
Di dalam kamar
Evelyne mencari kotak obat di dalam ruang ganti, karna ia pernah melihat William meletakkannya disana. Dan benar saja, evelyne menemukan kotak obat itu, lalu dengan cepat ia membawanya keluar untuk mengobati lukanya.
Selama pengobatan luka yang ada di pipi Evelyne, wanita itu hanya terdiam saat melihat kearah cermin yang kini memantulkan wajah seorang wanita yang sangat mirip dengan wajahnya yang dulu. Bahkan perbedaan dari wajah ini, hanya segi umur saja. Karna sebelum kematian evelyne, ia berumur 22 tahun dan kini saat ia terbangun di tubuh Yoona, ia menginjakkan umur 27 tahun yang kini sudah menikah dengan seorang lelaki berumur 30 tahun
-Eline, apa kau baik-baik saja?-
Evelyne mengangguk “Aku baik-baik saja, Kau tidak perlu khawatir Eve.”
-Lalu bagaimana dengan lukamu? Apa kau masih merasakan sakit?-
Evelyne menggeleng “Ini hanya luka kecil, tidak apa-apa.”
Ya...tidak apa-apa, Karna ini sudah menjadi tindakan biasa yang sudah evelyne Terima dimasa lalu. Bahkan kejadian ini bukanlah apa-apa dibandingkan yang dulu. “Eve...apakah Aku boleh berhenti di tengah jalan seperti ini? Aku rasa...aku sudah tidak kuat untuk menerimanya” kata evelyne saat melihat wajahnya yang menyedihkan dari pantulan cermin.
-Menyerah atau tidak, itu adalah keputusanmu. Tapi jangan terlalu cepat untuk mengambil suatu keputusan! Kau beristirahatlah terlebih dahulu, tenangkan dirimu. Setelah sudah, baru kau bisa memutuskan semuanya di kepala yang dingin-
Evelyne terdiam sejenak “Eve...biasanya kau akan selalu menyuruhku untuk bertindak sesuai dengan keinginanku. Tapi kenapa sekarang berbeda? Kenapa kau malah membiarkanku memutuskan semuanya sendiri?”
-Karna hidupmu itu tergantung dengan keputusanmu, jadi aku tidak akan melarangnya. Aku disini hanya untuk menemani, bukan memerintah-
“Eve...bisakah Aku tahu, siapa dirimu sebenarnya?” tanya evelyne dengan suara yang pelan “Kenapa kau bisa ada di dalam diriku? Kenapa kau bisa mengontrol tubuh dan emosiku, jika Aku berada di fase hilang kendali? Apa kau juga manusia sepertiku? Atau kau hanya jelmaan yang dititipkan untuk menjagaku?”
-Kau bukan manusia seperti dirimu! Tapi Aku adalah iblis dari kebencianmu. Aku muncul dimana kebencian, dendam, amarah serta hati yang hitam terdapat di dalam dirimu. Ini bukanlah suatu kebetulan, tapi kaulah yang ku pilih sebagai manusia yang benar-benar kehilangan jiwamu sendiri!-
“Apa maksudmu?”
-Kau ingat di mana kematianmu terakhir kali?-
“ingat, di apartemen yang terbengkalai di pinggir kota”
-Ya...dan disitulah Aku telah menghabiskan semua tubuhmu-
“Ah, iya kah? Apakah itu enak?”
-Huh? Kenapa kau malah menanyakan itu? Kenapa kau tidak marah disaat Aku telah memakan dirimu sendiri?-
Evelyne menghela nafasnya “Untuk apa marah padamu? Sesuatu yang hilang itu tidak bisa kembali lagi, jadi untuk apa menghabiskan tenagaku untuk memintamu mengembalikan semua nya.”
-Tapi...-
“Aku sudah biasa akan hal ini, jadi tidak perlu merasa bahwa Aku akan membencimu! Karna...cukup kau berada didekatku, itu sudah membuatku bahagia. Tidak perlu memberikanku sesuatu mewah, karna aku hanya ingin seseorang bukan benda yang berharga “
Eve terdiam lalu dengan lintasannya ia mengambil kendali dari tubuh Evelyne. Sementara evelyne, ia membuatnya tertidur agar hati dan pikirannya bisa jauh lebih tenang, karna jika ia terus menerus menahan semua itu, maka hanya akan menimbulkan perasaan benci selanjutnya.
