Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 32 : Kepergian Evelyne membuat Dessy khawatir


__ADS_3

Pagi harinya, Evelyne terbangun diatas kasur dengan raut wajah yang linglung. Bahkan baju tidurnya yang sudah sedikit longgar hingga menampilkan salah satu bahu Evelyne yang terlihat putih dan mulus. William yang tengah bersiap di depan meja rias harus beberapa kali menelan ludahnya saat melihat kejadian itu didepan matanya.


Wanita polos tanpa merasa berdosa ini terus menatap William yang tengah berdiri tak jauh dari ranjang dengan tatapan sayu nya. “Tuan, apa kau ingin pergi ke kantor?” Tanya wanita itu seraya mengusap matanya seperti anak kecil yang baru saja terbangun dari tidurnya. Sementara William melirikkan matanya dengan tajam, “Hm..seperti biasa.” Angguk William dengan sekilas menjawab pertanyaan evelyne dengan nada dinginnya.


“Eum.. Baiklah, Berhati-hatilah dijalan.” Kata evelyne saat melihat William tengah berjalan menuju pintu.


William mengangguk, “Beristirahatlah jika masih mengantuk, aku akan meminta Dessy untuk membuatkan mu sarapan setelah kau bangun”


Evelyne mengangguk seraya tersenyum manis di wajahnya. Sementara William hanya terdiam sembari meraih gagang pintu itu dan berjalan keluar meninggal evelyne yang masih terdiam ditempat. William yang baru saja keluar, ia langsung dikejutkan oleh Dessy yang telah membawakan sebuah nampan yang berisi mangkuk serta gula air putih untuk evelyne.


“Tuan besar” sapa Dessy seraya menundukkan kepada sedikit.


William menjawab sekilas lalu menatap nampan yang tengah di bawa oleh Dessy untuk Evelyne. Dessy yang menyadari tatapan itu pun langsung mengangkat sedikit nampan itu seraya berkata “Ini sarapan untuk nyonya, tuan. Apakah ada masalah dengan menunya?”


William menggeleng, “Tidak, kau bisa bawa itu kembali ke dapur!”


“Lho kenapa tuan, apakah nyonya tidak suka dengan menu hari ini? Kalau memang tidak suka, saya bisa menyuruh koki untuk memasakkannya yang baru.” Kata Dessy dengan raut wajah yang kecewa.


William terdiam sejenak, menatap Dessy yang sudah mulai merubah sikapnya dengan evelyne saat ia terakhir keluar dari rumah sakit. Bahkan sekarang dia lebih menjaga dan memerhatikan evelyne dibandingkan dirinya.


Dessy adalah pelayan pertama yang merawat William sejak kecil. Dan Dessy juga wanita kedua yang memberinya kasih sayang setelah ibunya, bahkan kehangatan yang dulu Dessy berikan padanya hampir terasa sama dengan ibunya. Entah kenapa William jika melihat Dessy selalu menjaga jaraknya karna status mereka, membuat dirinya sedikit merasa tidak nyaman dengan sikap itu.


Bahkan sekarang? Sikap Dessy dengan evelyne membuatnya teringat akan sikap keibuan Dessy terhadapnya.


“Tuan besar? Ada apa?”


Dessy melihat William terdiam membuat dirinya sedikit mencemaskan William karena sudah beberapa bulan ini, William sangat jarang sekali pulang dan menyempatkan waktunya di kediaman. Sementara William hanya menggeleng mendengar hal itu. “Tidak bi, tidak apa-apa. Soal makanan itu bukan dia tidak suka. Tapi karna dia masih tertidur jadi aku menyuruhmu untuk menaruhnya kembali di dapur. Dan menyiapkannya saat ia sudah bangun saja”


Dessy mengangguk paham, “Oh begitu, baiklah tuan.”


Setelah mendapat instruksi itu, Dessy pun menundukkan kepalanya sekilas lalu berbalik badan dan pergi. Sementara William hanya terdiam seraya menatap punggung dessy tengah menuruni tangga dengan perlahan.


William yang sudah terlambat pergi ke kantor pun membuat ia segera menuruni tangga dan berjalan keluar dari kediaman tanpa mempedulikan sekitar. Entah seberapa banyak pelayan yang ada di kediaman tua, ia tidak peduli.


...__🥀🕊__


...


