
Mendengar hal itu, Clara hanya terdiam sembari menunjukkan ekspresi senyum kecilnya. “Jessica, kau tidak boleh seperti itu! Sekarang Yoona adalah kakak ipar mu, jadi kau harus lebih menghormatinya.” jessica yang tidak suka dengan kenyataan itu pun langsung berdiri dengan raut wajah yang kesal. “Yoona itu hanya wanita pelacur sialan yang Cuma bisa menumpang dirumah kakak tertuaku saja, dia bahkan berani bermain belakang bersama laki-laki lain!!!”
“Jadi sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menganggap pelacur itu sebagai kakak iparku!!” kata jessica dengan emosi yang sudah tidak terkawal lagi. Sementara Clara yang melihat jessica seperti itu pun langsung beranjak dari duduknya, lalu memeluk jessica agar emosinya bisa tenang secara perlahan. “Sudahlah jess, semuanya sudah terlambat. Aku juga tidak bisa melakukan apapun selain menerima kenyataan ini. Selagi aku masih bisa bertemu dengan kak William, aku sudah seneng banget kok”
Jessica terdiam saat mendapatkan pelukan dari Clara, “Kenapa wanita baik sepertimu selalu terbuang pada akhirnya sih? Aku benar-benar tidak menyangka, kakak tertua akan menerima perjodohan itu. Padahal aku sudah tahu kalau dia begitu mencintaimu”
Clara tertawa kecil seraya melepaskan pelukan tersebut, lalu menatap wajah sedih jessica dengan wajah cantiknya. “Jika dia mencintaiku, maka menikah dengan orang lain pasti tidak akan merubah perasaannya padaku. Jadi kau tidak perlu khawatir tentang wanita itu. Selagi kak William tidak memandang wanita itu, maka aku masih punya harapan untuk kembali dengannya”
“Eum... Kau benar, kakak tertua dari awal pernikahan tidak pernah memandang sedikit wanita itu sebagai istri. Dia hanya menganggap seolah-olah wanita itu hanya istri sementara di pernikahan kontraknya. Aku yakin, dihati kak William selalu ada nama kamu!” harap jessica dari keraguan dalam hatinya.
Clara tersenyum, membuat suatu harapan besar muncul di hatinya untuk berkenan kembali kedalam pelukan william.
...__🥀🕊__
...
Evelyne yang tengah sibuk merenung ditaman tanpa melakukan apapun, membuat Dessy yang tadinya sedang menyapu halaman kediaman kini beralih menghampiri Evelyne. “Nyonya, aku tidak sengaja melihatmu merenung disini cukup lama. Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang sedang anda pikirkan?” tanya Dessy di sela-sela jalannya mendekati Evelyne yang sedang duduk di ayunan taman.
__ADS_1
Evelyne melirik, melihat Dessy tengah berjalan menghampiri dengan membawa sapu membuat dirinya tersenyum kecil. “Aahh.. Tidak ada des, Cuma heran saja. Kenapa di kalender ditandai sebuah tanda pada hari ini, memangnya akan ada acara hingga membuat sebuah tanda seperti itu?”
Dessy tertegun mendengar hal itu, hingga membuat sapu yang ada di tangannya terjatuh ketanah. Evelyne yang melihat itu pun dengan sontak berdiri seraya menghampiri Dessy yang masih terdiam. “Des, kau kenapa?” tanya Evelyne yang membuat Dessy menggeleng kepalanya sembari menatap kearah Evelyne yang sudah berdiri didepannya ini.
