Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 16 : Dia tidak seperti yang dulu.


__ADS_3

“aku memprovokasi kalian?” Cibir evelyne yang diikuti oleh tawaan yang kencang, membuat semua orang yang disana terdiam saat melihat temperamen dari wanita lemah yang mereka kenal kini berubah seperti wanita asing yang tidak kenal rasa takut. “Bagaimana mungkin, orang sepertiku harus membuang-buang waktu untuk memprovokasi kalian, apakah kau ini sedang bercanda?”


Evan yang tidak bisa menahan diri saat melihat davira tengah dipermalukan oleh evelyne di depan keluarganya pun membuat lelaki itu ingin menghabisi evelyne hingga mati menderita. “Evelyne cukup!! Apa kau tidak takut apa yang akan kau dapatkan setelah ini?” bentak Gilang yang membuat evelyne menghentikan tawanya, serta kembali menatap Gilang dengan tatapan yang tajam hingga orang merasa bahwa dirinya seperti sedang diancam oleh maut.


“Cukup? Apanya yang cukup? Memangnya aku melakukan apa?” tanya Evelyne yang sedikit menunjukkan sikap kebodohannya, lalu secara cepat ekspresi itu berubah menjadi datar “Bukankah kata-kata itu seharusnya aku ucapkan pada kalian ya?”


Gilang terdiam, Manik matanya terus menatap kearah Evelyne yang tengah berdiri didepan Evan dengan tubuh yang tegak. Sementara Evelyne mengangkat salah satu tangannya, melihat kearah jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 12.50 dan hal itu membuat Evelyne nenghela nafasnya dengan lelah. “Ahh...sudah berapa lama kalian mengulur waktuku seperti ini? Aku sudah terlama, pasti Dessy sudah menungguku”


Evelyne menurunkan tangannya, menatap kearah Gilang lalu berkata “Dimana ibu?”


“Sudah kubilang ibumu sedang beristirahat! Apa kau tidak mendengarkanku sejak tadi?!” jawab Gilang yang dikejutkan oleh evelyne saat melihat wanita itu dengan cepat berlari kearahnya lalu berhenti tepat di depannya. Posisi mereka sangat dekat hingga Gilang tidak bisa tidak menatap manik mata merah milik evelyne yang tengah bersinar kilat. “Jangan mencoba untuk membohongiku ya! Kau pikir aku ini bodoh?”


Maisha yang melihat itu pun hendak mencampuri urusan Evelyne dengan Gilang, namun dengan cepat Davira menghentikannya sambil menggeleng. “Vira, apa yang kau lakukan?!” protes Maisha saat mendapati tangan davira dengan menahan tangannya. Sedangkan davira hanya menggeleng dengan kerutan yang terlihat diantara alisnya.


Maisha yang tidak ingin melawan putri kesayangannya sendiri pun hanya bisa terdiam saat melihat Gilang tengah ditatap oleh evelyne dengan jarak yang cukup dekat. Hawa nafsu yang ingin membunuh pun mulai muncul di dalam diri evelyne, namun dengan cepat evelyne menjauhkan jaraknya dengan Gilang. Mencoba mengendalikan dirinya agar ia tidak terlepas kendali seperti hari itu.

__ADS_1


“Yoona!!”


Evan kembali berkata dengan suara yang keras, lelaki itu juga berjalan menghampiri Evelyne yang tengah menenangkan dirinya. Tapi disisi lain Evelyne yang merasa terganggu dengan sikap keras kepala dari Evan pun membuat dirinya harus melepaskan sedikit hasratnya tersebut.


Wanita itu membuka matanya, menatap Evan yang tengah berjalan menghampirinya. ‘Padahal aku sudah berniat untuk menahannya, tapi jangan salahkan aku jika kau harus berakhir terluka!’ batin evelyne seraya berlari menuju Evan. Lalu dengan cepat ia berdiri disamping lelaki itu. Menarik tangannya, hingga membuat tubuh tinggi Evan sedikit mencondong kedepan.


