Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 45 : Kekecewaan yang membuat dirinya ingin menyerah


__ADS_3

"Aku menolaknya!" Kata William dengan nada dinginnya.


Evelyne mengerutkan keningnya, ia merasa bahwa William adalah lelaki yang cukup egois. ia tidak mencintainya, tapi kenapa saat diajak bercerai, ia malah menolaknya. "Kenapa? bukankah ini yang kau mau?"


William terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan evelyne yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang terheran. "Liam, jawab aku!! kenapa kau tidak bisa?! kau tidak pernah menginginkan pernikahan ini, jadi kenapa tidak kita akhiri saja?!" kata evelyne yang terus meminta jawaban dari lelaki yang ada di depannya ini.


"Aku tidak bisa, itu karna kakek!" jawab William dengan nada pelannya.


Mendengar hal itu, Evelyne menggelengkan kepalanya. merasa bahwa perkataan dari William bukan alasan yang masuk akal untuk menolak perceraian ini. "Kenapa? jika kau tidak bisa, maka aku yang akan bicara pada kakek tentang ini" ancam Evelyne seraya berbalik badan untuk keluar dari kamar.


Namun saat itu juga, William dengan cepat menarik tangan evelyne hingga membuat langkahnya terhenti. "Tidak perlu! kau hanya akan membunuhnya saja."


Evelyne mengerutkan keningnya "Apa maksudmu?"


"Kakek memiliki penyakit jantung, beberapa hari ini memang kondisinya terlihat baik-baik saja. Jika kau datang dan menanyakan sebuah perceraian itu, maka akan sama saja seperti kau membunuh kakek secara tidak langsung" jelas William


Evelyne terkekeh "Omong kosong apa yang kau bicarakan? kau pikir aku akan peduli dengan hal itu?"


"Ya, kau memang tidak akan peduli. karna kau hanya memikirkan kesenanganmu saja!" balas William dengan menatap evelyne dengan tatapan tajamnya.


Srek!


Evelyne menarik kerah kemeja milik William untuk kedua kalinya. Sungguh rasanya seperti ingin memukul wajah tampan lelaki ini. Sementara William yang kerah nya ditarik kasar oleh evelyne membuat dirinya menatap wanita itu dengan tatapan dinginnya.


"Kau pikir, kau sendiri tidak?! Jangan menilai orang seperti itu, jika kau sendiri melakukannya!" kata evelyne dengan tegas.


William yang tidak suka diperlakukan seperti itu pun langsung melepaskan cengkraman tangan evelyne pada kearah bajunya, sementara evelyne hanya terdiam saat William tengah meluruskan tubuhnya hingga membuat suatu perbedaan tinggi mereka terlihat.


"Jika kau memang benar-benar ingin kita bercerai, maka ikuti saja kesepakatan antara aku dan kakek" kata William seraya duduk di tepi ranjang.


Evelyne mengerutkan keningnya "Apa maksudmu? kesepakatan apa?"


"Kesepakatan yang kakek buat sebelum kita menikah, apa kau melupakannya?" Tanya William yang merasa sedikit aneh jika evelyne sampai melupakan hal itu.


Evelyne menggeleng "Kita menikah sudah lama, bagaimana mungkin aku bisa mengingatnya. Apa kau sulit untuk menjelaskannya ulang padaku?!"


"Huh...Kesepakatan dimana jika tidak ada perasaan muncul di pernikahan ini, maka di tahun depan kita boleh bercerai." jelas William dengan singkat.


Evelyne tertegun, ia tidak mempercayai bahwa sebelum mereka menikah sudah menjalankan kesepakatan itu. "Apa harus tahun depan? kenapa tidak sekarang saja?"


"Kakek yang menyuruh, aku tidak bisa menolaknya. jadi tunggu sampai tahun berikutnya datang" jawab William seraya menatap evelyne yang sedang berjalan menghampirinya.


"Tahun depan itu masih lama, ada beberapa bulan lagi yang harus kita lewati." kata evelyne seraya duduk di sebelah William. "Kalau begitu, mari kita buat satu kesepakatan lagi!"


Mendengar hal itu, William mengerutkan keningnya. "Tidak! satu kesepakatan saja, aku tidak ingin menambah lagi!"


"Yasudah kalau tidak mau, aku bisa bicara dengan kakek untuk mempercepat perceraian ini!!" Sahut evelyne yang tidak mau kalah.


William menghela nafasnya "Baiklah! apa yang kau inginkan?!"


