Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 91 : Makan bersama di kantin Rumah sakit


__ADS_3

“Selamat pagi, sayang”


Evelyne yang baru saja membuka matanya saat di pagi hari langsung mendapatkan sebuah kecupan manis di keningnya serta sambutan hangat yang di ucapkan oleh William di depannya. “L-liam? Pagi juga” ucapnya dengan suara pelan seraya menundukkan kepalanya untuk memasukkannya ke dalam dekapan William.


Melihat sikap Evelyne yang sedikit aneh namun menggemaskan membuat William kembali memeluknya dengan erat di atas ranjang. William terkekeh lembut, lalu dengan senyuman manis di wajahnya menghiasi wajah tampannya. “Yoona, kenapa kau terlihat begitu menggemaskan? Apa kau sedang mencoba merayu suami mu ini?”


“....” Evelyne terdiam, sementara William yang melihat itu hanya terdiam seraya bangun dari tidurnya dalam posisi duduk. “Kau sudah tidak makan untuk beberapa hari, aku akan pergi keluar sebentar untuk membeli makanan untukmu. Kau tetap disini sampai aku kembali, oke?”


William yang hendak pergi menuruni ranjang rumah sakit pun Seketika terhenti saat ia melihat Evelyne tengah menarik baju bagian lengannya dengan pelan. William menoleh, lalu dengan senyuman hangatnya ia mengelus kepala Evelyne dengan lembut. “Hey, ada apa? Katakan padaku, apa kau menginginkan sesuatu?”


“Ikut..” Ucapnya dengan suara pelan.


William mengerutkan keningnya, walau ia tidak mendengar suara Evelyne namun ia bisa mengerti maksud yang di ucapkan oleh Evelyne hanya dengan melihat pergerakan mulutnya saja. “Tapi kau baru sadar, Yoona. Tubuhmu masih begitu lemah, dokter Surya juga akan melarangmu jika ia tahu bahwa kau akan ikut denganku saat membeli makanan”


“Jika tidak boleh, maka kau tidak perlu pergi membelinya.” Evelyne bangun dari tidurnya seraya melepaskan tarikan tangannya pada baju William.


William yang melihat sikap aneh dari Evelyne pun sempat membuatnya kebingungan serta merasa heran dengannya. Tapi karna ia tidak ingin Evelyne merasa kelaparan hanya karna permasalahan ini pun membuat William dengan hati yang berat, harus menggendong tubuh lemah Evelyne di dalam dekapannya.


Sementara Evelyne membantu William untuk memegangi tiang infusnya selama mereka berjalan keluar dari kamar, menuju lorong-lorong rumah sakit serta memasuki Lift untuk menghemat jalan mereka.


Sepanjang jalan, William terus menurunkan pandangannya kearah William yang sedang terdiam melamun di dalam dekapannya. Ia ingin menanyakan sesuatu kepadanya, dan itu adalah sesuatu yang sudah lama sekali ia ingin tanyakan namun ia masih belum memiliki keberanian untuk mengatakannya dan mendengar jawaban darinya.


Begitu juga dengan Evelyne yang masih terdiam karna merasakan nyaman di dekat William, namun ia takut William akan merasa risih dengannya jika ia bertingkah seperti ini. Dulu ia begitu terang-terangan menolak hubungannya dengan William dan bahkan ia juga secara terang-terangan ingin membunuh lelaki ini dengan tangannya sendiri.


Tapi pada akhirnya, dia juga yang terjatuh dalam hubungan yang tidak masuk akal ini.


“Yoona, apa yang ingin kau makan?” tanya William di sela-sela keheningan mereka. “Apa kau ingin makan bubur di sana atau ingin memakan sesuatu yang lain?”


