
“Itu milikku, tapi sekarang itu akan menjadi milikmu!” ucap William seraya bangun dari duduknya. Membuat Evelyne kembali mengangkat kepalanya saat melihat William sudah berdiri tegak di Sampingnya. “Kenapa? Kenapa ini menjadi milikku? Lalu apa yang akan kau pakai nantinya?”
William mengeluarkan sebuah HP yang sama dari saku celana panjangnya, lelaki itu mengulurkan tangannya saat memperlihatkan HP yang sama seperti HP yang ada di tangan Evelyne. “Aku memiliki yang lain, jadi tidak perlu khawatir!”
Mendengar hal itu, Evelyne pun mengangguk seraya menundukkan kepalanya saat melihat HP baru yang di berikan oleh lelaki ini. “Beberapa kontak yang ada di HP mu sudah ku pindahkan kesana, jadi kau tidak perlu khawatir tentang kontak temanmu itu” kata William yang membuat Evelyne kembali mengangkat kepalanya saat mendengar lelaki itu kembali membuka suaranya.
“hn...baiklah terimakasih” Angguk Evelyne.
William melirikkan matanya yang dingin kearah Evelyne yang tengah asik memandangi HP nya. “Aku akan keluar sebentar, kau tetaplah disini untuk beristirahat. Jangan pergi kemana-mana karna di kediaman tidak ada orang, dan hanya ada penjaga yang menjaga pintu masuk.” Kata William seraya berjalan menuju pintu.
“Tidak ada orang? Lalu dimana kakek dan Dessy?” tanya Evelyne dengan terheran.
William hanya memalingkan pandangannya, serta meraih gagang pintu itu untuk membukanya dari dalam. “Keluar sebentar, mereka akan kembali sebentar lagi. Jadi tunggu saja sampai mereka pulang dan memanggilnya diatas.” Jawab William dengan suara dingin.
“Hnn....baiklah” Evelyne mengangguk, sementara William kembali membuka suaranya sebelum menutup pintu kamar dari luar. “Nomermu yang baru ini, aku perintahkan kamu untuk tidak memberikannya pada siapapun. Nomer itu hanya orang dekat serta teman kepercayaanmu itu saja. Selebihnya tidak ada yang boleh tahu!!”
Evelyne terdiam, merasa sedikit aneh dengan permintaan itu. Tetapi karna tidak ingin berpikir terlalu lama, Evelyne hanya menganggukinya hingga membuat Lelaki yang ada di depan pintu ikut mengangguk sebagai responnya sebelum pintu itu tertutup rapat.
“Dasar aneh!” ejek Evelyne.
...--🥀🕊—
...
“Kakek tua! Dimana kau?” tanya William dengan tidak sopan saat berbicara pada telpon.
Mendengar perkataan yang sudah biasa ia dengar, suara itu pun hanya tertawa jahat saat menanggapinya “Kau berkata tidak sopan seperti itu, apa kau tidak takut aku akan mengutukmu suatu hari nanti?”
“Jangan bercanda! Tidak ada lelucon seperti itu di dunia ini. Dimana kau?! Aku sudah ada di pertengahan jalan menuju kesana” kata William yang kembali pada tujuan ia menelpon kakek tua itu.
Suara itu terkejut, “Waw, cepat sekali kau datang! Bukankah aku baru memberitahumu 1 jam yang lalu, saat kau masih menemani Yoona di kamar?”
“Ckk...jangan salah paham! Kau tidak tahu banyak tentangku, jadi jangan coba-coba untuk menebak hidupku dengan akalmu yang kurang sehat itu” jawab William yang semakin tidak mengenal batasan.
