Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 39 : Aku disini menemanimu!


__ADS_3

“Ibu, malam ini kita akan makan dengan apa?” Teriak evelyne dari ruang tamu.


Liliana yang mendengar teriakan itu pun menjawabnya dengan suara yang lembut namun terdengar keras. “Ibu lupa membeli bahan makanan dirumah ini, sayang. Jadi nanti kita akan makan di luar saja”


“ Tidak perlu bu, aku akan keluar untuk mencari makan. Udara di malam ini cukup dingin, jadi kita akan makan malam di rumah saja.” Sahut Evelyne dari luar.


Liliana mengangguk “Baiklah sayang. Kamu jangan lupa pakai jaket mu! Ini tidak ingin kau sakit lagi”


“Baik komandan!” ledek evelyne dengan akhiran tawa kecilnya.


Evelyne pun berlari ke kamarnya untuk mengambil sebuah jaket di gantungan baju. Jaket itu berbahan tebal, jadi tidak akan membuat dirinya kedinginan saat membeli makanan di luar. Dengan penuh semangat, evelyne keluar dari rumah dengan memakai jaket berwarna hitam serta hoodie yang menutupi kepadanya.


Tak lupa, ia juga memakai masker agar tidak ada orang yang mengenalinya.


Di perjalanan, evelyne berjalan dengan penuh riang. Karna jarak toko makanan dengan rumahnya tidak terlalu jauh, jadi ia lebih memilih untuk berjalan kaki daripada harus menggunakan taksi online. Dan lagi, evelyne juga ingin mengenal tempat itu lebih dalam.


Evelyne bersenandung dengan senang, kepalanya juga ikut bergerak ke kanan kiri saat mengikuti alunan lagunya. Beberapa orang yang ada dijalan pun seketika menoleh kepada saat mendengar senandungan yang di keluarkan oleh evelyne dari mulut. Semua orang disana hampir kedinginan karna udara, tetapi wanita itu malah bernyanyi di tengah-tengah keramaian tanpa tahu bahwa dirinya sudah menjadi pusat perhatian orang.


Setelah sampai di toko, evelyne langsung membeli beberapa makanan yang disukai oleh dirinya dan Liliana. Ia juga membeli beberapa minuman hangat untuk ia sedih di rumah. Setelah semuanya selesai, evelyne langsung berjalan keluar dengan membawa bungkusan di tangannya. Bungkusan itu memang besar, tapi tidaklah berat dan tidak menyusahkan Evelyne juga.


Karna bosan dengan jalan biasa, evelyne pun berniat untuk mengambil jalan mutar yang jaraknya agak jauh. Baru setengah dari perjalanannya, Evelyne dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya dengan antusias menyembunyikan dirinya dari balik tembok. “Apa itu?”


Tak lama saat melihat itu, evelyne merasakan sesuatu yang terasa begitu sakit di dalam hatinya. Pikiran yang tenang kini menjadi berantakan saat melihat itu. Evelyne tidak kuat menahan rasa itu, jadi ia berdiam sejenak seraya menyandarkan tubuhnya pada tembok tersebut. Setelah sudah merasa tenang, evelyne langsung keluar dari tempat persembunyiannya untuk berjalan melewati ke2 orang itu dengan wajahnya yang gelap.


Bahkan kedatangan Evelyne secara tiba-tiba, membuat ke2 orang itu menatapnya dengan terheran. Setelah melewati mereka, Evelyne dengan cepat berjalan meninggalkan mereka dengan raut wajah yang gelap serta tangan kanan yang masih setia memegangi dadanya yang terasa sakit.


Setelah berjalan cukup jauh dari tempat itu, Evelyne berhenti sejenak di sebuah jembatan besar yang menghubungkan antara kota dan penduduk desa disana. Evelyne menjatuhkan makanan yang ia pegang, tubuhnya yang lelah kini ia sandarkan kembali pada tiang jembatan dengan tangan yang menutupi mulutnya.


“Sialan!!”


