
William yang sudah sampai di depan gerbang markas salah satu anggota dunia gelap pun langsung menemui mobil putih yang sebelumnya ia berikan kepada Evelyne. Bahkan yang lebih mengejutkannya lagi adalah, kobaran api yang tidak terlalu besar namun terdengar beberapa jeritan orang yang kesakitan dari dalam markas.
Suara itu sangat mengerikan, bahkan Nathan saja yang mendengar itu seketika menutup telinganya dengan kedua tangannya. Sementara William yang mendengar itu hanya terdiam dengan manik matanya yang dingin ia menatap markas yang menjulang tinggi di depannya tengah terbakar ringan oleh api.
“Tuan, sepertinya terjadi sesuatu didalam. Apa anda akan masuk terlebih dahulu, atau kita menunggu sampai bantuan datang?” tanya Nathan yang terus mengerutkan keningnya karna merasa bahwa suasana disana terasa lebih mencengkam.
William menggeleng, “Tidak perlu! Aku akan masuk duluan. Kau tunggulah disini sampai bantuan datang, jika semuanya sudah datang maka kau harus menuntun mereka untuk menyelamatkan beberapa orang yang masih hidup di dalam markas ini. Siapapun mereka, selamatkan saja! Karna Aku membutuhkan penjelasan dari mereka semua”
“Baik tuan, perintah anda akan selalu saya jalankan!” ucap Nathan dengan tegas.
Selesai mengucapkan kata-kata itu, William pun langsung melangkahkan kakinya yang panjang untuk berjalan masuk melewati gerbang besar dari markas tersebut. Dari luar terlihat begitu sepi, dan William sempat berpikir bahwa keributan yang ada di dalam pasti membuat semua para penjaga harus meninggalkan pekerjaannya untuk menenangkan keadaan yang ada di di dalam.
-Jika aku menemukannya dalam kondisi yang terluka, maka aku akan pastikan semuanya membayar dari setiap tetesan darah yang keluar dari tubuhnya!-
William berjalan memasuki markas tersebut, dan memeriksa seluruh ruangan yang ada disana. Bahkan tidak ada satupun yang terlewat untuknya mencari keberadaan Evelyne. William berjalan dengan perasaan yang takut, marah, gelisah dan kecewa kini tercampur aduk di dalam hatinya.
Diluar sudah turun hujan begitu lebar, dan sambaran petir yang mengerikan serta terpampang jelas di setiap jendela besar yang ada di markas tersebut.
Kreekk!!
William sampai di lantai xxx dan ruangan xxx yang biasa digunakan untuk melakukan suatu acara penting. Namun saat ia melihat apa yang ada di depannya, William sudah tidak mengenali bentuk asal dari ruangan tersebut. Karna yang ada di depannya hanya kobaran api yang besar serta banyak mayat yang tergeletak di lantai.
Bukan hanya itu, darah serta teriakan dan jeritan seseorang masih terdengar hingga William tertegun di tempat untuk beberapa menit. Apa yang terjadi? Kenapa tempat ini seperti layaknya neraka kecil di dunia? Siapa yang melakukan ini?
William penasaran, membuat suatu langkah maju untuk memasuki ruangan yang panas itu.
Baru saja William memasuki tengah dari ruangan itu, ia langsung di kejutkan oleh pemandangan dimana ia melihat seorang wanita yang sedang menusukkan benda yang tajam ke bagian dada seorang lelaki yang ada di depannya. Benda tajam itu bukan hanya menusuk, tapi menembus tubuh lelaki itu hingga banyak tetesan darah yang ada di ujung benda tersebut.
“Hahahaha....aku...aku....membunuhmu paman!”
Suara tawaan yang seperti menangis kini terdengar di seluruh ruangan aula yang ada disana. Suara itu tampak mengerikan, tapi juga menyedihkan. Api yang menyala-nyala di sekitar wanita itu tampak seperti mulai padam secara perlahan, karna angin dari hujan yang begitu kencang. Suasana ini memang tidak diinginkan oleh orang-orang, tapi suasana inilah yang dirindukan oleh wanita iblis ini.
