Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 44 : Evelyne selingkuh dengan Edgar?


__ADS_3


Cerai adalah suatu kata yang sulit dikeluarkan oleh Yoona dulu. Apapun yang ia lakukan, selagi William masih dengannya, maka ia akan menerima semua itu. Dan ia juga tidak pernah berkata cerai dengan mudah, apalagi dengan sikapnya yang arogan.


Ini bukanlah Yoona! Siapa dia?


“kak William, apa kau baik-baik?” tanya Clara saat berlari menghampiri William yang sedang terdiam di tempat.


William menggelengkan “Tidak apa. Ayo kita pergi!”


Tidak mau memikirkan perkataan itu lebih lama, William pun mengajak Clara untuk masuk kedalam mobilnya. Sementara evelyne dengan lelaki itu sedang berjalan memasuki rumah sakit tanpa menolehkan sedikitpun pandangannya kearah William.


Selama di perjalanannya, William terus terdiam tanpa memulai pembicaraannya dengan Clara. Dan hal itu membuat Clara sedikit penasaran dengan apa yang dikatakan oleh evelyne sebelumnya. “Kak William, kau benar baik-baik saja?” tanya Clara dengan cemas.


William menolehkan kepalanya kearah Clara, lalu tangan kiri dari lelaki itu mengelus lembut wajah Clara yang kini dengan menatapnya dengan cemas. “Aku baik-baik saja kok. Maaf sudah membuatmu khawatir”


“Tidak apa, tapi kau benar baik-baik saja kan?” Clara kembali mengulang pertanyaannya yang langsung diangguki oleh William dengan ragu.


...--🥀🕊--...


Disisi lain, Evelyne yang sedang berjalan masuk kedalam rumah sakit bersama lelaki berjas putih itu pun seketika berhenti tepat di depan lift. hal itu tentu saja membuat lelaki berjas putih itu menolehkan kepalanya kesamping, tepat Evelyne berdiri dengan ekspresi datarnya.


"Nona? ada apa?" tanya lelaki itu.


Evelyne membalikkan tubuhnya menghadap lelaki itu, laku menyerahkan sebuah kantong hitam yang berisi sesuatu. "Didalam kantong itu ada sebuah benda kecil yang aneh. aku tidak tahu itu apa, tapi bisakah kau memeriksa benda itu untukku?"


"Benda? apa yang kau maksud?" Lelaki terheran saat menatap Evelyne dan tangan dari lelaki itu secara tidak sadar membuka ikatan kantong tersebut.


Melihat ketidaksadaran lelaki itu, Evelyne pun langsung menahan tangan lelaki itu agar berhenti membuka ikatannya. "Bisakah kau membukanya di ruangan mu saja?! aku tidak ingin seseorang melihat itu!"


Lelaki itu terdiam, ia merasa aneh dengan sikap Evelyne saat ia membuka ikatan tersebut. memangnya apa isi didalam kantong ini? kenapa wanita itu sangat marah jika ia membukanya di tempat umum? .


"Aku tidak bisa berlama-lama disini! kau kerjakan itu terlebih dahulu, jika sudah selesai maka hubungi aku!" kata Evelyne seraya berjalan melewati lelaki itu.


"Nona tunggu!!"


Lelaki itu menghentikan langkah evelyne hanya dengan sebuah perkataan, dan hal itu membuat evelyne memiringkan kepalanya seraya melirik kan matanya yang tajam kearah lelaki itu. "Nona, bisakah kau beritahu aku. Apa hubunganmu dengan Tuan besar Maxime?"


Evelyne menyipitkan matanya, membuat suatu pergerakan dari tubuh lelaki itu. "Apakah hal seperti itu pantas kau pertanyakan?"


"A-ah...tidak nona, aku hanya penasaran saja. Soalnya saat saya turun memanggilmu, saya tidak sengaja melihat anda sedang berbicara dengan Tuan besar Maxime" jelas lelaki itu


Tidak tertarik dengan pembicaraan itu, evelyne pun kembali meluruskan pandangannya. "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya."


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne pun kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda tadi. Sementara lelaki itu hanya terdiam saat melihat punggung evelyne mulai menjauh dari pandangannya.


Baru saja keluar dari rumah sakit, Evelyne langsung di kejutkan oleh seorang lelaki yang memiliki wajah yang sama seperti William. namun lelaki yang ada di depannya ini cukup terlihat muda dibandingkan William yang selalu berpenampilan dewasa.


"Kakak ipar, sedang apa kau disini?" tanya lelaki itu saat evelyne belum sadar akan berdirinya lelaki itu di depannya.


Evelyne mengangkat kepalanya, "Edgar?"


"Hallo kakak ipar, kebetulan sekali kita bertemu" sapa Edgar dengan senyuman aneh di wajahnya.


Evelyne merasa sedikit aneh jika lelaki ini berdiri di dekat, jadi evelyne sedikit memundurkan tubuhnya kebelakang. Edgar yang melihat pergerakan kecil itu pun membuat dirinya merasa bahwa evelyne benar-benar sedang menghindari kontak fisik.

