
...Revisi di Chapter 52 bagian akhir ya🥀🕊...
Evelyne adalah seorang wanita yang pendiam, ia selalu menutupi dirinya sendiri dari keramaian orang-orang disekitarnya. Dia wanita yang lemah, bodoh dan tersesat. Ia bagaikan seperti binatang yang kehilangan jalan pulang, hingga ia berakhir di sebuah rumah yang besar. Letaknya tidak jauh dari kota, tetapi kota mana yang tidak mengenali rumah tersebut.
Rumah itu adalah tempat dimana semua orang akan menjadi pelayan kenikmatan untuk para pemiliknya. Banyak wanita serta lelaki yang terjebak disana, Rata-rata yang menjadi pelayan itu adalah orang miskin yang lemah, sementara pemilik atau tuan yang berhak memerintahkan mereka adalah orang kaya yang kuat.
Evelyne sejak dulu sudah membenci orang yang memiliki kekuasaan tertinggi. Kenapa? Karna dengan kekuasaan itu kan mereka dapat memandang orang yang dibawah mereka seperti anjing peliharaan. Mereka menggunakan orang-orang itu hanya demi kesenangan mereka, dan akan membuangnya jika itu tidak berguna.
Bahkan lebih parahnya lagi, semua orang yang ada disana tidak memiliki rasa simpati sedikitpun kepada orang-orang yang kini tengah menghadapi nasib sialnya. Mereka seperti menutup telinga dan mata mereka untuk menganggap semua tidak pernah terjadi. Itu benar-benar membuat evelyne merasa kesal, tapi saat ini ia tidak bisa melakukan apapun selain menerima dirinya yang menjijikkan seperti ini.
“Berkumpul kalian semua, bajingan!!” teriak penjaga itu seraya mengumpulkan beberapa orang untuk berdiri di tengah-tengah aula.
Mendengar teriak itu, Semua orang yang ada disana dengan cepat berlari untuk mengumpul diri mereka di tengah-tengah aula kosong. Disana terbagi menjadi 2 lantai, ada lantai dasar tempat dimana orang-orang seperti pelayan berkumpul. Sedangkan di lantai atas, tempatnya orang kepemilikan itu berdiri.
Semua yang dibawah, dapat melihat dengan jelas bagaimana penampilan orang berkuasa itu berdiri di lantai atas. Mereka benar-benar melihat semua yang ada dibawah, bagaikan semut yang tidak ada apa-apanya dimata mereka. Sial!! Rasanya ingin sekali mencongkel semua mata itu keluar dari tempatnya.
“Ini adalah malam tahun baru, semua tuan kalian akan melakukan ronde ulang untuk memilih kalian lagi. Jadi, cobalah yang terbaik untuk mendapatkan hati pemilik yang kalian ingin” kata lelaki yang sedang memegang mic di tangannya.
Acara pemilihan pun dimulai, beberapa orang kaya itu turun ke lantai dasar untuk memilih beberapa orang yang ada dibawah. Semua yang ada dibawah, terus melakukan hal yang membuatnya bisa menarik perhatian orang kaya itu. Entar dari memperlihatkannya hal yang tidak senonoh, atau berperilaku yang menurut evelyne menjijikan.
Disaat semua orang sibuk dengan pilihannya, Evelyne malah berniat untuk kabur dari sana. Ia tidak lupa untuk mengajak alexa serta adriella bersamanya. “Ibu, kakak, maukah kalian ikut denganku?” tanya Evelyne yang membuat keduanya ter bingung.
“ikut kemana sayang? Kau ingin pergi kemana?” tanya Alexa dengan suara yang lembut.
Evelyne menolehkan kepalanya sekilas kearah pintu untuk menunjukkan sebuah isyarat tanpa suara kepada 2 orang itu. “Ibu, kakak, apa kalian paham dengan maksudku?”
Memahami maksud dari perkataan evelyne pun membuat kedua orang itu dengan sontak menggeleng, siapa yang bisa membayangkan bagaimana nasib orang yang berusaha kabur dari neraka itu. “T-tidak! Eline, apa yang kau katakan?! Berhenti berpikir seperti itu!” Kata adriella dengan memeluk tubuh evelyne dengan erat. “Kau bisa bisa melakukan itu! Kau tahu ayah kan?”
