
“Aaahhhkkk...”
Suara teriakan wanita yang menjerit kesakitan serta menangis karna tidak bisa menggerakkan sedikitpun tubuhnya saat ia ingin bangun dari tidurnya membuat William yang tengah tertidur dengan lelap seketika membuka matanya untuk melihat kebisingan apa yang di lakukan oleh Evelyne di pagi hari.
“Yoona...apa yang kau lakukan? Kenapa kau teriak-teriak seperti ini?” Ucapnya dengan menutup telinganya dengan bantal, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Evelyne untuk kembali tertidur.
Evelyne merasa kesal langsung menampakkan sebuah tamparan keras di punggung William yang kini tidak di tutupi oleh pakaian, dan rasa sakit yang di dapat oleh lelaki itu juga 2x lebih lipat dari rasa sakit saat ia memakai pakaian. “Liam!!! Apa yang kau lakukan padaku?!! Kenapa tubuhku terasa sakit semua?!! Bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak bermain kasar lagi padaku, kenapa kau sekarang malah mengingkari janjimu?!!”
“Astaga...jika aku tahu ini akan terjadi, mungkin aku tidak akan melakukannya saat itu” gumamnya saat membalikkan tubuhnya untuk melihat Evelyne yang tengah memegang bantal miliknya dengan raut wajah yang merengek. William yang melihat itu pun langsung bangun dari duduknya pun memeluk Evelyne agar ia bisa berhenti memasang wajahnya yang seperti itu. “H-hey! A-ada apa denganmu? Kenapa menangis?”
Evelyne mengusap matanya yang kini mengeluarkan air mata, “Liam, kau pembohong!! Kau pembohong!! Aku benci padamu!! Aku tidak akan pernah percaya lagi denganmu!!” Ucapnya dengan memukul William saat emosi melanda hati Evelyne di pagi hari.
“E-eh...apa maksudmu? Aku berbohong apa?” protes William yang melihat Evelyne terus mengusapkan matanya saat air mata itu mulai menetes di pipi merahnya. “Hey, ada apa? Kenapa menangis? Apa ada sesuatu yang tidak nyaman di tubuhmu?”
Evelyne menggeleng, lalu dengan wajahnya yang merengek ia menatap William seperti layaknya anak anjing yang lucu. “Apa kau tadi malam memukulku, karna kau marah padaku saat kau mengetahui aku pergi ke bar? Apa kau marah padaku saat kau mengetahui ada banyak aroma anggur di seluruh tubuhku?! Atau kau marah padaku karna aku tidak memakai pakaian dalam saat aku keluar dan bertemu denganmu?!! Apa kau marah denganku karna itu?!” Tanya bertubi-tubi dari Evelyne yang kini merasakan sesak di dalam hatinya.
“....” William terdiam saat melihat Evelyne mulai mengeluarkan emosinya dengan air mata.
Evelyne mendorong sedikit tubuh William ke belakang, dan ia juga menatap William dengan manik matanya yang berwarna merah terang kini merubah menjadi merah yang pudar. “Liaamm....maafkan aku! Maafkan aku!!....aku tahu, aku salah!....aku seharusnya tidak pergi menemuinya saat itu! Karna aku kira dia akan menyelesaikan permasalahannya....tapi aku tidak akan menyangka bahwa dia akan membuat masalah ini semakin menjadi besar.... Maafkan aku, Liam! Maafkan aku....”
“Yoona...apa yang kau bicarakan ini?” William memeluk Evelyne untuk menenangkannya, karna tangisan itu semakin menjadi saat Evelyne mulai mengingat bagaimana rasa kebersalahannya pada William karna tindakan bodohnya. “Aku tidak marah padamu, aku juga tidak memukulmu. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Apa yang terjadi? Apa ada seseorang yang melakukan sesuatu padamu?”
Evelyne terdiam dengan isakan tangisnya yang masih tersisa di hatinya saat ia mulai merasa tenang saat di dalam pelukan lelaki ini. “Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, maka katakan saja. Aku berjanji padamu, Aku tidak akan pernah marah ataupun sampai memukulmu. Aku tidak akan pernah melakukan sesuatu kekerasan lagi padamu, jadi tolong berhenti menangis. Dadamu akan terasa sakit jika kau mengeluarkannya seperti itu” William mengusap kepala Evelyne dengan lembut.
