Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chaptur 36 : Kesepakatan William dengan Clara


__ADS_3

William yang sudah terbangun dari tidurnya pun dengan perlahan membukanya seraya mengumpulkan sedikit demi sedikit tenaga yang masih belum mengumpulkan. Tetapi saat ia baru saja membuka matanya, William seketika dikejutkan oleh sebuah wajah yang tengah berada tepat didepannya dengan kuliah yang mulus berwarna putih serta bulu mata yang lentik membuat William seketika terpaku saat melihat itu.


Bahkan bibirnya yang pucat sama sekali tidak memengaruhi kecantikan natural dari wajah seseorang yang ia pandang itu. Sadar akan terlalu lama memperhatikan, William pun membalikkan posisi kepalanya hingga membelakangi wajah Evelyne. Ia juga terdiam sejenak saat menatap sebuah tangan yang kecil tengah tergenggam oleh tangan besarnya.


Tok...tok...tok...


Pintu kamar milik Evelyne terketuk dari luar yang membuat William dengan sontak mengangkat kepala serta bagian tubuhnya dari atas kasur. Ia juga segera beranjak dari sana untuk berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.


“Kak William?” sapa seorang wanita yang berdiri di depan pintu dengan senyuman diwajahnya. William yang melihat itu pun terdiam, lalu dengan sekilas memiringkan kepalanya untuk melihat Evelyne dari ujung matanya. “Kita bicara diluar!” William meluruskan kembali pandangan seraya berjalan melewati wanita itu dengan menutup pintu secara bersamaan.


“Kenapa tidak di dalam saja? Aku kesini juga datang untuk menjenguknya” wanita itu sedikit kebingungan saat William terus berjalan menjauh darinya.


William melirikkan matanya, “Dia sedang istirahat, aku hanya tidak ingin mengganggunya!”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, William pun langsung membawa wanita itu pergi ke taman yang ada di samping rumah sakit. Taman itu memang tidak terlalu luas, tetapi ia selalu di gunakan untuk beberapa pasien yang sedang mengalami masa pemulihan.


“Jadi, apa yang membuatmu datang kesini?” Tanya William saat berhenti tepat di tengah-tengah taman itu.


Wanita itu terdiam sejenak “Maaf, kak William jika kedatanganku mengganggu waktumu dengan Yoona. Tapi aku kesini hanya ingin berbicara tentang hal itu....apakah kau sudah memiliki jawabannya?”


“Soal itu?” William melirikkan matanya kearah Clara yang tengah berdiri didepannya. “Belum, aku masih memikirkannya. Lagipula, masih ada beberapa bulan untuk ke tahun berikutnya. Kesepakatan kita adalah tahun depan dan bukan sekarang. Jadi jangan berbicara hal itu denganku lagi, atau aku tidak akan berbicara denganmu!”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, William pun membalikkan tubuhnya membelakangi Clara. Sementara Clara hanya terdiam menundukkan saat melihat William seperti tidak tertarik akan kesepakatan yang mereka janjikan dulu. “T-tapi... Apa salahnya? Aku hanya bertanya, karna aku takut kau akan melupakannya?”


“Takut untuk apa? Bukankah peraturan dari kesempatan itu, jika aku mulai menumbuhkan perasaan padanya, maka aku bisa secara sepihak membatalkan perjanjian itu. Tetapi jika tidak, maka aku akan menceraikannya” jelas William dengan tegas.


Mendengar hal itu, Clara hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya. Sementara William setelah mengucapkan kata-kata itu, ia langsung berjalan pergi meninggalkan Clara seorang diri.


...--🥀🕊--


...


“Nyonya, apa kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir sekali, saat mendengar kabarmu dari Tuan besar” kata Dessy seraya menggengam tangan evelyne dengan erat.


Evelyne tersenyum, “Aku baik-baik bi, ini hanya luka biasa. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu”


“l-luka biasa apa? Ini sudah benar-benar luka yang cukup parah lho, nyonya!” Dessy mengerutkan keningnya saat melihat evelyne dengan santainya mengatakan hal itu.


