Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 31 : Obat, Mimpi buruk dan sikap yang hangat dimalam hari


__ADS_3

Malam tiba dengan udara yang dingin membuat seorang lelaki yang berada di kamar harus menutup jendela Karna udara itu membuat suasana kamar menjadi sejuk. Bahkan dinginnya udara diluar mengalahkan dinginnya ac yang ia nyalakan di kamarnya.


William yang tengah sibuk melihat beberapa laporan dilaptopnya seketika manik matanya yang dingin melirik kearah pintu yang sedang terbuka segitu terlahan dari luar, serta menampilkan seorang wanita dengan raut wajahnya yang lesu kini tengah berjalan memasuki kamar tanpa melihat kearah William yang sedang duduk bersandar di tepi ranjang.


“Kenapa Aku begitu bodoh sih? Aku menjatuhkan kotaknya dan sekarang Aku juga yang harus kesulitan nantinya” gumam Evelyne seraya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sedikit kotor Karna sehabis mencari kotak itu dijalanan yang gelap.


Tak lama dari itu, Evelyne langsung keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju handuk berwarna putih. William yang baru saja menyadari sesuatu pun seketika tertegun saat melihat Evelyne dengan santainya masuk ke dalam ruang ganti tanpa menggerutu soal airnya. ‘Apa dia baik-baik saja mandi dengan air dingin seperti itu?’


Krek!


William melihat pintu ruang ganti itu telah terbuka dan ia juga melihat seorang wanita dengan pakaian tidurnya yang berwarna hitam tengah berjalan menghampiri ranjang dengan malas. Evelyne duduk di tepi ranjang yang kosong, lalu menidurkan tubuhnya yang lelah diatas kasur yang empuk.


William yang melihat Evelyne sudah tidak bergerak diatas kasur membuat dirinya berpikir bahwa wanita itu sudah tertidur begitu cepat. Namun siapa yang menyangka bahwa wanita itu memang sudah memejamkan matanya, tetapi dia selalu mengubah posisi tidurnya. Apakah ia merasa tidak nyaman? William tidak mengetahuinya, dan ia hanya terdiam seraya menatap wanita itu yang terus bergeser mencari posisi yang ternyaman baginya.


Tak terasa, tubuh evelyne sudah begitu dengan jarak William yang tengah duduk ditepi ranjang. Awalnya hanya terdiam disampingnya, hingga membuat William berpikir bahwa wanita itu susah menemukan tempat ternyamannya. Tetapi itu adalah kesalahan yang besar, evelyne memiringkan tubuhnya menghadap kedua kaki William yang sudah tepat didepan wajahnya. Lalu wanita itu dengan perlahan memeluk kedua kaki itu, serta mengangkat kepalanya hingga berasal diatas paha William.


William juga disana dengan sigap langsung menyingkirkan laptopnya dari sana, melihat kepala wanita itu sudah berada di atas pahanya membuat ia ingin menendangnya kesana. Tetapi saat melihat keritan di antara dahi wanita itu terus mengerut membuat ia terdiam, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap beberapa kali di dahi evelyne.


“Hey, berhenti mengerutkan keningmu! Itu sangat tidak baik!”


William terus mengusap dahi Evelyne yang secara perlahan beralih mengusap kepalanya dengan pelan. Awalnya respon dari evelyne tetap sama, namun lama-kelamaan kerutan di dahinya mulai menghilang sedikit demi sedikit. William yang melihat itu seketika tersadar bahwa wanita ini sudah saat kepalanya di usap begitu pelan.


“Kau sangat mirip dengan ibuku! Dan Karna itulah aku sangat membencimu!”


Saat sedang memperhatikan wajah polos evelyne yang tengah tertidur, William dikejutkan oleh bunyi hpnya yang sedang berdering, serta menampilkan kontan seseorang yang tengah menghubunginya.


Eughh..


Evelyne menggelengkan kepala diatas paha William, menandakan bahwa ia merasa terganggu akan bunyi dari HP William. Dan hal itu tentu saja membuat William langsung mengambil hpnya diatas lemari kecil di samping ranjangnya, lalu menekan layar tersebut hingga terdengar suara seseorang dari dalam telpon.


