
“Kenapa kau tanya?!! Apakah perkataanku tadi kurang jelas di telingamu itu?!!”
Lelaki tua itu kembali melayangkan satu pukulan pada wanita itu hingga membuat jeritan keras terdengar keseluruhan ruangan itu. Bahkan gadis kecil itu mengira, pukulan tersebut hanya dilayangkan sekali. Namun siapa sangka, kalau lelaki tua itu terus memukuli wanita itu dengan tali sabuk yang cukup keras.
“Ayah hentikan, ayah!!”
Gadis kecil itu mencoba menahan pergerakan dari lelaki tua itu, tapi alhasil ia selalu kalah dalam fisiknya saat itu. Hingga membuatnya ikut terkena imbasnya.
__________________________________________________________
Sial!! Evelyne mengusap kelapanya ke belakang dengan kasar, pikirannya sekarang berantakan. Hatinya terasa sakit, dan bahkan nafsu yang sudah lama hilang kini muncul kembali. Hal itu membuat Evelyne harus menjatuhkan dirinya diatas kursi yang ada disampingnya.
-Kau ini bodoh ya?! Kenapa kau malah mengingat hal itu kembali?!-
Evelyne tertawa, “Aku tidak bodoh! Karna seberapa besar aku harus melupakan itu, maka pada akhirnya aku juga yang akan gagal untuk melupakannya. Aku tidak bisa lari dari kenyataan ini”
-huh...tidak ada yang menyuruhmu untuk lari dari kenyataan ini, lin.-
“Memang tidak ada, hanya saja aku lelah untuk menghadapi semua ini!” kata evelyne seraya berbalik badan menghadap kearah kamar, lalu berjalan masuk ke dalam kamar.
Evelyne terdiam didepan pintu kaca balkon yang memisahkan antara kamar dan terasnya, bahkan manik matanya terus menatap lurus kearah pintu karna ia melihat seorang lelaki sudah berdiri di depan itu kamar dengan ekspresi dinginnya. “Kau kembali, apakah acaranya sudah selesai?” tanya Evelyne dengan nada santainya berjalan menuju ranjang.
“Kita masih perlu membicarakan hal itu!”
William berkata tanpa mempedulikan pertanyaan Evelyne yang terdengar seperti menganggap bahwa masalah mereka sudah selesai begitu saja. “Apalagi yang kau inginkan? Bukankah semua sudah selesai? Kenapa kau masih mempermasalahkannya?” tanya Evelyne seraya menatap tubuh tegak William yang terlihat begitu lelah. “lihat! Tubuhmu saja sudah begitu lelah, apa kau masih mau melakukan sesuatu yang membuat tenaga sisa mu keluar lagi?”
William terdiam, menatap Evelyne yang tengah membuka laci dari lemari kecil disamping ranjang. Lalu mengambil sebuah botol bening yang menunjukan ada beberapa obat didalamnya. Obat itu cukup asing dimata William hingga membuat perasaan aneh muncul di hatinya. Tetapi karna William sudah terlalu malas untuk berbicara dengan Evelyne pun hanya berjalan pergi meninggalkannya ke ruang ganti.
Tak beberapa lama, William pun keluar dari ruang ganti yang sudah berganti pakaian kantor menjadi piyama yang biasanya ia kenakan saat tidur.
Sementara Evelyne hanya terdiam duduk di tepi ranjang sembari menenangkan efek samping pada obat yang sebelumnya minum, memang efek samping itu berlangsung agak sedikit lama namun untuk malam ini evelyne berharap untuk tidak terjadi apa-apa. ‘Efek samping ini semakin lama, semakin membuatku stress saja'
Evelyne beranjak dari tempat duduknya untuk pergi menuju ruang ganti, namun sayangnya. Baru beberapa langkah ia berjalan, tubuhnya sudah terasa begitu lemas, kepalanya juga terasa begitu berat dan pandangannya secara perlahan mulai kabur hingga membuat penglihatannya tidak jelas.
Brukk!
Evelyne terjatuh menabrak sesuatu didepannya, namun ia tidak dapat melihatnya dengan jelas. ‘Siapa itu?’ batin evelyne dengan sekuat tenaga mengangkat kepalanya keatas dan tangan yang meraba sesuatu yang datar namun terasa besar.
