Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 128 : Permainan baru akan segera di mulai


__ADS_3

“Euhmm...Liaamm...”


Evelyne yang merasa sedikit tidak nyaman dengan posisi tersebut pun menggerakkan tubuhnya beberapa kali untuk mencari posisi ternyaman, setelah sudah ia akan kembali tertidur dengan kekehan lembut dari mimpinya. Sementara William yang mendengar kekehan tersebut pun membuat dirinya mengelus punggung Evelyne beberapa kali untuk memberikan suatu kenyamanan serta senyuman tipis yang ia tidak sadari.


Berbeda dengan kedua lelaki yang berada di depan mereka, keduanya tampak begitu kebingungan dengan sikap William yang terlihat aneh di mata mereka. Karena seumur dari hidupnya, mereka tidak pernah melihat William akan selembut dan sepenuh kasih sayang ini dengan wanita selain ibunya. Apalagi ini adalah wanita yang pernah menjadi wanita kejahatan sebelum Clara.


“Kakak pertama, apa kau serius dengan pilihanmu sekarang?” tanya Lion dengan seksama.


William melirik kan matanya dengan tajam, lalu surya yang menyadari itu langsung memisahkan keduanya. “Lion, sebaiknya kamu tidak perlu mengatakan apapun. Karena kamu bisa menjadi aku yang dulu saat tidak mengetahui keadaan dan perubahan kakak ipar dalam beberapa bulan terakhir”


“Baiklah, sesukamu! Lagipula aku juga terlalu malas untuk membicarakan ini” elaknya dengan mengakhiri pembicaraan.


Surya yang tidak ingin menghancurkan acara pertemuan pun langsung membuka topik baru “Kakak pertama, aku dengar kamu baru saja membuka peluang kerja di luar negeri. Apa itu benar?”


“Ya, benar” angguk William “Disana banyak tanah kosong yang dijadikan lahan terbuka, jadi aku memanfaatkan lahan itu untuk membuka perusahaan baru. Hitung-hitung bisa mendapatkan peluang serta keuntungan besar dari warga sekitar yang akan bekerja disana, dan aku juga berniat untuk membuka cabang di dekat tempat industrimu”


Lion terkejut “Apa? Apa kau gila? Perusahaanmu sudah tersebar di mana-mana, apa itu tidak cukup membuatmu puas?!”

__ADS_1


“Eumm...” Gumam Evelyne yang membuat William mengerutkan keningnya serta menatap Lion dengan tajam “kecilkan suaramu, sialan! Aku tidak membangun perusahaan disana, melainkan sebuah hotel atau villa yang belum aku tentukan karena itu masih rencana bayangan.”


Lion mengerutkan keningnya “Tumben sekali rencanamu masih bayangan, apa kau akan meminta izin terlebih dulu pada kakak ipar sebelum melakukannya?”


“Kenapa? Kau tidak suka?” cibir William dengan mengangkat salah satu alisnya “Lion, kau berumur lebih tuaku. Tapi kenapa aku sudah menikah sejak 2 tahun yang lalu dan kau tidak?”


Lion menggebrak meja di depannya, membuat Surya dengan sontak bangun untuk memenangkan Lion yang mudah terpancing emosi untuk semua perkataan yang di lontarkan oleh William tadi. Sementara disisi William, Evelyne terbangun dari tidurnya akibat suara keras itu yang mengganggu tidurnya yang nyenyak. “Kau sangat berisik, Liam. Aku ingin tidur”


“Hahaha....maafkan aku, sayang. Kamu bisa kembali tidur jika masih mengantuk” ucapnya dengan membidik tajam ke arah Lion yang sudah berkali-kali membuat Evelyne merasa tidak nyaman dengan tidurnya.


Degh!


Satu kalimat yang keluar dari mulut Evelyne pun seketika membuat Lion terkejut saat mendengarnya, karena ini bukanlah perkataan yang biasanya wanita ini katakan. Tetapi ia tidak bisa mengatakan hal itu kepada orang yang belum ia kenal dengan jelas “A-apa?” cicit lion.


William dan Surya yang melihat itu pun langsung menahan tawanya karena Lion merasakan apa yang mereka rasakan sebelumnya saat belum menyadari siapa itu Evelyne sebenarnya. “Sial! Apa yang kalian tertawakan hah?!” protes Lion dengan menatap William dan Surya yang kini tengah menutup mulutnya karena tertawa.


“Lion, kau nikmati saja semua ini. Lagipula kita berdua juga pernah mengalaminya saat kau berada di luar kota, jadi kurasa kita impas.” Ejek Surya dengan menepuk perlahan bahu Lion.

__ADS_1


Lion menepis nya, lalu terdiam saat melihat Evelyne beranjak bangun dari pangkuannya William. “Mau kemana, sayang?” Tanya William dengan suara serak nya, sementara Evelyne hanya menoleh sekilas sebelum ia mulai melangkahkan kakinya kembali untuk berjalan ke luar dari ruangan tersebut. “Cari angin sebentar, kamu berbincang lah dengan tenang.”


“Ini sudah malam, jangan pergi terlalu jauh!” pinta William yang entah di dengar oleh Evelyne natau tidak karena itu bertepatan saat Evelyne menutup pintu ruangan tersebut hingga rapat.


Di sisi lain, Evelyne berjalan di lorong gedung tersebut yang tampak begitu luas namun terlihat sepi karena sudah malam membuat suasana disana terasa begitu tenang bagi Evelyne. Di tambah lagi dengan fasilitas yang cukup mewah membuat Evelyne terdiam sejenak sambil memandang ke arah taman yang berada di samping gedung.


Taman yang tidak terlalu luas namun terlihat segar karena di hiasi okeh beberapa tamanan hijau serta berdirinya pohon besar yang ada di pojok taman. Evelyne sangat menyukai pemandangan ini, tapi ia juga merasa sedikit terganggu akibat pengawasan yang tersembunyi.


Evelyne berkali-kali menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa sekeliling dimana hanya dia seorang saja yang berdiri di pintu samping gedung, tetapi kenapa ia merasa seperti sedang di awasi oleh seseorang? Bahkan ia juga seperti telah di ikuti sejak ia keluar dari ruangan William.


Kring!!


HP Evelyne berdering melihat William tengah menghubunginya membuat Evelyne langsung mengangkat telpon tersebut serta mengambil posisi yang enak untuk pergi dari sana, dan benar saja saat Evelyne hendak pergi meninggalkan tempat itu ada seorang lelaki tengah berdiri tak jauh dari nya dengan memakai pakaian hitam tampak membuat dirinya mencurigakan.


Di tambah lagi, seseorang itu selalu mencuri pandangannya secara diam-diam. Karena tidak mau menimbulkan ke ributan di awal permainan, Evelyne pun hanya mengucapkanb beberapa kata kepada William lalu menutup telponnya. Membiarkan dirinya sendiri berurusan dengannya lelaki yang ada di depannya ini tanpa mengganggu orang yang ada di gedung dan Evelyne sudah tahu siapa yang mengirim lelaki ini untuk mengikutinya.


“Kupikir cara mu bisa lebih baik dari sebelumnya, tapi ternyata masih mudahnya sama seperti dulu.”

__ADS_1


__ADS_2