Evelyne terdiam sejenak, lalu dengan pelan ia berkata “Terserah padamu”


Author: Mon maaf, Kata-kata legends cewek keluar🙏🏻

__ADS_1


“Terserah? Kalau kau mengatakan hal seperti itu, bagaimana aku bisa tahu apa yang kau inginkan? Bagaimana jika kau tidak menyukai apa yang kupilih nantinya?” William menatap Evelyne yang terus menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan hal apapun. “Hey, bicaralah! Aku tidak akan mengetahui apapun, jika kau tidak mengatakannya dengan benar”


Evelyne mengangkat pandangannya kearah wajah William, lalu dengan perlahan ia menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu seraya berkata “Lakukan apa yang hatimu katakan, karna aku bukan wanita pemilih. Jadi aku akan menerima semua makanan yang kau pilihkan untukku”


“Kau yakin? Apa kau tidak ingin memilihnya sendiri?” William menyipitkan matanya saat memastikan perkataan Evelyne yang membuatnya sedikit ragu.


Evelyne mengangguk “Ya, aku yakin. Lagipula untuk apa kau meragukan setiap perkataanku ini? Apa kau pernah merasa terbohongi oleh perkataanku di masa lalu?”


“Tidak sih” geleng William “Tapi bukankah sangat aneh jika aku yang mengajakmu makan, tapi aku juga yang memilihkanmu makanan?”


Evelyne mengerutkan keningnya “Tidak, memangnya terlihat aneh darimananya?”


“Eum...tidak, lupakan saja. Ayo kita pergi makan dan kembali ke kamar!” Ucap William yang mengakhiri pembicaraan.


Evelyne yang melihat William seperti sedang dalam keadaan mood yang buruk pun membuatnya harus terdiam agar tidak menyinggung lelaki ini nantinya. Saat keluar dari Rumah sakit, William langsung berjalan menuju kantin yang ada di dekat rumah sakit untuk membeli beberapa makanan untuk Evelyne sarapan.


Baru saja mereka duduk di tempat makan yang sudah di sediakan oleh kantinnya membuat mereka tinggal memesan makanan yang mereka inginkan. Bibi kantin datang seraya membawa buku catatan untuk mencatat beberapa pesanan yang akan di pesan oleh setiap pelanggan yang datang kesan. “Tuan, Nona...apa ada sesuatu yang ingin kalian pesan?”


Bibi kantin mengangguk seraya mencatat apa yang di pesan oleh William. “Baik tuan, hanya itu?”


“Liam? Kenapa kau hanya memesan makanan untukku? Apa kau tidak ingin makan juga?” Evelyne tersadar bahwa setiap makanan yang di pesan oleh William hanyalah makanan pokok untuk orang sakit dan makanan favoritnya. “Aku tidak biasa untuk makan di pagi hari, jadi kau makan saja.” William menjawabnya dengan nada dinginnya.


Evelyne terdiam, lalu dengan raut wajah yang pasrah membuatnya berpikir bahwa terlalu berharap dengan lelaki ini hanya akan membuatnya selalu di ambang kebingungan. “Bi, tolong berikan sup bening hangat dan beberapa makanan ringan untuk penutup. Oh ya jangan lupa bawakan coffie susu hangat untuknya”


William yang mendengar Evelyne memesan makanan yang biasa ia makan pun membuat suatu kerutan muncul di dahi William saat melihat wanita itu terus memaksanya untuk sarapan di pagi hari. “Oke, semua pesanan akan segera disiapkan. Mohon untuk Tuan dan Nona menunggunya untuk beberapa saat”


“Baik, terimakasih bi” ucap Evelyne seraya meluruskan pandangannya kearah William yang sedang menatapnya dengan tajam. “Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah mengatakannya padamu, aku tidak biasa sarapan di pagi hari?”


Evelyne tersenyum, “Kau bisa membuangnya jika kau tidak menginginkannya, Liam. Yang terpenting, aku sudah menyiapkannya untukmu.”


“Huh...kau berkata seperti itu, seakan-akan aku tidak menghargai apa yang kau siapkan untukku” William menghela nafasnya dengan pasrah, sedangkan Evelyne yang melihat itu hanya tertawa lembut dengan menunjukkan wajah yang pertama kali ia pernah tunjukan pada William saat mereka pertama kali bertemu. “Kalau kau menghargainya, apa kau akan memakannya untukku?”

__ADS_1


William terdiam, lalu melipat tangannya di depan dada seraya menyandarkan punggung besarnya di sandaran kursi. “Ya, aku akan memakannya. Tapi di masa depan, kau harus mengatur setiap jam makanku selama 24 jam.”