...--🥀🕊—
__ADS_1
...
Sore harinya, Evelyne menemani kakek di taman kediaman dengan beberapa minuman hangat. Suasana yang tenang membuat hati yang berantakan kini berubah menjadi tenang walaupun masih terasakan. Evelyne saat ini sedikit berbeda dari sebelummya, Ia tidak begitu banyak membuka topik ataupun menjawab pertanyaan kakek dengan senyuman.
Kakek memperhatikan evelyne yang kini lebih banyak melamun daripada berbicara dengannya. Hal itu tentu saja membuat kakek merasa bosan. “Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat diam saja?” tanya kakek sembari memakan biskuit yang dibawakan pelayan untuknya.
Evelyne menggeleng “Tidak apa, hanya kehabisan topik saja”
“Kehabisan topik atau kau memiliki masalah saat Aku tidak ada?” tanya kakek yang membuat Evelyne merasa sedikit kagum dengan tebakannya.
Evelyne kembali menggeleng “Tidak ada, memangnya menurut kakek aku memiliki masalah seperti apa?”
“Seperti yang ada di pipimu!” jawab kakek yang membuat evelyne dengan sontak menutup bagian pipinya yang kini sedang ia tempelkan dengan Hansaplas. “Tidak perlu menutupinya! Aku sudah lihat sejak awal. Luka apa itu? Apa ada yang membuatmu terlyka?”
Evelyne menggeleng “Tidak ada kakek, tadi pagi aku terjatuh dan tidak sengaja terkena benda tajam. Jadi terluka seperti ini”
Perasaan yang bersalah pun muncul di hati Evelyne, ia tahu bahwa kakek adalah orang yang terbaik setelah Dessy. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan kakek tahu bahwa ini adalah tindakan dari william. Bagi kakek, William adalah cucu satu-satunya yang ia harapkan. Jadi akan sangat tidak mungkin jika ia memberitahu kakek soal itu.
“Kau terluka memang William kemana? Apa dia tidak menjagamu?” Tanya kakek yang merasa kesal.
Evelyne yang melihat kakek seperti itupun dengan cepat berkata “Tuan sudah menjagaku kok kakek, akunya saja yang ceroboh” evelyne menunjuk kearah hansaplast yang menempel di pipinya. “Ini saja, tuan yang mengobatiku. Aku tidak pandai melakukan sesuatu...aku sangat beruntung jika tuan selalu ada disaat aku butuh!”
Bohong! Aku lagi-lagi membohongi kehidupanku kali ini. Apanya yang beruntung? Jelas-jelas ini adalah kesialan yang kau Terima untuk ke2 kalinya. Dan kau menganggap dan menceritakannya lafa orang lain bahwa kau bahagia dengan hidupmu. Kakek yang mendengar cerita evelyne pun hanya terdiam dan mengangguk.
Sekilas manik mata kakek juga melirik kearah evelyne yang sedang mempertahankan senyumannya diwajahnya yang menyedihkan. “Apa kau memiliki sesuatu yang ingin kau ajukan denganku?”
“Tidak ada, hanya saja jika kau memiliki keluhan maka bicarakanlah padaku. Entah dari kesepakatan yang kita buat, atau masalahmu dengan William” jawab kakek.
Evelyne terdiam mendengar hal itu, ia juga tidak bisa mengatakan apapun lagi. Jadi beralasan untuk mengambil makanan di dalam agar ia bisa pergi dari saja untuk menenangkan hatinya. Namun saat Evelyne sedang berjalan, ia tidak sengaja bertemu dengan William yang sedang berbicara dengan Clara di aula.
Sekarang ia paham kenapa kakek mengajaknya ke taman, pasti ia tidak ingin Evelyne melihat William membawa Clara ke dalam kediaman. Tapi semua sudah terjadi, jadi evelyne tidak bisa berbalik badan dan menganggap bahwa ia tidak melihat apapun. Memang terkadang tidak mengetahui apa yang seharusnya tidak kita ketahui lebih, daripada mencari tahu dan pada akhirnya kita juga akan merasa kecewa dan menyesal.
Evelyne berjalan masuk kedalam aula dengan tenang, ia tidak menyapa ataupun menegue sekalipun pada 2 orang yang tengah berbincang disana, hingga Clara sendirilah yang menegur pertama kali. “Kak Yoona” panggil Clara dengan suara lembutnya.
