya. Namun disisi lain, Evelyne yang melihat perubahan William menjadi seperti ini membuat berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya. Dan itu tentu saja membuat perubahan William dari hangat menjadi dingin.
-Ada apa dengannya?-