__ADS_1


"Edgar, apa yang kau lakukan disini?" tanya Evelyne yang memulai pembicaraan.


Edgar melihat sekeliling lalu pandangannya kembali menatap Evelyne yang sedang berdiri di depannya. "Aku sedang jalan-jalan saja disini, bagaimana denganmu? kenapa kakak sendirian? dimana sopirmu?"


"Aku kesini ada urusan, tidak bawa mobil hanya naik taksi saja." jawab Evelyne.


mendengar hal itu, Edgar pun mengangguk lalu berencana untuk mengajak evelyne jalan. "Kakak ipar, apa kau memiliki waktu senggang?"


"Memangnya kenapa?" Evelyne kebingungan.


Edgar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu saat ingin membuka mulutnya. "Maaf kak, apa kau ingin kita ngobrol sebentar sambil jalan? kebetulan aku bawa mobil, nanti pulang aku bisa mengantarmu"


"...." evelyne terdiam.


Ia memang merasa sedikit tidak nyaman jika di dekat Edgar, tapi melihat sikap sopan dari lelaki itu membuatnya keberatan untuk menolak ajakannya. Jadi Evelyne pun menyetujuinya hingga membuat lelaki itu tersenyum.


"Ya sudah kalau gitu, kita ke mobil ya kak. Cari tempat yang enak untuk ngobrolnya"


Evelyne menjawab sekilas, lalu berjalan mengikuti Edgar yang sedang berjalan menuju mobil putih yang terparkir di parkiran rumah sakit. Memang sedikit aneh kedatangan Edgar disini setelah ia berurusan dengan jessica sebelumnya, tapi karna Evelyne tidak mau memikirkan hal itu terlalu dalam, jadi ia lebih memilih untuk diam dan mengikuti kemana Edgar akan membawanya pergi.


Dari pukul 15.00 sampai pukul 19.55 Edgar tidak berhenti mengajak Evelyne ketempat-tempat yang indah, entah itu dari taman yang terkenal di kota, sungai yang ada di pinggir kota serta mengajak Evelyne membeli barang-barang Mewah untuk mendekatkan dirinya pada Evelyne.


Sampai waktu tibanya Evelyne pulang, Edgar juga mengantarkannya pulang menggunakan mobil. "Terimakasih sudah mengajakku jalan hari ini, maaf sudah merepotkan mu untuk mengantarkanku pulang" kata Evelyne sebelum ia membuka pintu mobil di posisi bagian penumpang depan.


"Tidak apa-apa kakak ipar, aku juga merasa senang jika kau tidak keberatan saat aku mengajakmu berkeliling" ucap Edgar dengan senyuman di wajahnya.


Evelyne terkekeh "Ya sudah, kalau begitu aku pergi. Terimakasih untuk hari ini dan berhati-hatilah dijalan!"


"Baik kakak ipar" angguk Edgar dengan perasaan yang senang.


Evelyne tidak menyadari kepulangan dia bersama Edgar diketahui oleh sebuah mobil hitam yang tengah terparkir di di depan gerbang.


Melihat mobil itu sudah menghilang dari pandangannya, Evelyne pun berbalik badan kemudian berjalan menuju pintu besar kediaman utama. baru saja ia membuka pintu itu, Evelyne langsung dikejutkan oleh berdirinya kakek di balik pintu.


"Astaga kakek...apa yang kau lakukan disini?" tanya Evelyne seraya memegang dadanya


Kakek itu mengangkat bahunya seperti orang yang tidak merasa bersalah akan tindakannya yang sudah mengagetkan orang lain. "Tidak ada, hanya bersiap untuk mengunci pintu saja jika kau terlambat pulang" kata kakek seraya berjalan menuju sofa.


"Tapi aku tidak terlambat kan? waktunya saja masih lama" jawab evelyne dengan senyuman di wajahnya.


Kakek mengangguk, lalu melambaikan tangannya setinggi dada. "Oke, oke...sekarang kau pergilah ke kamar dan beristirahatlah! karna besok kau harus melanjutkan kembali hukumanmu"


"Baik kakek. Selamat malam!" kata Evelyne.


Setelah mengucapkan itu, evelyne pun langsung berjalan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Sementara kakek duduk di sofa untuk menunggu kepulangan William yang belum terlihat.


...--🥀🕊--...


Disisi lain, Evelyne yang sedang beristirahat di atas kasur dengan pakaian tidurnya seketika menolehkan kepalanya saat mendengar pintu itu terbuka dari luar. Menampilkan seorang lelaki dengan penampilan yang berantakan tengah berjalan masuk ke kamar.


Melihat hal itu, Evelyne pun mengerutkan keningnya. Merasa bahwa William sosok lelaki yang sedang berdiri di depannya dalam kondisi mabuk.


"Tuan, kau..mabuk?" tanya Evelyne seraya menatap William yang sedang berdiri diam di hadapannya.


