Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 7 : Dressnya terlalu pendek


__ADS_3

“Aku tidak ada kabar, karna sibuk jadi tidak perlu repot-repot datang kesini untuk melihatku.” William melepaskan tangan Jessica dari lengan panjangnya, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka keluar dari kediaman tua itu. “Kakak!!! Kakak mau kemana?!!” Teriak Jessica saat melihat William berjalan dengan tegak kearah pintu.


Lelaki itu terdiam dan tidak merespon sedikitpun perkataan atau teriakkan dari Jessica, ia hanya berjalan terus hingga keberadaannya menghilang. Jessica yang dihiraukan oleh William pun berdecak kesal sambil menghentakkan kakinya kelantai. “Ihh...kak William kenapa pergi sih? Kitakan baru saja sampai, kenapa udah ditinggal aja.”


Azka yang melihat sikap dingin William pun hanya terdiam sembari menatap arah pintu itu dengan tajam. “Anu...maaf nona Jessica, tuan muda Azka. Seperti mood tuan sedang tidak baik, jadi sikapnya seperti itu” Dessy berkata dengan hati-hati karena ia juga tidak kenapa William selalu menghindar atau seperti menghiraukan kedatangan mereka.


“Masa iya? Apakah pekerjaan dikantornya begitu banyak hingga membuat kakak tertuaku seperti itu?” gumam Jessica dengan ekspresi wajah yang cemas. “Sudah, tidak perlu dipikirkan lagi! Sekarang kita pulang, nanti ayah dan ibu akan mencari kita” ajak Azka sambil menggandeng tangan Jessica dan berjalan pergi.


Dessy yang melihat semua orang sudah pergi pun langsung berjalan kearah dapur, melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda. Sementara dilantai atas Evelyne tengah bersiap-siap dengan menggunakan dress berwarna hitam, dress itu memang terlihat sangat namun Evelyne mengakalinya dengan memakai celana pendek agar bagian paha atasnya tidak terlalu terlihat.


Setelah dirasa sudah selesai, Evelyne membuka pintu kamar tetapi karna ia tidak memperhatikan jalan didepannya membuat ia menabrak sesuatu yang berada didepannya. “Aduuhh!” Evelyne mengelus jidatnya yang terpantuk benda yang keras. “Apa kau buta? Tidak melihatkah aku ada disini?” suara serak dan dingin membuat Evelyne yang tadinya tengah mengelus keningnya, dengan sontak mengangkat kepalanya.


Melihat lelaki yang jauh lebih tinggi darinya tengah berdiri tepat didepannya. Evelyne yang merasa canggung pun langsung memundurkan langkahnya kebelakang. “T-tuan? Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu” Evelyne menundukkan kepalanya sembari bergeser kepinggir untuk memberikan jalan pada William.

__ADS_1


William yang tidak mempedulikan permintaan maaf dari Evelyne pun seketika matanya langsung tertuju pada dress yang dikenakan oleh Evelyne. Evelyne yang menyadari itu tentu saja langsung sedikit menarik dressnya kebawah, agar lelaki ini tidak dapat sesuatu yang tidak ia sukai. “Ada apa? Tidak nyaman dengan bajunya?”


Evelyne menganggukkan kepalanya dengan pelan, ia sangat malu jika lelaki ini terus menatap dress yang ia kenakan. “Kenapa tidak ganti saja dengan lain? Kenapa masih memaksakan diri untuk memakai yang ini?” tanya William yang merasa bahwa Evelyne cukup malu jika ia bertanya seperti itu. Tapi bukankah wajar seorang suami bertanya seperti itu?


“Di lemari hanya baju ini saja yang lumayan panjang, jadi aku memakainya. Tapi tidak kusangka akan sependek ini jika aku yang pakai” kata Evelyne yang masih menarik bagian bawah dress untuk menutupi pahanya. William yang mendengar hal itu langsung mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Evelyne.


Tetapi untuk saat ini William hanya terdiam sembari memasukkan tangannya dalam saku jasnya. “Nih pakai kartu ini untuk membeli beberapa baju yang kau suka” William mengeluarkan black card-nya dari saku jasnya. Membuat Evelyne tidak bisa tidak terkejut dengan apa yang ia lihat. “T-tapi kan tuan...” Evelyne yang ingin menolak pun terhenti saat manik mata tajam William terus memaku pada dirinya.


“Eum...T-terimakasih tuan” Evelyne mengambil black card tersebut dengan ragu, sementara William kembali memasukkan tangannya kedalam saku celananya. “hn..” William yang sudah tidak memiliki urusan lagi dengan Evelyne pun melangkahkan kakinya untuk melewati Evelyne. Sementara Evelyne hanya terdiam sembari berjalan keluar dari kamar dengan membawa black card tersebut.


William yang melihat raut wajah Evelyne yang kusut pun mengerutkan kening, “Ada apa lagi? Bukankah aku menyuruhmu untuk pergi membeli baju?” Evelyne mengangkat kepalanya dengan perlahan, lalu wanita itu menyerahkan kembali black card milik William. “Kartunya aku kembalikan padamu” Melihat Evelyne mengembalikan kartunya pun membuat William semakin terheran. “Ada apa? Apakah itu tidak cukup?” tanya William dengan nada dinginnya.


Namun Evelyne hanya menggeleng, “Tidak, ini menurutku sudah lebih dari cukup. Tapi sepertinya aku tidak bisa membelinya sekarang, jadi aku kembalikan saja padamu.”

__ADS_1


William yang mendengar hal itu pun langsung mengambil kartunya dari tangan Evelyne, lalu berjalan beberapa langkah untuk melewati wanita itu. “Apa yang tidak kau sukai dari dress itu? Bukankah dulu kau sangat menyukainya?” tanya William saat berhenti tepat di belakang Evelyne. “Hn...aku rasa tubuhku sudah bertambah tinggi, dan semua dress yang ada dilemari juga sudah terlalu sempit denganku. Aku lebih suka dengan pakaian yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, karna itu sangat memancing orang lain berbuat jahat” Evelyne menjawab pertanyaan William tanpa membalikkan tubuhnya.


William yang mendengar itu langsung berjalan menuruni tangga, tidak menjawab apapun dari perkataan Evelyne tadi. Sementara Evelyne hanya bisa berjalan masuk kedalam kamar lalu berganti dress menjadi pakaian tidur ( piyama ).


Ditempat lain, terlihat William tengah berbincang dengan seseorang lelaki berbaju hitam serta memakai jaket dengan Hoodie yang dijadikan sebagai penutup kepala. “Tuan, semua perintah anda sudah dilakukan. Bukti dan saksi sudah dilenyapkan satu-satunya, apakah tuan masih memiliki perintah sebelum saya kembali ketempat?”


William menggeleng, “Tidak perlu, tugasmu hari ini sudah cukup bagus. Jadi kembalilah lebih awal, karna esok pagi aku akan perintahkan kamu sesuatu”


“Siap!!”


Lelaki itu pamit, lalu pergi meninggalkan William yang masih terdiam ditempat dengan raut wajah yang dingin. Tak lama terdiam ditempat, William langsung mengangkat salah satu tangannya. Melihat jam yang melingkar ditangan kirinya telah menunjukkan pukul 21.00


William mengeluarkan hpnya Dari dalam saku celana lalu menekan beberapa nomer dilayar hpnya dan menempelkannya pada telinganya. Menunggu beberapa saat sampai telpon itu tersambung. “Hallo tuan besar, ada apa?”

__ADS_1


“Jemput saya disini!”


__ADS_2