Yaps, Evelyne baru menyadari siapa Host sebenarnya di tempat ini. Tak lain itu adalah Gilang, ayah dari Evelyne. Mendengar perkataan seorang kakak, Evelyne pun masih bisa membantahnya karna ia tidak ingin terus menerus di jadikan bahan kenikmatan untuk para petinggi. “Tidak kak! Aku tidak bisa berhenti memikirkan hal itu, karna aku sudah lelah dengan semua ini kak!!” bentak evelyne seraya melepas pelukan itu dengan paksa.
“Bagaimana bisa, aku seperti orang buta dan tuli saat mengalami dan melihat semua kejadian ini?! Bu, tolong! Beritahu kakak untuk ikut dengan kita pergi dari sini” kata Evelyne yang beralih menatap alexa dengan tatapan memohon.
Alexa yang tidak bisa berpikir pun hanya bisa Menggelengkan kepalanya “Sayang, kita tidak bisa keluar dari sini! Kau kan tahu, bagaimana sikap ayah jika mengetahui ada seseorang yang berani keluar dari sini”
“Ya aku tahu, tapi kenapa? Apa ibu takut untuk menentang ayah? Apa ibu mau terus menerus diperlakukan seperti binatang disini?” tanya Evelyne yang menatap Alexa dengan tatapan kecewa.
Kedua orang itu pun terdiam, menatap Evelyne yang terus menerus memohon kepada mereka untuk pergi bersama dengannya. Disaat kediaman itu, Mereka pun tak sadar bahwa ada seseorang yang datang menghampiri mereka, lalu menarik tangan Adriella dengan kasar hingga membuat jatuh di dekapan lelaki itu. “Hai cantik, kau beruntung bisa aku pilih! Sekarang bersenang-senanglah dengan apa yang akan aku berikan padamu!” kata lelaki itu dengan mesum.
Adriella hanya terdiam seraya mengerutkan kening serta menahan tubuhnya yang gemetar. Ia ingin melawan, tapi rasanya tidak mungkin jika tubuh lemahnya harus berhadapan dengan tubuh besar lelaki ini. Evelyne yang melihat adriella di pilih oleh seseorang pun membuat dirinya merasa tidak tahan dengan apa yang ia lihat di depannya.
“Bajingan! Siapa yang menyuruhmu untuk menariknya seperti itu, hah?!!” bentak Evelyne seraya menarik tangan Adriella agar terlepas dari pelukan lelaki menjijikan itu.
“Eline” rintih Adriella di dalam pelukan Evelyne saat ia berhasil keluar dari pelukan lelaki itu. “Kakak tidak mau! Kakak tidak mau seperti ini terus, tapi kakak juga tidak bisa melawan ayah”
__ADS_1
Sraakk!!.
Sebuah pukulan cambuk dari lelaki itu melayang tepat di adriella punggung yang kini sedang melemas di pelukan Evelyne. “Aaaakhhhh!!!” jerit Adriella tepat di telinga Evelyne. Sakit, rasanya sangat sakit jika merasakan cambukan itu. Evelyne bisa merasakan bagaimana sakitnya jika cambukan itu mendarat di punggung seorang wanita lemah seperti mereka.
“Kau!! Apa yang kau lakukan, keparat!!!” kata Evelyne seraya menyingkirkan tubuh Adriella dari pelukannya, sementara ia berjalan menghampiri lelaki itu. Lalu dengan tatapan tajamnya, ia menarik baju lelaki itu hingga membuat tubuhnya sedikit menundukkan ke depan. “Beraninya kau melakukan itu dengan kakak ku!!”
“Evelyne!!!??” Teriak seseorang yang membuat Evelyne menghentikan tindakannya.
Mendengar suara lantang yang memanggil namanya begitu keras, Evelyne pun menolehkan kepalanya. Melihat seorang lelaki dengan berbadan besar sedang berjalan menghampirinya, evelyne langsung melepaskan cengkraman baju lelaki itu dengan kasar. Ia juga berdiri dengan tegak serta menatap lelaki itu dengan tatapan tajamnya.
“Siapa yang menyuruhmu untuk membuat keributan seperti ini? Apa kau merasa hukuman ku tidaklah cukup untuk membuatmu merasa kapok?” kata lelaki itu saat berdiri di depan Evelyne.
