Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 42 : Apa hanya halusinasi?


__ADS_3

3 hari setelah kejadian itu, Evelyne pun mulai sedikit menjaga jarak antara dirinya dengan William. Bahkan William sendiri juga menjaga jaraknya dengan cara tidak pulang selama 3 hari berturut-turut, hal itu tentu saja membuat kakek besar maxime merasa kesal dengannya. Tetapi berbeda dengan Evelyne yang sedikit merasa aman jika William tidak berada di dekatnya.


Sampai siang harinya, Evelyne menjalankan aktivitasnya seperti biasanya. Entah dari menemani kakek dimana, membantu Dessy atau melakukan tugas pribadinya. Evelyne melakukan itu dengan hati yang tenang, sampai tibanya kakek besar merasa bosan saat melihat evelyne tidak pernah keluar dari kediaman selama liburan.


“Hey! Kau ini masih muda atau sudah tua? Kenapa aku jarang sekali melihatmu pergi jalan-jalan keluar?” tanya kakek dengan nada tidak baik.


Evelyne yang mendengar perkataan kejam itu pun hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Kakek, kau sangat kejam sekali! Kenapa kau berkata seolah-olah aku ini sudah tua dan tidak bisa berjalan jauh lagi?”


“Lalu kenapa kau tidak keluar untuk jalan-jalan saja? Apa kartu yang diberikan oleh William itu kurang untukmu pergi berbelanja?” kakek menatap Evelyne yang sedang berdiri tak jauh darinya.


Evelyne hanya terdiam seraya menunjukan senyuman di wajah cantiknya, ia berpikir bahwa ia tidak tahu harus menjawab seperti apa pertanyaan dari kakek besar maxime. Karna kartu yang sebelumnya William pernah kasih kepadanya saja belum ia gunakan sedikitpun, dan kakek ini malah berkata bahwa ia kekurangan uang yang diberikan oleh William.


“T-tidak kakek, aku hanya berpikir bahwa itu sangat tidak perlu. Jadi semua kartu yang diberikan oleh tuan padaku, hanya aku simpan di dalam laci meja milikku.”


Plak!


Kakek menepuk dahinya sendiri menggunakan tangan kanannya, ia merasa bahwa Evelyne tidak perlu melakukannya seperti itu. Karna berapapun uang yang dibelanjakan okehnya setiap hari, tidak akan membuat keluar maxime jauh dalam kemiskinan.


“Astaga, bagaimana bisa aku mendapatkan mantu cucu seperti ini?!” keluh kakek dengan raut wajah yang kecewa.


Melihat itu, Evelyne pun langsung berlari kearah kakek yang sedang memegangi dahinya karna pusing. “Kakek, apa kau baik-baik saja?” tanya Evelyne dengan memeriksa kondisi kakek.


“Sudah lepaskan aku!! Aku baik-baik saja...sekarang kau pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi!” kakek melepaskan pegangan evelyne pada kedua bagian lengan atasnya.


Evelyne terdiam seraya membiarkan kakek itu berjalan menjauh darinya karna kesal. Sementara pelayan yang ada di samping kakek tiba-tiba berjalan menghampirinya. Setelah berhenti tepat di depannya, ia pun memberikan beberapa kartu pada evelyne hingga membuat wanita itu sedikit tercengang dengan apa yang dilakukan oleh pelayan itu.


“Di masing-masing kartu itu berisi 500M. Jika kamu ingin aku tidak marah, maka pergilah keluar untuk membeli barang kesukaanmu dengan uang itu!! Tapi jika dari masing-masing kartu itu, kau tidak dapat menghabiskannya maka aku tidak akan pernah bicara lagi denganmu!” ancam kakek dengan sikap yang terlihat sedikit kekanak-kanakan.


Evelyne menyipitkan matanya “Kakek, kau terlalu berlebihan! 500M itu sudah banyak sekali, dan karna ini ada 7. Lalu bagaimana aku bisa menghabiskan semuanya?”


“Aku tidak mau tahu!! Lagipula tugasmu ini sangat mudah, kenapa kau begitu banyak protes?!! Apa kau memang benar-benar ingin aku marah denganmu?!!” Bentak kakek yang membuat evelyne mengerutkan keningnya.