“Bibi terlalu berlebihan, aku baik-baik saja. Sebentar lagi aku akan pulang dan tunggu tuan kembali untuk meminta izin padanya”


Dessy tertegun, “Tidak!! Kau tidak bisa pulang sekarang!? Tuan surya bilang, lukamu masih belum kering dan itu masih akan terasa sakit jika kau terlalu banyak gerak. Jadi tetaplah disini sampai keadaanmu pulih kembali!”


“Bibi, kamar ini begitu suntuk. Aku ingin keluar dari ini!! Aku tidak betah!! Lagipula aku sudah tidak apa-apa kok.” Protes Evelyne dengan raut wajahnya yang cemberut. “lihatlah!! Aku bergerak pun tidak terasa sakit kan?”


Melihat evelyne menggerakkan tubuhnya dari kanan ke kiri membuat Dessy sedikit takut akan luka dari evelyne kembali terbuka. “Sudah, sudah! Hentikan....kau tidak bisa bergerak seperti ini!” cegah Dessy dengan cemas.


Kreek!!


Suara pintu kamar Evelyne terbuka hingga membuat kedua orang yang ada di dalam ruangan dengan sontak menolehkan kepalanya kearah pintu. Disana ada seorang lelaki dengan pakaian yang rapih tengah berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang dingin.

__ADS_1


“T-tuan!?” Dessy dengan segera beranjak dari duduknya untuk menghadap kearah William dengan kepala yang menunduk. “Kau sudah makan?” Tanya William seraya berjalan menghampiri evelyne yang tengah duduk di atas kasur dengan raut wajah semangatnya.


Evelyne menggeleng “Belum. Sebelumnya Bibi juga sudah menawarkanku makan, tapi menolak karna tidak merasa lapar”


William melirikkan matanya yang dingin kearah Dessy yang tengah berdiri di samping ranjang kasur RS. Tatapan itu seperti bertanya hal yang sama seperti Evelyne namun berbeda pengucapan. “Saya sudah makan di rumah sebelum datang kesini, tuan” kata Dessy yang membuat William mengangguk paham.


“Makanlah ini untuk mengisi perutmu sebelum minum obat!” William meletakkan sebuah bingkisan yang berisi makanan favorit Evelyne.


Hmm...


Aroma dari makanan itu keluar hingga memenuhi isi kamar RS. Aroma itu sangat enak hingga membuat nafsu makan Evelyne seketika meningkatkan. “Waw... Tuan apa yang kau bawa ini? Kenapa baunya begitu enak?” tanya Evelyne seraya memiringkan tubuhnya menghadap kearah bungkusan makan itu yang berada di atas meja samping kasur.


“Bukalah jika kau penasaran!”


Evelyne mengangguk, sementara Dessy yang agak sedikit canggung dengan kehadirannya membuat ia berpamit undur diri pada William. Sementara lelaki itu hanya menyetujuinya tanpa mengatakan sepatah katapun. “Bibi, terimakasih atas kunjunganmu! Maaf sudah merepotkan” ucap Evelyne seraya melambaikan tangannya setinggi dada.


Setelah kepergian Dessy, pusat perhatian evelyne pun kembali beralih kerah makanan yang berada di atas meja itu. William yang melihat evelyne tidak dapat mengambil bungkusan itu pun membuat ia duduk di kursi samping ranjang RS lalu membantu evelyne untuk mengeluarkan beberapa makanan dari bungkusan yang ia bawa tadi.


Di dalam bungkusan itu, terdapat beberapa makanan seperti kimchi, kimbab, soy bean stew, dan sop bening kesuksesan William. “Wuuu... Banyak sekali! Apa kau yang membelinya semua ini?” tanya Evelyne sedikit terkejut dengan makanan yang dibawa oleh William.


“Hn..” angguk William.


Melihat beberapa makanan disana sebagian besar adalah makanan favorit evelyn membuat ia sedikit mengakui William adalah orang yang cukup baik, walaupun terkedok dengan sikap dinginnya. “T-tuan, apa kau sendiri sudah makan?” tanya Evelyne seraya mengambil sepiring kimchi pedas dari atas meja.


“Eit... Makan supnya terlebih dulu sebelum kau memakan makanan ini!” cegah William dengan menghentikan tangan evelyne yang hampir membawa kabur sepiring kimchi.


