Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 63 : Mengukir sebuah senyuman jahat di wajah polosnya


__ADS_3

“Seperti yang kau inginkan!” kata William seraya bangun dari duduknya. “Pikirkanlah itu baik-baik, karna jika kau tidak membawa apapun maka dialah yang akan meminta hadiah dari mu”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, William langsung berjalan pergi menuju pintu. Namun saat di depan pintu, William sempat menghentikan langkahnya hingga membuat wanita yang sedang duduk di sofa kembali mengangkat pandangnya kearah William.


“Ada apa? Apa ada sesuatu yang tertinggal?” tanya Evelyne.


William menggeleng, “Kau tetaplah disini sampai aku kembali! Dan jangan pergi keluar dari ruangan ini, karna ini adalah tempat yang baru kau datangi. Aku tidak ingin kau tersasar hanya karna tidak mengetahui jalan disini.”


“Lalu bagaimana dengan pertemuannya?” Evelyne harus menemui CEO karna ia tidak memiliki banyak waktu untuk membuang-buangnya di tempat seperti ini. “Aku yang akan mengantarmu nanti secara pribadi, jadi tunggulah sebentar! Karna aku, tidak akan lama.”


Mendengar hal itu, Evelyne pun terdiam seraya menundukkan kepalanya. “Aku tidak akan lama, tunggulah beberapa menit. Aku berjanji, tidak akan membuatmu menunggu lama. Jadi tetaplah disini, dan jika kau merasa bosan. Maka pergilah ruangan itu” tunjuk William pada pintu yang terletak di samping ruangan. “Itu adalah kamar yang biasa aku gunakan untuk beristirahat, kau bisa menggunakannya. Di dalam juga lengkap dengan apapun, jadi aku yakin kau tidak akan merasa bosan”


“Eum...kau yakin, tidak akan lama?” tanya Evelyne dengan mengangkat kepalanya.


William mengangguk “Ya, aku yakin. Tapi kau juga harus berjanji untuk tidak meninggalkan ruangan ini sebelum aku kembali”


“Ya, aku berjanji. Pergilah! Kau akan terlambat nanti” kata Evelyne dengan mengusir William dari ruangannya sendiri.


Setelah selesai berbincang, Wiliam pun langsung meraih gagang pintu itu untuk membukanya. Berjalan keluar, lalu memberi sebuah isyarat pada seseorang saat pintu itu mulai tertutup rapat. Evelyne yang masih terdiam di dalam ruangan itu pun seketika pandangannya beralih ke kotak obat yang belum sempat William kembalikan ke tempatnya.


Jadi untuk mengisi waktunya yang kosong saat menunggu lelaki itu sampai kembali, Evelyne berniat untuk berkeliling sejenak di dalam ruangan itu. Pertama, ia. Akan berjalan menuju rak yang berisi banyak buku-buku disana. Evelyne sampai berpikir bahwa William adalah seorang lelaki yang suka membaca, tapi tidak akan heran jika lelaki ini cukup memiliki kepintaran di dalam otaknya namun ia tidak memiliki perasaan di hatinya.


Evelyne yang tengah melihat-lihat buku itu pun, seketika terdiam saat melihat sebuah foto yang kusam dan kotor tengah terpajang di atas meja sebagai pajangan di sana. Karna penasaran dengan foto tersebut, Evelyne pun mendekatinya bahkan melihatnya dengan lekat saat ia mendapati foto itu sudah terbakar hingga membuat sebagian fotonya hancur.


“Siapa ini?” Evelyne mengambil foto itu dan ia melihatnya seraya bersandar pada rak buku disana. “Apakah anak kecil ini adalah liam? Lalu siapa dua orang ini?”


Evelyne bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat melihat foto itu terdapat 3 orang yang sedang berfoto bersama. Dari posisi foto ini, seperti foto keluarga. Tapi kenapa foto ini terbakar hingga menutup kedua wajah orang itu? Dan kenapa hanya menyisakan foto William disana? Hah...melihat foto itu membuat Evelyne mengingat kembali perkataan kakek besar sebelumnya.

