
Di kediaman maxime.
Sesampainya di kediaman, William langsung membawa Evelyne yang tengah tertidur di dekapannya dengan cukup lelap. Entah apa saja yang dilakukan Evelyne hingga membuat tubuhnya menjadi seperti ini, benar-benar membuat William sangat mencemaskannya. Dessy yang melihat Evelyne berada di dalam dekapannya dengan mata yang tertutup pun membuatnya berpikir bahwa terjadi sesuatu kepadanya saat di luar.
“William, apa dia baik-baik saja?” tanya Dessy yang menghentikan langkah William yang hendak menaiki tangga.
William menoleh “Dia baik-baik saja bi, dia hanya tertidur karna kelelahan. Jadi aku akan membawanya ke kamar terlebih dahulu.”
“Baik-baik...kau bawalah dia ke kamar terlebih dahulu, dan temani dia. Aku akan menyuruh beberapa pelayan untuk membawakan baskom serta kain bersih untuknya.” Dessy berlari ke arah dapur untuk memanggil beberapa pelayan.
Sementara William hanya menggelengkan kepalanya seraya mengukirkan senyuman hangat di wajah tampannya. “Lihat itu, Evelyne! Bibi sepertinya mulai menyukaimu, bahkan sikap keibuannya sudah diperlihatkan untukmu. Kau tidak lagi sendirian, kau mengerti sayang?”
“Eum..” dehem Evelyne dalam tidurnya.
William membawa Evelyne pergi ke kamarnya, sesampainya di kamar. William langsung meletakkan tubuh Evelyne secara perlahan di atas kasur, dan mulai melepaskan peralatan yang ada di tubuh Evelyne. Dari sepatu, tas, jas hitam, pisau lipat serta menghapus make up Evelyne dengan tisu basahnya.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu mulai terdengar di telinga William saat ia hendak melepaskan pakaian Evelyne dan menggantinya dengan piyama tidurnya. “M-maaf tuan besar, saya datang atas perintah Nyonya dessy yang menyuruh saya untuk membawakan Nyonya besar baskom berisi air hangat serta handuk bersih.”
“Masuklah saja!” ucap William dengan nada dinginnya.
Pelayan itu pun membuka pintu kamar, lalu berjalan masuk dengan perlahan seraya membawa baskom di tangannya. William yang melihat pelayan itu masuk pun langsung memalingkan wajahnya kearah lain, atau lebih tepatnya william memfokuskan pandangannya kearah Evelyne. “Kau letakkan saja baskom itu sana, dan biarkan aku yang akan mengurusnya. Kau bisa pergi sibukkan dirimu.”
“B-baik tuan, mohon untuk memanggil saya jika anda memiliki masalah.” Pelayan itu langsung pergi keluar dari kamar, karna menurutnya william bukan hanya lelaki tampan namun ia juga lelaki yang mengerikan.
Melihat pelayan itu pergi meninggalkannya, William pun hanya terdiam seraya mengambil handuk bersih itu dari atas lemari kecil. Lalu ia menenggelamkan sedikit di air hangat sebelum ia memerasnya. “Tubuhmu begitu kotor, apa mereka melakukan kekasaran padamu? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku sendiri? Kenapa selalu aku yang harus bertanya terlebih dahulu padamu, apa kau tidak bisa lebih mempercayaiku sebagai suami mu ini?”
William membuka baju Evelyne secara perlahan sebelum ia mulai mengusap tubuh Evelyne dengan kain bersih yang kini telah basah karna air hangat. William mengusap tubuh Evelyne dengan sangat lembut, bahkan tidak ada tenaga yang diberikan oleh William saat ia membersihkan tubuh Evelyne.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, William selesai membersihkan tubuh Evelyne dan ia juga sudah memakaikan Evelyne dengan piyama tidur yang hangat. Evelyne sudah selesai ia mengurusnya, William langsung membuang air kotor dari baskom itu ke kamar mandi. William juga merapihkan beberapa barang yang masih tergeletak di lantai dan mengembalikkannya ke tempat masing-masing.