"Tidak jadi, aku sudah lupa karna kau!!" jawab evelyne seraya memutarkan bola matanya dengan malas.


William terkekeh kecil "Kau yang pelupa, kenapa menyalahkan ku?"


Mendengar hal itu, Evelyne pun hanya terdiam seraya mendorong tubuh William agar bergeser kesamping. sementara dirinya menidurkan tubuhnya yang lelah diatas kasur. "Pergilah mandi sebelum kau tidur! Tubuhmu begitu bau karna keringat!!"


"Baik, baik! Aku akan mandi" Angguk William seraya beranjak bangun dari duduknya.


Melihat kepergian William menuju kamar mandi, Evelyne pun dengan cepat mengambil satu butir obat dari dalam laci lalu dengan sekilas ia menelannya tanpa air. Setelah itu, evelyne mulai memejamkan matanya sebelum obat itu bereaksi pada tubuhnya.


-Eline... Jangan senang dulu! penderitaanmu belum selesai!!-

__ADS_1


......--🥀🕊--......


Keesokan harinya, Evelyne bangun lebih pagi dari William. ia bangun dari tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah sudah, evelyne beralih memakai pakaian yang simple karna hari ini ia tidak berencana keluar. Jadi hanya memakai Rok pendek serta kemeja putih berlengan panjang.


Setelah selesai, Evelyne pun langsung berjalan keluar dari kamar untuk membantu Dessy seperti biasanya. "Bibi! aku ingin bantu" kata evelyne dengan teriakan girang yang membuat Dessy terkejut.


"Astaga nyonya, kenapa kau berteriak-teriak di pagi hari?" keluh Dessy seraya menatap evelyne yang sedang berdiri sok manis di depannya.


Evelyne mengulurkan kedua tangannya "Bibi, aku mau bantu"


"Tidak perlu nyonya, terimakasih. ini tugas saya sebagai pelayan. Nyonya lebih baik anda pergi sarapan di dapur saja" tolak Dessy dengan halus.


Evelyne menggeleng, lalu dengan tersenyum ia mengambil sapu itu dari tangan Dessy. "Kau sudah bekerja keras sejak tadi, jadi sekarang biarkan aku membantumu walaupun sedikit"


Melihat Evelyne mulai menggerakkan tangannya seperti orang yang menyapu, Dessy pun tersenyum lembut. Memang ia merasa agak aneh dengan perubahan itu, tapi jika perubahan ini membawa kebaikan dan kebahagiaan, maka biarkan saja untuk tetap terus seperti ini.


Prok...prok...prok...


Suara tepukan tangan seseorang yang terdengar di telinga Dessy dan evelyne pun membuat mereka dengan sontak menolehkan kepalanya kearah pintu, melihat seorang wanita dengan pakaiannya yang mewah serta seorang lelaki yang berjalan di belakang wanita itu tengah memasuki aula utama dengan sikapnya yang arogan.


Dessy yang melihat wanita dan lelaki itu tengah berjalan menghampiri mereka, membuatnya dengan cepat menarik tangan evelyne untuk menyembunyikannya dibelakang tubuhnya yang lemah.


"Bibi, ambilkan aku minum belakang!" kata jessica dengan kasar.


"Baik nona" Angguk Dessy seraya menolehkan kepalanya kearah evelyne. "Nyonya, apa anda ingin ikut saya kebelakang?"


"Tidak!! biarkan dia disini! aku ingin bicara dengannya" jawab jessica yang memotong pembicaraan evelyne dengan Dessy. "Pergilah, cepat! aku haus nih!!"


Mendengar hal itu, Dessy pun mengangguk lalu berjalan melewati Evelyne dengan membuat suatu sentuhan pada pergelangan Evelyne. Hal itu tentu saja langsung di angguk oleh evelyne serta ia merubah raut wajah cerahnya menjadi gelap.


"Jadi...apa yang ingin kau bicarakan?" tanya evelyne yang menatap jessica dengan tatapan arogan nya. "Apa kau ingin membuat perhitungan denganku setelah kejadian kemarin?"


Jessica tertawa "Tentu saja tidak, lagipula untuk apa aku harus memperhitungkan hal itu?"