Suara itu tertawa keras untuk kedua kalinya, menganggap bahwa perkataan William lah yang terdengar lelucon di telinganya. “Dasar cucu kurang hajar! Kau ini sama sekali tidak pernah menghargaiku ya. Padahal aku sudah bersusah-payah untuk merawatmu sejak kecil”
“Ohh, terimakasih akan hal yang kau lakukan. Tapi aku dulu sama sekali tidak pernah memintanya kepadamu, dan kau juga yang melakukan itu dengan senang hati. Jadi untuk apa kau mengungkit masalah itu, disaat aku telat berubah karna ajaranmu?” William berkata dengan nada dinginnya.
Sementara seseorang dari balik telpon itu hanya tertawa tanpa mempedulikan semua perkataan jahat yang di lontarkan oleh William kepadanya. Karna mau bagaimanapun sikap dari lelaki itu sekarang, adalah keinginannya untuk ia bisa menjaga dirinya disaat hidupnya sudah tidak bisa bertahan lagi.
“Dasar kau anak nakal! Tidak tahu rasa berterimakasih. Datang kau sekarang ke tempat biasanya, dan lihat bagaimana aku akan menghukummu karena sudah berbicara seperti itu padaku!” kata suara itu dengan tegas.
Mendengar lelaki itu akan menghukumnya, William hanya mengembangkan smrik di wajah dinginnya itu. Tidak ada ketakutan saat seseorang sedang mengancamnya, bahkan William sendiri hanya menganggapnya sebagai lelucon. “Baik, aku akan segera kesana. Aku ingin lihat, bagaimana kau akan menghukumku nantinya!” ucap William seraya mematikan telponnya.
William menghela nafasnya setelah ia menyimpan HP tersebut di dalam saku jasnya, ia melihat sebuah alat pengintai yang ada di dalam mobilnya membuat sebuah kerutan di dahinya terlihat begitu jelas. Bahkan manik matanya yang dingin, terus menatap lekat pada layar pengintai itu.
__ADS_1
“Sial! Ternyata, bajingan itu masih bersusah payah untuk mendapatkannya kembali?” William berdecih kesal “Benar-benar merepotkan sekali!!”
Sesampainya di tempat, William langsung di datangi oleh beberapa orang dari dalam ruangan gelap untuk mengantarkannya ke suatu tempat di mana titik pertemuan mereka. Disana tempatnya sangat tertutup dan gelap, jadi tidak akan pernah ada yang mengenal waktu jika sudah berada di dalam ruangan itu.
Dark secret, organisasi gelap yang selama ini william sembunyikan dari semua orang termaksud keluarga dekatnya. Tidak ada yang pernah tahu akan rahasia terbesar william yang kini menjadi buronan para polisi di luar negara. Di dalam organisasi itu juga, william memiliki peran penting untuk mengatur serta memimpin beberapa kelompok yang bekerja di luar sana.
Dalam menjalankan setiap misi, William juga selalu di temani oleh justin yang kini sudah mendapatkan kepercayaan serta julukan sebagai tangan kanannya. Memang sulit untuk mendapatkan posisi seperti itu, karna bagaimanapun William termaksud orang yang telalu memilih-milih.
Entah dari kekurangan orang ataupun kelebihan yang di luar batas logika nya.
Krekk!
Sebuah pintu besar yang menuju ke suatu tempat membuat dirinya dapat melihat sebuah kursi besar yang kini tengah di duduki oleh seorang lelaki tua. William berjalan memasuki ruangan itu dengan ekspresi wajah yang dingin serta aura yang mengerikan. Semua itu ia keluarkan bukan untuk memamerkan kekuatannya pada para bodyguard nya. Melainkan lelaki itu hanya membuat suatu peringatan bahwa jika ia sudah berada disini, maka tidak akan ada lagi yang namanya bersantai.
“Aku datang untuk menghadapmu, kakek!” ucap William seraya berdiri di hadapan kakek besar maxime. “Apa ada suatu masalah yang ingin kau bicarakan padaku?”
Kakek mengangguk “Ya, tentu saja ada!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, kakek pun mengangkat salah satu tangannya untuk menyuruh semua orang yang ada disana untuk keluar dari ruangan itu. Dan alhasil, hanya mereka ber3 lah yang tersisa disana.
