Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 27 : Gedung Musically milik kakek besar


__ADS_3

Kembali ke sisi Evelyne yang tengah berjalan menuruni tangga dengan memakai sebuah dress pendek berwarna hitam. Model dress yang dikenakan Evelyne cukuplah simple namun terlihat begitu mewah. Bagian atas yang membuat baju terbuka namun tidak membiarkan belahan dari dadanya terlihat, ukuran pinggang evelyne cukup ramping hingga membuat tampilan dress dibagian atas cukup cocok untuknya.


Sementara bagian bawah sedikit memiliki berbeda dari panjangnya. Bagian depan yang panjangnya hanya sampai diatas lutut, berbeda dengan bagian belakang yang panjangnya hingga menutupi diatas pergelangan kaki. Disana juga dihiasi oleh beberapa rendah yang mengikuti ukuran serta panjang dari dress tersebut. Disana Evelyne juga memakai ‘Sling Back Heels' yang sewarna dengan dress nya.


Ditambah lagi dengan rambut hitam panjang Evelyne yang kini tergerai. Penampilannya untuk malam ini cukup menarik, bahkan kecantikan yang dimiliki oleh Evelyne membuat dirinya bagaikan peri hitam yang turun dari kayangan.


“Nyonya besar? Anda ingin kemana?”


Satpam yang sedang menjaga pintu kediaman tua tertegun saat melihat Evelyne berjalan keluar dengan penampilan yang sangat indah. Karna sebelumnya Dessy mengatakan kepadanya bahwa Evelyne tidak akan pergi ke acara ulang tahun William dan Dessy juga menyuruhnya untuk berjaga disana.


Evelyne menghentikan langkah, berbalik wajah yang membuat satpam tersebut bisa dengan sepenuh nya melihat kecantikan dari wanita yang ada didepannya ini. “Aku tidak ke mana-mana, hanya berkeliling didekat sini saja. Aku terlalu bosan berada di dalam kamar” kata Evelyne dengan senyuman di wajahnya.


“Tapi ini sudah larut malam, nyonya. Akan sangat berbahaya jika anda berkeliling sendirian disini” ucap satpam yang sedikit tidak setuju akan tindakan dari Evelyne. “Tapi jika anda masih bersikeras untuk berkeliling, maka izinkan saya untuk menemani anda.”


Mendengar hal itu, Evelyne dengan senyumannya pun mengangguk. Karna ia juga tidak terlalu tahu dengan keseluruhan dari tempat kediaman ini, maka akan sangat bagus jika ada yang menemaninya. “Baiklah, terimakasih. Maaf sudah merepotkanmu malam-malam”


Evelyne dan penjaga tersebut pun berjalan berkeliling ke tempat yang belum pernah Evelyne tahu, bahkan sampai mereka bertemu ke suatu tempat yang membuat evelyne seketika teekagum akan besarnya tempatnya. “Tempat apa ini? Kenapa aku baru melihatnya?” Tanya Evelyne sembari berjalan menghampiri sebuah bangunan yang terpisah dari kediaman tua.


“Ini adalah tempat musik favorit milik kakek besar maxime. Beliau memang sengaja membangun tempat ini berpisah dari kediaman, karna dulu beliau suka dengan tempat yang tenang saat bermain alat musik. Di dalam bangunan ini juga sangat lengkap, hingga tidak akan membuat orang bosan saat memasuki nya” jelas penjaga itu secara ringkas.


Evelyne menolehkan kepalanya kearah penjaga, “Lalu kenapa tempat ini seperti tidak pernah dikunjungi oleh orang?”


“Dulu tempat ini banyak sekali teman-teman dari beliau yang datang untuk melihatnya bermain musik, tapi setelah beliau pergi ke luar negeri untuk beberapa bulan, tempat ini sudah jarang dan bahkan sudah tidak pernah lagi ada yang mengunjunginya” Penjaga berjalan melewati evelyne menuju kearah pintu dari bangunan tersebut. “Jika nyonya ingin melihatnya, maka aku akan memperlihatkannya padamu”


Setelah mengucapkan perkataan itu, penjaga langsung mengeluarkan sebuah kunci dari saku seragamnya. Kemudian membuka gembok dari pintu tersebut hingga berbunyi ‘Klik' yang menandakan bahwa gembok tersebut sudah terbuka.


“Mari ikuti saya, nyonya!”


Penjaga itu langsung mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar, dan lampu yang berada di dalam dengan secara otomatis menyala hingga menerangi seluruh bagian dalam dari ruangan tersebut. Evelyne yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai bangunan tersebut, seketika hatinya langsung terkagum saat melihat bagian dalamnya.


Disana terlihat begitu banyak alat musik yang bermacam-macam bentuk, ada yang tersusun rapih di sebuah lemari cara untuk alat musik yang berukuran kecil-sedang dan ada yang terpajang di setiap bagian ruangan tersebut untuk alat musik yang berukuran besar seperti piano.

__ADS_1


“Besar sekali! Apakah ini yang dinamakan dengan bangunan musically?”


Evelyne berjalan memutari tempat itu sembari melihat ada apa saja alat musik yang ada disana. Sementara penjaga hanya terdiam di tempat dengan senyuman di wajahnya memandang evelyne. “Nyonya bisa mencobanya, maka pilihlah salah satu alat music yang Anda suka” kata penjaga itu yang membuat manik mata Evelyne seketika berbinar. “Sungguh?!”


Penjaga itu mengangguk, dan membiarkan Evelyne memilih alat musik yang ia suka. Dan benar saja, setelah melihat anggukan dari penjaga, Evelyne langsung berjalan menghampiri sebuah alat music yang menurutnya ia suka. Dan tak lain, alat music tersebut adalah sebuah piano besar yang letaknya berada di pinggir ruangan dan itu dekat sekali dengan kaca.