Evan terkejut dengan reaksi tersebut, namun waktu sudah terlambat. Evan merasa tubuhnya seperti melayang lalu dengan cepat terbanting ke lantai dengan cukup keras, Evan yang merasakan sakit di punggungnya pun hanya bisa bergertakkan giginya. Semua orang yang berada di sana benar-benar dibuat kaget oleh evelyne yang dengan mudah membanting tubuh besar dan tinggi milik evan.


“B-bagaimana bisa?!”


Davira dan Yoona memang dulunya sangat dekat namun karna dirinya sudah merampas atau merebut william dari davira, hal itu membuat davira sangat membencinya. Bahkan beberapa kali, davira membuat orang tuanya semakin membenci yoona tanpa alasan yang jelas.


Evelyne memalingkan pandangannya kearah Gilang dan maisha yang tengah mengkhawatirkan keadaan evan, ‘Kau lemah! Dan kau tidak pantas untuk menjadi pemimpin di keluarga ini!’ Evelyne berjalan pergi meninggalkan kediaman jiang yang kini telah menjadi canggung. Evelyne tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya nanti, yang sekarang ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan ibu dari pemilik tubuh ini.


Karna ia sudah tidak bisa menahan rindu yang amat begitu dalam, hingga membuatnya kembali mengingat kematian dari sang ibu dan kakaknya dimasa lalu.

__ADS_1


-Tidak, tidak! Biarkan aku melupakan itu!! Aku tidak sanggup mengingatnya, karna itu sangat menyakitkan, tahu!-


...__🥀🕊__


...


Disisi lain, Dessy yang terlihat sibuk mencari seseorang di seluruh ruangan pun menunjukan ekspresi cemasnya. Beberapa kali ia menaiki lantai 2 dan 3 namun ia tidak menemukan apa yang ia cari. Hingga membuat kepala asisten disana menegurnya dengan terheran, “Aku sudah melihatmu beberapa kali menaiki lantai 2 dan 3 serta memeriksa beberapa ruangan di lantai utama, dan sekarang kau masih melakukan yang sama. Sebenernya apa yang kau sedang cari?”


Dessy terdiam sejenak, menenangkan dirinya agar ia bisa lebih mudah menjelaskannya pada kepala asisten. “Hn... Begini tuan, sejak tadi pagi aku tidak melihat nyonya yoona di dalam rumah. Jadi aku mencarinya keseluruh ruang, tapi aku tidak menemukannya sama sekali. Apakah kau melihatnya?”


Kepala asisten itu terdiam, berpikir sejenak untuk mengingat hal yang sebelumnya terjadi. Dan tak lama, akhirnya kepala asisten itu kembali membuka suaranya. “Ya, aku melihatnya tadi pagi. Dan saat itu tepat dimana tuan william dan nona clara berangkat bersama ke kantor.” Dessy yang mendengar hal itu tentu saja membuat dirinya merasa sedikit tenang. “Lalu apakah kau tahu dimana nyonya sekarang?”


Kepala asisten itu menggeleng, menghilangkan sejumlah harapan besar dari hati Dessy. Wajah yang senang pun terganti dengan wajah yang sedih, “Aku tidak tahu dimana dia, tapi seingatku, tadi pagi dia dijemput oleh seseorang dengan mobilnya. Entah ingin kemana, aku tidak menanyakannya”jelas kepala asisten dengan tenang. “Kenapa kau mencarinya? Bukankah sikap keluyuran dari nyonya sudah menjadi hobinya?”


Dessy mengangguk lalu terdiam, ia tidak tahu harus memberitahunya bagaimana. “Aku tidak tahu kenapa sekarang aku lebih memperhatikan nyonya, tapi yang pasti dia sedikit berbeda dari nyonya yang dulu. Dari sikap, cara bicara serta auranya berubah. Ia tidak seperti yang dulu, dan aku penasaran apa yang membuatnya seperti itu.”

__ADS_1


“Mungkin ia hanya ingin Tuan besar melihatnya kembali, lagipula bukanlah dia sudah melakukannya dulu? Tidak mungkin kan kau melupakannya” balas kepala asisten yang tidak terlalu peduli dengan perubahan Evelyne.


__ADS_2