-Hari yang biasa ia tunggu-tunggu, bahkan sekarang ia lupa. Apakah Nyonya benar-benar memiliki gangguan pada pikirannya?-
Evelyne yang melihat Dessy masih terdiam tanpa meresponnya pun membuat dirinya mengangkat tangannya didepan wajahnya Dessy, lalu melambaikannya seperti sedang berusaha menyadarkan orang. Sementara Dessy menggeleng sebagai respon awal pada tindakan Evelyne. “Saya baik-baik kok, nyonya. Maaf sudah membuatmu khawatir”
“Aahh... Tidak kok, jadi apa Dessy bisa jelaskan apa maksud dari tanda itu”
Dessy mengangguk “Ya tentu saja bisa, tanda yang berada di tanggal hari ini menandai bahwa sekarang adalah hari spesial bagi tuan besar kami”
Dessy mengangguk untuk ke2 kalinya, “Ya nyonya, hari ini adalah hari dimana tuan besar dilahirkan didunia. Makanya dari itu, seluruh keluarga maxime akan membuat acara yang besar malam ini”
Mendengar semua penjelasan dari Dessy, Evelyne hanya meresponnya dengan anggukan kepala saja. Karna disaat itu hati dan pikiran evelyne kembali mengingatkannya pada masa lalunya. “Oh begitu, aku mengerti. Dessy kembalilah bekerja, aku juga akan mempersiapkan semuanya untuk tuan. Terimakasih sudah mengingatkanku” kata Evelyne seraya memegang salah satu bahu wanita yang di depannya.
Dessy mengangguk tersenyum, sementara Evelyne berjalan melewatinya saat menyelesaikan perkataannya. ‘Apa bahagianya merayakan hari itu? Bukankah hari itu hanya membawa sial saja’ batin Evelyne yang berjalan masuk kedalam kediaman. Ia bukan tidak suka mendengar seseorang berulang tahun, tapi ia hanya berpikir bahwa hari itu bukanlah hal yang Seharusnya dirayakan.
__ADS_1
-Kau membencinya, karna hari ulang tahunmu adalah hari dimana penderitaanmu dimulai. Maka dari itu kau sangat membenci hari itu!-
‘Sialan kau! Berhenti mengingatkanku pada hal itu. Aku benar-benar tidak ingin mengingatnya!’
-Hahaha...apakah karna kau membencinya, kau jadi tidak suka melihat orang lain bahagia dengan hari itu?... Huh... Kau ini benar-benar manusia yang egois!-
‘Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!’
Evelyne memasuki kediaman dengan raut wajah yang gelap, tidak ada senyuman ataupun wajah yang selalu menyapa para pelayan dengan ramah. Hal itu tentu saja membuat beberapa pelayan serta kepala asisten yang melihat itu terheran. “Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya segelap itu? Apakah ada yang membuatnya seperti itu?” tanya salah seorang pelayan yang berbisik ke pelayan lainnya.
Tetapi baru saja ingin dijawab oleh pelayan yang lain, kepala asisten sudah memberikan mereka kode agar tidak terlalu mempermasalahkan hal yang tidak penting. Karna takut, semua pelayan wanita itu pun bubar dan tidak ada lagi yang membicarakan Evelyne.
Sampai Dessy memasuki ruang utama, kepala asisten langsung menghampirinya dan berkata dengan suara yang pelan. “Ada apa dengan nyonya, kenapa moodnya terlihat buruk setelah ia masuk ke dalam? Apa kau melakukan sesuatu padanya?”
Dessy terkekeh melihat sikap penasaran dari kepala asisten yang akhir-akhir ini sering menanyakan perubahan Evelyne. “Aku tidak melakukan apapun, ketua. Memangnya apa yang terjadi dengan nyonya?” Dessy bertanya balik pada kepala asisten yang membuatnya memutarkan bola matanya dengan malas. “Huh... Kenapa kau malah bertanya balik padaku? Bukankah seharusnya kau tahu nyonya kenapa, kan kalian berdua tadi ada ditempat yang sama”
Dessy menghela nafasnya, ia mengerti apa yang dimaksud oleh kepala asisten. “Satu tempat itu bukan berarti akan tahu setiap perubahan orang kan, lagipula aku bukan paranormal yang bisa membaca pikiran nyonya. Ahh... Sudahlah tidak perlu memikirkan hal itu!”
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Dessy pun berjalan melewati kepala asisten menuju dapur. Namun saat jarak Dessy dengan kepala asisten sudah dekat, kepala asisten itu langsung berkata “Apa tuan besar tahu akan perubahan nyonya?”
Dessy menghentikan langkahnya sejenak, lalu mengangkat bahunya dengan rasa tidak tahu. “Eum... Entahlah, kurasa tuan seharusnya sudah lebih tahu dari apa yang kita tahu. Karna kewaspadaan tuan tidak bisa dibohongi oleh siapapun”