William memang mencintai kebersihkan hingga itu membuatnya sedikit tidak nyaman saat melihat sesuatu barang yang tergeletak dibawah atau tidak tersusun dengan baik.
“Eum...L-liam..” panggil Evelyne dalam tidurnya saat mengetahui tidak ada seseorang yang tengah tidur di sampingnya.
William yang merasa terpanggil pun langsung menghampiri ranjang, lalu duduk di tepi kasur sebelum ia akan menidurkan tubuhnya disana. Namun saat William hendak menidurkan tubuhnya, Evelyne sudah lebih dulu memeluk pinggangnya dengan mata yang masih tertutup. “Liaamm...kau darimana saja? Kenapa kau tadi tidak ada disampingku?”
“Maafkan aku..aku habis beberes kamar tadi. Banyak barang-barangmu yang berserakan di lantai, jadi aku merapihkannya terlebih dahulu.” Ucap William seraya menidurkan tubuhnya disamping Evelyne, dan Evelyne langsung memasukkan tubuh mungilnya dalam dekapan William. “Apa kau tidak bisa tertidur saat aku tidak ada?”
Evelyne menggeleng “Udaranya cukup dingin, dan itu membuat tubuhku merasa kedinginan”
“Dingin? Tapi...mesin pendingin ruangan tidak aku nyalakan. Apa yang membuatmu kedinginan?” William mengecek suhu tubuh Evelyne yang kini terasa hangat, namun ia sedikit mencemaskannya karna Evelyne terus mengatakan bahwa ia kedinginan “Yoona, apa kau ingin pergi ke rumah sakit? Sepertinya kau memiliki masalah dibagian tubuhmu”
Evelyne menggeleng dan semakin memeluk William dengan begitu erat. “Ini sangat menyakitkan! Aku kedinginan, dan tidak ada kehangatan saat itu, tapi..sekarang aku kedinginan dan aku menemukan kehangatan yang berasal dari tubuhmu. Ini benar-benar suatu keajaiban bagiku.”
“....” William terdiam.
Apa lelaki sama sepertiku? Seseorang yang pernah memberikan suatu kejaiban pada wanita kesepian ini? Tapi..jika dia memberikan kejaibannya padanya, lalu kenapa wanita ini lebih mengharapkanku dibandingkan dengannya? Sebenarnya, siapa yang dia pilih? Aku sebagai suami kebetulannya, atau dia yang sepertinya pernah berhasil mendapatkan cinta dihatimu...
Pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari pikiran william benar-benar membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak, karna ia tidak pernah menyangka bahwa yang membuatnya seperti ini bukanlah Yoona, melainkan Evelyne. Wanita yang pernah mendapatkan julukan sebagai iblis yang kejam, ternyata gadis yang berhasil membuat hati beku milik William mencair akibat sikapnya yang terus melawan namun peduli.
...--🥀🕊—...
Keesokkan harinya, Evelyne pergi berangkat ke kantornya bersama dengan William, mereka berangkat cukup pagi hari ini karena William yang akan menghadiri sebuah meeting di perusahaan lain. William juga memesan beberapa makan siang untuk Evelyne di kantor agar ia tidak perlu lagi membelinya di luar.
Evelyne mengerti itu dan hanya menyetujuinya tanpa ragu.
Saat memasuki jam kerja, Jane yang kini menjadi partner kerja Evelyne pun datang keruangannya untuk melakukan suatu pembicaraan, dan Evelyne yang memiliki waktu luang pun langsung menganggukinya serta mempersilahkan Jane untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. “Jadi nona Jane, ada perlu apa anda datang kesini di jam kerja? Apa anda membutuhkan sesuatu?” tanya Evelyne dengan formal.
__ADS_1
“Eum...sepertinya begitu.” Sahutnya dengan anggukan.
Evelyne terdiam, “Jadi apa yang ingin kau butuhkan nona Jane?”
“Pergantian meeting. Bisakah aku meminta untuk melakukan pergantian meeting kepadamu?” Jane berkata seperti orang yang tidak ingin melakukan meeting itu karena sesuatu hal.
