
Evelyne yang baru saja keluar dari kamar mandi pun seketika terdiam saat melihat William tengah berdiri di depan pintu seperti sedang berbicara dengan seseorang, namun saat Evelyn hendak menghampirinya William seketika menolehkan kepalanya kearah Evelyne dengan mengukirkan senyuman hangat di wajah tampannya itu. “Kau sudah selesai mandi, sayang?”
“Ya, aku baru saja menyelesaikannya. Apa yang kau lakukan di depan pintu, Liam? Apa ada tamu yang datang?” Tanya Evelyne dengan penasaran.
William menggeleng, lalu ia menutup pintu kamarnya seraya berjalan menghampiri Evelyne buang kini berdiri di hadapannya. “Tidak ada, hanya Nathan yang datang mengabari ku untuk memberitahu kondisi perusahaan saat ini”.
“Ohh, jadi bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja, jika kamu tidak ada disana?” Evelyne menatap William dengan terheran.
William tersenyum saat ia berdiri tepat di depan Evelyne “Mereka bisa melakukan itu tanpa aku, jadi bagaimana kalau jika pergi keluar untuk melihat sesuatu yang indah?”
“Aku sudah melihat beberapa yang kau tunjukan tadi, apakah masih ada sesuatu yang seperti itu di kota ini?” tanya Evelyne.
William mengangguk lalu dengan perlahan ia menggandeng tangan mungil Evelyne saat ia hendak membalikkan tubuhnya untuk berjalan keluar dari ruangan tersebut. Evelyne yang melihat sikap William yang terlihat sedikit aneh pun membuatnya merasa kebingungan, namun ia juga memiliki perasaan yang tidak enak muncul di hatinya yang kecil.
“Liam, apa semuanya baik-baik saja?” Evelyne bertanya dengan suara yang pelan hingga William yang berjalan di depannya sampai tidak mendengar sedikitpun perkataan yang baru saja ia lontarkan.
Selama perjalanan itu, Evelyne merasa bahwa suasana diantara mereka begitu canggung. Karna William yang selama ini tidak membuka mulutnya untuk melakukan pembicaraan terhadapnya, bahkan sikap dari William begitu tenang hingga membuatnya berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi kepadanya. “Liam, apa kau baik-baik saja?”
“Eum...aku baik-baik saja. Ya...semua akan baik-baik saja” angguk William dengan penuh keyakinan.
Evelyne terdiam saat melihat itu, namun ia juga seketika terkejut saat melihat sebuah hp yang terlihat cukup asing di matanya. Hp itu terlihat mahal, namun ia berpikir bahwa ia tidak pernah melihatnya dimanapun. Bahkan di mall yang tadi siang mereka kunjungi juga tidak memiliki hp yang seperti ini. “Liam, apa ini milikmu?”
“Ya, itu milikku. Sebelumnya aku pernah meminta Nathan untuk membelikannya yang baru, tapi membutuhkan beberapa waktu untuk membuatnya sampai di negara ini.” Jawab William yang membuat Evelyne dengan sontak terkejut “Memangnya kamu membeli ini dimana?”
William terkekeh sejenak “Aku membelinya di XXXX, disana aku memiliki kenalan yang berbisnis besar di sebuah perusahaan hp yang terkenal di negaranya. Banyak orang yang menyukai hasil yang di dapat olehnya, tapi karna hp yang ia buat terlalu bagus dan canggih...ia terpaksa untuk menjualnya dengan harga yang sangat tinggi..”
“Jika tinggi, lalu kenapa kau membelinya?” tanya Evelyne dengan terheran.
Sementara William terdiam sejenak seraya memberikan hp tersebut kepada Evelyne. “Kau bisa melihat dan menilainya sendiri!” Evelyne mengambil hp tersebut dari tangan William, lalu melihat merek, tampilan serta kualitas yang terdapat di hp itu membuat Evelyne sedikit terheran. “Apa ini merek terbaru yang akan keluar nantinya?”
“Tidak. Ini hanya edisi terbatas yang hanya akan ada jika pelanggan memintanya, tapi jika tidak maka tidak akan ada.” Ucap William dengan gelengan kepala.
Evelyne menghela nafasnya “Mempunyai banyak uang, apa enaknya?”
“hah?” William tertegun “Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?”
__ADS_1
Evelyne menggeleng “Tidak ada, hanya berpikir bahwa seseorang akan lebih di hormati jika ia memiliki banyak uang, dan tidak akan pernah memiliki musuh.”