Jessica tersenyum seraya berjalan mendekati evelyne lalu berbisik di telinganya. "Ya, karna tanpa aku memperhitungkan itu semua. kakak tertua pasti yang akan membuat semua perhitungan itu"


"Oh ya kah? Apakah itu benar?" Cibir evelyne dengan smrik nya "Baiklah kalau begitu, aku ingin lihat bagaimana dia memperhitungkan semuanya"


Jessica tertawa, ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana hidup evelyne jika William sudah memperhitungkan semua yang dilakukan oleh dirinya. "Kau ini sebenarnya tidak pantas disini...mau aku ajak kau ke tempat sesuatu yang lebih baik daripada ini?"


"...." Evelyne terdiam.


-Tutup telingamu, Eline!- Perintah keras


"Menurutku, kau itu lebih pantas tinggal di Rumah bordir yang terkenal di pinggir kota. Aku lihat-lihat disana begitu ramai akan pengunjung. hitung-hitung bisa membayar semua hutangmu dengan kakak tertua." Jelas jessica dengan senyuman jahat di wajahnya.


Mendengar kata-kata itu, darah di dalam tubuh evelyne seketika bergejolak. Membuat suatu hasrat yang tinggi muncul secara drastis, dan hal itu tentu saja membuat suatu pergerakan tangan evelyne untuk mencari benda tajam.


'Eve, tenangkanlah dirimu! kau tidak perlu seperti ini!'


-Tenang? kau menyuruhku tenang disaat wanita itu menyebutmu seperti apa?!!-


Evelyne tahu bagaimana kemarahan itu memuncak, tetapi evelyne sendiri tidak bisa melakukan banyak hal di kediaman jika kakek masih berada di atap yang sama dengannya. karna hal sebelumnya pasti akan terjadi lagi untuk ke2 kalinya.


"Jika aku pantasnya disitu, lalu tempat buruk apalagi yang pantas untuk wanita kesayangan keluarga Maxime ini?" Tanya evelyne dengan senyuman miring nya.


Jessica mengerutkan keningnya, ia terdiam karna tidak mengerti apa yang di maksud oleh Evelyne.


"Aku saja tidak pernah mencari tahu tentang hal yang seperti itu, tapi kenapa kau yang memiliki kehormatan tinggi, kau malah mencari dan bahkan tahu dimana letak tempat itu....Apa kau pernah memasuki tempat itu?" Ata evelyne dengan memiringkan kepalanya seraya mengangkat salah satu alisnya.


Mendengar suatu ejekan tersebut, Jessica pun melangkah maju mendekati Evelyne yang masih berdiri dengan santai seraya tersenyum miring saat melihatnya. Bahkan sampai jessica berhenti tepat di depannya, wanita itu hanya terdiam seraya mengangkat dagunya sedikit lebih keatas.

__ADS_1


Jessica yang melihat sikap arogan Evelyne pun membuat ia tidak tahan untuk melihatnya, jadi dengan cepat jessica mengangkat salah satu tangannya untuk bersiap menampar wajah sombong milik evelyne.


"Jessica...hentikan!!!" Teriak Edgar dari belakang.


Sementara jessica hanya menghiraukan perkataan Edgar, ia sangat membenci evelyne. bahkan ia sudah berkali-kali ingin membunuhnya, tapi selalu gagal karna Edgar selalu menghalanginya.


"Wah...ternyata makhluk kecil sepertimu, punya nyali juga untuk mendekatiku" cibir evelyne yang menghentikan pergerakan tangan jessica.


"Jangan berpikir kau bisa bersikap sombong di depanku, ******!!"


Baru saja ingin melanjutkan tindakannya, jessica seketika terkejut saat melihat satu jari milik evelyne yang memiliki kuku yang tajam tengah singgah di depan lehernya. Bahkan evelyne tersenyum saat melihat ekspresi terkejut dari jessica.


"Kenapa? kok berhenti?" tanya evelyne yang benar-benar kini sedang memancing suasana "Apa kau takut, kuku tajam ku ini akan menusuk leher indah mu?"


Jessica yang di ladeni oleh evelyne dengan cara seperti itu pun membuat ia merasa kesal, karna sudah beberapa hari ini evelyne sering melawannya.


"Kau!!" geram jessica seraya menunjuk kearah evelyne dengan memundurkan langkahnya kebelakang.


Sementara Evelyne yang melihat itu hanya terdiam, dan menyadari bahwa William tengah menuruni beberapa anak tangga.


"Kakak tertua...lihatlah wanita itu! dia menghinaku, bahkan menganggap bahwa aku adalah wanita yang menjijikan." Kata jessica dengan suara manjanya, ia berlari menghampiri William yang telah selesai menuruni anak tangga.


