
“Tuan William, senang bisa bekerja sama dengan anda” kata klien dengan menjabat salah satu tangan milik William sebelum mereka berjalan keluar bersama.
“Hnn..” jawab singkat William dengan salah satu tangan yang mengajak klien tersebut untuk keluar dari ruang meeting.
Saat mereka berjalan keluar dari ruangan yang sama, William pun di buat terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya. Seorang wanita yang tengah berbincang dengan seorang lelaki dalam jarak yang cukup dekat membuat William dengan sontak berjalan mengarah kearah mereka. Nathan serta klien yang bersamanya pun merasa kebingungan.
“Hendra!! Apa yang kau lakukan?!”
William dengan rasa tidak sukanya pun berdiri di antara keduanya dengan menatap lelaki yang bersama wanita itu dengan tatapan yang tajam. Lelaki yang bernama Hendra ini terkejut dengan kedatangan William secara tiba-tiba, bahkan di lihat dari ekspresi serta aura yang di keluarkan oleh lelaki ini tampak seperti dalam keadaan mood yang buruk.
Disisi yang bersamaan, wanita yang bersama Hendra ini juga ikut menolehkan kepalanya saat mendengar suara dingin yang di lontarkan oleh William. Saat manik mata wanita itu mengarah ke wajah tampan William pun, membuat suatu ekspresi yang terkejut. Bahkan ia juga hampir membuka mulutnya untuk mengatakan perkataan yang harusnya ia tidak katakan di tempat umum.
Melihat bibir tipis wanita itu hendak terbuka, William pun langsung menajamkan tatapannya kepada wanita yang tidak bersalah ini. “Apa yang kau lakukan?!” tanya William sekali lagi saat pandangannya beralih ke arah Hendra.
“Maaf tuan besar, ini adalah karyawan pindahan baru yang datang dari perusahaan kecil. Katanya, dia datang atas keputusanmu, tuan. Jadi saya menyuruhnya untuk menunggu dan saya sendiri memanggil tuan di ruang rapat.” Jelas Hendra dengan gemetar.
William terdiam sejenak, menurunkan pandangannya dan melihat keduanya tengah memang hp milik mereka masing-masing. Apa mereka ingin bertukar nomer? William menebak sesuatu yang membuat dirinya merasa kesal sendiri. “Kalau hanya menyuruhnya untuk menunggu, lalu untuk apa kau sampai menyuruhnya mengeluarkan hp? Apa kau sudah lupa dengan peraturan yang ada disini?!!”
“Maaf tuan, saya bersalah. Saya hanya berniat untuk meminta nomornya karna takut ia belum dapat mengerti dengan apa yang harus di kerjakan disini, jadi dengan bertukar nomor, saya bisa membantunya disaat ia butuh” kata Hendra dengan menundukkan kepalanya.
William menghela nafasnya “Kau bisa kembali ke tempatmu!” Manik mata William melirik kearah Wanita yang masih terdiam seraya menatap nya dengan tatapan terheran. “Dan kau, ikut aku ke ruangan!!”
Tidak menunggu lama, William pun langsung berbalik dengan berjalan meninggalkan mereka yang masih terdiam di tempat. Wanita itu merasa aneh dengan keberadaan William disini, tapi ia juga tidak tahu kenapa lelaki itu sangat emosi jika bertemu dengannya bersama orang lain. Bahkan saat ia ingin menyebut namanya, lelaki itu sudah memberinya peringatan dengan tatapan matanya yang dingin.
“Masih tidak jalan juga?!!” bentak William saat melihat wanita itu masih terdiam.
Mendengar bentakan itu, keduanya pun langsung dengan sontak berjalan pergi ke arah yang berbeda. William yang melihat keduanya udah tidak berdiam diri lagi, kaki panjang yang sempat berhenti karna kedua orang itu pun mulai berjalan pergi meninggalkan wanita yang tengah mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu ruangan kerja milik William, lelaki itu dengan sontak meraih gagang pintu itu. Lalu membukanya serta menarik tangan wanita yang berada di belakangnya, hal itu tentu saja membuat wanita itu terhuyung-huyung ke depan.
Braakk!!
Pintu tertutup dengan keras, tubuh wanita itu juga bersandar di pintu sementara William tengah mengukungnya dengan jarak yang begitu dekat. “L-liam? K-kenapa?” wanita itu terkejut saat melihat raut wajah William yang aneh.
“Apa yang kau lakukan dengan lelaki itu?!!” tanya William dengan emosi yang masih tersimpan di hatiku.
Wanita itu kebingungan “Hah? Laki-laki itu?” tanyanya dengan tertawa kecil “Dia hanya orang yang di kirim oleh boss ku untuk mengantarku ke ruangan CEO. Aku dengannya tidak melakukan apapun, bahkan kau sendiri kenapa? Apa yang membuatmu marah pada lelaki itu?”
“Aku tidak suka!! Aku kan sudah bilang padamu, di nomor baru mu ini, tidak ada yang boleh tahu kecuali orang yang terdekat saja. Tapi kenapa sekarang kau mau bertukar nomormu dengan Hendra?!” ucap William yang masih dalam kekesalannya.