Sementara Evelyne yang kini berada di dalam pelukan William terus merasakan rasa kebersalahannya pada lelaki ini. “L-liam...tolong maafkan aku! Aku seharusnya mendengarkanmu...aku seharusnya meminta izin padamu terlebih dahulu saat aku ingin kemanapun....karna jika tidak ada kamu, aku sangat takut saat dia melakukan itu padaku”
“Eum...dia siapa yang kau maksud, Yoona?” Tanya William dengan suaranya yang pelan.
__ADS_1
Evelyne terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk membuka mulutnya. “E-Edgar” ucap Evelyne dengan satu kata yang membuat William dengan sontak terkejut saat mendengar itu.
“Edgar? Apa yang dia lakukan kepadamu?” William bertanya dengan perasaan yang tidak nyaman mulai menyelimuti hatinya. Namun saat Evelyne mendengar pertanyaan William yang baru saja lelaki itu lontarkan, hanya membuat Evelyne terdiam secara menggelengkan kepalanya.
William tahu bahwa itu adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman untuk di bicarakan, karna melihat reaksi ketakutan serta rasa bersalah saat Evelyne mengucapkan kata maaf untuknya sudah bisa William bayangkan bahwa Edgar pasti melakukan sesuatu terhadap Evelyne saat mereka ada di dalam bar. William cukup senang saat mendengar Evelyne bisa menjawab pertanyaannya walau ia masih merasa takut untuk menjelaskan apa yang terjadi pada mereka, William paham dan itu membuatnya berhenti melanjutkan topik yang membuat Evelyne merasa sedih.
“Sudah, tidak apa-apa! Anggap yang semua yang sudah terjadi menjadi pembelajaran untukmu di masa depan, dan akan menjadi suatu peringatan untukku agar bisa lebih ketat lagi dalam menjaga. Sudah jangan menangis, nanti matamu akan sakit!” William mengulurkan tangan panjangnya untuk meraih sebuah gelas yang ada di atas lemari kecil, lalu di berikanlah kepada Evelyne untuk menenangkan dirinya di bagian dalam. “Minumlah dengan perlahan! Jangan sampai tersedak”
Evelyne mengangguk, lalu ia memegang gelas dengan kedua tangannya dan di tambahkan oleh tangan William untuk mencegah gelas itu terjatuh disaat tangan Evelyne tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Setelah selesai meminum air, Evelyne pun merasa tubuhnya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Emosi serta sesuatu yang tidak nyaman mulai menghilang saat ia mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini. “Terima kasih” Ucapnya dengan memandang William.
“Heheh...tidak perlu berterimakasih, aku disini sebagai suamimu. Jadi tugasku sudah seharusnya merawat dan menjagamu dengan baik, karna kau istri yang aku sayangi.” William tersenyum seraya bangun dari duduknya untuk menuruni ranjang dengan menggendong tubuh Evelyne yang kini di baluti oleh selimut berwarna putih.
Evelyne terkejut “L-liam...apa yang kau lakukan? Kau ingin bawa aku kemana? Turunkan aku!!”
Mendengar sesuatu yang konyol dari William pun membuat Evelyne dengan seketika memerah, bahkan ia juga terus memberontak di dalam gendongan William untuk menyuruhnya menuruni Evelyne. “Sialan!! Apa yang baru saja kau katakan Bajingan?!! Turunkan aku!! Aku tidak ingin mandi bersamamu!!”
“Hahaha...jika kau tidak ingin aku mandi bersamamu, lalu kau akan melakukannya sendiri disaat tubuhmu yang masih terasa sakit?!” cibir William dengan meledek Evelyne.
Evelyne mendorong dada William untuk menjauh darinya, ia juga menggerakkan kakinya untuk melakukan suatu pergerakan disana. “Liam....lebih baik kau tutup saja mulutmu itu, atau aku akan membunuhmu nantinya!!!?”
“Hahaha....baik-baik, aku akan menutup mulutku. Tapi untukmu membunuhmu hanyalah mimpimu belaka, Yoona. Jadi berhentilah membual!” cibir William saat mereka mulai memasuki kamar mandi dengan bersamaan.