__ADS_1


“Jika kau bisa membuatnya terlepas dari genggaman wanita itu, berarti kau juga bisa menyelamatkannya dari masa lalunya yang gelap. Aku tahu kalian adalah sepasang kekasih yang kesepian, tapi kau harus ingat... Bahwa pernikahan ini bisa menjadi cahaya untuk mengeluarkan kalian dari kegelapan masalah.”


Evelyne menghela nafasnya, meletakan kembali foto tersebut di atas meja. Sementara ia mengusapnya wajahnya dengan kasar saat ekspresi itu berubah menjadi datar, dan di sandingi manik mata merah yang tajam. “Merepotkan sekali!! Bahkan jika pernikahan adalah cahaya, lalu kenapa disaat aku merasakan pernikahan ini, aku tidak bisa melihat cahaya itu ada?”


...--🥀🕊—


...


Ruangan rapat yang di penuhi banyak orang, kini membuat suasana di dalamnya terasa begitu panas. Beberapa orang dari mereka tampak merasa kesal saat pembicaraan mereka di mulai, ada yang mengumpat dengan kata-kata yang kejam, dan ada juga yang hanya diam namun hatinya di penuhi oleh rasa kebencian.


“Tuan besar, bagaimana dengan permasalahan ini? Bisakah kita mengakhirinya tanpa membuat suatu berita besar di kota?” tanya salah seorang lelaki dengan raut wajahnya yang cemas.


William melirik dingin “Tidak! Sebelum kita mengakhirinya, mungkin ia akan lebih dulu membuat suatu berita besar yang akan mengguncangkan dunia.”


“Shit!! Lelaki itu benar-benar licik! Aku sampai tidak menyangka, kalau dia dalang di balik ini semua” geram seorang lelaki dengan mengepalkan tangannya di atas meja.


Benar-benar tidak masuk akal!


William yang berusaha memikirkan cara bagaimana menyelesaikan masalah, pikirannya seketika melintaskan seorang wanita dengan tubuhnya yang di penuhi oleh darah seseorang. Wanita itu tersenyum kearahnya, bahkan William sendiri bisa melihatnya dengan jelas manik matanya yang jahat itu seperti iblis.


‘Sial! Disaat seperti ini, kenapa aku tiba-tiba memikirkannya?’


William mengusapkan sebagian wajahnya dengan tangan kanannya, lelaki itu tampak merasa pusing. Namun dikalanya ia merasakan itu, pikirannya selalu membayangkan seseorang yang sama hingga membuat suasana hati dan pikirannya jauh lebih tenang. Tapi sekarang ini berbeda!!


Seseorang yang biasanya muncul di pikirannya, selalu mengukirkan sebuah senyuman hangat di wajah cantiknya, tapi sekarang? Orangnya memang sama, namun penampilannya sangat berbeda hingga membuat William merasa sedikit aneh dengan pikirannya ini.


“Tuan besar, sepertinya masalah ini akan terus menyebar kemana-mana jika kita tidak mengatasinya dengan cepat” kata Nathan dengan suara pelannya ia berbisik pada William.

__ADS_1


William mengangguk saat mendengar perkataan itu, dan dengan nada yang dingin serta tegas lelaki itu membuat semua orang yang ada di sana terdiam sejenak untuk mendengarkan berbicara. “Jika dia tidak bisa di paksa untuk keluar, maka kita harus memancingnya keluar dengan sesuatu yang ia suka”


“Sesuatu yang ia suka? Seperti apa itu?” tanya salah satu lelaki.


“Aku tidak tahu apa yang dia sukai, jadi sangat sulit untuk memancingnya diwaktu yang mendesak ini” balas yang lain dengan membuat perasaan mustahil muncul di hati semua orang.


