Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 108 : Masa lalu Isabella part 2


__ADS_3

Di dalam gudang.


Kakek yang baru saja memasuki gudang pun langsung dikejutkan oleh pemandangan dimana anak buah tuan NIU berkumpul kini tengah menjadi tempat menampung mayat dengan banyak darah yang bergelimang di tanah. Sungguh mengagetkan namun ini juga sangat mengagumkan hati kakek, dengan rasa kepuasan amarahnya.


“Hahaha...sialan, ini benar-benar menakjubkan!! Aku tidak akan menyangka bahwa aku secara tidak sadar melatih iblis berhati dingin itu yang polos menjadi pemberontak yang kejam”


Ini adalah pertama kalinya kakek merasakan puas akan hasil yang ia lakukan selama melatih banyak orang untuk pelatihannya yang keras, karna ini salah satu alasan kakek tidak mau melatih seorang anak kecil yang masih dalam tahap pemikiran yang belum matang. Ia bisa menggunakan keahliannya untuk membunuh orang disaat ia merasa kesal, bahkan menghancur segalanya tentu saja bisa di lakukan oleh bocah iblis ini.


“Tuan besar..”


Seseorang datang dari belakang kakek dengan tiba-tiba pun terkejut akan melihat kondisi yang begitu mengerikan di dalam gudang ini, namun sebaliknya...kakek hanya melirikkan matanya yang dingin untuk melihat ketakutan yang kini dirasakan oleh orang itu di sampingnya. “T-tuan b-besar...A-apa yang terjadi disini?!”


Kakek terdiam sejenak, lalu dengan tenang ia menjawab. “Ada seseorang masuk ke dalam sini untuk melakukan tindakan yang kejam. Kamu bersihkan tempat ini dan jangan sampai ada orang yang mengetahuinya! Jika itu terjadi, maka kaulah orang pertama kali yang akan aku bunuh.”


“B-baik tuan, saya menjamin semua yang terjadi disini tidak akan ada yang mengetahui.” Lelaki itu mengangguk “Oh ya tuan, anda dipanggil oleh nona isabella di kamarnya.”


Kakek mengangguk “Baiklah, aku akan pergi kesana sekarang.”


“T-tuan, dimana mayat ini harus kubuang? Karna tempat ini cukup memakan banyak orang, jadi akan mustahil untuk membawanya tanpa sepengetahuan orang.” Tanya lelaki itu yang sedikit kebingungan.


Kakek menghentikan langkahnya, lalu terdiam sejenak sebelum ia membuka suaranya untuk menjawab pertanyaan dari lelaki itu. “Tunggulah disini beberapa saat, karna beberapa orang akan datang membantumu nanti.”


“Baik tuan, terimakasih.” Ucap lelaki itu.


Sementara kakek berjalan pergi meninggalkan lelaki itu sendirian di dalam gudang, dan lelaki itu saat menyadari kepergian kakek membuatnya langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. “Ini akan menjadi berita besar, jika semua orang tahu kalau di kediaman ada pembunuhan yang menarik seperti ini.” Lelaki itu cekikik saat ingin mengambil foto.


Srakk..


Pedang yang panjang terhunus dari belakang tubuhnya hingga menembus bagian depan yang membuat lelaki itu sedikit terkejut saat melihat seorang anak laki-laki dengan wajahnya yang gelap, serta auranya yang mengerikan. “S-siapa kamu? Dan B-bagaimana bisa kau...”


“Aku membunuhmu atas niat jahatmu, jadi...jangan salahkan aku kalau kau akan mati di tanganku sekarang!” ucapnya dengan nada yang dingin.


...--🥀🕊—...


Di kamar Isabella.

__ADS_1


Kakek yang kini tengah duduk di sofa sebelah ranjang yang kini disinggahi oleh putri kesayangannya yang sedang dalam kondisi yang terpuruk, namun isabella adalah wanita yang kuat akan sesuatu masalah yang datang kepadanya demi kebahagian William. “Ada apa kau memanggilku? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk beristirahat?” kakek berkata dengan nada yang pelan.