Evelyne menggeram kesal “CUKUP DENGAN TAWAANMU YANG KONYOL ITU, LIAAMM!!!”
Selesai mandi bersama.
__ADS_1
Kedua pasangan itu keluar dari kamar mandi dalam posisi yang sama, dimana William menggendong tubuh mungil Evelyne di tubuhnya yang di penuhi oleh otot-otot yang besar. Disana keduanya berpakaian yang berbeda, seperti William yang hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang rampingnya untuk menutupi bagian bawahnya saja.
Berbeda dengan Evelyne yang menggunakan baju handuk untuk menutupi bagian tubuhnya. Mereka memang sudah melihat tubuh dari salah satunya, namun Evelyne masih merasakan malu karna statusnya ini. “Liam...sudah cukup. Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri, tubuhku juga sudah tidak terasa sakit lagi.” Ucapnya dengan menepuk pelan bagian dada William yang berotot.
“Jika tubuhmu sudah tidak terasa sakit, apa kau mengatakan bahwa kau tidak membutuhkan bantuanku lagi? Kau akan membuangku jika kau sudah tidak memerlukanmu lagi? Apa begitu Yoona?” protes William dengan mengerutkan keningnya, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menurunkan Evelyne dari gendongannya.
Evelyne memberontak, menggerakkan kakinya lagi serta mendorong wajah William ke belakang untuk melakukan suatu pembelaan. “Liam...aku bisa berjalan sendiri, aku tidak lumpuh! Turunkan aku cepat!!”
“Sstt...kamu memang tidak lumpuh, Yoona. Tapi...aku bisa saja membuatmu tidak bisa menggunakan kakimu lagi hingga kau akan membutuhkanku di setiap kau ingin pergi kemanapun. Apa kau mau?” Bisik William dengan kejam.
Evelyne terkejut dengan sikap William yang suka sekali mengancamnya dengan hal yang kejam, walau ia tidak pernah menanggapi ancaman itu dengan serius, Evelyne tetap saja tidak menyukainya. “Berisik!! Jika kau membuatku tidak bisa menggunakan kakiku lagi, maka aku akan membuatmu tidak bisa menempatkan tubuhmu ini lagi!!”
“Hahaha....Yoona, ternyata kau sudah berani mengancamku lagi ya? Apa kau tidak takut, aku menghukummu seperti aku menghukummu tadi malam?” ejek William dengan senyuman konyol.
Evelyne menarik rambut William yang tebal, lalu dengan omelannya yang keras pun memenuhi seluruh ruangan di pagi hari. “Bajingan!! Berani kau mengungkit hal yang Evelyne menarik rambut William yang tebal, lalu dengan omelannya yang keras pun memenuhi seluruh ruangan di pagi hari. “Bajingan!! Beraninya kau mengungkit hal yang memalukan itu di waktu seperti ini?!! Apa kau memang ingin aku membunuhmu sekarang?”
“Hahaha....kalau kau membunuhku, apa kau sudah siap menjanda seumur hidup jika kau masih belum menerima kematianku?” William lagi-lagi meledek Evelyne hingga membuat wanita itu merasa muak dengan sikapnya ini.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu yang membuat keheningan seketika saat di dalam kamar yang sebelumnya penuh dengan kebisingan. Evelyne dan William saling bertukar pandang saat di pagi hari ada seseorang yang mengetuk pintu mereka, karna biasanya Dessy akan membangunkan mereka jam 07.00 dan ini baru menunjukkan pukul 06.00
“Tunggulah disini sebentar! Aku akan mengeceknya untukmu” Evelyne turun dari gendong William untuk berjalan menuju pintu, karna Evelyne tidak ingin William membukakan pintu dalam kondisi telanjang dada.
William terdiam saat melihat Evelyne membukakan pintu untuk seseorang yang ada di baliknya, dan tak lama raut wajah Evelyne seketika berubah saat ia selesai berbicara dengan seseorang itu dan menutup pintu kamarnya. “Yoona, ada apa? Siapa yang datang tadi?” tanya William dengan penasaran.
“Liam...Keluarga NIU memanggil kita untuk datang ke kediamannya” ucap Evelyne dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1