Evelyne berdecih kesal, “Kenapa harus memakannya? Itu tidak ada rasa, jadi aku tidak menyukainya!!”


Evelyne yang tidak suka dipaksa pun langsung melipat tangannya dengan malas didada. Wanita itu juga membuang wajahnya kearah lain seperti menunjukkan bahwa ia sudah merajuk pada William. “Jika kau tidak mengizinkanku memakannya, lalu kenapa kau malah membelinya untukku?”


William menggelengkan kepalanya, “Aku membelinya untuk kau memakannya, tetapi tidak sekarang. Kau harus minum obat setelah ini jadi aku membawakan suy bean stew ini untukmu sebelum memakan makanan pedas. Agar perutmu juga tidak sakit saat menerima makanan itu”


“T-tapi aku tidak menyukainya! Aku tidak suka makan makanan itu” cicit evelyne dengan menundukkan kepalanya.


...--🥀🕊--


...


“Apa yang kau lakukan? Dasar anak bodoh!!??”


Seorang lelaki memukul wajah anak kecil dengan segitu keras hingga membuatnya terlempar saat menerima pukulan. “Kenapa kau membuang-buang makanan yang begitu berharga?!! Apa kau pikir mencari uang itu gampang?!!”


Anak kecil itu menangis sembari memegangi pipinya yang merah karna pukulan itu. “A-aku...t-tidak...s-suka...a-ayah!” kata anak kecil itu dengan isakan tangis.


“Aku tidak peduli!! Mau kau suka atau tidak, kau harus tetap memakannya!!!”


Bruukk!!


Lelaki itu dengan emosi menekan keras kepala anak kecil itu ke lantai, tepat di dekat sup yang sudah tumpah. Anak kecil terus menangis, ia merasakan sakit di bagian kepalanya karna lelaki itu trus saat menarik rambutnya hingga ada beberapa darah yang menetes di belakang lehernya.

__ADS_1


“A-ayah...s-sakit!!” rintih anak kecil itu.


Aaahhhkkk!!!


Suara jeritan anak kecil itu semakin menjadi saat rambutnya kembali ditarik oleh lelaki itu ke atas, lalu dengan tangannya yang terbebas lelaki itu mengambil sendok yang tergeletak di lantai. Lalu mengambil beberapa makanan yang ada di lantai untuk memasukkan ke dalam mulut anak kecil itu dengan paksa.


Rasa sakit di bibir serta sodokan yang tidaklah halus membuat anak kecil itu kembali memberontak untuk melepaskan sodokan sendok itu dari mulutnya.


“A-ayah... Aku mohon jangan!! Itu sakit!!”


Anak kecil itu memukul keras bagian dada dari lelaki itu, tetapi karna tenaganya tidak cukup kuat maka yang dirasakann lelaki itu hanya sebuah senggolan kecil dari anak kecil itu. “Kau terlalu percaya diri, memukulku dengan tenagamu yang seperti itu tidak akan membuatku kesakitan.” Ejek lelaki itu dengan tertawa kencang.


Sementara anak itu terus memukulnya tanpa mempedulikan ejekan yang ia dapatkan dari lelaki itu, bahkan ia juga menambah sedikit kekuatannya untuk memukul dada lelaki itu lebih kencang. Alhasil semua perlawanan yang dilakukan oleh anak itu hanya dijadikan lelucon oleh lelaki itu. Tawa demi tawa yang didengar oleh anak kecil itu semakin membuatnya merasa kesal dan dengan tiba-tiba...


Praakk!


Tamparan kencang yang dilayangkan oleh anak kecil itu tepat di pipi lelaki yang sedang menertawakan nya seketika terdiam saat merasakan pedih dan panasnya terkena tamparan itu. Sementara anak itu dengan cepat melarikan diri sebelum lelaki itu tersadar dan akan menyeretnya ke dalam gudang penyiksaan.


Tapi sayangnya, saat anak kecil itu sudah mendekati pintu keluar lelaki itu dengan cepat menangkapnya lalu menutup pintu tersebut dengan rapat hingga tak lama dari itu terdengar beberapa pukulan serta jeritan dari ruangan itu.


...--🥀🕊—


...