“Aku...berhasil!...aku berhasil membunuhmu, paman!” Ucap wanita itu dengan air mata yang bergelimang di pipinya.
Lelaki itu tersenyum “Ya, kau akhirnya berhasil membunuh seorang lelaki yang tidak tahu apa arti janji”
“Ya! Kau lelaki yang tidak tahu arti janji! Dan kau...pantas mati...di tangan Elyne kecilmu!” sahutnya dengan tangisan yang tertahan hingga membuat dadanya terasa sesak.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Evelyne lalu mengelus dengan begitu membuat. “M-maafkan paman Elyne, maafkan paman yang sudah membuatmu jatuh lebih dalam di dunia mu ini”
__ADS_1
Melihat lelaki yang ada di depannya ini masih sempat menunjukkan kehangatan yang ada di hatinya membuat perasaan Evelyne semakin terluka, bahkan air mata yang terus mengalir di pipinya membuat ia terlihat seperti gadis kecil yang dulu pernah lelaki itu gendong dengan penuh kasih sayang. “Kau dulu anak yang baik, elyne....kamu anak cantik, yang penuh dengan cerita serta senyuman di wajahmu...kamu selalu menjadi matahari untuk dirimu sendiri disaat kegelapan sedang menyelimutimu....kau selalu membutuhkan hati yang kuat daripada pikiran keras...”
Evelyne yang mendengar lelaki itu mulai mengatakan hal yang dulu pun membuat ia melepaskan benda yang masih tertusuk di dada lelaki itu. Evelyne menggeleng dengan kuat, ia tidak ingin mendengar semuanya lagi. Ia ingin bebas dari kegelapan itu, ia ingin bebas untuk hidup seperti orang-orang..
“Cukup paman!!...cukup!!”
Lelaki itu menggeleng, “Kenapa? Apa kau tidak ingin mendengar bagaimana dulu kau yang seperti gadis malaikat untuk dunia neraka? Apa kau ingin melupakan semua yang terjadi di masa lalu?”
“A-aku...a-akuu...”
Lelaki itu tersenyum sebelum kesadarannya benar-benar menghilang dari tubuhnya “Elyne, tolong kembalilah pada paman! Paman ingin kita bisa bersama lagi seperti dulu”
Evelyne yang terus melangkah mundur untuk membuat suara Lelaki yang ada di depannya menghilang, namun karna tidak memperhatikan jalan yang ia injak. Evelyne pun menabrak sesuatu yang ada di belakangnya. Ingin menoleh untuk melihat apa yang ia tabrak, tubuh Evelyne malah dengan sontak berputar menghadap seseorang yang memiliki tubuh yang besar hingga ia dengan mudah masuk kedalam pelukan hangatnya.
“S-siapa kamu?!” tanya lelaki itu dengan terkejut.
Seseorang yang sedang memeluk Evelyne dengan raut wajahnya yang gelap pun mengukirkan senyuman menyeringai di wajahnya. Lalu memperlihatkan manik matanya yang tajam membuat lelaki itu dengan sontak tertegun. Seseorang itu mengangkat salah satu tangannya, menodongkan sebuah pistol pada kening lelaki itu tanpa memiliki suatu urusan yang akan menjadi alasan untuknya membunuh lelaki itu.
“Aku...orang yang akan membahagiakannya dimasa depan!...tidak akan ada lagi yang namanya kesepian untuknya lagi!” ucapnya dengan nada dingin “Terimakasih sudah membuatku mengerti dengan semua ini...tapi tidak bisa membiarkannya melihatmu lagi di dunia!”
Lelaki itu ketakutan “T-tidak! A-apa maksudmu? Kenapa kau bicara seperti itu?!”
“karna kau...dia jadi seperti ini! Bukankah itu alasan yang tepat untuk membunuh bajingan yang sudah menyeret orang yang kusayang masuk kedalam dunia yang seharusnya ia tidak ketahui!!” seseorang itu menjawab dengan menghela nafas beratnya.