Tak lama dari itu, Kakek pun berbalik badan lalu berjalan meninggal evelyne dengan pelayan pribadinya. Pelayan itu tersebut saat melihat raut wajah kebingungan dari evelyne. “Nona, tolong anda jangan bawa hati perkataan tuan. Beliau memang orangnya seperti itu, dia selalu memanjakan putrinya yang sudah lama meninggal. Jadi sifatnya terus berlanjut sampai kepada Nona”


Evelyne mengerutkan keningnya “Apa putri yang kau maksud itu adalah mertuaku?”


“Ya, Nona. Anda benar sekali.” Anggul pelayan itu seraya menyerahkan semua kartu kepada Evelyne. “Tolong Nona gunakan kartu itu sebaik mungkin, karna tuan tidak akan pernah main-main dengan perkataannya”


Evelyne terdiam, berpikir sejenak saat pandangan ia tertuju kearah pelayan itu. “Apa aku bisa membawa Dessy bersamaku selama berkeliling?”


“Tentu saja, Nona! Anda diberi kebebasan oleh tuan besar” pelayan itu menundukkan kepala sekilas sebagai penghormatannya.


Mendengar hal itu, evelyne pun langsung mengangguk dengan semangat lalu berpamit pada pelayan itu untuk memangg Dessy yang berada di dalam kediaman.


Di dalam kediaman, evelyne telah menemukan Dessy yang tengah berbincang dengan salah satu pelayan wanita disana. Awalnya ingin menunggu sampai Dessy menyelesaikan pembicaraan itu, tetapi Dessy lah yang lebih dulu menyadari kedatangan evelyne hingga melambaikan tangannya seraya meninggalkan wanita itu dan beralih menghampirinya.


“Nyonya, ada apa? Kenapa anda terlihat seperti orang kebingungan, apakah ada sesuatu yang ingin anda sampaikan?” tanya Dessy yang membuat Evelyne sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Evelyne terkekeh “Ya, seperti yang kau duga. Bibi, apakah kau memiliki waktu luang untuk menemani sejenak?”


“Aku akan selalu meluangkan waktu untuk nyonya. Kalau boleh tahu, nyonya ingin saya temani apa?” tanya Dessy dengan senyuman di wajahnya.


Evelyne ragu, lalu mengukirkan senyumannya untuk menutupi rasa malu. “Aku habis dimarahi oleh kakek di taman, karna ia tidak pernah melihatku keluar sedikitpun dari kediaman. Jadi dia memberiku beberapa kartu untuk dibelanjakan, tapi aku masih belum hafal dengan mall-mall yang ada di kota. Jadi...bisakah Dessy yang baik ini, menemani aku berbelanja?”


Mendengar hal itu, Dessy pun tersenyum senang karna melihat evelyne sudah sedikit membaik dari kondisinya yang terpuruk setelah kejadian 3 hari yang lalu.


Bagaimana bisa Dessy mengetahui hal itu?


Karna saat itu Dessy tidak sengaja melewati tempat itu, dan ia juga tidak sengaja melihat tindakan kasar William terhadap evelyne. Awalnya ia ingin menghampiri mereka, tetapi ada seseorang yang melarangnya dengan sebuah pergerakan fisik saja. Jadi ia tidak mengerti, kenapa seseorang itu tidak memperbolehkannya mencampuri urusan evelyne dengan William.


Evelyne yang melihat Dessy terdiam dengan senyuman melekat di wajahnya membuat ia merasa sedikit kebingungan hingga membuatnya memiringkan kepala seraya berkata “Bibi, apa kau baik-baik saja?”


Dessy tersadar “A-ah...iya Nyonya. Maaf saya kurang fokus mendengar anda”


“Tidak apa-apa. Bagaimana bi, apa kau bisa menemaniku sebentar?” tanya evelyne yang mengulang pertanyaan-nya tadi.


Sementara Dessy hanya mengangguk dengan pelan sebagai persetujuannya permintaan evelyne kepadanya. Tak lama setelah itu, kedunya pun beranjak menggunakan mobil yang sudah di siapkan okeh oleh kakek besar untuk mengantar dan menjemput Evelyne selama bepergian itu.


Hati evelyne saat ini cukup merasa senang saat mendapatkan perilaku baik dari Dessy dan kakek besar maxime. Memang mereka bukanlah siapa-siapa bagi evelyne, tapi untuk sekarang evelyne akan sedikit membuka dirinya untuk kedua orang tersebut, walaupun itu ada batasan dari perjanjiannya dengan Eve.


