Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 110 : Dibawa ke gedung tua yang kosong


__ADS_3

“Awalnya gilang hanya menyeret Alexa saja, tapi karna keserakahan yang terdapat di dalam diri gilang membuatnya menyeret putrinya secara perlahan. Dimulai dari kakaknya yang bernama Adriella, lalu ke adiknya Evelyne. Yang menikmati semua itu bukan hanya gilang, melainkan ia menjual orang-orang yang ada disana dengan harga yang cukup mahal kepada orang-orang yang datang dari luar. Semua itu berlangsung selama 5 tahun” ucap lelaki itu dengan menunjukan kelima jarinya pada William.


William terkejut “5 tahun? Itu mustahil!!”


“Saya juga menganggapnya seperti itu, tapi yang dilaporkan oleh orang itu memang apa adanya. Saya tidak berani menyangkalnya.” Ucap lelaki itu dengan menahan penolakkan terhadap william.


William memijatkan keningnya sejenak, lalu ia menghela nafasnya yang berat. “Lalu apa yang membuat orang itu merasa sakit hati, hingga membunuh semua orang yang ada di kota itu?”


“Selama mereka di perlakukan seperti pada Gilang, tidak ada satupun warga yang disana berniat untuk menolong mereka. Mereka hanya menutup telinga serta mata untuk menganggap bahwa semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Hingga dimana ketahanan yang ada di dalam tubuh alexa serta adriella yang semakin menurun karna merekalah yang lebih banyak melayani, namun untuk Evelyne...dia mungkin memiliki ketraumatikkan saat ia dipaksa untuk menyaksikan bagaimana ibu dan saudarinya melayani orang lain.” Lelaki itu mengepalkan tangannya untuk menahan rasa emosi yang ada di dalam hatinya.


William terdiam, hatinya yang begitu keras seperti biasanya kini menjadi rapuh saat mengetahui ada seseorang yang lebih menderita darinya. “lanjutkan!”


“Para pelanggan merasa puas dengan layanan itu, namun semakin berjalannya waktu alexa dan adriella terbunuh saat melakukan **** kekerasan pada Gilang serta pamannya yang dinyatakannya telah mati dalam insiden di markas anggota dunia gelap. hal itu tentu saja membuat kemarahan yang selama ini Evelyne pendam dalam hatinya demi ibu dan saudarinya, mungkin ia sudah tidak bisa menahannya lagi hingga kehilangan kontrol di dalam dirinya. Dia membunuh dan terus membunuh semua orang yang ada di kediaman itu dengan cara yang sadis, setelah selesai Evelyne akan pergi keluar untuk melakukan suatu pembunuhan disana secara terang-terangan. Hingga saat ini, kami tidak berhasil menemukan keberadaan Evelyne. Dan mungkin akan sulit mencarinya karna ia pasti sedang sibuk menjadi gilang yang berhasil melarikan dirinya dari pembunuhan besar-besaran itu.”


William terdiam, ia kembali mengingat dimana insiden Evelyne melakukan pembunuhan di dalam markas salah satu anggota dunia gelap dengan cara yang gila. Tidak ada rasa ketakutan akan hukum yang ia hadapi jika seseorang berhasil melaporkannya saat itu, tapi William juga sempat merasa heran. Kenapa Yoona yang dulu hanya berani menggunakan orang untuk menyakiti seseorang tapi sekarang...dia secara terang-terangan bahwa dialah yang melakukan hal gila seperti ini.


-Yoona...Evelyne...Yoona...Evelyne. Kenapa aku merasa bahwa yang tinggal bersamaku adalah Evelyne, bukan yoona? Tapi bagaimana bisa? Tubuh itu milik Yoona, kenapa sikap dan prilakunya seperti Evelyne?-


Kriingg...


HP William berbunyi hingga menghentikan pembicaraan yang serius ini, dan William juga langsung mengangkatnya saat melihat bahwa Dessy lah yang sedang menghubunginya saat ini. “Hallo, Bi? Ada apa? kenapa menelponku di jam segini, aku sedang sibuk sekarang.” Ucap william saat telpon itu sudah tersambungnya.

__ADS_1


“Lupakan pekerjaanmu! Yoona..cari yoona di kantornya!! Aku baru saja mendapatkan kabar dari bawahan setelah aku pulang dari berbelanja, bahwa Yoona telah pergi ke kantor dalam kondisi tubuh yang buruk.” Dessy mengatakan itu dengan tegas.


William mengerutkan keningnya “Ke kantor saat kondisinya tidak baik? Bukankah semalam dia baik-baik saja saat tidur, bagaimana bisa pagi ini langsung merasa tidak baik?”


“Berhenti menanyakannya!! Sekarang pergi cari Yoona, aku takut terjadi apa-apa dengannya di jalan.” Omel Dessy seperti seorang ibu.