Ia tidak sanggup untuk memarahi Isabella dalam kondisi yang seperti lagi, dan bahkan kehidupannya juga tidak bisa bertahan lebih lama lagi. “Aku...ingin membicarakan tentang wasiatku setelah aku mati nanti, ayah.”


“Huh...aku sibuk, tidak memiliki waktu untuk membicarakan hal itu! Lagipula, siapa yang mengizinkanmu untuk berani bertanya seperti itu padaku?!” kakek bangun dari duduknya yang hendak berjalan pergi meninggalkan Isabella.


Melihat ayahnya hendak pergi, Isabella pun langsung bengun dari duduknya untuk menahan salah satu tangan kakek agar tidak pergi meninggalkannya. “A-ayah...tidak bisakkah kita bicara itu sebentar? Aku mohon kepadamu, ayah. Tolong dengerkan penjelasanku dulu!”


“Isabella, aku tidak benar-benar memiliki niatan untuk mendengarkan ocehanmu yang tidak masuk akal. Sekarang beristirahatlah dengan baik dan fokuskan dirimu selama pengobatan ini berlangsung! Aku yakin pasti akan ada dimana kamu bisa sembuh dari penyakit ini.” Kakek menahan rasa sakit yang terus menusuk ke dalam hatinya, ia begitu menyayangi isabella tapi kenapa kenyataan ini malah memisahkannya dengan kematian.


Isabella membantah “Lalu bagaimana jika aku tidak sembuh, ayah? Aku juga pasti akan mati seiring berjalannya waktu. Tolong ayah, aku tahu kau marah jika aku terus membicarakan ini kepadamu. Tapi...tolong, dengarkan aku terlebih dulu!”


“Kau ingin aku mendengarkanmu seperti apa, Isabella? Aku selama ini sudah selalu mendengarkanmu, jadi apa yang ingin aku dengarkan lagi darimu? Kematian?” kakek membalikkan tubuhnya untuk menghadap kearah Isabella yang kini tengah memohon kepadanya.


Kakek menghela nafasnya, ia paling tidak kuat menahan saat Isabella benar-benar menunjukkan kepadanya bahwa ia membutuhkan kehadirannya dalam hidupnya. “Baik, sekarang katakanlah!” ucap kakek yang melepaskan penahan tangan Isabella dan kembali duduk diatas sofa seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


“Eum...Ayah, apa kau mengingat berapa banyak perusahaan yang kumiliki di dalam dan di luar negeri?”


“Hn..ya, aku mengingatnya. Kenapa? Apa kau ingin memberikan semua milikmu pada bajingan itu?”


“Apa maksudmu? Bukankah kau bilang anak itu akan di urus oleh bajingan itu sesuai dengan aturan hukum?”


“Iya, tapi setelah aku memikirkannya untuk kedua kalinya. Aku baru tersadar bahwa pilihanku menitipkan Liam bersamanya hanya akan membuatnya berakhir sama sepertiku.”


“Sama sepertimu? Apa dia melakukan itu kepadamu dan bocah itu?!”


“Iya ayah, itu sebabnya aku ingin membicarakan masalah ini denganmu. Aku benar-benar sudah putus asa jika Liam berakhir di tangan tuan NIU nantinya.”


“Jadi, apa yang kau inginkan? Apa kau ingin aku merawatnya bersamaku?”


“Eum...ya, seperti yang ayah pikirkan. Aku sudah tidak tahu dengan siapa aku harus menitipkan Liam disaat aku pergi nanti, aku takut dengan penjagaan yang kurang akan membuat Liam berakhir kembali di tangan tuan NIU untuk melakukan pemerasan.”


“Lalu, bagaimana dengan perusahaanmu? Apa kau akan semudah itu memberikannya kepadanya?!”


“Tentu saja tidak ayah, aku sudah memikirkan ini dijauh-jauh dari sebelum aku mendpat penyakit yang mengerikan ini.”

__ADS_1


“Jadi...Apa yang ingin kau lakukan pada bajingan itu? Apa kau akan membagikannya setelah ia melakukan semua ini kepadamu?!”


