Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 89 : Pelukan untuk menguatkan satu sama yang lain


__ADS_3

Di rumah sakit xxxx.


William dengan langkah kakinya yang panjang terus berjalan begitu tergesa-gesa saat ia sampai di rumah sakit itu. Dari awal menaiki lantai xx serta berjalan menuju kamar xxx, tempat dimana Evelyne tengah berbaring lemah sebelumnya ia pergi. Kini William dapat melihatnya dengan jelas saat ia baru saja keluar dari lift dan manik matanya langsung ditunjukkan pada Surya yang sedang berdiri di depan ruangan tersebut seraya memainkan hpnya di sana.


Menyadari kedatangan William dengan aura yang gelap, membuat surya melirikkan matanya saat melihat William sudah berdiri di depannya hanya dengan beberapa langkah untuk mendekatinya saja. “Apa yang terjadi? Apa ada masalah dengan Yoona?” tanya William dengan cepat.


“Masuklah lebih dulu, jika kau ingin tahu apa yang terjadi!” Surya menolehkan kepalanya sebagai isyarat pergerakan untuk William masuk kedalam kamar. “Aku akan pergi sebentar untuk mengurus sesuatu, kau tetaplah di dalam dan jaga dia!”


William menahan tangan Surya yang tengah berjalan pergi melewatinya tanpa penjelasan sedikitpun kepadanya. Surya menolehkan kepalanya saat ia mendapatkan tahanan dari William serta manik mata yang dingin dari lelaki itu terus menatapnya tajam. Surya memang ingin memberitahu sesuatu pada William, tapi ia juga tidak tahu apakah waktu yang sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuatkan lelaki ini mengetahui hal yang tidak pernah mungkin terjadi di dunia. Bahkan memikirkannya secara logika saja tidak bisa.


“Tidak ada masalah serius! Kau masuklah lebih dulu, maaf sudah mengganggumu tadi." Ucap Surya dengan melepas tangan William di lengan bagian atas dengan perlahan, dan ia juga langsung berjalan pergi meninggalkan William yang kini di penuhi rasa kebingungan karenanya. Apa yang terjadi? Kenapa lelaki bodoh itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya?


William yang merasa kesal dengan Surya pun hanya berdecak sekilas sebelum ia memasuki kamar Evelyne yang terasa begitu hangat dan tenang. Seorang wanita dengan wajah cantiknya serta aura yang membuat William tertegun saat memasuki tempat itu adalah merasakan sesuatu yang aneh saat ia berada di dekat wanita ini.


“Hey wanita gila, apa kau sudah sadar?” tanya William seraya berjalan menghampiri ranjang rumah sakit yang kini tengah menampung wanita yang sedang tertidur beberapa hari. William menghela nafasnya, lalu dengan lembut ia membelai wajah Evelyne dengan tangannya yang pernah kasar padanya dan dengan tangan yang pernah melukai wajah cantik ini tanpa alasan yang jelas. “Huh...sepertinya aku akan menunggumu jauh lebih lama dari yang ku kira.”

__ADS_1


Pikiran serta hati yang cukup merasa sakit pun membuat William harus berdiri di samping ranjang itu seraya menundukkan kepalanya seperti orang yang sedang memiliki masalah di pikirannya. William benar-benar tidak akan pernah menyangka bahwa ia akan mencintai Evelyne tanpa alasan yang jelas, dan ia juga tidak pernah menyangka bahwa ia akan pernah memutuskan hubungannya dengan Clara serta keluarga NIU hanya karna Evelyne.


Bukannya mengapa, tapi rasanya sangat aneh. Dimana dia dulu tidak pernah menjadikan seseorang menjadi alasan ia melakukan sesuatu, dan sekarang...ia menjadikan Evelyne sebagai alasan yang kuat untuk memutuskan hubungannya dengan semua orang, karna ia juga tidak ingin semua orang melukai Evelyne di belakang nya.