Melihat tindakan kakek yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, membuat William sedikit merasa kebingungan. Karna sudah sejak dulu, kakek akan selalu berbicara tentang semua masalah besar atau kecil di hadapan semua bodyguard-nya. Tetapi berbeda dengan yang sekarang, lelaki itu bahkan menyuruh semuanya keluar dan hanya menyisakan dirinya dan kakek serta wanita yang berada di kegelapan itu.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya William di saat semuanya terasa begitu sepi.
“Aku mendapatkan suatu berita besar yang belum pernah menjadi perbincangan antara semua organisasi gelap di seluruh dunia, jadi aku berpikir untuk mencari tahu kebenaran dari berita itu sebelum semuanya menyebar di seluruh dunia” jelas kakek seraya mengeluarkan sebuah remote dari dalam saku jas hitamnya.
Namun, William seketika dibuat terkejut saat melihat rekaman yang sedang di putar dalam layar besar itu. Rekaman yang menunjukkan sebuah kota yang hancur parah, seperti insiden kiamat kecil. Bukan hanya itu, rekaman pada kota tersebut juga menampilkan beberapa gedung serta rumah yang hancur seperti terbakar oleh kobaran api yang sangat besar.
Banyak bangunan-bangunan yang ada disana terlihat sudah tidak layak untuk di tempati. Entah dari keadaan kota itu sampai fasilitas yang ada disana. William yang melihat semua rekaman itu, seketika manik mata dinginnya melirik kearah kakek yang sedang duduk di atas kursi besarnya. Terlihat lelaki itu tampak sedang mengeluarkan ekspresi yang membuat William berpikir, bahwa di hari esok lelaki tua itu akan mempersulit hidupnya.
“Kau lihat semua itu, will?” tanya kakek di sela-sela keheningan mereka.
William menoleh, lalu mengangguk pelan. “Jadi, bisakah kau jelaskan apa yang kau inginkan dari kota itu?”
“Ya...aku ingin kau mencari tahu, siapa pelaku yang membuat insiden besar ini.” Jawab kakek yang membuat William sedikit tidak paham dengan pola pikirnya. “Lalu, jika aku sudah menemukannya. Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?” William menatap lelaki itu dengan dingin.
“Tidak ada, aku hanya sedikit tertarik dengan orang itu” kakek menjawabnya dengan nada yang santai “Dia membuat kekacauan yang begitu besar di kota itu. Sudah berapa lama insiden itu terjadi, tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan berita dunia pun tidak ada yang menyiarkannya di internet. Apa menurutmu dia adalah orang yang menarik?”
William terdiam, manik mata lelaki itu kembali terangkat untuk melihat rekaman itu lagi. Ia merasa bahkan tugasnya kali ini akan terasa begitu sulit, karna ia harus berhadapan dengan seseorang penghancur kota yang jenius.
“Dia memang menarik, tapi akan sangat tidak masuk akal jika dia hanya satu orang.” Ucap William disaat ia selesai berpikir sejenak.
Mendengar hal itu, kakek mengangguk. Ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh William saat memikirkan insiden besar ini. Karna, tidak akan mungkin jika seorang penghancur kota itu menghancurkan segalanya disana seorang diri. Pasti ia memiliki kelompok yang biasa disebut dengan *******.
“Teroris itu menarik, tapi akan sangat merepotkan jika aku harus menghadapi mereka dalam jumlah yang banyak!”
__ADS_1
...--🥀🕊—
...
Evelyne yang sedang duduk di balkon seraya mengerjakan beberapa tugas di laptopnya, seketika terdiam saat melihat sebuah notifikasi yang muncul di layar hpnya. Notifikasi itu, membuat evelyne yang tadinya sedang sibuk dengan pekerjaannya kini ia langsung menghentikannya sejenak untuk melihat dari siapa notifikasi pesan tersebut.