Mendengar perkataan itu, William pun terkekeh lembut di keheningan malam sebelum ia akan menghentikan mobilnya di sebuah parkiran yang sangat sepi. “Dapat darimana perkataanmu itu? Apa benar-benar terkejut saat mendengarnya”
“Apa yang kau tertawakan? Apakah lucu pertanyaanku tadi?” ucap Evelyne dengan merajuk.
William yang melihat itu tentu saja langsung menghentikan tawaannya, lalu dengan tangannya yang memanjang. Ia mengelus kepala Evelyne dengan lembut seraya berkata “Tidak semua orang bahagia karena uang, dan tidak semua orang yang beruang tidak memiliki musuh.”
“....” Evelyne terdiam, memang benar adanya perkataan William tadi. Karena jika ia mengingat bagaimana kehidupannya dengan kehidupan isabella (ibu kandung William) bisa menjadi jawaban atas pertanyaannya sebelumnya. “Sudah puas dengan jawabanku? Jika sudah, ayo kita keluar. Kita sudah sampai di tempatnya” William mengecup sekilas kepala Evelyne yang kini tengah menunduk.
William keluar dari mobil setelah ia melepas sabuk pengamannya, dan Evelyne juga keluar mengikuti William dalam ekspresi yang masih memendam sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan. Bahkan saat hatinya ingin berkata jujur, pikirannya malah membuat ia merasa takut jika kejujuran ini membuatnya berpisah dengan William.
Evelyne tidak tahu perasaan apa yang muncul akhir-akhir ini di dalam hatinya. Dulu, ia sangat membenci William, bahkan ia juga berniat menargetkan William sebagai korbannya selanjutnya karna memiliki kesamaan yang sama seperti Dion. Tapi seiring berjalannya waktu, Evelyne tidak memiliki dendam apapun lagi di dalam hatinya, dari dendam yang ia selama ini simpan kini telah lenyap saat ia mendapatkan suatu kehangatan serta keinginan dari seseorang.
Perasaan ini muncul secara murni, tapi apakah kejujuran akan membuat perasaan ini hancur?
William yang hendak berjalan memasuki tempat itu pun seketika terdiam saat melihat Evelyne tengah termenung lama di tempatnya berdiri, bahkan raut wajah Evelyne seperti menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang begitu dalam. “Sayang...Apa yang kau lakukan disana?”
“A-aahh...t-tidak” Evelyne tersadar “M-maafkan aku”
“Tidak, aku tidak memikirkan apapun.” Geleng Evelyne dengan kebohongan “Liam... Tempat apa ini? Kenapa gedungnya begitu besar dan belum juga tutup? Padahal ini sudah hampir menunjukkan pukul tengah malam”
William tersenyum “Ini tempat kenanganku, Gedung Golden Flower Of Life”
“Kenangan?” gumam Evelyne dengan pelan.
Sementara William yang tidak sabar untuk memperlihatkan semuanya pada Evelyne pun langsung menarik tangannya untuk berjalan sedikit lebih cepat menuju gedung tersebut. Lagi-lagi Evelyne di buat terkejut dengan bangunan gedung yang sangat besar dan tinggi serta cahaya penerang yang ada di sekitar halaman gedung membuatnya terlihat semakin indah.
Gedung ini dinamakan sebagai Gedung kenangan, berbeda dengan Evelyne yang menyatakan bahwa Gedung ini adalah Gedung kehidupan.
Saat William berjalan memasuki Gedung tersebut bersama dengan Evelyne, mereka seketika disambut hangat oleh seorang lelaki tua dengan senyuman yang hangat tengah berdiri di depan pintu utama. “Selamat datang ke Gedung Golden Flower Of Life kami, Tuan muda maxime.” Sapa lelaki tua itu dengan menundukkan kepalanya saat William berdiri di depannya.
“Paman Jun, senang bertemu denganmu. Anda tidak perlu seformal ini denganku” ucap William dengan nada dinginnya, namun nadanya masih terdengar hormat.
Paman Jun tersenyum “Saya masih belum terbiasa untuk melakukannya, Tuan. Tapi disisi lain, saya senang bisa menerima kedatangan tuan dengan...” paman Jun menghentikan perkataannya saat manik matanya melirik kearah Evelyne.