“Sepertinya nyonya memiliki ketertarikan yang sama seperti kakek besar maxime” puji penjaga itu yang melihat Evelyne berjalan mendekati piano kesayangan kakek.


Evelyne terkekeh, “Aku sudah lama tidak bertemunya, jadi agak sedikit lupa seperti apa wajahnya”


“Nyonya, Apa perlu saya panggilkan tuan dilan untuk mengajari Anda bermain piano?” tawar penjaga dengan Sepenuh hati.


Evelyne menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.”


Penjaga itu terdiam saat melihat Evelyne menduduki kursi yang berada di dekat piano tersebut. Lalu secara perlahan tangannya terangkat lalu menekan beberapa not di piano, hingga menghasilkan sebuah nada singkat yang membuat penjaga itu tertegun.


“Eum...Sepertinya harus menggunakan yang lebih halus”


...__🥀🕊__


...


Pesta yang kini sudah berlangsung selama 1 jam pun telah melewati beberapa acara yang seru, dan sekarang adalah waktunya untuk para tamu undangan beristirahat sejenak seperti makan dan minum yang sudah disediakan disana. “Kak William, apakah kau ingin meminum sesuatu terlebih dulu?” tanya Clara yang mengkhawatirkan keadaan lelaki yang ada disampingnya ini.


“Tidak perlu, aku tidak haus”


William berjalan melewati Clara tanpa rasa peduli, sementara Clara hanya terdiam saat melihat William tengah berjalan menuju pintu luar. Dan tampaknya William sedang menghampiri seseorang yang tengah menyiapkan minuman untuk para tamu.


Sesampainya di dekat wanita itu, William hanya terdiam tak mengucapkan apapun. Hingga wanita yang menyadari kedatangan William pun seketika terkejut. “T-tuan besar?” cicit wanita itu seraya menundukkan kepalanya. “Berikan aku 2 gelas anggur ringan!” kata William yang membuat wanita itu dengan sontak menggerakkan tangannya untuk melakukan perintah dari William.


Setelah selesai, wanita itu langsung memberikan 2 gelas tersebut pada William dengan tangan yang gemetar. “Ini tuan, minuman untukmu”

__ADS_1


“Eum..” William mengangguk sembari menerima gelas tersebut dari tangan wanita itu. Lalu berbalik badan untuk pergi meninggalkannya.


Dari kejauhan William dapat melihat Clara tengah terdiam anggun sembari melihat kearah para tamu yang sedang berbincang seru, dan karena terlalu fokus, wanita itu sampai tidak menyadari bahwa William tengah berjalan kearah nya. “Ini minumlah!” William mengangkat salah satu gelas itu kearah Clara yang tadinya sedang melamun di tempat.


Clara terkejut saat melihat sebuah gelas telah berada di depannya dengan seorang lelaki yang memegangi gelas tersebut. “Kak William?”


“Minumlah, kau terlihat begitu lelah!” William mengulang perkataannya lagi dengan nada dinginnya, namun sikapnya membuat Clara tanpa tersenyum senang. “Terimakasih”


William mmenganggukinya, lalu berdiri disamping Clara seraya meminum anggur tersebut. Tak lama dari itu, suara music dari aula utama seketika berubah menjadi pelan dan terdengar sebuah alunan music yang begitu indah hingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu saling memandang.


“Lagu darimana itu?”


“Bukankah irama ini begitu indah?”


“Menenangkan sekali? Siapa yang memainkannya?”


“Apakah ada orang dibalik layar?”


Semua orang bergaduh akan irama tersebut, hingga William sendiri mengerutkan keningnya saat mendengar hal itu. ‘iramanya sangat asing, tapi kenapa sumber suaranya terdengar tak jauh dari sini?’ batin William yang merubah auranya menjadi gelap. “Kak, suara alunan dari mana itu? Apakah kau menyiapkannya dipesta ulang tahunmu?” tanya Clara yang ikut penasaran akan alunan tersebut.


“Cari sumber alunan itu cepat!!”


Pinta William dengan tegas yang menyuruh beberapa penjaga untuk mencari sumber suara itu. Sementara William berjalan keluar dengan ekspresi wajah yang marah, dan bahkan hatinya tidak menyukai alunan halus itu.


Clara yang melihat William berjalan pergi pun membuat dirinya ingin ikut dengannya, namun saat ingin melangkah, William dengan cepat berbalik badan seraya berkata “Tidak perlu mengikutiku! Biarkan aku yang membereskan semuanya!”


“T-tapi kak willi...” kata Clara yang seketika menghentikan perkataannya saat melihat tatapan tajam dari manik mata gelap milik William. Sementara lelaki itu kembali membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti karna Clara.


William dan beberapa penjaga berjalan menuju kearah suatu tempat yang jaraknya cukup jauh dari aula utama, dan harus melewati beberapa taman bunga untuk menuju ketempat tersebut. Sesampainya disana, William langsung melihat sebuah gedung dengan cahaya lampu yang bersinar terang dari dalam hingga membuat pantulan bagian dalam terlihat dari luar.


Dan William yang melihat itu seketika manik matanya tertuju kearah wanita yang tengah duduk di depan piano besar berwarna hitam sembari memainkannya dengan alunan irama yang halus. Beberapa penjaga yang mendengar itu juga sedikit mengakui bahwa alunan tersebut sangat indah, tapi berbeda dengan William yang terus memandang kebencian pada wanita itu.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan disini?!!”


__ADS_2