Karna takut terjadi apa-apa, Evelyne pun beranjak dari kasur untuk pergi keluar mencari Dessy. "Tuan, tunggulah sebentar disini! aku akan panggil Dessy untuk membawakan kau sup pereda masuk" kata Evelyne seraya berjalan melewati William.

__ADS_1


Namun saat Evelyne baru hendak melewati William, lelaki itu sudah lebih dulu menghentikan langkahnya dengan menahan salah satu tangannya yang berada di dekat tangan William. "Tidak ada yang menyuruhmu keluar!!" tekan lelaki itu dengan suara yang serak.


"Kau mabuk, tuan! aku hanya keluar sebentar untuk memanggil Dessy" kata Evelyne sembari melepaskan genggaman tangan William dari pergelangan tangannya.


Brukk!!


William memukul tiang ranjang dengan keras hingga membuat suara pukulan itu bergema di seluruh ruangan. Evelyne yang melihat itu pun paham bahwa kondisi saat ini, William tengah mengandalkan emosinya disaat mabuk.


Jadi ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan dari lelaki itu. "Tidak ada yang mengizinkanmu keluar!! kau mendengarnya tidak?!!" bentak William saat menolehkan kepalanya kearah evelyne.


"Iya tuan, aku tidak keluar! tenanglah...tidak perlu berteriak-teriak seperti ini, atau kakek akan mendengarnya" kata Evelyne seraya menenangkan emosi William.


Melihat evelyne sedang berjalan menghampirinya dengan perlahan, William pun mengulurkan tangannya untuk menghentikan langkah evelyne. "Berhenti disitu!! Aku tidak menyuruhmu mendekat!!"


Evelyne terdiam, lalu mengangguk. "Baik, baik...aku tidak akan jalan lagi. Sekarang tenangkan lah dirimu! dan katakan apa yang terjadi? kenapa kau mabuk?"


Mendengar hal itu, William terdiam lalu menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. ia duduk diatas kasur dengan posisi mata yang tajam tengah mengarah kearah evelyne yang sedang berdiri di depannya.


"Jelaskan maksud dari perkataanmu tadi!!!" Kata William


Evelyne tertegun, ia sedikit bingung perkataan apa yang dimaksud oleh William. "Maaf tuan, apa yang kau maksud? aku tidak mengerti"


"Kau ingin bercerai denganku? apa kau yakin?" tanya William yang sedikit terlihat tenang.


Evelyne mengangguk "Ya, aku yakin. memangnya ada apa? Apa kau keberatan dengan permintaanku?"


"Ckk...tentu saja tidak" Kata William dengan membuanh wajahnya kearah lain.


"Lalu kenapa kenapa kau mempertanyakannya lagi? apa kau pikir, perkataan itu hanya candaan?" Tanya evelyne yang merubah ekspresinya menjadi datar.


William menolehkan kepalanya, menatap evelyne dengan tatapan dinginnya. "Mengatakan hal itu dengan mudah, apa kau memiliki seseorang yang sudah kau siapkan setelah kita bercerai nanti?"


Mendengar omong kosong dari William pun membuat evelyne mengerutkan keningnya. "Seseorang? Apa maksudmu?"


"Tidak perlu berpura-pura lagi! kau pikir, aku tidak melihatnya? apa kau pikir, aku tidak tahu kalau kau menjalin hubunganmu lagi pada Edgar?"


Degh!


Evelyne tertegun, ia ingin marah karna William sudah Menuduhnya yang tidak-tidak. Tapi evelyne sendiri merasa bahwa tubuhnya bereaksi seperti seseorang yang sedang tercyduk selingkuh.


-Eline, Kau melupakan sesuatu!-


Evelyne menggeleng "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Edgar! kami hanya ber jalan-jalan dan mengobrol saja, kenapa kau bicara seperti itu pada adikmu sendiri?"


"Kau pikir aku percaya?" tanya William dengan wajah yang merendahkan Evelyne. "Kau berstatus sebagai istri seseorang, tapi kau malah pergi berduaan dengan lelaki lain. Bahkan kau pulang saja antar oleh nya? Apa kata orang nanti?!"


Evelyne tersenyum "Orang lain juga tidak akan ada yang tahu, aku memiliki hubungan denganmu. Jadi kau tenang saja, mau jalan dengan siapapun itu, kau tidak perlu takut. karna aku bukan siapa-siapa kamu!"


Praakk!!


William melayangkan tamparan keras tepat diwajah evelyne, ia juga menatap evelyne seperti binatang buas yang sedang menargetkan mangsanya didepan. "Punya nyali berapa kau berani melakukan itu di depanku?!"


"Aku memang hanya punya 1 nyawa, dan akan mati jika ada yang membunuhku. tapi aku memiliki nyali yang tidak akan pernah takut dengan seseorang sepertimu!!" Kata evelyne dengan membalas tatapan William yang tajam. "Aku sudah bilang, kalau aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Edgar. kenapa kau terus berkata seperti itu?!!"


William terdiam, sementara Evelyne kembali membuka suaranya. "Perceraian itu...aku menunggu jawabanmu!!"

__ADS_1


__ADS_2