William menghela nafasnya “Huh...bi, dia kan naik mobil. Pasti dia akan baik-baik saja kok di jalan. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya!”


“William, dasar kau anak nakal!! Yoona pergi tanpa mobil dan penjaga sedikitpun bersamanya, jika aku tahu dia bersama penjaga...aku tidak akan mungkin memintamu untuk mencarikannya!!!” bentak Dessy yang hampir naik darah akibat ulah William.


William terkejut setengah mati saat mengetahui Evelyne pergi seorang diri di luar kediaman. “Sialan!! Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?!! Aku akan pergi mencarinya, tolong jangan sembunyikan ini dari kakek tua itu!”


“Baiklah, kau cari dia sampai dapat! Aku akan mengirim beberapa penjaga untuk mencarinya juga” balas Dessy sebelum telpon itu terputus.


William bersama Lelaki tadi dan Nathan pergi ke kantor Evelyne untuk mencarinya, dari kedatangan ke3 orang itu membuat semua pandangan menuju kearah mereka. Nathan pergi menanyakan kehadiran Evelyne, lelaki tadi pergi mencari Evelyne di ruangannya. Sementara William berkeliling sejenak untuk mencari Evelyne.


Namun saat dipertemuan terakhir, tidak ada satupun dari mereka yang mngetahui dimana keberadaan Evelyne dan orang-orang yang ada disana mengatakan bahwa Evelyne belum sampai di kantor sejak tadi pagi. Perasan tidak enak pun muncul di hati William karna ia teringat akan hubungan Evelyne kepada Edgar yang masih belum selesai.


William juga dengan sontak membuka hp nya untuk mendeteksi alat pengintai yang ada di dalam tubuh Evelyne, dan saat itu tersambung. William terkejut setengah mati saat ia melihat kondisi kestabilan yang ada di dalam tubuh Evelyne semakin memburuk. Bahkan lokasi yang kini ditempatkan oleh Evelyne di bangunan tua yang kosong, terletak di pinggir kota.


Jaraknya memang lumayan jauh, namun William bisa mengira bahwa ada seseorang yang membawa Evelyne ke tempat yang jauh. Entah untuk menghindari penjagaan William di kota ini atau memang ia ingin melakukan sesuatu yang buruk kepada Evelyne. “Siapkan mobil!! Aku sudah menemukan dimana dia berada..”

__ADS_1


“Dimana?!!” kedua serentak bertanya.


William menunjukkan layar hp nya kepada Nathan dan lelaki itu, dan mereka pun saling bertukar pandang saat perintah tanpa ucapkan sudah terlintas di pikiran mereka.


...--🥀🕊—...


Di Gedung Tua kosong.


Evelyne yang terbangun dari pingsannya sudah mendapati dirinya yang tengah terikat di tiang dengan tali yang sangat kuat, bahkan Evelyne sendiri tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikitpun untuk mencoba memutuskan tali itu. “Eughh...” rintihnya yang kesakitan.


“Waw...kau sudah bangun, sayang? Sepertinya mimpimu cukup indah ya..” ucap seorang lelaki dengan senyuman menyeringai di wajahnya yang gelap.


Evelyne menyipitkan matanya saat melihat lelaki yang tampak ia tidak kenali, tengah berdiri di hadapannya dengan jaraknya yang lumayan jauh. “S-siapa kau?! A-apa..yang kau lakukan padaku?” tanya Evelyne dengan suara yang keras namun tenaganya tidak bisa membuat ia terlihat lebih kuat.


“Hahahaha...Yoona, kau benar-benar wanita yang paling menyedihkan ya..” ucap lelaki itu dengan menodongkan sebuah pisau ke leher Evelyne “Kau sudah seperti ini saja, masih berani meneriakiku seperti itu. Apa kau tidak takut, aku membuatmu jauh lebih menderita daripada ini?!!”


Evelyne menghentakkan kepalanya pada pisau yang di gunakan oleh lelaki itu kepadanya hingga membuat leher Evelyne mengeluarkan darah akibat terkena pisau itu dengan cukup kuat. “Kau pikir, dengan mengancam ku seperti itu akan membuatku bisa tunduk pada orang yang pengecut sepertimu?!”


“Hahaha...Yoona, kau wanita yang tidak sayang akan nyawamu sendiri ya. Padahal aku hanya menggunakan pisau ini untuk mengancam mu, tapi kenapa kau terlihat seperti tidak takut mati?” tanya lelaki itu di dekat telinga Evelyne.


Evelyne tidak bisa melihat wajah lelaki itu, karna gedung yang kini menutupi mereka adalah gedung yang seperti penjara bawah tanah yang tidak memiliki celah sedikitpun terkecuali pintu yang terbuat dari besi yang sudah berkarat.

__ADS_1


“L-lepaskan a-aku, b-bajingan...” ucap Evelyne dengan tubuh yang gemetar.


__ADS_2