Evelyne terdiam sejenak, menatap penampilan lelaki itu sangat berantakan. Apakah ia baru saja melakukan hal seperti itu? Evelyne memalingkan wajahnya, “Kurasa akan cukup, jika kau memberitahu bajingan ini agar tidak memilih kak Ella” tunjuk Evelyne kepada lelaki yang ada di belakangnya.
“Jika ia tidak di pilih, lalu kau ingin memberi makan apa pada kakakmu itu? Bukankah masih untung ada orang yang memilihnya?” tanya lelaki itu dengan enteng.
Evelyne mengerutkan keningnya, “Masih untung kau bilang?!!”
Semua hancur karnanya! Aku dan Adriella kini dicap sebagai wanita yang menjijikan, kami telah rusak sejak umur yang masih belasan tahun. Kami dituntut untuk menjadi wanita penghibur bagi para banjingan disini. Kami tidak sekolah, melainkan kamu dipaksa untuk bekerja dipekerjakan yang menjijikan ini.
Ingin bebas, tapi tidak ada jalan untuk kami keluar. Semua cara sudah kami lakukan, tetapi rasanya sangat sulit untuk keluar dari tempat ini. Kami semua disini hanya bisa menerima nasib yang buruk diatas kesenangan para bajingan ini..
Aku rasa, aku dan Ella tidak akan pernah memiliki masa depan yang indah. Kami akan mati membusuk di tempat ini, kami tidak akan pernah merasakan bagaimana udara segar di pagi hari serta indahnya melihat pemandangan matahari yang sedang tenggelam.
Yaps, lelaki yang baru saja menghentikan tindakan Evelyne adalah Gilang. Seorang lelaki pecandu *** atau bisa dibilang hyperseksualitas. Gilang awalnya orang yang normal seperti lelaki pada umumnya, tapi entah apa yang membuatnya seperti ini, evelyne tidak tahu. Ia sudah mengerti Gilang memiliki penyakit seperti itu sejak ia berumur 9 tahun.
Ia selalu saja melihat atau mempergoki Gilang sedang bercumbu dengan kak Ella atau alexa di mana pun. Lelaki itu seperti tidak mengenal tempat dan waktu, hingga itu selalu membuat ia berpapasan dengan tindakan yang seharusnya ia tidak lihat.
Hal itu berlangsung selama 5 bulan. Karna merasa bosan dengan asupan yang seperti itu, Gilang pun membuka sebuah organisasi gelap yang akan menculik beberapa orang di luaran sana. Entah itu lelaki, perempuan, Anak-anak ataupun orang yang sudah lansia. Pria ini gila, dia menyetubuhi siapapun yang sedang berada di dekat.
Evelyne lebih merasa kasihan saat melihat Gilang sedang menyetubuhi seorang nenek yang terlihat sudah sangat rapuh. Gilang bermain dengan sangat kasar, entah dari alat kelaminnya atau dari mainan *** yang selalu ia bawa kemana pun.
Evelyne pernah mencampuri urusan Gilang dengan orang yang tidak bersalah itu, ia mencoba untuk memberitahu Gilang bahwa itu tidak benar. Tapi justru itu malah membuat Gilang marah, dan dengan kasar ia menarik tangan evelyne menuju suatu tempat. Dimana ia disuruh menyaksikan bagaimana Gilang melakukan itu dengan kakak tersayangnya, Adriella.
“Tidak, tidak! Aku mohon tidak!! Ayah...hentikan ini!!” kata Evelyne seraya menutup telinganya dengan tangannya.
Ia benar-benar menyangka akan melihat semua ini dengan jelas. Matanya tidak bisa ia palingkan kearah lain, manik matanya terus dipaksa tertuju kearah dimana ia tidak ingin melihatnya.
“Eline, palingkan wajahmu! Palingkan wajahmu! Jangan lihat aku! Kumohon jangan lihat aku!!” rintih Adriella dengan isakannya.
“Ayah hentikan itu!! Ayah!!” teriak Evelyne seraya berlari mendekati Gilang yang sedang bermain kasar dengan Adriella. “Ayah, aku bilang hentikan!!”
Sraakkk!!
