
Di kamar kediaman.
Kedua yang kini tengah berdiri saling berhadapan pun merasa sedikit canggung dengan apa yang terjadi di hari ini. Karena mereka sendiri tidak pernah menyangka bahwa mereka akan mengulang pernikahan seperti ini dengan akhir yang bahagia. Walau mereka awalnya harus melakukan suatu drama yang menyakitkan, pada akhirnya itu semua membuat hasil yang cukup bagus.
William sedikit merasa tenang karena ia bisa bebas dari ancaman serta perjanjiannya dengan tuan WU dan Clara, berbeda dengan Evelyne yang terus menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan kata sedikitpun. William sedikit merasa aneh saat melihat itu, jadi ia langsung mengangkat kepala Evelyne dengan perlahan untuk melihat apa yang terjadi dengan wanita ini.
Degh!
Baru saja William mengangkat kepala Evelyne, sepasang mata yang terus mengeluarkan air mata hingga membuat kedua matanya tersebut menjadi sembab justru membuat William dengan seketika panik saat melihatnya. “S-sayang! Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?” ucapnya dengan mengusap lembut di area pipi Evelyne yang sudah di basahi oleh air mata.
“T-tidak, tidak apa. Aku tidak menangis” Elaknya dengan memalingkan wajahnya untuk mengusap kesedihannya itu.
William terdiam sejenak, lalu dengan perlahan ia menarik tubuh Evelyne masuk ke dalam dekapannya untuk menenangkan sedikit rasa kesedihannya itu. “Maafkan aku, apa kejadian tadi masih mengganggu pikiranmu saat ini?”
“Eum...ya, aku pikir aku bisa melakukannya dengan baik. Tapi tidak kusangka akan se menyakitkannya ini melihatmu akan menikah dengannya walau itu hanya bohongan.” Jelas Evelyne yang masih terisak akan tangisannya.
__ADS_1
Melihat wanita ini menangis kembali di depannya, membuat William sedikit merasa bersalah karena telah mengaitkan Evelyne dalam permasalahan ini. Namun ia juga sebenarnya ingin tahu lebih banyak tentang Evelyne yang sekarang ini bersama, William ingin mereka berhubungan dengan layaknya cinta ia kepadanya, bukan kepada Yoona.
Dulu ia memang membenci Yoona karena wanita itu selalu saja mengganggu hidupnya, tetapi jika bukan karena Yoona....William dan Evelyne tidak akan pernah bertemu dan memiliki perasaan yang sedalam ini. “Maafkan aku, sayang. Maafkan aku”
William mengusap kepala Evelyne dengan lembut sebelum ia mengangkat kepala wanita itu agar sedikit mendangak keatas. Karena Evelyne saat ini juga sedang mengeluarkan kesedihannya, ia hanya bisa mengikuti arahan tangan William yang kini berada di pipinya. “Tidak perlu memikirkan hal itu lagi! Aku mencintaimu, aku mencintai segalanya darimu, bahkan siapapun kamu. Aku akan tetap mencintai kamu”
“H-hah? A-apa yang kau kat...”
Perkataan Evelyne yang terkejut akan ucapan William pun langsung terpotong saat bibir tebal dari lelaki itu meraup bibir tipisnya dengan lembut. Ciuman itu awalnya terasa begitu ringan, namun Evelyne seketika dengan sontak terkejut saat merasakan bibir William terus meraupnya dengan nafsu. “Ugh...L-liam, A-apa yang kau...”
Evelyne sendiri tidak bisa berpikir jernih saat William mulai memasukkan lidahnya yang panjang ke dalam mulutnya, dan tangannya yang terbebas beranjak meraba tubuhnya dengan lembut. Sengatan listrik yang menjalar dari setiap sentuhan yang di berikan oleh William membuat Evelyne sedikit merasa tidak berdaya.
“Sayang...bisakah kita melakukannya lagi seperti yang terakhir kalinya?” tanya William dengan berbisik hangat di dekat telinga Evelyne.
Evelyne mengerutkan keningnya, bulu kuduk yang kini berdiri merinding saat mendengar hembusan nafas yang hangat dari William membuat Evelyne hendak bangun dari bawah William. “T-tidak, kita tidak memiliki waktu untuk bermain-main seperti ini. Bibi juga akan mencari kita, jika dia tahu kita belum keluar dari kamar” ucapnya dengan salah satu tangannya mendorong tubuh William secara perlahan dan salah satu tangannya yang lain menutup wajahnya yang kini memerah.
__ADS_1
“Huh...Sayang, mulutmu memang berkata seperti itu. Tapi lihatlah wajahmu yang terus memancing ku hingga tidak bisa menahannya lagi.” William sedikit menahan dirinya agar tidak langsung melahap Evelyne secara terburu-buru. “Maafkan aku, sepertinya kita butuh olahraga malam ini! Jadi jangan pikirkan hal yang lain dan fokuslah hanya kepadaku!”
Ucapan yang terdengar sebagai peringatan di pikiran Evelyne tentu saja membuat Wanita itu dengan sontak merasa panik akan sesuatu yang terjadi padanya malam ini. Ia tidak ingin merasakan kesakitan lagi seperti yang ia alami di masa lalu, karena bukan hanya menyakitkan tapi itu menumbuhkan rasa ketraumaannya di dalam hatinya yang rapuh.
“L-liam, bisakah kita tidak melakukannya? Aku benar-benar tidak ingin melakukannya” cicit Evelyne yang meremas baju William karena pikirannya terus membawanya ke masa lalu.
William yang melihat rasa ketakutan serta penolakan itu membuatnya langsung menghentikan tindakannya untuk memberikan Evelyne nafas yang tenang terlebih dahulu. Ia tahu siapa Evelyne, dan ia tahu layar belakang seperti apa yang di alami oleh Evelyne di masa lalu. Jadi akan sangat masuk akal, jika Evelyne menolaknya untuk melakukannya pertama kali.
“Aku tidak melakukannya, maafkan aku.” Ucapnya dengan mengecup kening Evelyne dalam waktu yang cukup lama.
Evelyne sedikit tertegun saat melihat William langsung menyingkirkan tubuhnya diatas tubuh Evelyne, dan William juga langsung memindahkan Evelyne ke posisi yang benar untuk beristirahat. Sepanjang malam William terus memeluk Evelyne yang kini tertidur pulas di dekapannya, bahkan William sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan seperti apa Evelyne di masa lalu hingga membuat dirinya menjadi seperti ini.
William juga seketika mengingat nama seseorang yang sering dipanggil oleh Evelyne dalam mimpinya, ia sedikit penasaran namun ia juga tidak ingin melukai hatinya saat tahu bahwa Evelyne masih menginginkan lelaki itu.
Apakah dia adalah orang yang baik? Apa dia bisa menjaga Evelyne dalam masalahnya di masa lalu? Lalu kenapa Evelyne sering kali menangis dalam mimpinya dengan memanggil namanya dengan nada yang penuh kebencian. Apakah dia orang pertama yang berhasil membuat Evelyne meletakkan hatinya secara tulus kepadanya?
__ADS_1
“Huh....Evelyne, apa kamu masih menginginkan lelaki itu?”