“Kurasa, pembicaraan kita sudah cukup sampai disini! Sekarang waktunya aku memberikanmu istirahat yang tenang setelah kau menjalani hidup mu yang berat ini” katanya dengan memeluk Evelyne sedikit erat serta bergumam dengan pelan “Aku akan membuat semua orang yang menyakitimu lenyap di dunia! Karna aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi, maaf aku telah gagal menjadi pendamping hidupmu selama awal pernikahan kita”
DOORR!!
Satu tembakan yang melayang dengan keras membuat Evelyne seketika kesadarannya menipis setelah beberapa menit ia menahan tubuhnya agar tetap berdiri dengan tegak selama ia mengurus semua para bajingan itu. Tapi siapa yang menyangka, bahwa lelaki ini...dia datang kesini untuk apa? Apa dia mencarinya di kantor, namun tidak ada? Tapi kenapa ia mencarinya sampai disini?
-Sial! Aku selalu kuat jika bersama orang lain, tapi kenapa disaat bersamanya aku seperti mengandalkan perlindungannya?-
Evelyne yang sudah tidak kuat untuk menginjakkan kakinya di kantor yang kotor penuh dengan darah pun membuat seseorang itu dengan sontak mengangkat tubuh Evelyne dalam dekapannya. Bahkan Evelyne sendiri, sampai terkejut saat tubuhnya tiba-tiba melayang di udara karnanya. “Sekarang kamu aman! Terimakasih sudah mau bertahan sampai aku datang, sisanya biarkan aku yang mengurusnya.” Ucap seseorang itu dengan mengecup hangat kening Evelyne yang di penuhi oleh cipratan darah.
“Kau bodoh! Apa yang membuatmu sampai datang ke sini? Bukankah kami seharusnya tidak melihat semua ini” Evelyne berkata dengan suara yang pelan seperti tidak bisa seseorang itu mendengarnya.
Bahkan saat seseorang ini membawanya keluar dari gedung markas itu, Evelyne sudah tidak benar-benar tidak lagi membuka matanya. Dan barulah saat di bawah, Seseorang itu langsung tersadar saat merasakan tubuh Evelyne yang berubah menjadi dingin. Serta tangannya yang dipenuhi oleh darah saat memegang salah satu bahu Evelyne.
“Yoona? Yoona?!!” teriak seseorang itu saat melihat Evelyne sudah menutup matanya dengan rapat “Yoona, apa kau baik-baik saja? Yoona tolong bertahanlah sedikit! Aku akan membawamu pergi ke rumah sakit!”
__ADS_1
Seseorang itu berlari menuju mobilnya yang kini sudah ramai dengan bantuan datang serta Nathan yang masih ada disana menunggunya. Nathan terkejut saat melihat seluruh tubuh Evelyne dipenuhi oleh banyak darah dan luka besetan pisau. Ia ingin bertanya tentang apa yang terjadi padanya, tetapi seseorang itu sudah lebih dulu berjalan melewatinya seraya berkata “Cepat antar aku ke rumah sakit! Jika dia sampai memiliki masalah, maka pekerjaanmu akan bertambah di masa depan!!”
“A-apa? Tuan, bagaimana bisa seperti itu?” Nathan terkejut.
Namun ia lebih memiliki menyuruh semua bantuan untuk pergi membawa korban yang ada ke rumah sakit yang terdekat, sementara yang lain padamkan api yang masih menyala di markas tersebut. Dan dirinya akan pergi menyetir untuk membawa William yang sudah berada di dalam mobil seraya memangku tubuh Evelyne diatas pangkuannya.
Nathan tidak mengerti apa yang terjadi pada Evelyne serta William di ruangan lain, tapi melihat tubuh Evelyne yang seperti itu. Ia sudah bisa berpikir bahwa dunia gelap akan benar-benar dihancurkan oleh William karna sudah melukai seseorang yang dia cintai. ‘Haduuhh....masalah apa lagi yang mereka buat? Apa mereka benar-benar ingin membangunkan singa yang sedang tertidur?’
