Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 50 : Sikap aneh William


__ADS_3

Evelyne yang sedang mengerjakan pekerjaannya di tempat duduknya, tiba-tiba ada seorang Wanita datang menghampirinya dengan membawa satu bingkisan di salah satu tangan-Nya. Semua teman-teman Evelyne yang berada di ruang yang sama seketika menolehkan pandangan mereka kearah wanita itu.


Entah karna apa, tetapi itu sangat membuat Evelyne merasa aneh. “Hai! Masih sibuk ya?” kata wanita itu seraya menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja milik Evelyne.


“Eum...Kenapa? Tumben kesini?” tanya Evelyne seraya mengangkat kepalanya saat berbicara dengan wanita itu.


Wanita itu adalah Jane, seorang senior yang terkenal di perusahaan itu sebagai wanita yang rajin dan pekerja cepat. Jadi tidak akan heran jika wanita itu akan keluar dari ruangannya sebelum jam istirahat. “Nih makanan buat kamu!” kata wanita itu seraya meletakkan bingkisan besar di atas meja Evelyne.


“Apa ini? Aku kan gak pesen makanan apa-apa sama kamu” Evelyne terheran.


Jane menggelengkan kepalanya “Ini bukan dariku! Tapi dari pak security yang dapat dari seseorang yang menitipkannya untukmu”


“Untukku? Dari siapa?” tanya Evelyne seraya membuka bingkisan tersebut.


Benar saja! Saat Evelyne membuka bingkisan itu, ia dapat melihat selembar surat yang terdapat di atas beberapa makanan itu. Tanpa berpikir panjang, Evelyne pun langsung mengambilnya dan bahkan membacanya.


Note : Aku tahu kau sibuk beberapa hari ini, tapi jangan lupakan makan untuk kesehatanmu sendiri. Aku sudah membelikan beberapa makanan kesukaanmu, disana juga ada sedikit cemilan untukmu nanti. Jadi, jangan lupa untuk memakannya walau kau tidak suka jika aku yang memberikan makanan ini. ( Tn. William Maxime )


Evelyne mengerutkan keningnya saat selesai membaca surat itu, Jane yang masih berdiri di depan evelyne pun ikut merasa kebingungan saat mendapati ekspresi Evelyne yang seperti itu. “Yoona, ada apa? Apa makanan ini bukan dari orang yang kau kenal?”


Evelyne menggeleng “Tidak, ini makanan dari temanku. Makanannya cukup banyak, aku rasa aku tidak akan kuat untuk memakan semua ini”


“Lalu bagaimana? Apa kau akan membuang sisanya?” tanya Jane


Evelyne terdiam sejenak, lalu dengan sigap ia mulai merapihkan semua barang-barangnya di atas meja. Kemudian beranjak dari duduknya untuk mengajak Jane ke sesuatu tempat. Jane yang ditarik tangannya oleh Evelyne pun terkejut, karna ia juga menyadari bahwa semua mata teman-teman Evelyne kini sedang tertuju ke arah mereka berdua.


“Yoona, kau ingin kemana?” tanya Jane dengan kebingungan “Ini belum jamnya istirahat, apa kah yakin akan keluar dari ruangan mu seperti ini?”


Evelyne mengangguk “Ya, aku yakin. Lagipula semua tugasku sudah selesai. Jadi tinggal mengerjakan proposal yang kemarin saja. Itu juga sudah 50% pengerjaannya”


“50% ?!!” Jane terkejut “Apa kau yakin? Aku lihat, proposal itu tidak mudah. Bagaimana mau mengerjakannya?”


Evelyne tersenyum sekilas “Memahami terlebih dulu, baru mengerjakannya. Sama seperti kau berpikir sebelum bertindak”


“Pintar juga kamu, padahal baru masuk kesini untuk beberapa hari.” Puji Jane yang terabaikan saat keduanya mendengar bunyi dari HP seseorang. Merasa bahwa hpnya lah yang berdering, Evelyne pun langsung mengambilnya dari saku dalam jas hitamnya. Melihat ke layar siapa yang tengah menghubunginya di waktu yang seperti ini.