Sesampainya di mall yang terbesar dan terkenal di kota Seoul, Evelyne dan Dessy langsung berjalan memasuki mall tersebut. Disana terdapat banyak sekali berbagai macam makanan, pakaian alat ataupun music yang diperjualbelikan disana. Dessy yang takut evelyne tersasar di tempat itu pun langsung mempercepat jalannya hingga membuatnya berjalan di samping evelyne.


“Nyonya, anda ingin membeli apa?” tanya Dessy


Evelyne melirikkan matanya “Eum...aku ingin membeli beberapa baju serta alat yang aku butuhkan. Kalau Bibi? Kau ingin membeli barang seperti apa?”


Mendengar Dessy menjawab seperti itu, Evelyne pun mengerutkan bibirnya lalu dengan malas ia memalingkan wajahnya kearah lain. “Aku kesini mengajakmu untuk bersenang-senang, jika Bibi merasa keberatan dengan pengeluarannya, maka biarkan aku untuk mentraktirmu kali ini”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Evelyne pun langsung menarik tangan Dessy untuk mengajaknya pergi ke beberapa ruko yang ada disana untuk membeli barang yang mereka sukai. Entah dari pakaian, perhiasan, make up, alat music kesukaan evelyne bahkan sampai suatu barang yang ingin sekali evelyne beli namun masih belum kunjung ia temukan disana.


Sampai tibanya, Dessy kehilangan jejak evelyne dari kerumunan tepat di depan ruko alat musik yang baru saja mereka masuki. “Dimana Nyonya?!” Dessy yang panik pun langsung berlari dari kerumunan itu untuk mencari keberadaan evelyne. Namun sayangnya, saat ia keluar sana Dessy sama sekali tidak menemukan keberadaan evelyne disana.


Bahkan sampai Dessy berkeliling di setiap tempat, ia masih belum menemukan wanita itu. “Astaga...dimana nyonya? Kenapa dia bisa menghilang disini?!!” keluh Dessy yang terus berlari tanpa memperhatikan jalan di depannya.


Bruukk!


Dessy terjatuh saat menabrak seseorang yang ada di depannya. “Maafkan aku tuan, maafkan aku!!” kata Dessy yang masih belum menenangkan dirinya dari rasa panik serta khawatir akan kondisi evelyne saat ini.


“Bi? Apa kau baik-baik saja?” tanya seseorang itu dengan mengulurkan tangannya untuk membantu Dessy beranjak dari duduknya. Tetapi saat melihat tangan besar berada di depannya, Dessy barulah mengangkat kepalanya dan melihat 2 orang yang tengah berdiri dengan salah satu orang yang sedang mengulurkan tangannya untuk membantu dirinya.


Dessy terkejut lalu dengan sontak ia terbangun dari sana dengan tindakan yang masih seperti orang yang panik. Ditambah lagi, ia bertemu dengan William dan clara yang sedang berbelanja bersama di mall ini. “T-tuan? Anda?” cicit Dessy sembari menatap William dengan tatapan yang tidak percaya.


“Apa yang Bibi lakukan disini?” tanya William dengan suara dinginnya.


“A-aku...A-aku sedang mencari nyonya, tuan. Apakah anda melihatnya disekitar sini?” Dessy yang masih saja memeriksa sekeliling membuat William disana ikut mengerutkan keningnya. “Bibi kesini bersama Yoona?” tanya William untuk memastikan

__ADS_1


Dessy mengangguk “Ya tuan, saya disini menemani nyonya yang sedang menjalani hukuman dari kakek besar”


...--🥀🕊—...


Disisi lain, wanita yang kini sedang dicari-cari oleh Dessy ternyata sedang berdiri berhadapan dengan seorang lelaki tua di depannya. Mereka tampak sedang berdiri saling berhadapan seperti orang yang saling mengenal tak sengaja berjumpa disana.


“Maaf paman, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan” kata evelyne dengan nada dingin.


Lelaki tua itu menggeleng, lalu dengan sontak ia mencoba mendekati evelyne untuk menyentuh kedua bahunya. “T-tidak, tidak...Kau pasti Evelyne! Putriku! Putriku yang sudah lama pergi meninggalkan aku”


“Paman, sepertinya kau salah orang! Aku benar-benar tidak mengenal siapa dirimu!” Evelyne melangkahkan kakinya kebelakang untuk menghindari sentuhan itu. Bahkan ia juga tidak rela jika tangan kotor dari lelaki tua itu sampai mengenai tubuh atau pakaiannya.


