
Evelyne mengangkat kepalanya, menatap seorang lelaki tengah berjalan masuk ke dalam kamar hingga membuat suasana disana seketika berubah. “Datang-datang saja, tidak perlu mengubah suasana juga!” gerutu Evelyne dengan suara kecil yang membuat lelaki itu menghentikan langkahnya, serta melirik kan matanya yang tajam.
Evelyne yang merasakan tatapan itu pun ikut menolehkan kepalanya kearah William dengan menajamkan sedikit tatapannya. “Untuk apa kau melihatku seperti itu? Apa kau pikir aku seperti anak kecil yang akan takut dengan tatapan mu?” kata Evelyne yang melawan lelaki itu tanpa sadar. Sedangkan William yang melihat tatapan tajam evelyne pun seketika kerutan diantara dahinya mulai terlihat.
-Apa yang dia lakukan? Apa Melototi ku?-
William terdiam saat melihat sikap yang tidak biasa Evelyne lakukan sebelumnya, bahkan tatapan tersebut bisa William jelaskan sendiri dipikirannya. Tatapan itu tidak memiliki unsur untuk menggoda, dan terlebih lagi tidak ada suatu kilatan yang biasa ditunjukkan oleh Yoona padanya.
William menghela nafasnya, lalu berjalan meninggalkan evelyne yang masih duduk diatas kasur tanpa memiliki niatan sedikitpun untuk mengganti handuknya terlebih dahulu. Sampai William selesai berganti pakaiannya menjadi piyama tidur berwarna hitam kelabu, dan Evelyne masih belum menyelesaikan pekerjaannya tadi.
“Kau masih belum membereskan semua itu?” tanya William dengan nada kesalnya “Sebenarnya apa yang kau lakukan sejak tadi?!”
Evelyne yang mendengar ocehan William pun seketika raut wajahnya berubah menjadi cemberut, “Berisik!! Daripada kau hanya berdiri disana dan berkomentar, lebih baik bantu aku!” ucap Evelyne dengan nada kerasnya. Tak peduli William akan tersinggung atau tidak kepadanya, ia sudah lelah memikirkan bagaimana caranya mengobati luka lengan tangan kanannya menggunakan tangan kiri.
Itu benar-benar sulit!
“Atas dasar apa kau menyuruhku untuk membantumu? Lagipula itu bukanlah urusanku!” William berjalan menghampiri kasur, lalu duduk di sisi lain pinggir ranjang sebelum ia menidurkan tubuhnya disana. Evelyne yang melihat William meninggalkannya tidur tanpa membantunya pun membuat dirinya semakin kesal.
Ditambah lagi dengan rasa kesulitan dalam mengobati luka membuat Evelyne dengan kasat melemparkan handuk tersebut kearah dinding. Lalu dengan emosi ia membuka laci lemari kecil di samping ranjangnya untuk mengambil beberapa obat didalam botol kecil. “Rasanya membosankan sekali jika harus meminum obat ini disetiap saat!” gumam Evelyne seraya mengangkat satu biji obat di tangannya.
__ADS_1
Setelah evelyne selesai meminum obatnya, ia pun langsung menidurkan tubuhnya diatas kasur tanpa melepas baju handuknya. Bahkan ia hanya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya menyisakan tangannya diatas selimut.
...∆∆∆∆∆∆
...
Pagi harinya, Evelyne terbangun dari tidurnya sudah tidak mendapati William disampingnya. Bahkan jendela besar dikamarnya juga sudah terbuka hingga membuat cahaya matahari masuk kedalam ruangan kamarnya. “Sudah pagi saja, perasaan aku baru tidur selama 20 menit” gumam Evelyne yang merasa tubuhnya masih kelelahan.
Tok...tok...tok...
Suara pintu kamar terketuk dari luar yang membuat evelyne menokehkan kepalanya kearah pintu dengan raut wajah yang lesu. “Nyonya, apakah anda sudah bangun?” tanya seseorang dari balik pintu itu. Evelyne yang mendengar dari dalam hanya terdiam seraya beranjak dari kasur untuk berjalan menghampiri pintu yang sedang terketuk itu.