Disisi lain, Evelyne yang merasa tubuhnya sangat lelah pun kembali menidurkan tubuhnya diatas kasur lalu mulai memejamkan matanya dengan perlahan. Namun dengan saat itu juga matanya kembali terbuka dengan cepat, seperti seseorang yang terkejut dalam tidurnya. “Aku ingin bertemu dengan ibu dari pemilik tubuh ini!” gumam evelyne seraya bangun dari tidurnya menjadi duduk.


-Jangan bercanda deh! Bagaimana bisa kau masih memikirkan hal itu, padahal jelas-jelas kau tahu bagaimana sikap keluarga jiang padamu terakhir kali!-


“Aku tahu, tapi ini bukan keinginanku. Tapi keinginan dari pemilik tubuh ini, jadi aku harus menurutinya”


-Apa yang kau bicarakan? Sejak kapan kau terlihat seperti dibawah kendali perasaan wanita ini?-


“Sejak aku terbangun disini! Lagipula ini hanya sekedar membawa ibunya keluar dari tempat itu, dan aku rasa itu tidaklah sulit”


-Kau terlalu percaya diri... Lagipula kau juga tidak tahu kan bagaimana keluarga jiang yang sebenarnya?-


“Aku akan tahu nanti setelah kita membawa ibunya kesini!”


Evelyne beranjak dari ranjang dengan begitu semangat, sementara seseorang di dalam dirinya hanya menghela nafasnya dengan pasrah. Ia tahu eline adalah wanita yang keras kepala namun hatinya baik, tetapi karna kebaikan dari hatinya yang membuat dirinya terkadang tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti.

__ADS_1


Tak memerlukan waktu yang lama, Evelyne sudah selesai bersiap dan hari ini dia tidak memakai dress. Melainkan sebuah kemeja berlengan panjang warna hitam yang di sandingkan oleh celana panjang yang sewarna dengan kemejanya, serta rambut panjang yang terkuncir kebelakang seperti buntut kuda.


Evelyne berlari keluar dari kamar menuju lantai bawah tanpa sepengetahuan dari pelayan manapun. Bahkan kepergiannya pagi ini, tidak ada yang mengetahuinya. Wanita itu berangkat tidak menggunakan mobil milik dirinya ataupun milik William, tetapi wanita itu malah lebih memiliki untuk pergi menggunakan taksi online saja.


-Apa tidak apa-apa, jika kau pergi tanpa pamit seperti ini?-


‘Eum... Entahlah, kurasa tidak apa-apa. Lagipula kepergianku juga hanya sebentar, dan tidak akan lama kok. Jadi untuk apa izin?’


-Huh...eline, bisakah kau memikirkan sedikit saja nasibmu nanti?-


‘Bisa, tapi aku akan memikirkannya nanti'


...--🥀🕊—


...


Hari menjelang siang, Dessy yang tengah mengatur semua pelayan kini merasa sedikit aneh karna sudah dari pagi evelyne tidak keluar dari kamarnya. Bahkan hari ini sudah sangat siang dan bahkan ini hampir memasuki makan pagi, tetapi tidak ada seorang pelayan pun yang melihatnya keluar dari kamar.


Dessy menghela nafasnya, “Sepertinya Nyonya masih belum bangun dari tidurnya.”


Memikirkan itu, Dessy sempat berpikir bahwa evelyne memiliki kebiasaan yang sama seperti William dulu, namun tidak sepenuhnya sama. ‘Anak zaman sekarang, kalau tidak memiliki kegiatan pasti akan di kamar terus' batin Dessy seraya berjalan masuk ke dalam kediaman dan menaiki tangga untuk pergi menuju kamar evelyne.


Baru saja Dessy sampai di depan pintu kamar, hatinya sudah diselimuti oleh perasaan yang tidak nyaman entah karna apa. Tetapi Dessy awalnya hanya menganggap hal itu biasa, tetapi saat ia mengetuk pintu itu beberapa kali dan memanggil seseorang yang ada didalam. Panggilan sama sekali tidak ada yang meresponnya.


Tok...tok...tok...


“Nyonya? Nyonya, apa anda masih tidur?”


“ Nyonya, ini sudah hampir siang. Tolong bangun nyonya, apakah anda tidak lapar dari sejak pagi tidak bangun untuk sarapan?”


