
William menghela nafasnya, “Hah...Dengan jebakan yang dia buat itu, tidak akan mungkin dapat memengaruhi ku” kata William yang membuat lelaki berjas putih ini tertawa untuk menghilang sedikit kecanggungan diantara mereka. “Ya... Kuharap kau bisa lebih tegas pada sikapnya itu! Karna entah apa yang akan ia lakukan di kedepannya”
William mengangguk, kemudian terdiam sementara lelaki berjas putih mengeluarkan hpnya dari saku bagian dalam jas putih tersebut. “Edgar, tadi menghubungiku dan mengajakku untuk berkumpul. Tapi karna kau menyuruhku untuk menunggumu, jadi aku menolak ajakannya. Dia berkata, bahwa kita sudah lama tidak berkumpul karna terhambat oleh pekerjaan dan ia juga mengusulkan padaku untuk mengajakmu jika kita memiliki waktu senggang”
“Waktu senggang? Memangnya dia sendiri memiliki waktu senggang disaat kepopulerannya meningkat?” cibir William dengan nada kejamnya. “Astaga, apa yang kau katakan? Dia justru memiliki waktu senggang yang banyak dibandingkan dirimu. Buktinya dia menghubungiku untuk bertemu, dan sudah pastinya dia memiliki waktu senggang kan” kata lelaki berjas putih.
William, Surya ( lelaki berjas putih) dan Edgar adalah partner terbaik di kota Seoul karna kemampuan mereka yang luar biasa di umur yang masih muda. Bahkan kemampuan mereka sudah dapat mengalahkan kemampuan orang-orang yang sudah berumur. Di negeri Korea, umur 20 an untuk kalangan banyak orang pasti akan menghabiskan waktu masa mudanya untuk mencari pasangan ataupun bersenang-senang dengan teman-temannya.
Namun berbeda dengan ke3 orang ini, mereka yang masih berumur 20 an sudah memiliki pekerjaan yang tinggi, rumah dan bahkan uang yang banyak. Tidak ada sekalipun dari mereka yang memikirkan soal pasangan disaat mereka tengah memfokuskan diri mereka pada suatu tujuan yang ingin gapai.
Tetapi karna pekerjaan, waktu yang mereka butuhkan untuk berkumpul pun menjadi berkurang. Entah seberapa banyak atau seberapa sibuk mereka, membuat berkumpul bersama terasa sangat sulit untuk dilakukan.
“Hn...ya, sepertinya yang kau katakan itu benar. Beberapa hari ini sudah berapa banyak kontrak penting yang harus aku tangani dan ada beberapa meeting yang tidak bisa ku tinggalkan sama sekali. Aku juga sebenarnya membutuhkan waktu senggang, tetapi akan lebih baik jika seperti ini saja” kata William seraya mengangkat kepalanya keatas lalu menutup matanya.
__ADS_1
Surya yang melihat hal itu pun tersenyum, namun senyuman itu seketika menghilang saat mereka mendengar suara pintu ruang pemeriksaan terbuka secara perlahan dan menampilkan seorang wanita dengan raut wajah yang lesu tengah berdiri bertumpu pada pintu tersebut. “T-tuan?” panggil wanita itu dengan suara lemahnya.
Dan hal itu membuat surya dengan spontan berdiri lalu berjalan menghampiri evelyne yang tengah berdiri setengah kuat disana. “Kak Yoona, apa yang kau lakukan? Kenapa kau keluar dari ruangan? Tubuhmu masih belum memiliki tenaga, jadi tolong kembalilah kedalam dan beristirahat sejenak!” tegur surya dengan pelan, sementara Evelyne yang melihat lelaki itu berjalan mendekatinya pun membuatnya melangkahkan kakinya kebelakang untuk beberapa langkah.
Surya yang melihat reaksi kecil itu pun seketika mengerutkan keningnya, “Tuan, aku ingin pulang.” Kata Evelyne seraya menundukan kepalanya. Wanita itu sama sekali tidak menanggapi perkataan dari surya, dan hanya meresponnya dengan suatu tindakan. “Kenapa begitu terburu-buru? Lagipula kau masih sangat lemah, apa kau ingin merepotkanku lagi?” tanya William dengan nada dinginnya.
Sementara Evelyne terus menundukkan sembari berkata, “Berjanji tidak akan merepotkanmu lagi di kedepan hari. Tapi untuk saat ini biarkan aku pergi dari sini”
Surya yang mendengar Evelyne terus meminta William untuk membawanya pulang pun seketika menolehkan kepalanya kearah lelaki yang tengah duduk di kursi dengan postur duduk yang tegak, William disana dapat melihat dengan jelas jika kondisi Evelyne untuk saat ini memang belum boleh untuk pulang.
Evelyne yang sudah mendapatkan izin dari kedua lelaki tersebut pun hanya bisa berjalan secara perlahan melewati surya lalu melewati William masih terdiam di tempat menatap dirinya tengah berjalan. “Kau bilang tidak ada masalah, dan dia hanya bermimpi. Lalu kenapa saat terbangun dia menjadi seperti itu?” tanya William saat merasa Evelyne sudah sedikit menjauh.
Surya terdiam, “Ya memang tidak ada masalah, itu memang hanya mimpi buruk saja. Kau tenang saja!” kata surya seraya memegang salah satu bahu William untuk menenangkannya. Lalu dengan sekali lirik untuk melihat sekitar, surya mendekatkan wajahnya disamping William sembari berkata “Aku akan mengirim beberapa laporan padamu. Sekarang kembalilah terlebih dulu, agar ia tidak curiga”
__ADS_1
William yang mendengar hal itu pun terdiam, lalu mengangguk seraya membalikkan arah tubuhnya untuk berjalan menyusul Evelyne. Sedangkan surya yang melihat kepergian William pun seketika raut wajahnya berubah menjadi sangat dingin.
“Sejak kapan Yoona menderita penyakit itu?” tanyanya.
...__🥀🕊__
...
Disisi lain Evelyne yang berjalan pelan didepan pun dengan sangat mudah disusul oleh William hanya beberapa langkah. Karna memang pada dasarnya, William memiliki kakinya panjang. Disana mereka hanya terdiam tanpa ada sedikitpun niatan untuk menghilangkan suasana keheningan. Ditambah pada evelyne yang baru saja tersadar di tidurnya.
‘Kenapa mimpi itu terus muncul? Apakah aku tidak dibiarkan untuk tenang setelah keajaiban datang padaku?’
Evelyne menghela nafasnya dalam sepinya lorong di rumah sakit, bahkan William yang tengah berjalan di sampingnya sampai melirikkan matanya saat mendengar itu. “Jika kau masih lelah, kita masih bisa kembali. Tidak perlu memaksakan diri untuk tetap pulang” kata William yang memalingkan pandangan kearah lain.
__ADS_1
“Tidak perlu tuan, terimakasih. Aku malam ini sudah berhutang banyak padamu” tolak evelyne dengan senyuman kecil di wajahnya dan William dapat melihatnya dengan jelas. “Untuk malam ini tidak perlu kau pikirkan terlalu berlebihan. Aku mengantarmu kesini karna aku menghargai keputusan kakek, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu” kata William dengan nada dinginnya membuat evelyne dengan spontan mengangguk pelan.
‘Ternyata benar, hubungan mereka sama sekali tidak bisa dibilang baik. Tuan William hanya menganggap wanita ini sebagai barang pemberian kakek nya....ahh... Kenapa hubungan dalam pernikahan jauh lebih menyakitkan daripada suatu hubungan yang masih berstatus pacar?’