Evelyne menangis, air mata yang ia tahan selama perjalanan kini menetes dengan terus menerus membasahi pipi nya yang mulus. Bahkan itu membuat suara isakan terdengar di malam yang sepi. Sakit...ya sakit. Hati ini menangis karna terluka. Pikiran ini seketika berantakan saat melihat semuanya.


Awalnya ia kira, dengan mempunyai perasaan maka ia akan menjadi lebih baik daripada dirinya yang dulu. Tetapi siapa sangka bahwa itu akan membuatnya menjadi lemah saja. Memangnya apa yang ia lihat? Kenapa sampai membuatnya menangis hingga terisak-isak seperti itu.


Dessy pernah mengatakan bahwa tuan William selama seminggu tidak bisa menjenguknya karena ada beberapa urusan yang harus ia kerjakan di kantornya. Bahkan Dessy mengatakan kalau William akan Menjenguknya nanti. Tapi kenyataan sekarang?...


Ia melihat semuanya tepat di depan hadapannya. Bahkan ia sampai harus bersembunyi agar tidak ketahuan oleh mereka. Jika di pikir secara logika, Evelyne ini berdiri dalam posisi apa? Kenapa rasanya seperti menjadi sosok penghancur di hubungan mereka.



“Aku tidak mencintainya! Aku tidak berharap dia menjadi seseorang yang selalu ada di dalam hidupku, tapi...kenapa semua terasa sangat menyakitkan? A-apa harus aku yang menerima rasa sakit ini?”


Brak!!!


Evelyne memukul tiang jembatan itu dengan keras. Bahkan karna permukaan dari tiang itu kasar, membuat evelyne tidak sengaja untuk melukai tangannya hingga berdarah. Melihat tangan itu terluka, bukannya merasa sakit. Evelyne malah tersenyum miring, perasaan puas di hatinya pun terpenuhi.


“lebih baik, fisikku yang terluka daripada hatiku yang menangis. Karna sampai kapanpun hati inilah yang akan menentukan bagaimana selanjutnya. Aku membencimu, tuan!!!”


...--🥀🕊—


...


Disisi lain, Liliana yang baru saja keluar dari kamar melihat pintu depan terbuka dan menunjukkan seorang wanita yang tengah berjalan masuk kedalam ruang tamu membuat Liliana dengan cepat berlari kearahnya. Memegang kedua lengan wanita itu dengan raut wajah yang cemas.

__ADS_1


“Sayang, kamu darimana saja? Kenapa baru pulang?” tanya Liliana.


Evelyne menggeleng “Maafkan aku ibu, disana tadi ramai sekali. Jadi aku itu yang membuatku terlambat. Apakah ibu menungguku?”


“Ya, sayang! Ibu sangat khawatir denganmu!” jawab Liliana sembari memeluk evelyne dengan erat.


Evelyne terdiam, berpikir bahwa kediaman tua, William ataupun keluarga jiang bukanlah tempat ia pulang. Tetapi yang sebenarnya menjadi tempat ia pulang adalah Liliana. Ibu kedua dari ibu kandungnya dulu. Memang sulit menerima kenyataan yang pahit ini, tapi penguat seorang anak yang keras kepala adalah pelukan serta kekhawatiran ibunya.


“Maafkan aku ibu” Evelyne membalas pelukan itu.


Liliana yang mendengar suara evelyne terasa berbeda membuat ia dengan cepat melepaskan pelukan itu. Hingga membuat evelyne menundukan kepalanya saat melihat Liliana tengah menatapnya dengan curiga.


“Sayang, kamu kenapa? Kamu habis menangis ya?”


Liliana menemukan kedua mata Evelyne sangat merah dan bengkak seperti seseorang yang habis menangis selama 3 hari. Evelyne yang ketahuan pun hanya menggelengkan kepalanya seraya berkata “Enggak kok bu, tadi dijalan aku hanya kelilipan debu dan aku membersihkannya juga agak sedikit kasar. Jadi seperti ini deh”


Liliana terkejut, “Yaampun sayang, yasudah kamu ganti baju dulu sana. Ibu akan siapkan makanan sama kotak obat buat mata kamu”


“Baik bu” angguk evelyne.


