
“Kamu?!!” Jessica terkejut dengan kedatangan Evelyne yang sama sekali tidak ia sadari. Bahkan langkah kaki dari wanita itu sama sekali tidak terdengar di telinganya. “Kakek, selamat pagi!” Sapa Evelyne saat berjalan menghampiri kakek yang sedang duduk di kursi meja makan bagian tengah.
Kakek tersenyum “Pagi, Yoona”
“Waw...kakek, lihatlah dirimu! Kau memakan banyak makanan pagi ini, apa semua ini enak?” Evelyne yang melihat piring kakek yang berisi penuh membuatnya sedikit tercengang Karna itu benar-benar melebihi porsi makannya.
Kakek terkekeh pelan “Dasar anak nakal! Apa kau pikir, aku akan makan sebanyak ini? Dessy, lihatlah majikanmu ini! Apa kau tidak pernah mendidiknya dengan baik saat berbicara denganku soal makanan?”
“hahah...kakek, kau terlalu membawa serius perkataanku. Padahal jelas-jelas aku hanya bercanda tadi!” Sahut Evelyne yang ikut tertawa kecil
Kakek menggelengkan kepalanya saat melihat Evelyne duduk di sampingnya seraya mengambil piring yang sudah tersedia disana. “Kau sarapan disini? Apa kau tidak takut terlambat pergi ke kantor hari ini?” tanya kakek yang memulai pembicaraannya saat Evelyne mulai bergabung dengan mereka.
“Ya tentu saja aku takut. Tapi selagi aku memiliki teman barengan saat terlambat kerja, maka itu tidak akan menjadi masalah” Evelyne mengambil beberapa makanan pedas yang ada diatas meja. Mengambilnya satu persatu, namun dalam semua menu. Makanan pedas itu sudah ada di satu piring yang sama. “Aku juga ingin sekali-kali menemani kakek saat sarapan pagi. Maaf, jika Aku baru menemanimu saat ini”
Kakek tertegun, merasa bahwa perubahan Evelyne memang jauh lebih baik daripada yang sebelumnya. Tapi entah kenapa, Perubahan ini terlalu mendadak baginya. Hingga dengan kejam, kakek menyangka bahwa Evelyne sedang memainkan sebuah drama untuk mengambil hati keluarga Maxime yang sebelumnya ia pernah kecewakan.
“Berhentilah meminta maaf, Aku paham bagaimana waktumu yang sekarang sudah mulai bekerja. Jadi tidak pernah merasa bersalah akan hal itu!” ucap kakek yang sedikit mengukirkan senyuman kecil di wajahnya yang keriput.
Evelyne mengangguk, lalu dengan perlahan ia mulai memakan makanannya secara anggun. Edgar dan kakek suka melihat Evelyne saat makan dengan anggun seperti putri, berbeda dengan jessica yang ini telah di kursi oleh nafsu hingga ia tidak bisa menjaga sikapnya saat makan bersama keluarga.
Ehem!
Suara kodean seseorang terdengar di telinga Evelyne yang membuatnya dengan sontak menolehkan kepalanya saat mendengar itu. “Yo! Sudah selesai dengan makananmu?” tanya seorang lelaki yang tengah berdiri di depan pintu seraya menyandarkan tubuhnya di tiang pintu.
__ADS_1
“Liam, kau sudah selesai bersiap?” Evelyne mengayunkan tangannya kepada William untuk mengisyaratkan kepadanya sesuatu “Kemarilah! Kau harus makan ini, ini sangat lezat. Kau tahu itu?”
William terdiam, lalu berjalan menghampiri Evelyne seraya menundukkan kepalanya saat Evelyne bersiap untuk menyuapinya di depan kakek dan saudara tirinya. “Bagaimana? Apakah itu enak?” Tanya Evelyne saat William telah melahap makanan yang baru saja ia berikan kepadanya.
“Lumayan, tapi kenapa kau malah memakan ini dibandingkan dengan sayuran yang sudah tersedia disana?” William melirikkan matanya kearah semua menu makanan yang sudah di sediakan oleh pelayan di atas meja makan.
Kakek yang melihat William terlalu membatasi makanan Evelyne pun membuatnya sedikit merasa kesal dengan sikap anak itu. “William!! Memangnya siapa kamu, bisa membatasi makanan Yoona?”
“Aku?” tunjuk William pada dirinya sendiri “Aku suaminya! Lelaki yang menikah dengannya! Apa kau merasa keberatan jika aku harus membatasi makanannya demi kesehatan tubuhnya?”
Semua orang tertegun di waktu yang bersamaan. Mereka semua tidak akan pernah menyangka bahwa William akan berbicara seperti itu untuk pertama kalinya di depan semua orang di kediaman. “A-apa yang kau bicarakan, Dasar anak bodoh?!” kakek menatap William dengan tajam, sementara William hanya membalasnya dengan tatapan dinginnya.
Evelyne yang melihat bahwa William dan kakek selalu bertengkar disetiap mereka bertemu pun membuat Evelyne merasa kebingungan dengan hubungan mereka. “Eum...liam, sepertinya kita akan terlambat. Bagaimana kalau kita pergi sekarang saja?” Evelyne beranjak dari duduknya untuk menengahi keduanya yang kini sedih beradu mata.