Mendengar keluhan itu, manik mata William yang tajam seketika beralih menatap evelyne yang sedang berdiri tak jauh darinya. Edgar yang melihat pun langsung berkata bahwa Evelyne tidaklah berkata seperti itu.


Tapi bukannya meredakan suasana, William malah mengingat kembali kejadian semalam saat ia melihat Edgar secara pribadi mengantarkan evelyne pulang di malam hari. William melirik kan matanya, menatap Edgar dengan tatapan yang dingin. “Apa yang dikatakan dirinya benar?!” tanya William dengan menekan suaranya.


Edgar menggeleng, “Tidak kakak tertua, kak Yoona tidak berkata seperti itu.”


“Lalu, Apa yang ia katakan pada jessica?” William memojokkan Edgar yang kini tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh evelyne dengan jessica sebelumnya.


Melihat sikap William yang memojokkan Edgar pun membuat dirinya membuka saatnya untuk menghentikan permasalahan ini. “Dia benar! Aku tidak mengatakannya, melainkan dialah yang menghinaku.”


William yang mendengar itu pun kembali menolehkan kepalanya kearah Evelyne. Lalu dengan aura yang kejam, ia berjalan menghampiri Evelyne untuk berbuat sesuatu. Jessica yang melihat tindakan William pun membuat suatu senyuman kecil terukir di wajahnya. Sementara Edgar hanya terdiam, tak melakukan apapun karna jika ia maju dan membantu Evelyne. Maka itu hanya akan membuat hubungannya dengan Evelyne menjadi terbongkar.


“Ada apa? Apa perkataanku ini belum jelas?!” tanya evelyne yang benar-benar tidak mengharapkan apapun lagi.


Ia berpikir bahwa kejadian dan kesepakatan di malam itu akan membuat hari esok akan menjadi lebih baik, tapi ternyata tidak. William masih terus menatapnya seperti orang asing yang sudah berani menghina keluarganya.


-Eline, bisakah aku membantumu kali ini?-


Evelyne menggeleng, ia hanya bisa menarik nafasnya yang dalam agar ia tidak terhasut oleh permainan jessica. “Apa kau datang untuk membalas dendamnya?” tanya evelyne dengan suara yang pelan.


“Kalau kau mengaku dan menjelaskan semuanya, maka aku akan mengurangi hukumannya!” Kata William.


Evelyne mengangkat kepalanya, menatap wajah dingin William yang kini tengah menatapnya. “Tidak perlu! Jika kau memang mau memukulku, maka pukullah! Karna sebanyak apapun yang Aku katakan padamu, kau tidak pernah percaya dengan itu”


“Itu karna kau sering membohongiku dulu!” balas William.


“Lalu bagaimana dengan mu?” tanya balik Evelyne “Kau juga sering membohongiku tentang hubunganmu dengan Clara, bahkan sampai sekarang aku tetap diam dan tidak meminta penjelasan padamu! Kenapa permasalahan antara Aku dengan jessica, selalu kamu yang maju? Apa sudah dari awal, kau memang ingin membuatku seperti ini?”


“....” William terdiam.


“Ini urusanku dengannya! Kau tidak perlu ikut campur! Jika memang dari awal kau ingin membantunya, maka kau juga harus lebih awal memukulku sebelum meminta penjelasan dariku!” tambah Evelyne


Prak!!


William menampar keras pipi evelyne yang mulus dengan tangannya yang besar. Mendapatkan tamparan itu, Evelyne hanya terdiam seraya melemparkan wajahnya kesamping. Melihat William menampar Evelyne tepat di depan jessica, membuatnya merasa sangat puas dan senang bahkan ia seperti ingin membuat William lebih memperlakukan Evelyne dengan buruk.


Berbeda dengan Edgar, ia terpaku serta merasakan sakit di hatinya saat melihat tangan William dengan ringan memukul wajah Evelyne yang tidak berdosa sama sekali.


Evelyne meluruskan kembali pandangan kearah William, lalu dengan santai ia tersenyum dengan pipi yang kini mengeluarkan darah. “Baik tuan, masalah kita sudah selesai. Semua dendamnya sudah terbalas, kalau begitu Aku permisi”

__ADS_1


Evelyne berjalan melewati William dengan wajah yang tersenyum, ia tidak menangis ataupun menjerit kesakitan. Padahal William sudah jelas-jelas menamparnya begitu keras hingga mengenai kukunya.


‘Aku kecewa dengannya, apa lebih baik aku menyerah saja?’


__ADS_2