Wanita itu menggeleng “Aku tidak memberikan nomorku padanya kok”
“Lalu, kenapa dia tadi bilang seperti itu?” William terbingung, membuat wanita yang ada di depannya ini ikut tertawa saat melihat reaksi dari William. “Dia memang ingin memintanya, tapi aku menolak. Karna aku tidak pernah melupakan apa yang kau minta padaku sebelumnya. Disana juga aku bukan ingin memberikan nomorku, melainkan nomor temanku”
Evelyne terkekeh “Bagaimana bisa, aku menjelaskannya jika kau terus memarahiku seperti itu? Kau juga tadi tidak bertanya padaku”
“Huh...memang aku harus bertanya dulu, baru kau memberitahuku?” kata William seraya menjatuhkan kepalanya keatas salah satu bahu Evelyne. “Lain kali, tanpa aku harus bertanya...kau harus memberitahu apa yang terjadi padamu disaat aku ada maupun tidak ada”
Evelyne mengangguk ragu, karna sikap yang di keluarkan oleh William ini benar-benar membuatnya merasa kebingungan. Entah harus merespon baik atau buruk. “Lalu, bagaimana kau akan menjelaskan bekas luka pada wajahmu itu? Apa kau habis bertengkar dengan seseorang hingga membuatnya meninggalkan bekas seperti itu?” tanya William seraya mengangkat kepalanya dari bahu Evelyne sementara tangannya menyentuh serta merasa luka di bagian pipi mulus Wanita itu.
“Eughh” rintih Evelyne yang merasakan nyeri saat luka itu di sentuh oleh tangan besar William. “Apa itu sakit?” tanya William seraya menatap Evelyne dengan tatapan lembutnya. Melihat tatapan yang seharusnya ia tidak dapat, Evelyne pun hanya memalingkan wajahnya seraya berkata “Tidak, tidak sakit kok!”
William terdiam, ia tahu bahwa luka itu memang tidak sakit. Tapi akan terasa perih jika ia menyentuhnya, jadi wanita itu akan berkata bahwa luka ini hanyalah luka kecil. “Kamu ikut aku kesini!” ajak William seraya menggandeng tangan Evelyne dengan lembut.
William menyuruh Evelyne untuk duduk di sofa, sementara dirinya pergi ke lemari besar yang letaknya di samping bagian ruangan itu. Terlihat lelaki itu dengan mengambil sebuah kotak yang cukup besar dari lemari, tapi Evelyne yang tidak terlalu penasaran hanya terdiam dengan apa yang di lakukan oleh William saat ini.
__ADS_1
Setelah sampai di dekat Evelyne, lelaki itu langsung duduk di sebelahnya dengan memangku kotak itu di atas pakuannya. Evelyne sempat melirik kan matanya ke arah kotak tersebut, namun dengan sontak pandangannya langsung beralih ke William yang tengah duduk di depannya. Lelaki itu sedang memegang dagunya dengan lembut, dan memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat seberapa besar luka itu.
“itu tidak masalah, liam. Kau tidak perlu khawatir dengan itu” kata Evelyne dengan perasaan yang tidak enak.
Melihat luka itu seperti goresan kuku yang tajam, dan membuat luka yang cukup dalam di wajahmu Evelyne membuat William takut. Jika goresan itu terus membekas di wajahnya. “Huh...Ada masalah apalagi, sampai kau mendapatkan luka seperti ini? Apa kau sebelum datang kesini, bertengkar dengan seorang wanita?” tanya William dengan suara seraknya.
“Tidak” geleng Evelyne “Tadi di kantor, aku tidak sengaja melukai pipiku dengan kuku ku yang tajam ini. Aku tidak bertengkar dengan siapapun, dan luka ini, aku yang melakukannya”
William terdiam, ia tidak percaya dengan perkataan Evelyne. Karna sejujurnya, kuku yang di miliki Evelyne memang panjang namun itu tidak tajam hingga tidak akan melukai pipi wanita itu sendiri. Terkecuali, jika ada seseorang yang melakukan itu dengan sengaja!!
“Jika luka itu memang karna mu. Maka berhati-hatilah di kemudian hari! Karna aku tidak ingin kau terluka di masa depan” kata William seraya membuka kotak itu dan mengambil beberapa obat untuk mengolesnya pada luka tersebut.
Evelyne mengangguk “Ya, aku akan berhati-hati lagi di kemudian hari”
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu ruangan William terketuk dari luar, dan terdengar suara lelaki yang sangat familiar di telinga mereka. “Tuan besar? Apa kau didalam? Klien kita selanjutnya susah datang, dan saya juga sudah menyuruh mereka untuk menunggu anda di ruang rapat. Apa tuan bisa langsung pergi menemui mereka?”
Mendengar hal itu, kedua orang yang ada di dalam langsung menolehkan kepalanya secara bersamaan. Hal itu tentu saja membuat pandangan mereka tertuju kepada satu sama yang lain. “Maafkan aku, yoona” kata William dengan pandangan yang menunduk.
“Tidak apa, kau pergilah! Aku disini juga ingin menemui CEO yang telah memilihku untuk bekerja disini, jadi aku ingin mengucapkan terimakasih padanya.” Jawab Evelyne yang membuat William tertegun sejenak. “Apa kau bilang?! CEO?”
Evelyne mengangguk “Ya, aku mendapatkan kabar kalau CEO membuat keputusan untuk memindahkan pekerjaanku kesini. Semua teman-temanku berkata bahwa aku adalah orang yang paling beruntung di dunia pembisnisan ini. Jadi aku ingin mengucapkan terimakasih pada CEO itu”
“Kau yakin?” tanya William dengan senyuman kecil di wajahnya. “Ya, aku yakin. Memangnya kenapa? Apa ucapan terimakasih itu tidak cukup untuknya?” Evelyne menatap William dengan tatapan yang kebingungan, hingga membuat William merasa senang jika terus menjahili Evelyne. “Yap, kata terimakasih itu tidak akan cukup untuknya. Jadi...kau harus membawakan hadiah untuk tandan terimakasihmu”
Evelyne terdiam, “Hadiah? Seperti apa?”
__ADS_1