Melihat evelyne tidak mengakuinya, lelaki tua itu pun justru malah semakin berjalan mendekati evelyne untuk memeluknya. Karna merasa tidak bisa melawan lelaki ini di tempat yang ramai, evelyne pun hanya bisa memilih untuk menarik dirinya pergi dari sana. Bahkan ia juga baru tersadar bahwa ia sudah tidak bersama dengan Dessy.


“Evelyne!! Mau kemana kamu?!!” teriak lelaki itu seraya mengejar evelyne.


Sial...sial!!


Evelyne memejamkan matanya dengan sekilas saat tubuhnya merespon ketakutan dalam hatinya. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Gilang disini. Bahkan yang lebih Sialnya lahir adalah pemilik dari tubuh ini memiliki wajah yang sama dengan wajah miliknya dulu.


“Aku mohon berhenti! Tolong jangan mengejar!!”


“Eline!!! Berhenti!! Siapa yang menyuruhmu pergi, hah?!!”


Suara teriakan itu kembali terdengar ditelinga evelyne yang membuatnya semakin mempercepat langkahnya berlari.


‘Tidak! Tidak! Bagaimana bisa aku bertemu dengannya disaat yang tidak tepat?!’ kelih evelyne


Sampai di suatu tempat, Evelyne melihat Dessy dari kejauhan yang membuat sedikit harapannya muncul di dalam hatinya. Sementara Dessy yang melihat evelyne sedang berlari ketakutan pun membuat ia ikut berlari menjadi wanita itu dengan raut wajah yang khawatir.


“Nyonya!!!” teriak Dessy saat evelyne berhenti tepat di depannya dan dengan sontak ia memeluk Dessy dengan tubuhnya yang gemetar.


Dessy tertegun saat melihat itu, bahkan tubuhnya juga merasakan gemetar yang hebat dan keringat dingin dari tubuh evelyne. “Nyonya, ada apa denganmu?” tanya Dessy dengan cemas


“Bibi... Tolong!! Ada seseorang yang mengejarku. Ia ingin membunuhku!!” kata evelyne seraya menunjuk kearah belakang.


William yang berdiri dibelakang Dessy pun mengerutkan keningnya saat melihat itu, dan ia juga mengakya pandangannya untuk mengikuti arah yang ditunjuk oleh wanita itu. ‘Apanya yang mengejarnya? Jelas-jelas tadi dia berlari seorang diri' batin William dengan melihat sekeliling dari meramaikan itu.


Tidak menemukan seseorang yang mencurigakan, manik mata gelap William pun kembali menatap kearah evelyne yang masih meringkuk ketakutan di dalam pelukan Dessy. Bagaimana bisa temperamen dari evelyne selalu berubah-rubah seperti ini.


Ia terkadang terlihat bodoh, kekanak-kanakan, pengecut dan cengeng. Tapi disisi lain ia juga bisa terlihat seperti wanita yang misterius. Entah dari kejadian di kediaman jiang, William tidak pernah percaya bahwa pembunuhan itu adalah tindakan dari evelyne.


“Tidak ada siapa-siapa, nyonya! Tidak ada yang mengejarmu” kata Dessy yang membuat evelyne melepaskan pelukan itu secara perlahan.


Evelyne menggeleng “Tidak bi, aku tidak berbohong! Jadi aku benar-benar dikejar oleh orang. Dan o rang itu sangat aneh!”


“Nyonya, tenanglah! Tidak ada siapa-siapa disini” Dessy terus mengelus punggung tangan evelyne yang masih gemetar hebat.

__ADS_1


Sementara William yang melihat reaksi dari tubuh Evelyne seperti tidak berbohong pun membuatnya kembali melihat setiap sudut ruko-ruko yang ada disana. Tapi hasilnya akan sama saja, tidak ada seseorang yang terlihat mencurigakan. Apalagi Evelyne ini jarang sekali keluar dari kediaman, jadi....akan sangat tidak mungkin jika ia memiliki masalah dengan orang lain.


“Apa Cuma Halusinasi?”


__ADS_2