__ADS_1
Sebuah cambukan besar melayang tepat di depan wajah evelyn hingga membuatnya tersambar begitu keras.
...--🥀🕊—
...
“Tidaaakkk!!!!” jerit Evelyne yang terbangun dari tidurnya yang membuat semua teman-temannya terlonjat kaget saat mendengar teriakan itu. Semua yang ada disana langsung menghampiri evelyne yang kini sedang terdiam seperti orang yang kebingungan. “Hey, ada apa denganmu? Kenapa berteriak?” tanya salah seorang dari kumpulan orang-orang itu.
‘Sial!! Kenapa mimpi itu lagi?!’ Evelyne mengusap wajah dan kepalanya dengan kasar.
“Yoona, apa kau baik-baik saja? Ada apa denganmu?” tanya salah satu wanita yang kini sedang mencoba menenangkan Evelyne.
Evelyne melirik kan matanya kearah wanita itu “Aku....tidak apa-apa, maafkan aku”
“Tidak, kau tidak salah. Aku bertanya padamu, apa kau baik-baik saja? Apa kau bermimpi buruk tadi?” tanya Wanita itu dengan suara pelan.
Evelyne membuang wajahnya kearah lain “Aku baik-baik saja, tidak ada mimpi buruk.” kata Evelyne seraya bangun dari duduknya. “Aku ingin pulang lebih awal, maaf sudah membuat keributan disini”
Setelah mengucapkan kata-kata itu Evelyne pun berjalan keluar dari ruangan disaat semua pandangan orang-orang itu tengah menatap kearahnya. “Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?”
“Sstt...sudahlah, ayo kembali bekerja! Kalau nanti ada yang mencari Yoona, bilang saja ia sudah pulang karna tidak enak badan.” Kata salah satu orang yang memimpin semua orang disana untuk kembali bekerja.
Semua kembali terdiam setelah keributan dimana Evelyne terbangun dari tidurnya. Mereka tampa fokus dengan setiap pekerjaannya, hingga ada seorang dari mereka yang mendengar suara getaran dari laci meja kerja milik Evelyne.
Karna takut ada barang yang tertinggal, Wanita yang duduk di samping evelyne pun membuka laci itu. Dan seketika ia terkejut saat melihat sebuah HP sedang bergetar karna panggilan masuk. “Hey, Teman-teman! Sepertinya Yoona meninggalkan HP nya di dalam laci, dan lihatlah! Ada panggilan dari HP nya.” Teriak wanita itu yang membuat semuanya kembali menolehkan kepalanya kearah suara itu datang.
“Benarkah? Siapa yang menghubunginya?” tanya wanita lain yang menyambung.
Wanita itu kembali menolehkan kepalanya kearah HP yang ada ditangannya. “Aku tidak bisa melihat siapa yang sedang menghubunginya, HP ini disandi dan di layar depan tidak ada pemberitahuan. Hanya ada getaran dan bunyi deringnya saja”
“Alarmnya kali” tebak yang lain dengan asal.
Wanita itu menggeleng “Tidak! Ini bukan petunjuk alarm, tapi ini petunjuk ada telpon masuk”
Disisi yang berbeda, terlihat seorang lelaki dengan raut wajah yang kesal dengan memegangi HP nya di dekat telinga. Ia beberapa kali menghubungi seseorang, namun tidak ada jawaban sedikitpun. Hal itu tentu saja membuatnya merasa jengkel. “Tuan, apakah Nona yoona masih belum mengangkatnya?” tanya seorang lelaki yang duduk di kursi sopir.
William menggeleng “Belum, kau naiklah keatas untuk menjemputnya. Aku takut ia tertidur disana”
“Tertidur? Tapi ini sudah mau jam pulang, apa tuan benar-benar yakin dia tertidur di tempat kerjanya yang baru?” lelaki yang kini membuat suasana semakin memanas pun membuat william dengan tajam menatapnya seperti tatapan yang ingin membunuh. “Aah...baik-baik, aku akan pergi menjemputnya! Tuan tunggulah disini”
Lelaki itu pun keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam perusahaan itu, sementara william yang masih berada di mobil terus menghubungi evelyne tanpa henti.
“Sial!! Kenapa tidak diangkat? Kau ini sedang apa sih?”
__ADS_1