Evelyne pun meletakkan bungkusan itu ke atas meja, lalu ia berjalan masuk kedalam kamarnya lalu menutupnya hingga rapat. Di dalam, evelyne tidak langsung mengganti pakaiannya. Tetapi ia malah duduk di balik pintu itu seraya memeluk lututnya dengan erat. Ia juga menenggelamkan seluruh wajahnya di antara lutut itu, hingga merendam semua tangisan yang tersisa.


-Hey! Eline...kenapa kau jadi seperti ini?-


-Eline...angkatlah kepalamu! Kau tidak seharusnya seperti ini. Kau boleh kecewa, tolong jangan menangis. Aku tidak ingin melihatmu menangis! Hey...tolong jangan menangis didepanku! Atau aku akan merasa gagal untuk melindungimu-


“Maafkan aku, Eve. Ini terasa sakit. Bahkan sangat sakit...hingga aku tidak bisa menahannya”


-Aku tahu, aku tahu perasaanmu. Menangislah! Menangislah jika itu membuatmu tenang-


-Tenangkan pikiranmu, sebelum aku mematikan hatimu setelah ini!-


Evelyne menggeleng, “Tidak Eve, ini bukan milikku. Jika ini milikku, maka kau boleh menghancurkannya seperti dulu, tetapi ini adalah hati yang dititipkan oleh pemilik tubuh itu untukku. Jadi aku harus tetap menjaganya walau aku sendiri keberatan akan hal itu”


-Tapi karna hati, kau menangis!-


“Ya aku tahu, Eve....maafkan aku! Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri”


-Sstt... Berhenti berbicara seperti itu! Kau manusia yang memiliki hati dan pikiran, jadi akan sangat wajar jika kau bisa menangis, tertawa dan marah. Sudah! Sekarang kau tidak perlu menangis lagi, aku disini! Aku menemanimu-


Setelah beberapa menit evelyne menangis, ia langsung mengambil hpnya dari dalam saku jaketnya. Lalu menekan beberapa tombol untuk menghubungi seseorang. Disana masih ada Eve yang duduk di sebelah evelyne dengan menyediakan sebuah bahu yang kokoh untuk menjadikannya sandaran pada evelyne.


-Kau menghubungi siapa?-


Mendengar pertanyaan Eve, evelyne hanya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya yang pucat. Karna telpon itu sudah tersambung dari pihak sana.


“Hallo nyonya, ada apa? Kenapa anda belum pulang? Ini sudah begitu larut malam”


“Maaf Dessy, untuk beberapa hari...aku tidak pulang.”


“Lho kenapa nyonya? Kenapa begitu mendadak? Apa yang terjadi?”


“Tidak ada, hanya saja urusanku disini masih belum selesai. Jadi tidak bisa pulang”

__ADS_1


“T-tapi nyonya, bagaimana jika tuan akan marah nanti?”


“Biarkan saja, itu akan menjadi urusan ku nanti. Bibi tolong bantu sampaikan pada tuan ya”


“Eum...baik nyonya. Nyonya tolong berhati-hatilah disana”


Setelah mendengar itu, Evelyne langsung menutup telponnya. Lalu meletakkan kembali hpnya didalam saku jaketnya. Eve yang masih setia menunggu evelyne pun mengelus kepalanya dengan tangan yang besar serta kuku-kuku yang tajam. Eve sebenarnya adalah makhluk yang menyeramkan, tetapi dimata evelyne, Eve adalah sosok iblis yang sudah menemaninya sejak dulu.


-Sudah tenang?-


Evelyne mengangguk, “Sedikit, terimakasih Eve”


Mendengar itu, Eve pun mengangguk lalu dengan sekedip mata. Bayangan itu sudah menghilang entah kemana, sementara evelyne ikut bangun dari duduknya yang rapuh. Melepas jaket serta mengganti pakaiannya yang karna menangis tadi.