Melihat bayangan seseorang didepannya, Evelyne dengan sigap langsung mendorong seseorang itu menjauh darinya. Sementara dia mencari penyangga untuk menahan dirinya agar tidak terjatuh lagi. “Apa yang kau minum?!” tanya seorang lelaki dengan nada dinginnya menatap tajam kearah evelyne yang tengah mengatur nafasnya agar stabil.
“H-hanya obat” cicit evelyne yang memegangi dadanya yang terasa sakit.
Wiliam terdiam seraya memandang evelyne yang terus memegangi dada dan kepalanya. Ia tampak kesakitan, namun William tidak memiliki niatan sedikitpun untuk berjalan menghampiri wanita itu. ‘Engh... Sialan! Apakah pemilik tubuh ini alergi obatnya?’ batin kesal evelyne yang berusaha keras menahan kestabilan tubuhnya agar tidak menghilang.
Itu berlangsung cukup lama, hingga tidak bisa menahannya kembali evelyne akhirnya terjatuh ke lantai. Evelyne terbatuk untuk beberapa kali tanpa henti, sementara kepalanya masih terasa begitu sakit seperti layaknya dipukul oleh benda yang begitu keras. “Kakak ini menyakitkan!” gertak evelyne yang mengepalkan tangannya di lantai.
Sementara William baru saja menghampiri evelyne karna menurutnya itu sudah terlalu lama ia berakting kesakitan didepannya. “kau sudah begitu lama disana, apakah kau ingin terus mengganggu tidurku malam ini?” tanya William dengan nada kejamnya yang sama sekali tidak memperlihatkan sedikitpun rasa peduli terhadap evelyne.
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata-kata itu William langsung berjalan kearah ranjang dan menidurkan tubuhnya disana, membiarkan Evelyne yang masih tergeletak di lantai dengan tubuh yang selalu merespon obat itu secara berlebihan.
-Huh...lihatlah lelaki yang bersamamu itu! Dia malah dengan tenang tertidur diatas kasur yang empuk tanpa mempedulikan sedikitpun keadaanmu ini.-
Evelyne tertawa kecil, “Aku hanya orang asing dimatanya, yang telah memisahkannya dari kekasih tercintanya. Jadi akan sangat wajar jika aku diperlakukan seperti ini. Sudahlah, lagipula aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya.”
-Astaga Lin, apa yang kau bicarakan?!! Kenapa kau malah jadi seperti ini?-
Evelyne terdiam tak menjawab suara itu, melainkan ia hanya menjatuhkan seluruh tubuhnya ke lantai yang terasa dingin. “Aku lelah, tolong jangan mempermasalahkannya lagi!?”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, evelyne dengan perlahan menutup matanya dengan rapat. Menenangkan tubuhnya yang kini sedang gemetar dan nafas yang sudah mulai beraturan. Namun rasa sakit dibagian kepalanya masih terasa, hingga sedikit membuatnya tidak sepenuhnya nyaman dalam tidurnya.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga dalam beberapa jam sudah membuat langit yang gelap kini telah diterangi oleh sinar matahari. William adalah orang pertama bangun di kamar itu, dan saat ia hendak pergi ke kamar mandi, manik matanya sekilas tertuju pada seorang wanita yang sedang tergeletak di lantai tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Karna tidak peduli, William hanya melanjutkan kembali langkahnya menuju ke kamar mandi. Setelah setelah selesai ia beralih keruang ganti, tanpa sedikitpun berniat untuk memindahkan seorang wanita itu keatas kasur.
“Masih berlama lagi kau ingin tertidur disini?!” tanya William yang berdiri didepan wanita itu.
Eughh...wanita itu terbangun saat mendengar suara dingin dari William, karna kesadarannya belum sepenuhnya kembali wanita itu masih terdiam ditempat dengan mengulur waktu. “Ahh...sepertinya aku terjatuh saat tidur lagi” kata Evelyne dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
William tertegun saat mendengar perkataan itu, awalnya ia menganggap bahwa evelyne tengah melindur saat terbangun, namun pengiraannya seketika tersingkirkan saat melihat tampang polosnya wanita itu saat terbangun. “huh...baju ini, kenapa aku memakainya?” tanya evelyne dengan kebingungan menatap dress yang ia kenakan.