Dessy beberapa kali mengetuk pintu itu, namun sayangnya tidak ada sahutan ataupun respon dari dalam. Hingga membuat Dessy agak sedikit cemas, karna takut terjadi apa-apa dengan Evelyne yang berada di dalam.


“Nyonya, maaf atas kelancaran saya!!??”


Dessy membuka pintu kamar itu yang syukurnya tidak di kunci dari dalam. Tetapi Dessy kembali terdiam ditempat saat melihat suasana dikamar yang tampak begitu sepi dan sunyi. Awalnya ia mengira bahwa Evelyne tengah berada di kamar mandi atau di ruang ganti. Tetap saat ia memeriksa seluruh bagian kamar, ia tidak bisa berkutik lagi saat menyadari bahwa evelyne benar-benar tidak ada di kamarnya.


“Nyonya?!! Nyonya dimana anda?!!”


Dessy yang panik pun langsung berlari keluar dari kamar dengan meneriaki nama Evelyne, dan hal itu tentu saja membuat kepala asisten yang sedang berada di ruang tamu segera menghampiri dengan raut wajah yang terheran. “Hey! Ada apa kau berteriak-teriak seperti ini?” tanya kepala asisten yang melihat Dessy sudah seperti orang yang kebingungan.


“Tuan, dimana Nyonya?! Dimana nyonya besar?!”


Kepala asisten terbingung, “Hey apa yang kau bicarakan? Nyonya belum keluar dari kamarnya, sudah pasti dia masih tertidur, karna tuan besar saja mengatakan hal itu padaku”


“Tidak!! Nyonya, tidak!!”


“Hah?? Apa yang kau bicarakan sih? Coba tenangkanlah dirimu dan bicarakan semua dengan baik-baik!!” kata kepala asisten seraya memegang kedua lengan bagian atas Dessy untuk membantunya tenang.


Dessy mengangguk, lalu secara perlahan ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan. Hingga tubuhnya terasa sedikit lebih tenang, Dessy kembali membuka suaranya untuk menyampaikan sesuatu yang gawat. “Tuan, apa kau melihat Nyonya sejak tadi pagi?”


“Tidak, memangnya kenapa?”


Dessy tertegun, hatinya yang tenang kembali mencemaskan keberadaan evelyne saat ini. “N-Nyonya... Nyonya tidak ada di dalam kamarnya!” kata Dessy seraya menunjuk kearah kamar tersebut.

__ADS_1


“Tidak ada di kamar, mungkin nyonya sedang berada di taman. Beliau kan sudah sering sekali duduk disana saat pagi” jawab kepala asisten itu tanpa sadar.


Degh!


Kepala asisten seketika tertegun di tempat saat ia selesai mengucapkan kata-kata. Karna ia merasa bahwa dirinya telah berkata yang sangat tidak masuk akal. Jelas-jelas sejak tadi pagi ia berada di taman untuk mengurus beberapa orang yang datang membawa tanaman pesanan dari tuan besar, dan ia juga tidak melihat Evelyne berada disana.


Bahkan di dalam kediaman, ia juga tidak merasakan keberadaan dari wanita itu sejak pagi. “T-tunggu!!... Apa maksudmu nyonya menghilang sekarang?” tanya kepala asisten yang kembali memastikan pendengarannya.


Dessy mengangguk tak berkata, karna jika ia berkata maka kekhawatirannya akan semakin meningkat. “Apa kau sudah mencoba menghubungi Nyonya? Takutnya nyonya sedang keluar dan tidak sempat memberitahu kita saat itu” tanya kepala asisten yang mencoba positif thinking akan semuanya.


“Bagaimana aku menghubunginya jika HP nyonya saja berada di kamarnya!!”


...--🥀🕊—


...


Disisi lain, terlihat Evelyne sedang bertengkar dengan seorang lelaki yang tengah menghalangi jalannya masuk ke dalam kediaman jiang. Hal itu tentu saja membuat para penghuni disana keluar dari kediaman untuk melihat seorang penjaga tengah beradu fisik dengan Evelyne. ‘Huh... Aku tidak percaya akan hal ini! Baru saja datang, sudah di ajak bertarung saja dengan orang yang lebih lemah dariku.’ Batin evelyne yang semakin menyombongkan dirinya


“Berhenti!! Apa yang kalian lakukan?!!”