Evelyne terdiam saat menatap layar hpnya, dan dengan malas ia mengangkatnya serta menempelkan HP tersebut di dekat telinganya. “Ada apa?!” ucap Evelyne dengan ketus saat telpon itu tersambung.


“Gakpapa, hanya ingin menelponmu saja. Oh ya! Apa kau sudah memakan makanan yang aku berikan padamu?”


“Sudah! Ini kau yang memberikannya?”


“Eum...Aku baru sadar kalau kau tidak sarapan saat pagi, jadi membawamu beberapa makanan untuk di makan”


Evelyne menghela nafasnya “Lain kali tidak perlu melakukan itu! Aku bisa membeli makananku sendiri, jadi tidak perlu mengeluarkan uangmu dengan cuma-Cuma hanya karna masalah kecil”


“Masalah kecil?” Gumam suara itu


“Aku masih sibuk, tidak bisa bicara lebih lama lagi. Jadi aku tutup duluan!” kata Evelyne dengan suara dinginnya ia mematikan telponnya itu. Menyimpannya kembali hpnya di dalam saku jas sebelum Jane membuka suaranya untuk bertanya “Apa itu pacarmu?”


Evelyne menggeleng “Bukan, ini hanya teman!”


...--🥀🕊—

__ADS_1


...


Disisi yang berbeda, terlihat william sedang duduk kursi kerjanya dengan raut wajar yang kusut. Nathan melihat itu, namun tidak berani untuk bertanya hingga itu membuat william beberapa kali menghela nafasnya serta mengusap wajahnya dengan kasar.


“Nathan, pergi ambilkan minumku dibawah!” ucap William.


Nathan terdiam sejenak “Tuan, lalu bagaimana dengan Nona clara? Dia sudah menunggumu di ruang khusus tamu cukup lama”


Mendengar Nathan dengan berani mengucap nama wanita itu di depannya pun membuat William melirik kan matanya yang tajam kearah tempat berdirinya Nathan. Lelaki yang di tatap oleh William juga seketika melambaikan tangannya dengan cepat sebelum nasibnya di ubah menjadi buruk. “T-tidak jadi tuan. Maaf saya salah bicara”


William terdiam saat Nathan sedang berbalik badan untuk pergj dari ruangannya. Namun saat sesampainya di pintu, Nathan di kagetkan oleh seorang wanita yang tengah berdiri di depannya dengan raut wajah yang kesal. William dapat menebak siapa wanita itu, jadi ia mengisyaratkan Nathan untuk pergi, sementara wanita itu diizinkan untuk masuk.


Setelah kepergian dari Nathan, Wanita itu pun langsung membuka suaranya dengan raut wajah yang kesal. Sementara William hanya terdiam saat melihat wanita itu. “Kakak tertua, ternyata selama ini kau ada di kantor ya!!”


William mengangguk “Eum...ada apa?”


“Aku dengar dari kak Clara, kalau dia sedang mencarimu di kantor. Tapi para penjaga serta asistenmu bilang, kalau kau belum sampai di kantor dan menyuruhnya untuk menunggu di ruang khusus tamu. Sudah 1 jam ia menunggu disana, sekarang ia sudah pulang karna mengira kau akan datang ke kantor sedikit lebih lambat.” Jessica berkata dengan panjang lebar.


William menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Menatap wanita itu dengan tatapan dinginnya. “Oh ya kah? Aku tidak mengetahuinya. Para penjahat dan Nathan juga tidak memberitahuku saat aku datang”


“Kakak tertua, kau jangan bohong!” ucap jessica seraya menghentakkan kakinya ke lantai “Aku kesini untuk mendapatkan penjelasan darimu! Aku merasa kasihan dengan kak Clara yang sudah menunggumu di waktu yang cukup lama”


William tertawa di dalam batinnya ‘Baru 1 jam lho! Dia saja sudah menungguku selama 2 tahun dan itu tidak pernah mengeluh'