William terdiam sejenak menatap wajah Evelyne yang kini terdapat beberapa luka goresan di tempat nyang mudah terlihat, dan luka itu seketika membuat William semakin ingin membereskan semua permasalahan Evelyne dengan Clara, jessica, Edgar dan yang lainnya. Dia memang sudah bertindak banyak hari, tapi...bukan berarti semua ini akan selesai dengan mudah.


Pasti semua ini akan terus berlanjut, karna William tahu bagaimana sikap keras kepala dari Clara, jessica dan terutama Edgar yang seperti memaksa Evelyne untuk kembali kedalam pelukannya. Dan hal itu sama seperti yang dilakukan oleh Clara untuknya. “Huh...dunia ini terlalu banyak masalah, sampai-sampai aku merasa lelah. Hey, wanita gila...biarkan aku beristirahat seraya memelukmu sejenak, oke?”


William yang berbicara sendiri pun langsung melepaskan sepatunya, lalu dengan perlahan ia menaiki ranjang itu untuk berbaring di samping Evelyne. Tidak puas dengan hanya berbaring disampingnya, tangan William langsung memiringkan tubuh Evelyne untuk memasukkannya ke dalam Pelukkannya seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.


Pelukan untuk pasangan yang pernah hancur, memang sangatlah menyedihkan. Tapi untuk pasangan yang selalu mencoba memulainya dari awal dan tidak pernah melihat bagaimana masa lalu terjadi begitu kejam adalah suatu pelukan untuk menguatkan satu sama yang lain. Terutama untuk keduanya yang masih saling menyembunyikan sesuatu untuk menghilangkan rasa kepercayaan diri mereka terhadap pasangannya muncul.


Tap...tap...tap...


Surya berjalan menghampiri kamar Evelyne, lalu dengan sebuah ketukan pelan di pintu. “Kakak pertama, apa mau di dalam? Bisakah kita bicara sebentar?” ucapnya dengan perlahan agar ia tidak mengganggu pasien yang ada di sebelah kamar Evelyne.

__ADS_1


Tetapi saat di tanyakan oleh surya, tidak ada jawaban sedikitpun keluar dari dalam. Dan surya juga merasa bahwa ruangan ini begitu tenang hingga ia tidak bisa mendengar seseorang sedang beraktivitas di dalamnya. Apa William pergi meninggalkan Yoona seorang diri tanpa memintaku untuk menjaganya?!


Tidak mungkin, Surya menyangkal pikirannya sendiri untuk tidak berpikiran buruk tentang William terhadap Evelyne. Karna bagaimanapun juga, William yang memiliki temperamen buruk dalam dirinya, tidak akan mungkin meninggalkan Evelyne berada di kamar nginap ini sendirian apalagi kondisinya sedang melemah.


-Tapi, bagaimana jika kakak pertama benar-benar meninggalkan Kakak ipar sendiri?!-


Kreekk!!


Surya dengan sontak pun langsung membuka pintu itu tanpa meminta izin lagi, dan ia juga akan membuat suatu perhitungan pada William jika ia benar-benar menghiraukan penjagaan terhadap Evelyne. “Kakak pertama, jangan bilang kau pergi tanpa pergi meninggalkannya sendirian lag...”


Perkataan yang baru saja Surya lontarkan di mulutnya, seketika terhenti saat ia melihat suatu pemandangan yang dimana ia seharusnya tidak melihat. “Akhh sialan!” umpat Surya seraya membalikkan tubuhnya untuk kembali keluar dari kamar Evelyne. Karna ia sudah muak dengan drama yang terjadi di keluarga Maxime.


Namun ia juga merasa senang karna ia bisa melihat William menemukan seseorang yang tepat untuk ia tetapkan dia dalam hatinya, walaupun seseorang ini terlihat aneh dan misterius di matanya.


Surya tersenyum. “Tidak masalah dengan siapa kau sekarang. karena menurutku, kau sudah seharusnya menempatkan seseorang yang layak di hatimu yang sepi.”

__ADS_1



__ADS_2