Evelyne menghentikan langkahnya, menoleh pada Clara yang sedamg tersenyum saat menyapanya. Sementara Evelyne hanya mengangguk sebagai responnya, lalu dengan isyarat fisik evelyne memberitahu bahwa ia akan pergi ke atas. Dan hal itu tentu saja di angguki oleh clara.
William yang melihat sikap Evelyne yang seperti itu pun membuatnya terdiam, biasanya jika evelyne bertemu dengannya maka ia akan tersenyum dan menyapanya. Tapi sekarang dia tdak senyuman, bicara bahkan melirikkan kearahnya saja tidak. Hal itu membuat William terheran namun, ia selalu mengusir pikirannya yang selalu memikirkan perubahan evelyne.
Sampai tibanya ada waktu dimana mereka berduaan di kamar, mereka sama sekali tidak memiliki topik pembicaraan. Bahkan masing-masing dari mereka hanya fokus pada HP dan laptopnya. Keduanya juga memakai earphone agar tidak mengganggu satu sama lain. Jadi disana hanya ada suara ketikan pada laptop serta suara hembusan angin yang datang dari pintu balkon.
William sebenarnya merasa gelisah dengan keheningan ini, berbeda dengan Evelyne yang menyukai keheningan dan ketenangan.
Sikap dan perilaku diam Evelyne berlanjut hingga ke hari-hari berikutnya. William merasa bahwa Evelyne sedang menjaga jarak dengan dirinya. Karna setiap mereka bertemu, Evelyne selalu menghiraukan keberadaannya, entah saat mereka bertemu di aula ataupun di kamar. Sudah hampir 3 hari berlalu, tidak ada percakapan di antara mereka.
Kesepakatan untuk berpura-pura di depan kakek, evelyne dan William masih menjalankannya. Namun setelah kakek tidak ada, maka mereka akan berubah seperti 2 orang yang todka mengenal. Teriakan, senyuman, sapaan dan tingkah yang selalu membuat keributan, kini sudah menghilang dari dunia.
Evelyne yang awalnya dikenal sebagai gadis yang ceria, penuh tawa dan senyuman. Kini berubah menjadi seorang gadis yang diam dan aneh. Semua pelayan sert Dessy merasakan perubahan itu. Walaupun sudah jarang sekali untuk tersenyum, evelyne masih mengukirkan senyuman itu pada 2 orang yang ada di kediaman.
__ADS_1
Hanya mereka yang menurutnya pantas untuk mendapatkan senyumannya.
Saat Evelyne pulang dari rumah sakit, ia tidak sengaja bertemu dengan Edgar yang baru saja keluar dari kediaman utama. Awalnya ia mengira bahwa Edgar baru saja menemui William atau kakek. Tapi siapa yang menyangkal bahwa Edgar datang kesini untuk menemuinya.
“Datang mencariku untuk apa? Apa kita pernah ada urusan sebelumnya?” tanya Evelyne yang membuat Edgar sedikit terkejut saat mendengar respon itu.
“Yoona, ada apa dengan gaya bicaramu? Apa kau marah kepadaku?” Edgar malah menanyakan pernyataan lain dan menghiraukan perkataan Evelyne. Karna Edgar tidak mengerti kenapa gaya dari bicara Evelyne seperti itu. “Aku baik-baik saja, tidak marahmu! Bisakah kau beritahu Aku cepat, ada perlu apa kau datang kesini?” Tanya evelyne lagi.
“Aku...disini ingin denganmu! Bisakah kita bicara di taman?” kata Edgar dengan suara yang pelan.
Evelyne yang tidak merasakan ada hal aneh, ia pun langsung menyetujuinya. Pergi bersama Edgar ke taman samping kediaman untuk bicara sejenak.
Sesampainya disana, gak ada angin, gak ada hujan tiba-tiba Edgar dengan sontak memeluk Evelyne yang sebelumnya berjalan di belakangnya. Ia memeluk Evelyne dengan begitu, hingga Evelyne merasakan sakit saat menerima pelukan itu. “Edgar! Apa yang kau lakukan? Lepaskan Aku!!” Kata Evelyne yang terus memberontak dari pelukan itu.