“Baiklah, sekarang kau pulanglah lebih dulu. Aku akan menghubunginya nanti” kata William seraya menatap layar hpnya kini menunjukkan pukul 17.30


Jessica terdiam, awalnya ia ragu untuk pulang. Tetapi karna hari sudah mulai gelap, jadi wanita itu tidak memiliki pilihan lain selain kembali. Melihat wanita itu berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangannya, William langsung beranjak dari tempat duduknya. Dengan cepat. Ia ikut berjalan keluar dari ruangan, namun saat di depan pintu William sempat bertemu dengan Nathan yang sedang membawakan secangkir kopi di tangannya.


William menepuk 3× salah satu bahu Nathan, lalu mendekatkan mulutnya di samping telinganya. Namun tidak begitu dekat! “Aku akan keluar sekarang! Kau amankan yang lain dan jangan lupakan apa yang seharusnya kau lakukan!”


Nathan mengangguk “Baik tuan, hal itu kau bisa serahkan padaku!”


...--🥀🕊—


...


“Bagaimana? Apa kau sudah menyelesaikan proposal itu?” tanya Jane seraya duduk di samping Evelyne.


Evelyne menggeleng “Aku belum selesai. Masih bingung di tengah-tengah pembahasan ini. Jadi...akan menyelesaikannya nanti”


“Nanti? Bukankah deadlinenya besok malam?” Jane mengerutkan keningnya saat melihat tidak ada rasa kepanikan di wajah Evelyne, hanya ekspresi datar yang tidak bisa ia simpulkan.


Kringg!!


Telpon Evelyne berbunyi, membuat wanita itu langsung mengangkat karna takut Jane melihat kontak siapa yang sedang menghubunginya. “Ada apa?” tanya Evelyne saat telpon itu sudah tersambung.


“Dimana? Sudah selesai?”


Evelyne melirik kan matanya kearah jam di dinding “Seharusnya sudah, tapi aku rasa...aku akan pulang terlambat. Jadi tidak perlu menjemputku”


“Perlu atau tidak, cepat turun! Aku sudah ada dibawah!”


Setelah mendengar perkataan itu, telpon pun terputus. Membuat Evelyne merasa kesal dengan seseorang yang baru saja menelponnya. Ingin membiarkan dia menunggu di bawah lebih lama, tapi takut ia berbuat nekad untuk masuk kedalam kantor.

__ADS_1


Kenapa takut? Dulu...William pernah berkata padanya bahwa hubungan mereka tidak akan pernah ada yang tahu, jadi disaat mereka berada di luar. Mereka akan seperti orang asing yang sedang berjalan bersama. Tidak akan heran jika hubungannya tidak lebih diketahui oleh public dibandingkan dengan hubungan William dan clara. Entah alasannya seperti apa, Evelyne sekarang mengerti itu.


Setiap keluar ataupun kemana ia pergi, ia akan terlihat seperti wanita single. Karna tubuh Evelyne yang cukup ideal, serta penampilan yang membuat dirinya tampak lebih muda.


“Kak Jane, sepertinya aku tidak lebih lama di kantor, harus kembali karna temanku sudah menungguku dibawah. Maaf tidak bisa menemanimu malam ini” ucap Evelyne seraya membereskan beberapa barangnya.


Jane tersenyum “Ya...tidak apa-apa kok. Lagipula malam ini juga aku hangat sebentar.”


“Baik kalau begitu, sampai ketemu besok!” jawab Evelyne seraya bangun dari duduknya lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan.


Wanita itu berjalan menuju lift untuk menuruni beberapa lantai, dan sampai tibanya di lantai dasar. Evelyne keluar dari perusahaan dengan ekspresi wajah yang datar, melihat sebuah mobil sport hitam tengah terparkir di pinggir jalan.


Karna jendela dari mobil itu terbuka, Evelyne dapat melihat seorang lelaki tengah duduk di kursi penumpang seraya menghirup sebatang rokok di tangannya. Saat Evelyne sudah hampir mendekati mobil itu, Manik mata dari lelaki itu seketika melirik dengan tajam. Rokok yang tadinya ia sedang hisap, kini sudah di matikan serta membuangnya ke tempat sampah.