Melihat Nathan sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh pun membuat William yang berada di kursi penumpang belakang mengambil hpnya yang ada di dalam saku jas hitamnya. Menekan untuk beberapa kali pada layar tersebut, lalu ia menempelkan hpnya di dekat telinganya. Menunggu beberapa saat sampai telponnya tersambung, baru ia berkata dengan suara yang dingin.
“Ohh..Hallo kakak tertua! Ada apa kau menelponku di larut malam seperti ini?”
“Kau dimana?” William bertanya dengan nada dingin namun seperti memberikan suatu peringatan.
“Hah? Aku? Aku ada di rumah sakit seperti biasa...ada apa? Apa kau ingin memeriksa tubuhmu kembali, untuk mengecek apa penyakit itu sudah sembuh atau belum?”
“Tidak!” bantah William dengan cepat “Luangkan waktumu sampai aku datang ke sana! Dan kamu akan melihat, apa tujuanku datang padamu dilarut malam seperti ini!”
“Ahh...Baiklah! Kau cepatlah datang, karna aku memiliki urusan lain jadi aku tidak bisa terlalu lama menunggumu!”
William mematikan HP nya, lalu menatap Nathan dengan tatapan yang tajam seperti sedang memberi perintah tanpa berucap. Nathan yang mengerti itu pun langsung menginjak gasnya lebih cepat lagi, atau William akan benar-benar memberikannya tugas 3× lipat dari biasanya.
William juga yang ada disana terus memeluk tubuh Evelyne dengan erat, seperti ia takut kehilangan sesuatu yang berharga untuk kedua kkalinya. Dan itu selalu membuatnya terus bergumam dengan suara pelan “Aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian lagi!”
20 menit telah berlalu begitu cepat!
Mobil sports mewah yang berwarna hitam kini terparkir di depan pintu rumah sakit yang membuat semua orang yang ada disana dengan sontak berteriak karna tahu bahwa pemilik mobil tersebut adalah lelaki tampan yang memiliki julukan sebagai Pangeran muda terkaya di dunia.
Seorang lelaki dengan jas putihnya keluar dari rumah sakit saat mendengar semua orang yang ada di koridor rumah sakit pada berteriak kagum, dan itu sedikit membuatnya merasa kesal untuk memberikannya datang ke tempatnya. “Huh...kakak tertua, tidak bisakah kam..”
Ucapan yang baru saja ingin di lontarkan oleh lelaki berjas putih ini seketika terputus saat melihat William yang tengah berdiri tegak dengan penampilan yang sedikit berantakan serta menggendong seorang wanita yang berlumuran darah ditangannya membuat lelaki berjas putih ini dengan sontak berteriak kepada asistennya untuk membawakan brankar dorong untuk wanita itu.
Dengan reaksi kerja yang cepat, beberapa orang datang membawa brankar dorong untuk William meletakkan tubuh Evelyne yang sudah benar-benar melemah diatas brankar. Dan hal itu tentu saja membuat lelaki berjas putih ini tidak bisa berpikir untuk menganggap bahwa Evelyne adalah wanita normal, melainkan ia adalah wanita gila yang sekalinya masuk rumah sakit pasti akan membuatnya terkejut setengah mati.
“Surya! Tolong...lakukan yang terbaik untuknya! Soal biaya, kau tidak perlu mengkhawatirkannya” kata William seraya memegang salah satu baju tegak lelaki berjas putih ini.
Surya mengangguk “Itu sudah menjadi tugasku! Kau tidak perlu khawatir, aku juga tidak akan membicarakan soal biaya padamu di masalah krisis ini. Jadi tolong tenangkan dirimu dan berdoalah agar Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup!”
“....” William terdiam.
__ADS_1
Ia menunggu Evelyne yang sedang menjalankan beberapa operasi untuk luka serta pendarahan yang tidak henti-henti selama di perjalanan. William menunggu disana seorang diri dengan pikirannya yang berantakan serta hati yang hancur. Ia menyuruh Nathan untuk kembali lebih dulu ke kantor agar tidak membuat suatu kecurigaan di dalamnya. Dan ia juga menyuruh Nathan untuk memeriksa lebih lanjut tentang berita yang beredar itu.
“Tidak akan aku biarkan kamu sendirian lagi, Yoona!”