“Hn?” dehem William dengan manik mata yang melirik kearah evelyne yang sudah kembali tertidur.


“Lama sekali kau mengangkat telponnya, apakah sekarang kau sedang sibuk dengan pekerjaan kantormu itu?”


“Tidak! Ada apa?”


“Tidak ada sih, hanya ingin bertanya. Dimana kakak ipar? Aku tadi menghubunginya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Makanya telpon kamu, takutnya ia tidak mendengar hpnya berbunyi.”


“Cari dia buat apa?”


“Ahh.. Ini, barang yang tadi siang ia jatuhkan saat kita bertemu”


“Barang? Apakah barang itu adalah obat?”


“Ya... Bagaimana bisa kau tahu? Apakah kau sudah mengetahui bahwa selama ini kakak ipar telah mengonsumsi obat seperti itu?”


“.... “ William terdiam.

__ADS_1


“Aahh..Kakak tertua, obat ini cukup berat jika ia selalu mengonsumsinya setiap hari. Apakah kau bisa mengontrol cara ia minumnya?”


“Itu bukan urusanku!”


“Hey kakak tertua, kau tidak bisa seperti ini. Aku memang tidak menyukai kakak ipar, tapi jika dia sudah berada dikondisi seperti ini maka Aku juga harus menyingkirkan rasa tidak suka ku padanya untuk menjadi seorang dokter yang mengatasi berbagai masalah. Kau juga harus membantuku, kau yang lebih tahu aktivitas kakak ipar di rumah seperti apa, jadi Aku mohon padamu untuk mengontrol cara minum dari obat kakak ipar. Karna Aku sudah menduganya dari awal, bahwa ia memang secara berlebihan mengonsumsi itu”


“Jadi, kau ingin Aku melakukan apa?”


“Tidak perlu melakukan banyak hal, hanya mengontrol cara minum kakak ipar saja. Yang biasanya ia meminum setiap hari, maka kau harus membuat ia meminum obat itu seminggu 4× dan diselingkan oleh meminum madu sebagai penggantinya”


“Hanya itu?”


“Ckk...kakak tertua, hal seperti itu tidak bisa kau anggap mudah. Karna orang yang sudah terbiasa meminum hal yang seperti itu, tidak bisa dengan mudah dialihkan kesesuatu yang lain. Apabila kakak ipar, sudah begitu berlebihan dalam mengonsumsi obatnya.”


“Menurutmu, apa kau tahu sejak kapan dia mengonsumsi itu?”


“Aku sih tidak pasti dengan tebakanku Karna untuk hasil pemeriksaan yang telah kuberikan padamu itu menandakan bahwa ia sudah lama sekali mengonsumsi obat seperti itu. Bahkan bisa dibilang ia telah mengonsumsinya dari masa kecilnya”


“Tidak mungkin! Awal aku bertemu dengannya, ia begitu terlihat sehat-sehat saja. Dan tidak ada pergerakan yang menyatakan bahwa ia telah mengonsumsi obat itu sejak kecil”


“Kau benar juga. Saat aku bertemu kakak ipar, aku juga bisa melihat bahwa ia terlihat tidak mengonsumsi obat-obatan seperti ini. Tetapi cara pandangku berubah saat terakhir kali kau membawanya kerumah sakit. Kakak ipar terlihat memiliki tubuh yang hanya bertenaga setengah, dia juga sering terlihat gugup, kebingungan dan gemetar. Jadi aku sendiri tidak bisa menyimpulkan bahwa kakak ipar sudah mengonsumsi obat itu sejak kecil atau baru-baru”


“Berapa persen kau merasa yakin bahwa dia mengonsumsi obat itu sejak kecil?”


“Eum... Sekitar 85% Karna tanda-tanda seperti itu tidak bisa di bantah lagi. Dan aku sendiri tidak sebegitu yakin jika ia mengonsumsi obat itu baru-baru ini”


“Kakak tertua, ini sudah larut malam. Kau beristirahatlah, jangan terlalu memaksakan tubuhmu! Jaga kesehatan, Karna ada seseorang yang ingin memiliki kesehatan yang sama sepertimu”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, telpon pun terputus. Membuat William yang ada ditanya hanya terdiam seraya meletakkan kembali hpnya diatas lemari kecil. Baru saja William hendak menggeser tubuh evelyne dari pangkuannya, membuat wanita itu melingkarkan tangan di pinggang William dan memeluknya begitu erat.