“Ehh...aku? Lalu, bagaimana jika aku lupa dengan hal itu?” Evelyne terkejut dengan permintaan William yang secara tiba-tiba ini. “Jika kau melupakannya, maka kau membuatku tidak makan pada saat jam itu” ucap William dengan menatap Evelyne yang sedang terdiam di depannya. “Ada apa? Apa kau keberatan dengan itu? Kau bisa menolaknya, jika kau merasa tidak nyaman dengan permintaanku barusan”


Evelyne mengangkat pandangannya ke depan, tepat dimana William sedang duduk dengan tegak di depannya. “Aku akan melakukannya, tapi...setelah aku keluar dari rumah sakit ini”


“Baik, jika itu mau mu” angguk William dengan senyuman.


Setelah makanan mereka datang, keduanya pun langsung memakannya dengan tenang. Tidak ada yang berbicara sedikitpun saat waktu makan sedang berlangsung. Mereka tampak begitu elegan walaupun hanya memakan makanan yang ada di kantin rumah sakit, tapi untuk penampilan dan cara mereka mereka sangat menunjukkan bahwa tata cara mereka makan begitu bagus.


Dan selesai menghabiskan makanan mereka, William langsung pergi membayarnya. Sedangkan Evelyne duduk diam di kursi seraya menunggu kedatangan William.


“Yoona? Maaf menunggu lama, tadi ada sedikit masalah di kasir.” William datang dengan membawa sebuah kantong kresek di salah satu tangannya. Evelyne yang melihat itu langsung mengulurkan tangannya untuk menunjuk pada kresek tersebut. “Apa itu? Bukankah kau kesana untuk membayar? Kenapa menambah sesuatu yang lain?”


William tersenyum, lalu menghampiri Evelyne dengan menurunkan sedikit badannya. “Hanya makanan ringan, kenapa kau seperti mempermasalahkannya?” William mengecup sekilas kening Evelyne setelah ia menyelesaikan perkataannya.


“Tidak, aku hanya bertanya...lagipula dikamar aku hanya tidur dan tidur, tidak ada waktu untuk makanannya” Ucap Evelyne dengan menutup keningnya setelah William mengecupnya dan menjauhkan wajahnya dari wajah evelyne.


William terkekeh, “Kau bisa memakannya kapan saja. Aku membelikanmu cemilan bukan makanan yang akan cepat basi jika tidak dimakan, jadi aku tidak ingin kau menolaknya.”


“Baik-baik, aku tidak akan menolaknya.” Angguk Evelyne saat tubuhnya mulai dianggap ke udara oleh kedua tangan William. “Terimakasih sudah mau membelikannya untukku, apa kau juga membelinya untukmu?”


William menggeleng “Aku tidak suka makanan ringan, jadi aku hanya membawakannya untukmu”


Mendengar alasan yang dibuat oleh William kepadanya pun membuat Evelyne kembali tertawa karna ia bisa menebak bahwa William memang orang yang sangat kaya, namun kekayaannya tersebut sama sekali tidak pernah membuatnya bahagia sedikitpun. Walau itu kebahagiaan yang bisa dibuat oleh dirinya sendiri.


“Hey, Liam...setelah aku keluar dari rumah sakit, maka siapkan dirimu untuk menyukai hal yang pernah kau tidak sukai!” Ucap Evelyne dengan berbisik pelan di telinga William.


William melirikkan matanya “Oh ya kah? Bisakah kau melakukan?” William benar-benar menantang Evelyne untuk melakukan banyak kepadanya. Karna dalam perasaan saja, Evelyne bisa membuat William menyukainya apalagi hal yang kecil? Tentu saja dia bisa melakukannya dengan baik dan mudah. “Jika kau bisa, maka aku akan menunggu hari itu. Jadi...cepatlah sembuh dengan baik sebelum kau bicara seperti itu padaku!”


“Baik, aku pastikan...aku akan keluar dari rumah sakit yang membosankan ini dalam 2 hari kedepan! Kau bisa mempercayai itu?” ucapnya dengan semangat.

__ADS_1


__ADS_2