Setelah sudah, Evelyne pun keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur untuk menemui Liliana disana. Sesampainya didapur, evelyne melihat Liliana sedang membereskan beberapa makanan disana. Bahkan saat itu Liliana hendak berteriak untuk memanggilnya, tetapi semua terhenti saat Liliana melihat evelyne berdiri di depan pintu dapur dengan wajah yang sedikit lebih baik dari sebelumnya.


“Sayang, kamu kenapa lama sekali? Ibu sudah menunggu tadi” kata Liliana seraya menarik kursi makan lalu mendudukinya.


Evelyne tertawa kecil, “Maafkan aku ibu, aku ada perlu. Jadi harus telpon dulu dengan seseorang”


“Ohh...sayang, apakah kamu sudah memberitahu tuan besar kalau kau ada disini?” tanya Liliana saat evelyne duduk di kursi makan yang kosong.


Evelyne mengangguk, “Sudah bu, aku sudah memberitahunya tadi. Dan aku juga meminta izin dengannya untuk menginap disini untuk beberapa hari”


“Lho kenapa sayang?” Liliana mengerutkan keningnya saat mendengar itu.


Evelyne menggeleng “Tidak ada bu, hanya merasa bosan saja disana. Lagipula gtuan mengizinkannya, karna tuan sendiri sedang berada di luar kota”


“Tapi kamu kan sebagai istri harus ada di rumah untuk menyambut kepulangan dari suami kamu” nasihat ibu yang membuat tersenyum kikuk.


“Iya ibu, aku akan pulang sebelum tuan pulang. Jadi bisa menyambutnya sebentar”


Liliana mengangguk, lalu terdiam dan tidak melanjutkan kembali topik yang merek bicarakan. Karna evelyne sendiri masih dalam mood yang buruk, jadi tidak dapat memikirkan topik mana yang enak untuk di bicarakan oleh Liliana dengannya.


...--🥀🕊—


...


“Dimana William, kenapa telponku sama sekali tidak di angkat sama bocah itu? “ seorang kakek dengan wajahnya yang memerah tengah berjalan memasuki ruang utama dengan kesal. Bahkan semua pelayan yang ada disana berdiri menunduk saat melihat kakek itu datang dengan marah-marah.


Dessy yang baru saja sampai di kediaman utama, langsung melihat kakek itu sedang memgamuk di ruang utama dengan memanggil nama William untuk beberapa kali. “Kau sudah tua begini, masih bisa marah ya?” Ejek Dessy dengan berjalan menghampiri kakek itu.


Mendengar ejekan itu, kakek yang sedang memgamuk pun seketika terpaku saat melihat seorang wanita tengah berjalan menghampirinya dengan senyum diwajah keriputnya. “Daisy?” gumam kakek itu dalam diam.


“Kenapa? Terkejut melihatku disini?” tanya dessy yang membuat kakek itu membuat wajahnya dengan malas. “Kau!? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tidak dengar, aku sedang memanggil bocah tengik itu?!”


Dessy mengangguk, “Aku dengar. Tapi akan percuma jika kau terus memanggilnya, sementara dia ada di kantor untuk mengurus masalah di sana”


“kantor? Lalu...dimana Yoona? Aku ingin bertemu dengannya!?” kakek itu beralih mencari Yoona yang membuat Dessy menggelengkan kepalanya karna pusing. “Nyonya juga sedang tidak ada dirumah, karna mengurus beberapa hal penting diluar. Jadi tidak bisa pulang untuk beberapa hari” jawab Dessy yang membuat lelaki itu tercengang.


Bruk!!


Kakek itu menjatuhkan dirinya di lantai dengan postur tubuh yang menyedihkan. Ia juga menundukkan kepalanya seraya berkata “Yoona, cucu kesayanganku. Kenapa kau harus pergi? Apa kau tidak tahu, kalau aku pulang demi melihatmu disini?”

__ADS_1


Dessy menyipitkan matanya, melihat kakek itu seperti orang bodoh yang sedang memainkan sebuah peran orang yang menyedihkan. “Kau menjijikan sekali!”


__ADS_2