“Ibu...tolong biarkan aku tetap seperti ini. Karna aku tidak bisa tidur tanpa pelukan dari mu!”


Evelyne memohon dengan tubuh yang sedikit gemetar, air mata yang mulai menetes membuat William berhenti untuk menyingkirkan tubuh Evelyne darinya. Berpikir untuk mencari cara, William pun akhirnya sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, lalu mendekatkan mulutnya ditelinga evelyne.


“Geserlah sedikit, sayang! Aku tidak bisa tidur jika kau seperti ini”


Evelyne yang mendengar suara lembut itu pun langsung mengangguk dalam pangkuan William, lalu secara perlahan ia menggeserkan tubuhnya sedikit agar William dapat menidurkan tubuhnya diatas ranjang. William yang melihat respon dari evelyne membuat dirinya sedikit terkejut akan hal itu. ‘Seberapa rindu kau pada ibumu? Sampai-sampai kau menganggapku sebagai ibumu yang selalu menemanimu tidur'


...──────ೋღ 🌺 ღೋ──────...


“Ibu lihatlah! Bunga ini cantikkan?” Tanya seorang gadis dengan menunjukkan beberapa bunga di tangannya. “Kakak mengantarku ketempat yang sangat indah, dan disana ada begitu banyak bunga. Jadi aku mengambilnya untukmu”


Wanita itu tersenyum, “Wah...cantik sekali! Terimakasih putri, ini bunga yang sangat indah”


“Hehehe... Kakak lihatlah! Ibu menyukainya. Ayo kita kembali ketempat itu untuk mengambilnya lebih banyak” kata gadis itu seraya menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat seorang wanita yang usianya jauh lebih tua darinya tengah berdiri sembari tersenyum diwajahnya.


Wanita itu mengangguk, “Baiklah, ayo kembali kesana dan ambilkan beberapa bunga lagi untuk ibu”

__ADS_1


Mendengar itu, gadis kecil pun tergirang hingga melompat beberapa kali. Lalu berlari kearah wanita itu seraya menarik tangannya agar berjalan cepat ketempat sebelumnya ia mengambil bunga. “Ayo kak, cepat! Cepat! Kita harus mengambil bunga-bunga itu sebelum hari gelap”


Wanita itu terkekeh, “Eline, pelan-pelan nanti kau terjatuh!”


Gadis itu tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh wanita tadi, melainkan ia malah terus berlari hingga akhirnya tersandung oleh batu yang ia tidak lihat. Alhasil, gadis itu menangis begitu keras saat menyadari lututnya susah terluka dan mengeluarkan darah segar. “Kakak, tolong!! Ini sangat sakit..” jerit gadis itu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Kakak kan sudah bilang jangan berlari, kamu nya yang tidak mau mendengarkannya.” Kata wanita itu sembari berjalan menghampiri gadis kecil itu yang tengah menangis. “Ayo bangun, nanti kakak obati lukamu dirumah”


Gadis itu mendengarnya dan mulai menurunkan tangannya lalu mengangkat kepalanya untuk melihat seorang wanita tengah mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Tapi saat ia melihat wajah yang penuh luka dan darah, serta senyuman yang mengerikan membuat gadis kecil itu dengan sontak terlonjat kaget.


Gadis itu menggeleng seraya menyeret tubuhnya kebelakang untuk menjauh dari wanita menyeramkan itu. “Siapa kau?! Dimana kakakku?!” tanya gadis itu dengan ketakutan hingga membuat sekujur Tubuhnya gemetar.


“Eline, aku adalah kakakmu! Apa kau tidak mengingatku?”


Gadis itu menggeleng, “Tidak! Tidak! Kakakku adalah wanita yang cantik dan dia juga baik. Bukan sepertimu!!”