__ADS_1
“Ini istriku, paman. Namanya...” William ragu-ragu “Y-Yoona Jiang. Kami sudah menikah 2 tahun yang lalu, tapi tidak dirayakan secara besar-besaran. Jadi paman mungkin tidak akan mengenalinya”
Paman Jun mengerti dan ia langsung menganggukinya “Senang bisa berkenalan dengan anda, Nyonya Jiang.”
“Senang berkenalan denganmu juga, tuan Jun” balas Evelyne dengan anggukan sekilas.
Selesai saling berkenalan, ke3 orang itu pun langsung berjalan memasuki aula utama gedung yang kini telah di sambut indah oleh beberapa pohon bunga yang besar. Evelyne benar-benar terkagum-kagum saat memasuki aula itu, manik matanya juga seketika berbinar saat melihat semua keindahan ini. “Waw...ini sangat luar biasa!”
William tersenyum dalam hatinya saat melihat kesenangan Evelyne saat melihat keindahan bunga-bunga yang ada di dalam gedung itu, namun saat Evelyne ingin mencoba melihat bunga itu lebih dalam lagi seketika membuat William langsung menarik tangannya hingga Evelyne terjatuh dalam dekapannya. “Ingin kemana kamu? Apa kamu sudah mendapatkan izin dariku, sebelum kau akan pergi?”
“Tidaakk... Lagipula aku hanya ingin kesana” tunjuk Evelyne seperti anak kecil “Aku penasaran dengan yang ada disana, bisakah kamu mengizinkan aku untuk melihatnya sebentar?”
William menggeleng, lalu dengan tubuh yang sedikit menunduk William berbisik “Kita akan pergi melihatnya bersama, tapi untuk saat ini kita akan pergi makan terlebih dulu. Apa kau tidak merasa lapar setelah melakukan perjalanan jauh?”
“Eum...ya, aku lapar” angguk Evelyne seraya memegang perutnya
William tersenyum, lalu dengan gemas ia mencubit pipi chubby Evelyne hingga membuat pemiliknya merasa kesal. “Liam, apa yang kau lakukan? Itu sangat menyakitkan, kau tahu itu?”
“Hahaha...Ayo kita pergi makan dulu, setelah itu kita lanjutkan berkelilingnya” William mengelus kepala Evelyne dengan gemas, lalu ia menolehkan kepalanya kearah paman Jun “Paman, kita ingin pergi makan terlebih dahulu. Bisakah antar kami kesana?”
Paman Jun mengangguk dengan senyumannya yang lebar “Baiklah, Tuan. Mari ikuti saya..”
Mereka pun pergi ke sesuatu tempat yang dimana aula tersebut menempatkan sebuah meja yang panjang serta kursi yang tersusun rapih di samping meja. Di atas meja tersebut juga sudah terdapat beberapa makanan yang baru saja di hidangkan. Paman Jun mempersilahkan mereka untuk makan terlebih dahulu di tempat ini, sementara dirinya akan pergi menyibukkan diri.
William dan Evelyne pun duduk di salah satu kursi yang ada disana untuk menikmati makanan yang sudah dihidangkan untuk mereka, awalnya Evelyne masih merasa malu untuk mencicipinya. Tetapi karena William terus menyuapinya dengan lembut, membuatnya sedikit tidak enak karena William hanya sibuk menyuapinya tanpa memikirkan dirinya sendiri. “Liam, berhentilah menyuapiku. Aku bisa makan sendiri, kau makanlah makananmu sebelum itu menjadi dingin”
“Aku sudah makan beberapa, jadi sudah cukup.” Ucap Willian yang masih menyodorkan makanan di depan mulut Evelyne.
Evelyne menggeleng, lalu dengan perlahan ia menjauhkan sendok tersebut dari mulutnya. “Aku sudah kenyang, tidak ingin melanjutkannya lagi.”
“Eum...baiklah” Angguk William dengan menurunkan sendok itu serta menjauhkannya dari Evelyne “Jika sudah kenyang, apa ingin berkeliling lagi?”
Evelyne mengangguk semangat “Ya, mari lanjutkan kegiatan yang tadi..”
Setelah makan selesai, Evelyne langsung menarik tangan William untuk pergi ke sesuatu tempat yang ada disana. Namun saat melihat wajahnya yang cantik kini di hiasi oleh senyuman manis membuat William sedikit merasa senang tetapi sedikit merasa sedih. “Jika Tuhan memberikan satu kesempatan, biarkan aku mencintaimu dengan wujud aslinya tanpa harus bersembunyi di wujud palsumu”
__ADS_1