Evelyne yang melihat itu tidak akan heran lagi jika seorang lelaki sedang merokok saat memiliki waktu yang senggang. “Lambat sekali! Kau ini manusia atau siput?” tanya lelaki itu dengan nada kesalnya.


“Aku sudah cepat! Kamu nya saja yang tidak memiliki kesabaran!” sahut Evelyne yang ikut terbawa emosi saat mendengar hinaan itu.


William menolehkan kepalanya, menatap Evelyne yang sedang berdiri di luar mobil dengan ekspresi datarnya. “Aku sudah menunggumu 15 menit yang lalu, apa kau masih mau bilang kalau aku tidak memiliki kesabaran?!”


“Huh...liam! Aku berada di lantai 13, menggunakan lift juga butuh beberapa menit untuk sampai dibawah. Kenapa kau begitu memperhitungkan waktumu menunggu?!” Evelyne berkata dengan nada kesal namun dengan wajah berekspresi datar.


William yang tidak ingin berkelahi pun langsung memalingkan wajahnya kearah lain, sementara Evelyne masuk kedalam mobil dan duduk di kursi penumpang belakang. Hal itu tentu saja membuat William kembali membuka suaranya “Ngapain kau duduk disana? Apa kau tidak ingin duduk di sebelahku?”


“Tidak, aku hanya ingin duduk disini” jawab Evelyne seraya mengambil hpnya di dalam tas kerjanya.


William terdiam setelah itu, tidak ada sedikitpun pergerakan darinya untuk menyalakan mesin mobilnya. Evelyne yang merasa bahwa lelaki ini sedang bermasalah pun, membuatnya meletakan HP di sampingnya dengan kasar. “Kenapa? Apa lagi yang kau tunggu?”


“....” William menghiraukan


“Liam, kenapa kau tidak menyalakan mobilnya? Kau menunggu apa lagi?” tanya Evelyne sekali lagi.


“....” William masih terdiam.


Evelyne yang sudah tidak tahan pun langsung mengeraskan sedikit suaranya saat melihat William terdiam tak menjawab setiap pertanyaannya tadi. “Astaga Liam! Apa yang kau tunggu?! Kenapa tidak menjalankan mobilnya?”


“Pindah!” pinta William dengan suara yang pelan.


Karna suara itu terlalu pelan, Evelyne pun sampai memiringkan tubuhnya untuk melihat William sedang memandang lurus kearah depan. “Apa yang kau katakan?”


“Pindah kedepan jika kau ingin cepat pulang!” tekan William sembari menolehkan kepalanya kebelakang.


Evelyne tertegun saat mendengar perkataan lelaki itu. Bukannya mengapa, tapi merasa aneh saja. Seorang lelaki berdarah dingin seperti William yang dulunya tidak pernah memandangnya sedikitpun, sekarang lelaki itu malah mempeributkan permasalahan dimana ia duduk. “Pindah? Untuk apa? Aku ingin disini!” tolak Evelyne.


“Oh yaudah kalau gak mau pindah, aku juga tidak akan menjalankan mobilnya sampai kau pindah” balas William sembari meluruskan kembali pandangannya.


Evelyne mengerutkan keningnya, merasa bahwa William terasa sangat aneh beberapa hari ini. “Liam!! Bisakah kau berhenti melakukan itu? Aku harus cepat kembali untuk mengerjakan beberapa proposal hari ini”


“Yasudah kalau mau cepat kembali, pindah ke depan! Apa sudahnya sih untuk pindah saja?!” kata William.


Evelyne menghela nafasnya “Kau sendiri, apa susahnya menjalankan mobil tanpa mempeributkan tempat dudukku?!”


Mendengar penolakan terus menerus, William pun langsung menjalankan mobilnya. Sementara Evelyne hanya terdiam saat melihat sikap dan postur tubuh lelaki itu dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2