“Eline, apa kau yang kau katakan? Aku ini adalah kakakmu, kenapa kau begitu jahat mengatakan hal itu padaku?” Tanya wanita itu dengan sebuah bayangan sekilas yang membuat gadis kecil itu tertegun dan dengan sontak beranjak dari duduknya untuk berlari meninggalkannya. Bahkan ia tidak peduli seberapa sakit dibagian lututnya yang terluka, yang kini ia hanya inginkan adalah kembali ketempat ibunya menunggu.


“Ibu!! Tolong Aku!!”


Teriak gadis kecil itu saat menghampiri sebuah tempat yang sebelumnya ia meninggalkan ibunya seorang diri.


Namun siapa sangka bahwa di tempat itu tidak ada seorang pun yang menunggu, bahkan tempat itu juga telah berubah menjadi sebuah hutan yang gundul akan kebakaran yang besar. “Dimana ibu? Kenapa ibu tidak ada disini?!!” Tanya gadis itu seraya memutarkan pandangannya untuk mencari ibunya.


“Sayang, kita disini? Apa yang sedang kau cari?!”


Sebuah tangan menyentuh salah satu bahu dari gadis kecil itu, hingga membuatnya menolehkan kepalanya dengan sontak. Dan disitulah ia kembali menjerit saat melihat 2 wanita dengan tubuh yang terbakar hangus tengah berdiri tepat di belakangnya.


...─────────ೋღ 🌺 ღೋ─────────...


“TIDAAKK!!”


Evelyne terbangun dari tidurnya yang membuat seorang lelaki disebelahnya ikut terbangun akibat mendengar jeritan itu. Evelyne memeluk kakinya, menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis dibalik lututnya yang kini tengah gemetar hebat. William yang melihat itu langsung terkejut serta ikut beranjak dari duduknya untuk melihat keadaan evelyne.


“Hey, ada apa?!”


William memegang salah satu bahu evelyne yang gemetar, ia juga dapat mendengar isakan yang begitu berat dibalik tubuh wanita itu yang sedang meringkuk. “Yoona, ada apa? Apa kau mimpi buruk lagi?” Tanya William yang sudah tidak terkejut lagi dengan hal yang sudah sering terjadi beberapa hal yang lalu.


Evelyne disana tidak merespon sedikitpun pertanyaan dari William, ia hanya menangis hingga tubuhnya dipenuhi oleh keringat dingin. Bahkan suara tangisan itu semakin terdengar yang membuat William tidak bisa menahan diri untuk menarik evelyne masuk kedalam pelukannya.


“Hey!! Tenanglah, apa yang terjadi? Kenapa harus menangis seperti ini? Apa yang kau takutkan? Bilang padaku! Aku disini” William mengelus kepala evelyne dengan lembut dan ia juga perlahan menidurkan kembali tubuhnya bersama tubuh evelyne yang masih berada dipelukannya.


“Eughh...” evelyne menggelengkan kepala di dada William sementara William terus mengelus dan menepuk pelan punggung evelyne untuk menenangkan wanita itu. “Memang sedikit tidak nyaman, tapi kau bisa bergerak dan cari posisi yang kau inginkan!”


Mendengar hal itu Evelyne mengangguk, dan mulai bergerak mencari posisi yang menurutnya nyaman. Setelah sudah, evelyne kembali menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh besar William dengan air mata yang masih menetes hingga membasahi baju tidur milik William. “Masih menangis saja, apakah mimpinya sebegitu menakutkan hingga membuatmu seperti ini?” tanya William dengan suara yang serak.


“A-aku t-takut! A-aku takut akan sendirian, a-aku tidak ingin di tinggal seperti ini.” Ucap evelyne dengan hati yang masih terasa sakit.

__ADS_1


William mengangguk, “Aku paham, bagaimana perasaanmu ditinggal sendirian, aku paham bagaimana rasanya hidup seorang diri ditempat gelap. Tapi karna sendirianlah, kau dapat belajar bagaimana caranya bisa untuk berdiri karna diri sendiri dan bukan karna orang lain. Mungkin untuk saat ini kau masih belum Terima, tapi percayalah kalau kau akan mengakui itu di suatu saat nanti”


__ADS_2