Sementara Edgar tidak melepaskan pelukan itu, bahkan Edgar sampai meletakkan wajahnya diatas salah bahu milik Evelyne. “Ahh...sudah lama sekali aku tidak mencium bau mu, Harum sekali!” kata Edgar dengan suara seraknya membuat Evelyne bergidik geli.
Evelyne menggeliat, berusaha terus mendorong tubuh besar Edgar kebelakang. Ia berharap bisa melepaskan pelukan itu, tapi tak disangka. Edgar menggunakan tenaganya untuk mengunci tubuh kecilnya di dalam pelukan. Tidak peduli seberapa berontaknya Evelyne saat ini, Edgar sama sekali tidak peduli. Ia hanya terus mengendus aroma wangi dari leher wanita itu.
“Edgar! Apa kau gila?!! Lepaskan aku!!” teriak evelyne yang merasa jijik dengan tindakannya itu.
Edgar yang kelelahan menahan tubuh Evelyne yang terus memberontak, akhirnya ia terpaksa menahan tubuh Evelyne di pohon besar yang tubuh di samping taman. Evelyne yang sudah panik dengan tindakan Edgar, ia semakin dibuat panik saat menyadari bahwa Edgar menahan tubuhnya serta kedua tangannya.
Melakukan suatu pergerakan? Tidak ada ruang untuk evelyne buat melawan tindakan itu. Ditambah lagi, tubuhnya kelelahan Karna habis pulang dari rumah sakit. Awalnya Ia kira setelah pulang dari sana, Ia bisa beristirahat dengan tenang di kamar. Tapi tak disangka Edgar menemuinya, bahkan melakukan hal menjijikan seperti ini di samping kediaman.
“Edgar lepasin!! Apa-apaan sih kamu?!! Aku ini kakak iparmu, apa yang kau lakukan?” bentak evelyne seraya menghentikan pergerakan Edgar.
Edgar terdiam, menatap evelyne dengan nafsu yang membara di matanya. “Yoona, apa yang kau katakan? Kita bukan saudara ipar, kita sepasang kekasih!!!”
Degh!!
Evelyne tertegun saat mendengar hal itu. Ia merasa bahwa dirinya dan Edgar hanya sebatas saudara ipar dan tidak lebih. Ia juga sering merasakan rasa aneh jika di dekat Edgar, apakah ini jawaban dibalik perasaan yang selama ini Ia rasakan?
“Yoona, kau masih mencintaiku kan? Kau masih menganggapku kekasih kan?” Tanya Edgar dengan wajah yang penuh harap.
Evelyne menggeleng “Apa maksudmu?! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu? Aku ini kakak iparmu, kenapa kau lakukan hal seperti ini kepadaku?”
Mendengar ucapan itu, Edgar tidak Terima. Ia merasa bahwa perasaan yang ada di dalam hati evelyne sudah tergantikan oleh seseorang. Tapi...siapa? Kakak tertua? Tidak mungkin, mereka saja setiap hari saja selalu bertengkar dan perang Dingin. Bagaimana mungkin ada perasaan yang timbul saat keduanya saling membenci.
Evelyne yang melihat Edgar terdiam pun dengan sedikit kesempatan membuat dirinya dengan cepat mendorong tubuh lelaki itu ke belakang. Tepat di saat Edgar mundur untuk beberapa langkah, Evelyne pun mengambil kesempatan itu untuk berlari. Namun sayangnya, saat Evelyne hendak berlari, Edgar sudah lebih dulu menahan salah satu tangannya.
Evelyne terkejut saat melihat itu, dan lagi, saat melihat senyuman licik di wajah Edgar membuat dirinya semakin panik. Bagaimana mungkin, ada seorang lelaki yang berstatus ipar berani melakukan hal seperti ini di samping kediaman.
Karna tidak ada cara lain, evelyne pun menendang suatu benda yang berharga bagi Edgar dengan begitu keras. Merasakan sakit di bagian terpentingnya, Edgar pun langsung meringis kesakitan. Cengkraman tangan di pergelangan tangan evelyne juga sedikit mengendur.
Hal itu dengan mudah, evelyne menghentakan kedua tangan mereka ke bawah hingga cengkraman tangan Edgar benar-benar terlepas darinya. Melihat evelyne akan kabur, Edgar pun berdiri untuk mengejar kembali evelyne yang kini sedang berlari menjauh darinya.
“YOONAA... Mau kemana kamu?!!”
__ADS_1