Evelyne membalas menggenggam tangan jane yang kini gemetar entah karena apa. “Nona Jane, mohon tenanglah lebih lebih dulu! Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan, jika kau tidak menjelaskan alasannya kepadaku”
“Y-ya, tapi aku rasa penjelasanku tidak akan bisa membuatmu menyetujui ini.” Jane menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang pasrah. “Aku tidak ingin pergi bertemu dengannya lagi, bahkan sampai kapanpun aku tidak ingin bertemu dengannya”
Mendengar Jane tengah mengalami masalah pun membuat Evelyne merasa simpati kepadanya, dan berniat untuk menggantikannya. Lagipula ini hanya sebuah meetingkan? “Jangan berbicara seperti itu dulu, kamu bisa menjelaskannya padaku apa alasanmu maka aku akan berganti posisi jika itu alasan yang masuk akal. Karna aku tidak bisa langsung menyetujuinya tanpa izin dari atasan.”
“Aku mengerti” Jane mengangguk dan mulai memposisikan dirinya menjadi lebih tenang sebelum ia mulai menjelaskannya pada Evelyne. Sedangkan Evelyne yang disana hanya mendengarkan alasan Jane yang kini beralih menceritakan keluh kesahnya.
Setelah ia menyelesaikan ceritanya yang sudah memakan banyak waktu, Evelyne pun mulai mengerti bahwa Jane tidak ingin bertemu dengan temannya hanya karna ia sudah tidak ingin melakukan suatu kontak mata lagi. “Baik, jadi..kau ingin aku menggantikan posisimu dipertemuan itu. Tapi aku akan memiliki kendala sedikit, karna aku juga memiliki jadwal meeting yang sama sepertimu. Jika kamu berkenan, maka kita akan bertukar untuk sementara waktu. Kau menggantikan aku di pertemuanku dengan klien dan aku akan pergi ke pertemuan para petinggi, bagaimana? Apa kau bisa menyanggupinya?”
“Ya, aku bisa. Tapi apa kau sendiri tidak keberatan akan permintaanku ini, Yoona? Setahuku, ini akan menjadi pertama kalinya untukmu pergi ke pertemuan para petinggi. Apa kau baik-baik saja?” Jane berkata dengan rasa bersalah.
Evelyne menggeleng “Justru itu malah yang akan membuatku bisa belajar tentang banyak hal disini, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kau hanya perlu mengajariku sedikit tentang apa yang harus ku lakukan saat itu, bisa?”
“Ya, aku bisa. Aku bisa mengajarimu beberapa hal, bahkan lebih! Terimakasih, Yoona.” Jane tersenyum senang saat ia bisa menghindari pertemuan mereka, bahkan Evelyne yang baru ia kenali kini ia tidak memiliki rasa keberatan hati saat ia membantunya.
Evelyne mengangguk “Baik, sekarang bisakah kau beritahu aku siapa temanmu itu? Mungkin aku bisa memberikan informasih kepadamu saat aku bertemu dengannya”
“Tidak perlu, dia tidak ada yang spesial. Dia hanya mengandalkan status keluarganya yang terpana di kota, jadi ituah yang membuatku malas untuk menghadapinya” Jane mengayunkan tangannya setinggi dagu.
Evelyne mengerutkan keningnya. “Mengandalkan keluarganya? Apa dia termaksud orang penting dikota?”
“Ya, seperti yang kau tahu. Dia mendapatkan julukan ke7 dalam putri di kota ini, bahkan ia juga hampir mengalahkan putri yang ke6 karna pekerjaan ayahnya. Huh...aku tidak tahu lagi harus menghadapinya seperti apa” keluh jane dengan helaan nafasnya.
__ADS_1
Evelyne terdiam, ia seperti mengenali seseorang yang dimaksud oleh jane. Namun ia sedikit tidak berani untuk mengungkapkan pada dunia bahwa wanita itu masih ada di dunia ini. Jane yang melihat Evelyne terdiam pun langsung mengeluarkan hpnya, lalu menekan beberapa kali di layar hpnya sebelum ia memperlihatkannya pada Evelyne. “Ini orangnya!! Apa kau mengenalinya?”
“T-tidak mungkin, b-bagaimana bisa?!!”