“Mungkin, tapi hanya sedikit. Aku berpikir akan membaginya 5% dari perusahaanku yang ada di dalam negeri, dan sisanya sudah aku gadaikan untuk memberikannya secara tunai kepada ayah. Untuk perusahaanku yang di luar negeri...aku akan memberikan semuanya kepada Liam nantinya. Aku juga sudah mengurus semuanya sejak awal, jadi ayah tidak bisa membatalkan keputusanku kali ini.”


“K-kau melakukannya sejak awal? Apa kau sudah tahu bahwa penyakit seperti ini akan datang kepada tubuhmu nantinya?”


“Ya, aku sudah tahu dan itulah yang membuatku terus berpikir bagaimana aku bisa menyembunyikan Liam dari tindakan kasar suamiku. Aku sudah memikirkannya sejak awal dan berpikir bahwa tuhan mungkin memberiku istirahat setelah semua yang ku jalani ini, jadi...itu bisa menjadikan alasan kenapa aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakit ini.”


“Huh...Isabella, kau putri kesayanganku. Kenapa sekarang kau terlihat baru membutuhkanku? Darimana saja rasa kepercayaanmu diletakkan kepadaku, hah?”


“Hahaha...Maafkan aku, ayah. Aku tidak bisa hidup selalu bergantung kepadamu, jadi..hanya ini yang bisa aku lakukan untuk pembuktianku padamu.”


“....” kakek terdiam.


“Ayah, Mari ikatkan janji padaku lagi!” Isabella mengangkat tangannya untuk menunjukan jari kelingkingnya di udara. “Berjanjilah padaku untuk selalu menjaga Liam dari apapun, aku sudah tidak peduli lagi dengan tuan NIU tapi aku sangat khawatir dia masih akan berpikir untuk melakukan pemerasan kepada Liam. Jadi...tolong lakukan yang terbaik padanya nanti, ayah. Aku mempercayaimu kalinya, jika kau mengingkarinya maka aku akan kecewa padamu selamanya.”


“Baik, ayah berjanji. Tapi tolong jangan pikirkan untuk menyerah terlebih dahulu, ayah ingin kamu terus melakukan pengobatan sampai takdir yang menentukan kau selamat atau...tidak.”


“Iya ayah, aku akan melakukan pengobatan ini dengan baik. Benar kan dessy?”


Seorang wanita yang berdiri di sudut ruangan membuat kakek yang melihat itu tidak terkejut lagi. Karna dessy adalah salah satu pelayan yang selaluu setia kepada Isabella sejak ia memulai awal perkuliahan. Dessy disana bukan hanya berperan menjadi teman untuk Isabella, melainkan dessy juga bisa menjadi penasihat untuk Isabella yang selalu melakukan kesalahannya dimana saja.


“B-benar nona, saya juga akan bertanggung jawab akan pengobatan ini.” Ucap dessy dengan menganggukkan kepalanya.


...--🥀🕊—...


3 bulan kemudian.


Kabar yang beredar membuat seluruh orang di kota sheoul menangis saat mendapatkan kabar dari kematian yang diedarkan pada pagi hari dimana waktu bertepatan pada hari dimananya kembang api akan dilayangkan saat hari yang spesial ini.


Semua orang berduka akan kepergian Isabella yang begitu mereka sayangi, dan kematian yang berpassan dengan hari spesial ini malah membuat hari dimana mereka harus berduka di sana saat melihat penayangan peti mati Isabella yang akan dibawa ke pemakaman. Hampir semua orang datang untuk mengantarkan Isabella ke tempat peristirahatannya yang terakhir, namun dibanyaknya orang yang mengantar. Ada satu orang yang begitu amat penting bagi Isabella, namun ia menjadi salah satu orang yang tidak mengantarkannya selain keluarga NIU.


-Aku benci hari ini, hari dimana kau mengungkap semua kebohonganmu padaku ibu-


William yang tengah berdiri di atas balkon dengan auranya gelap serta pandangan mata yang dingin membuat suasana di sekelilingnya begitu mengerikan. Ditambah lagi dengan air mata yang sama sekali tidak keluar dari mata lelaki itu saat melihat pemakaman ibunya berlangsung di layar besar di kota. “Semua yang hidup akan mati. Lalu apa yang mati, bisa kembali hidup?”

__ADS_1


__ADS_2