Suara keras yang terdengar marah seketika membuat perkelahian antara Evelyne dengan penjajahan itu dihentikan secara paksa. Dan hal itu membuat evelyne merasa tidak mood karna lawannya belum kalah tetapi sudah dipaksa berhenti! ‘ckk.. Merusak moodku saja'


Evelyne menatap dingin sekumpulan orang yang tengah berdiri di depan pintu kediaman jiang, sebagian dari tatapan orang itu ada yang tengah menatapnya dengan jijik, marah, kesal dan benci. Semua tatapan itu bisa evelyne ketahui walau hanya sekali lihat.


“Apa yang kau lakukan disini?!” tanya Gavin dengan suara yang kesal.


Evelyne saja merasa jengkel saat mendengar amarah itu, “Dia menghalangi jalanku, jadi apa salahnya jika aku menyerangnya?”


“Tapi tuan tidak memberikan kau masuk dengan seenaknya di tempat ini!!” bantah penjaha itu dengan nafas yang terengah-engah.


Evelyne melirikkan matanya dengan tajam kearah penjaga itu, “Ayah yang tidak memberikanku masuk atau memang kau yang sedang mencari masalah denganku?!”


Melihat tatapan tajam yang menusuk, penjaga itu pun langsung bergidik ngeri melihat poster tubuh evelyne yang sama sekali tidak terlihat kelelahan setelah bertarung dengannya. “Kau ini lemah, jadi jangan sesekali mempunyai mimpi untuk bisa berurusan denganku!!” tekan Evelyne yang membuat sekujur tubuh penjaga itu gemetar.


“Cukup Yoona!!” bentak Gavin yang membuat Evelyne dengan sontak menolehkan kepalanya kearah lelaki tua itu. “Ada urusan apa kau datang kesini?! Ayah kan sudah bilang, jangan pernah kembali kesini sebelum kau mengirim kami uang!!”


“Aku tahu, tapi aku datang kesini lebih dari itu” Evelyne melemparkan sebuah kantong yang berisi segepok uang yang bernilai tinggi. Maisha yang melihat itu tentu saja langsung mengambilnya dengan raut wajah yang gembira. “Sayang, lihat! Banyak sekali” kata Maisha kepada putra putrinya. Sementara Gavin hanya terdiam seraya menatap evelyne dengan tatapan dinginnya.


“Apa maksud dari perkataanmu?!”


“Aku ingin bertemu dengan ibu! Aku sudah membawa uang lebih banyak dari yang kau minta, jadi kau tidak bisa menghalangiku lagi untuk bertemu dengannya”


“Tapi aku tidak mengizinkanmu!”


Evelyne tertegun serta dengan sontak menatap tajam kearah lelaki itu sembari meletakkan tangan Dipinggangnya yang terdapat sebuah sarung berbentuk pisau. Maisha yang terlalu gembira pun langsung menyenggol lengan Gavin dengan pelan, “Sudahlah sayang, biarkan dia bertemu dengan wanita kampung itu! Lagipula dia sudah membawakan uang ini kan?!” kata Maisha tanpa melihat kearah Gavin.


Mendengar hal itu, Gavin hanya terdiam lalu mengangguk. Berbalik badan lalu berjalan masuk seperti menuntun jalan Evelyne. Sedangkan Evelyne kembali bersikap tenang setelah melihat Maisha dengan mudah dibuat kerja sama karna uang.


Gavin dan yang lainnya menuntun evelyne ketempat yang cukup jauh jaraknya dari kediaman utama jiang, bahkan lorong setiap lorong yang mereka seperti tampak seperti tidak terurus. Sangat kotor dan berdebu, sempat Evelyne berpikir hal buruk namun pikirannya menenangkan dirinya agar melihat dulu apa yang sedang mereka jalankan.


Hingga tiba disuatu tempat seperti penjaga bawah tanah yang membuat evelyne tidak bisa mengelakkan kembali pikiran buruknya. Karna sangat tidak mungkin ibu dari pemilik tubuh ini akan berada ditempat seperti ini. Bahkan setiap lorong yang ia lewati begitu gelap dan hanya di terangi oleh beberapa obor saja.


“Apa maksud kalian?! Tempat apa ini?!!” tanya evelyne dengan nada yang kesal.

__ADS_1


Maisha tertawa kencang saat itu, menara evelyne dengan tatapan yang begitu merendahkan harga diri evelyne. “Tentu saja tempat ibumu tinggal, memangnya kamu pikir ibumu akan tinggal di mana?”


__ADS_2