Karna Evelyne tidak memperhatikan jalannya dan hanya berfokus kepada William pun membuat dirinya hampir terjatuh Karna tersandung oleh sesuatu yang ada di lantai. “Hey! Kau ini tidak memiliki mata ya? Kenapa tidak bisa berjalan dengan baik?” Tanya William saat dengan reaksi cepat ia menangkap tubuh Evelyne sebelum ia sepenuhnya terjatuh ke lantai.
“A-ah... Maafkan aku! A-aku tidak melihatnya” cicit Evelyne yang merasa malu saat William menarik tubuhnya masuk kedalam pelukan tubuhnya yang gagah.
William menghela nafasnya “Kau ini sangat ceroboh! Tetaplah disampingku, atau kau akan terjatuh lagi seperti tadi”
“T-tapi, a-aku baik-baik saja sekarang. Apa kau bisa melepaskan tanganmu dari pinggangku?” Evelyne yang sedikit malu mengatakan itupun hanya malah membuat dirinya semakin menekankan di dalam dekapan lelaki itu. “Bukankah kau menyukainya? Apa kau yakin, ingin aky melepaskannya sekarang?”
Evelyne mengangguk, lalu dengan begitu William menjauhkan tangannya dari pinggang Evelyne. Dan hal itu tentu saja membuat Evelyne sedikit menjaga jaraknya dari William. Sementara lelaki yang di buat jaga jarak oleh Evelyne hanya terdiam walau ia mengetahui bahwa Evelyne masih memiliki rasa malu untuk mempublikkan hubungan mereka di dunia luar.
__ADS_1
“Kakak tertua!! Tunggu!!” .
Kedua orang yang tengah berjalan bersama pun seketika menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan seorang wanita dari belakang, serta langkah kaki yang berlari menghampiri mereka. William menyadari siapa itu pun langsung menarik tangan Evelyne untuk menyembunyikannya di belakang tubuh gagahnya.
Sementara dirinya hanya terdiam di tempat sampai wanita itu berhentilah tepat di depannya. “Kakak tertua, kupikir kau sudah pergi tadi.” Ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.
“Kau datang sampai berlari seperti ini, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” William dengan dingin menanggapi Jessica yang tengah berdiri di depannya, sementara William terus menggengam tangan Evelyne agar tetap berada di belakang tubuhnya.
Jessica mengangguk “Ya, ini soal kak Clara! Apa kakak tertua memiliki waktu sejenak untuk berbicara denganku? Ada banyak hal yang aku ingin tanyakan padamu kak”
“Maaf, aku tidak bisa. Mungkin kita bisa membicarakannya lain kali, aku sibuk. Jadi tidak memiliki waktu untuk mendengarkanmu menceritakan keluhannya dari dirinya” kata William dengan rasa tak acuh.
Jessica terkejut, dan dengan sontak ia menyadari keberadaan Evelyne yang tengah berdiri di belakang William. “Apa Karna dia, kakak tertua melupakan kak Clara?” Tanya Jessica dengan suara pelan “Apa Karna wanita ****** itu, kakak jadi berpaling dengan wanita yang selalu ada buat kakak sejak dulu?!! Apa yang kakak lihat dari wanita ini, sampai-sampai kakak tertua tega melakukan hal seperti itu pada kak Clara. Apa kakak tidak pernah berpikir, sesakit apa hati kak Clara saat tahu bahwa kakak tertua sudah mulai menjauh darinya. Apa kakak tertua sudah tidak pernah memikirkan perasaan kak Clara seperti apa, saat ia mengetahui ini?”
“Tidak, lagipula untuk apa aku membuang-buang waktu ku untuk memikirkannya? Bukankah kita hanya teman kecil yang tumbuh bersama? Kau juga seharusnya tahu akan hal itu kan?, tapi kenapa tidak berbicara saja dengan sahabatmu untuk tidak terlalu berharap tinggi dengan seseorang yang sepertiku?” Kata William dengan kejam.
Jessica membantah “T-tapi, kakak tertua...kau dulu selalu melakukan apapun yang kak Clara minta kepadamu, dan Kau juga tidak pernah menolaknya!”
“Ya, aku memang tidak pernah menolaknya. Aku selalu melakukan apapun yang ia inginkan, Karna Aku menghargainya sebagai teman kecil bukan Karna perasaan lebih yang ku taruh padanya.” Jelas William yang membuat kedua wanita itu dengan sontak tterkejut.
Jessica menggeleng tidak percaya “T-tidak! Tidak mungkin! Kakak tertua pasti memiliki perasaan kepada kak Clara, Aku tahu itu. Kakak tertua tolong jangan mengelak lagi!!”
“Aku tidak mengelak, Aku juga tidak berbohong. Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya langsung pada sagabatmu itu! Akau sudah pernah mengatakan hal yang sama kepadanya, jadi jika kau tidak pernah dengan perkataanku, maka kau tidak perlu ragu untuk menanyakannya secara langsung kepadanya.” William menggengam tangan Evelyne yang sedikit mengerat Karna ia dapat merasakan tangan Evelyne yang kini sudah gemetar.
__ADS_1
Jessica terus menggelengkan kepalanya karna tidak percaya, sementara William yang tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara pun hanya bisa berbalik badan untuk memasukkan Evelyne dalam pelukannya. “Kau baik-baik saja?”