Sementara William terdiam tak melakukan apapun saat melihat perusahaan itu. ‘Apa yang terjadi?’
__________________________________________________________
Suara kakek tua tersebut di telpon seseorang yang membuat pemilik HP itu dengan terus menerus mengerutkan keningnya saat mendengar ocehan demi ocehan yang dikeluarkan dari mulut kakek itu. “Kakek, aku kan sudah bilang jangan terus memaksaku seperti itu! Aku tahu aku harus mengambil 2 peran sekarang, tapi kau juga tidak bisa memojokkanku seperti ini terus” kata lelaki itu dengan suara dinginnya.
Kakek itu mendesah, “Lagipula kau sendiri kenapa tiba-tiba memintaku untuk memindahkan bangunan itu? Bukankah kau tahu, kalau itu adalah bangunan yang paling disukai oleh ibumu?”
“Aku tahu, tapi untuk sekarang aku meminta izin padamu untuk memindahkan bangunan itu ke tempat lain agar tidak ada seorangpun yang bisa menginjakkan kakinya kesana!” tekan lelaki itu dengan nada yang sedikit keras namun masih terdengar sopan.
Kakek itu terdiam, “Menginjakkan kakinya disana? Memangnya sudah ada yang pernah kesana selain ibumu?”
Lelaki itu terdiam tak menjawab pertanyaan dari kakek itu, melainkan ia hanya menutup telponnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Sementara disisi lelaki itu ada seorang partner yang tengah duduk di kursi yang setara dengan lelaki itu. “Bagaimana? Apa dia mengizinkanmu?”
Lelaki itu menggeleng, “Tidak, dia tidak mengizinkanku.”
“Aa-aahh...lelaki tua itu masih tidak bisa diajak kerjasama ya saat berbicara. Padahal jalan terbaik untuk menjaga bangunan itu hanya memindahkannya ketempat yang tersembunyi.” Kata lelaki itu seraya menyandarkan punggungnya kesadaran sofa.
Lelaki itu terdiam tak menjawab perkataan dari partnernya. Dan hal itu membuatnya lelaki yang berstatus sebagai partner berkata “Udah, gak usah dibikin pusing. Yuk cabut, cari makan!” lelaki itu mengangguk lalu beranjak dari duduknya untuk mengikuti lelaki berstatus partner berjalan keluar dari ruangan private.
Sesampainya di cafe.
Mereka yang baru saja sampai dan hendak memasuki cafe tersebut, secara tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh seorang wanita yang hendak keluar dari cafe itu dan membuat mereka saling berhadapan di depan pintu masuk.
“T-tuan?” sapa wanita itu dengan senyuman di wajahnya, lalu dengan cepat menundukkan saat menyadari bahwa ada seseorang dibelakang lelaki yang ia sebut sebagai tuan. “Sedang apa kau disini?!” tanya lelaki itu dengan dingin, dan secara tidak langsung menunjukkan rasa tidak sukanya.
__ADS_1
“Siapa dia? Kenapa kau terlihat mengenalnya walau sekali lihat?” tanya lelaki itu sembari menyenggol pelan lengan William. Sementara William hanya sekilas melirik kearah lelaki itu lalu beralih kembali menatap wanita itu dengan tatapan dinginnya.
“Aku hanya teman sekolahnya, kebetulan sudah bertemu beberapa kali minggu ini. Jadi sangat wajar jika kami mengenal.” Jawab wanita itu dengan senyuman diwajahnya. Berbeda dengan William yang mendengar itu. Ia terkejut serta terpaku saat menerima sekuat perkataan yang dikatakan oleh wanita itu pada temannya. “Kalian juga ingin ke cafe ini?” tanya wanita itu yang menghilangkan sesuatu di hatinya.
Lelaki itu mengangguk, “Ah... Ya kita juga mau kesini. Apa kau memiliki waktu untuk ikut bergabung?”