William yang melihat reaksi evelyne yang seperti itu pun membuat ia mengangkat sendoknya dari mangkuk yang ia pegang, lalu dengan perlahan ia menyodorkannya di depan mulut evelyne tanpa memasukkan dengan paksa ke dalam mulutnya. “Makanlah sedikit, walau kau tidak suka. Ini sangat bagus untuk kesehatan tubuhmu”


Evelyne mengangkat kepalanya dengan raut wajah yang terkejut, dan beberapa kali manik matanya menatap kearah sendok itu dengan ragu. “Jika kau tidak menyukainya, maka makanlah untuk beberapa suap dan sisanya biar aku yang menghabiskannya”


Mendengar hal itu, Evelyne terdiam sejenak karna ragu dengan perkataan William. Tetapi karna tatapan yang lembut dari wajah William membuatnya sedikit meyakinkan dirinya untuk mencobanya.


William tertegun saat melihat evelyne sedikit memajukan wajahnya lalu dengan perlahan ia membuka mulutnya untuk memakan sup yang ada di dalam sendok itu. Awalnya ekspresi Evelyne sangat menjelaskan bahwa ia benar-benar tidak menyukainya, dan William yang paham akan hal itu dengan cepat memberikan segelas air putih untuk evelyne meminumnya.


Melihat William tidak marah akan reaksinya yang berlebihan tadi, membuat evelyne sedikit malu karna terlalu banyak makanan yang ia tidak sukai hingga membuat orang kerepotan akan sikapnya. “M-maaf” cicit evelyne dengan kepala yang menunduk.


William tersenyum, lalu dengan lembut ia berkat. “Tidak apa-apa, namanya juga pengenalan rasa...Apa masih ingin dilanjutkan, atau makan makanan yang lain?”


Evelyne terdiam, lalu menunjuk kearah mangkuk yang dipegang oleh William ditangan kirinya. “L-lanjut makan yang i-itu dulu”


“Kau yakin?” William sedikit tidak yakin akan jawaban dari evelyne. “Jika kau mau mencicipi makanan yang lain sedikit, maka tidak akan apa-apa”


Evelyne menggeleng, “Aku akan memakan beberapa suap lagi untuk sup itu”


Mendengar hal itu, William pun mengangguk lalu mulai menyuapi evelyne dengan perlahan dan sesekali evelyne menyuruh William untuk ikut makan bersamanya. “Tuan, kau juga ikut makanlah. Kau sudah menunggu disini semalaman, pasti tidak akan sempat untuk membeli makan.” Kata evelyne dengan mulutnya yang mengembang karna sedang mengunyah.


William mengangguk “Baik, aku juga akan memakannya. Sekarang kau diam dan lanjutan makanmu, jangan bicara jika sedang mengunyah! Atau kau akan tersedak dengan makananmu sendiri.”


Mendengar nasehat itu, evelyne pun mengangguk dengan cepat lalu tersenyum di wajahnya yang sedikit lebih baik daripada pada semalam. Setelah itu suy bean stew nya habis, keduanya pun langsung beralih ke makanan favorit mereka, seperti evelyne yang menyukai kimchi dan William yang menyukai sup bening.


Keduanya makan dengan tenang, tidak ada suara sedikitpun di dalam ruangan itu hingga membuat suasana di kamar terasa begitu tenang. Evelyne yang sedang asik memakan kimchi pun seketika matanya melirik kearah William yang sedang duduk tegak di kursi samping kasur RS dengan tangan kiri yang memegang mangkuk dan tangan kanan yang memegang sendok.

__ADS_1


Tata cara makan William begitu sopan dan bersih. Ia juga sangat tenang saat memakan sedikit demi sedikit. “Sampai kapan kau mau melihatku?” tegur William dengan menatap evelyne dengan tajam “Lihatlah, kimchi milikmu saja sudah cemburu denganku!”


Mendengar hal itu, Evelyne langsung memalingkan wajahnya kearah lain dengan raut wajah yang masam. “Ckk.. Kau terlalu narsis. Jika antara kau dengan kimchi, maka aku akan lebih memilih kimchi dibandingkan dengan dirimu!!” ketus evelyne


__ADS_2