Saat sampai didekat pintu, Evelyne langsung membuka pintu tersebut hingga terbuka dengan lebar. Menampilkan seorang wanita yang sedang berdiri didepan pintu seraya membawa sebuah tas besar ditangannya. “Dessy?” Evelyne menatap Dessy dengan matanya yang masih terlihat sangat mengantuk. Sedangkan Dessy yang melihat kondisi evelyne yang begitu kelelahan pun membuat dirinya kembali mengurungkan niat untuk membersihkan kamar milik Evelyne dan William.
“Nyonya, anda terlihat begitu kelelahan. Apakah anda baik-baik saja?” tanya Dessy yang sedikit mengkhawatirkan kondisi Evelyne.
Evelyne menggeleng, “Aahh... Aku baik-baik saja kok. Cuma tinggal menunggu nyawaku kembali sepenuhnya, maka tubuh ini akan kembali segar! Kau tidak perlu khawatir “ kata Evelyne yang mencoba menghilangkan rasa kekhawatiran Dessy terhadapnya.
“Eum... Dess, apa yang sedang kau bawa itu?” Evelyne menunjuk kearah tas besar berasa di salah satu tangan Dessy. Mendengar hal itu, Dessy langsung mengangkat tangannya untuk memperlihatkan kepada Evelyne lebih jelas bahwa ukuran tas yang ia bawa lebih besar dari yang ia kira. “Oh ini? Ini spei dan bedcover yang baru untuk kamar nyonya dan tuan.”
__ADS_1
Evelyne mengerutkan keningnya, “Yang baru? Bukankah yang lagi dipakai itu juga baru ya?”
“Ya nyonya, keduanya memang baru. Namun tuan muda menyuruh saya untuk selalu menggantinya setiap 3 hari sekali.” Jelas Dessy yang membuat evelyne sedikit terheran. Namun keheranan Evelyne tidak lah diungkapkan secara kata melainkan ekspresi wajah yang membuat Dessy tersenyum saat melihat itu. “Tuan besar memang suka sekali kebersihan sejak kecil, jadi ia sedikit tidak nyaman di ada sesuatu yang kotor sedikitpun”
Evelyne mencibir, “Apakah dia seorang OCD?”
OCD Atau bisa disebut dengan Obsessive Compulsive Disorder, William sejak kecil selalu menyukai kerapihan serta kebersihan secara detail. Bahkan sikap William sering kali membuat orang merasa heran dengan sikapnya uang berlebihan itu, dan banyak orang yang mengatakan bahwa William adalah seorang yang menderita gejala OCD.
Dessy menggeleng lalu tertawa kecil, “Ahh... Kalau itu saya kurang tahu, nyonya. Bahkan jika saya mengetahuinya, saya tidak berani untuk mengatakannya” Evelyne mengangguk paham dan tidak menanyakan hal itu kembali, karna pada dasarnya banyak orang yang tidak menyukai seseorang yang memiliki gejala OCD.
Karna itu benar-benar berlebihan dimata orang yang standar akan kebersihan dan kerapihan.
“Nyonya, sepertinya luka anda sudah sedikit membaik. Apakah obat semalam sudah kau gunakan dengan sempurna?” tanya Dessy yang mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Sementara Evelyne yang mendengar itu pun langsung mengangkat lengan kanannya, dan benar saja semua luka yang ada di lengannya tersebut sudah sedikit membaik daripada semalam.
“Ah... Iya des, sepertinya obat yang kau bawakan semalam sangat sempurna untuk mengobati luka ku. Sebelumnya terimakasih atas obat dan handuknya yang sudah kau berikan. Maaf karna aku tidak sempat mengembalikan semuanya ke bawah, jadi hanya ku taruh di bawah ranjang.” Jelas Evelyne yang dengan tulus mengucapkan kata-kata itu pada Dessy.
Dessy mengangguk atas tanda terimaksih dari Evelyne, namun di kalimat akhir dari wanita itu membuat Dessy seketika mengerutkan keningnya dengan terheran. “Tidak sempat mengembalikan kebawah? Lalu siapa yang mengembalikan semua itu ke dapur, jika bukan nyonya?” tanya Dessy yang membuat Evelyne ikut tertegun disaat itu juga.
“Jadi yang membereskan semua itu bukan kau?” tanya Evelyne yang dikelilingi rasa kebingungan. Sementara Dessy hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan dari Evelyne.
__ADS_1
-Jika bukan Dessy lalu siapa yang membereskannya? Dan lenganku, siapa yang mengobati nya?-