“Tidak, terimakasih. Aku masih banyak keperluan, jadi tidak bisa berlama-lama disini. Maaf sebelumnya, Aku izin duluan” tolak wanita itu dengan halus, dan membuat respon baik pada lelaki itu.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Wanita itu langsung berjalan melewati mereka dengan raut wajah yang seketika berubah menjadi gelap. Dan perubahan itu diketahui oleh William, saat melirikkan matanya.
“Temanmu cantik juga ya, padahal penampilannya biasa saja. Tapi karna senyuman yang membuatnya lebih sempurna dari wanita lain” kata lelaki itu tanpa memperhatikan raut wajah William yang seketika berubah menjadi gelap. Baru saja lelaki itu hendak Menolehkan kepalanya untuk menatap kearah William, tetapi William sudah lebih dulu berjalan meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata.
__________________________________________________________
“Hey!! Kau ingin kemana?!!”
Lelaki itu memanggil William yang tengah berjalan cepat pergi dari sana dengan aura yang mengerikan.
Disisi lain, wanita itu berjalan dengan hati yang ingin menangis namun tidak ada sedikitpun air mata yang menetes keluar dari sana. ‘Tidak perlu khawatir, kau sudah melakukannya yang seharusnya kau lakukan. Jadi tidak perlu menyesalinya!’
Wanita yang baru saja ingin mengukir kan senyuman diwajahnya, seketika menghilang saat salah satu tangannya tertarik kebelakang. Dan melihat seorang lelaki dengan raut wajah dinginnya sedang menahan tajam kearahnya.
Tak lain, lelaki itu adalah William yang mengejar dari belakang. Dan wanita itu adalah Evelyne yang berpura-pura menjadi teman sekolah William.
“Tuan, apa yang kau lakukan disini?” tanya Evelyne dengan raut wajah yang kebingungan, saat melihat William mengejarnya sampai sini.
William terdiam menatap tajam kearah Evelyne dengan nafas yang sedikit memburu karna sehabis berlari. “Ikut aku!!” tarik William yang membawa Evelyne ke suatu gang yang sempit dan sepi. Evelyne yang menerima tarikan kasar William hanya terdiam dan dengan patuh mengikuti arah lelaki itu berjalan.
Bruukk!!
Tubuh kecil Evelyne terhentak begitu keras ke dinding, membuat suatu gertakan di gigi wanita itu saat merasakan rasa sakit di punggungnya. Ia ingin marah, namun rasa sakit di bagian tubuhnya membuat mulutnya terbungkam dan hanya bisa menatap lelaki itu dengan tatapan yang kabur.
“Apa maksudmu bicara seperti itu, huh?!!”
William mulai membuka suaranya dengan begitu keras, dan beberapa lagi membuat suatu peringatan keras untuk evelyne agar tidak bermain-main lagi dengannya. “Bicara apa? Aku Kan hanya berbicara dengan apa yang kau inginkan. Kenapa sekarang kau malah bertindak kasar padaku?” tanya evelyne dengan suaranya yang pelan.
William yang tengah emosi, hanya memukul dinding itu begitu keras tepat di samping kepala evelyne. Dan hal itu membuat kepalan tangan William mengeluarkan darah segar, serta evelyne yang meringkuk ketakutan. “Kau!!??” tekan William dengan amarah yang tertahan ditenggorokannya.
“Apa hanya dengan kata ‘teman' bisa membuatmu semarah ini? Padahal kau sendiri bukannya menginginkan hal itu ya?” tanya evelyne dengan air mata yang lolos menetes di pipi mulusnya. “Kau seharusnya senang, jika kau tidak mempermalukan mu. Kau seharusnya berterimakasih, dan bukan malah bertindak seperti ini!”
Mendengar hal itu, emosi dari hati William kembali meningkat. Ia tidak tahu kenapa hatinya bisa semarah ini, padahal seharusnya Ia senang. Tapi kenapa sekarang tidak? Kenapa Ia marah saat evelyne memperkenalkan dirinya sebagai teman sekolah saja. Memangnya apa yang salah? Bukankah itu yang Ia inginkan? bukankah Ia memang tidak pernah beranggapan bahwa evelyne adalah istrinya?
Evelyne yang melihat William terdiam, membuatnya kembali membuka suaranya untuk berkata "Tuan, kau benar-benar or.."
“Cukup!!... Cukup Yoona Jiang!!!”
bentak William
__ADS_1