William : Aku akan pulang terlambat malam ini, jadi kau tetaplah berada di kamar sampai aku pulang. Jika butuh sesuatu, maka kau hanya perlu memintanya pada Penjaga yang ada disana. Kau tidak perlu keluar itu melakukannya sendiri!
Evelyne mengerutkan keningnya saat membaca pesan tersebut, ia juga merasa sedikit aneh karna tumben-tumbenan lelaki ini mengechatnya untuk memberikan kabar.
Evelyne : Ya, aku tahu.
William : Aku menyimpan beberapa cemilan di dalam lemari, kau bisa memakannya jika kau menginginkan itu.
Evelyne : Aku tidak suka.
William : jika tidak suka, lalu apa yang kau inginkan?
Evelyne : Aku ingin keluar, disini sangat pengap seperti sedang di penjara rasanya.
William : Kau bersabarlah, aku akan segera pulang malam ini. Jadi tunggu disana, sampai aku pulang untuk mengajakmu jalan.
Evelyne : Pulang lalu pergi, apa kau tidak lelah?
William : Tidak, jadi menurutlah sementara waktu untuk menunggu disana. Oke?
Evelyne : Baiklah, aku akan menunggu.
Setelah selesai, Evelyne pun kembali meletakkan hpnya di atas meja untuk kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi. Ia juga sempat terdiam saat memikirkan pesan yang diberikan oleh William kepadanya. Ia juga berpikir bahwa William seharusnya tidak perlu memberitahu kabarnya disana, karna ia sendiri tidak akan peduli dengan apa yang di lakukan oleh lelaki itu di luar sana.
Menunggu dalam waktu yang lama, Evelyne benar-benar sangat bosan jika hanya berdiam diri di kamar dengan melakukan hal-hal yang membosankan. Jadi, ia berniat untuk keluar agar bisa menggantikan udara pengap ini menjadi udara yang segar saat di malam hari. Tetapi baru saja evelyne hendak meraih gagang pintu tersebut, Seketika pikirannya mengingat dirinya kepada permintaan William sebelumnya.
-Jangan keluar dari kamar sampai aku pukang!-
Ya, memang benar ia tidak boleh melanggarnya. Tapi jika hanya berkeliling di dalam kediaman maka tidak akan menjadi permasalahan kan?
Evelyne mulai berjalan keluar dari kamar untuk melihat setiap ruangan yang ada disana, kecuali ruangan privasi orang, ia tidak berani memasukinya. Evelyne terus berjalan seorang diri saat melewati beberapa ruangan besar milik William. Evelyne juga sedikit terkejut saat menyadari bahwa kediaman ini cukup terlihat begitu besar saat kondisinya tidak begitu banyak orang atau sepi.
Evelyne juga sedikit mengakui William sebagai anak muda yang berhasil dalam usia yang masih begitu muda. Karna kebanyakan orang di umur segitu, pasti akan menghabiskan begitu banyak uang untuk membeli sesuatu yang membuat bisa bersenang-senang. Tapi William? Lelaki itu banyak hanya membeli beberapa puluhan mobil hanya karna sekedar hobi.
Namun ia membelinya dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri, Evelyne tidak pernah melihat lelaki itu meminta sedikitpun uang kepada kakek besar maxime.
Degh!!
Evelyne terpaku di tempat saat ia menyadari bahwa dirinya belum pernah melihat Orang tua satu William datang kesini. Bahkan menjenguk atau menelpon lelaki itu, evelyne merasa bahwa itu tidak pernah. Apa lelaki itu tidak memiliki orang tua? Tetapi kalau tidak punya, lalu hubungannya dengan jessica dan Edgar apa?
__ADS_1
Merasa pusing karna terlalu banyak berpikir, Evelyne pun sampai melupakan batas dimana ia harus berhenti melangkah. Ia tidak sadar jika ia sudah berjalan pergi keluar dari kediaman menuju taman halaman yang letaknya di samping kediaman.
“Yoona? Sedang apa kau disini?” ucap seorang lelaki yang sedang berdiri di hadapan wanita itu.