William terdiam sejenak, mengulurkan tangannya saat Nathan memberikan sebuah kertas kepadanya. “Mengetahui apa yang dia suka itu sangat mudah, karna namanya saja selalu terkenal di semua rumah bordir yang ada di dalam negara ini.”


“Ah ya, anda benar tuan. Aku pernah mendengar berita itu sejak, tapi entah kenapa sekarang beritahu itu sudah menghilang seperti tidak pernah di siarkan di kota ini” sahut salah seorang lelaki dengan menatap laptopnya untuk membuka sesuatu yang harus ia tunjukan kepada semua orang yang ada disana.


“Aku memiliki beberapa data yang pernah kusimpan sebelumnya, saat berita itu disiarkan secara besar-besaran di kota.” Kata lelaki itu saat mulai menampilkan sebuah layar besar untuk membuat semua yang ada disana dapat melihatnya dengan jelas. “Dia dulu di kenal sebagai pecandu Narkoba yang kini beralih ke pecandu ****. Entah informasi ini tidak begitu lengkap, hingga tidak bisa memberitahukan dimana ia berasal. Hanya menjelaskan dimana ia tinggal sekarang, tanpa di jelaskan latar belakangnya.”


“Lalu, kenapa dia bisa masuk kedalam perusahan ini, jika ia tidak memiliki latar belakang yang jelas?” tanya salah seorang lelaki yang mulai terbawa suasana yang serius.


“Aku tidak begitu tahu tentang itu, yang kudengar ia bisa memasuki perusahaan itu dengan cara memanipulasi seseorang agar mau melakukan semua hal yang ia inginkan.” Jawab lelaki itu dengan memberikan bukti lain di dalam laptopnya. “Aku juga menyimpan beberapa foto yang tidak begitu jelas, namun ia bisa menjadi barang bukti untuk membawa dia ke pengadilan.”


Lelaki itu menunjukkan semua foto yang tidak begitu jelas, disana menunjukan sebuah pasangan suami istri yang memiliki 2 anak putri. Mereka tampak begitu harmonis di dalam horor tersebut, namun yang membuat satu perhatian dari mata William adalah anak dari sepasang suami istri itu.


Di antara kedua anak perempuan itu, William dapat melihatnya dengan jelas jika salah satu dari mereka memiliki perbedaan yang begitu jelas. Mereka memang tersenyum di dalam foto itu, tapi entah kenapa William merasa bahwa salah satu dari anak perempuan itu ada yang mengukir sebuah senyuman jahat pada wajahnya yang polos.


Ditambah lagi, dengan manik mata merah yang tajam kini ia merasa seperti mata itu tengah tertuju kearahnya. ‘Mata itu? Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?’ batin William yang seketika melupakan sesuatu yang membuatnya sedikit dibuat bingung.


“Jadi, bagaimana menurutmu tuan besar? Apakah semua data ini bisa menjadi bukti bahwa ia bersalah?” tanya lelaki itu yang meminta pendapat kepada William yang masih terdiam cukup lama.


“Jika ia bisa memanipulasi seseorang, maka akan sulit untuk membuat data-data itu sebagai bukti. Karna bisa saja, dia berkata bahwa semua itu adalah kebohongan yang tidak pernah terjadi.” Jawab William dengan nada dinginnya.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan jika semua yang kupunya tidak bisa dijadikan bukti?” lelaki itu menatap William dengan tatapan yang berharap agar William dapat menerima semua data yang ia punya. “Kita hanya perlu membuat bukti baru dengan kesehariannya yang sekarang, dan jika kesehariannya memiliki persamaan dengan data-data yang pernah di siarkan dulu. Kau bisa menunjukannya pada pengadilan nantinya. Karna jika kita menunjukan barang bukti nyangka telah lama terjadi, maka orang lain akan menyangkalnya dengan mudah. Dan itu juga akan membuat suatu peluang untuk nya menghancurkan kita disana”

__ADS_1


Lelaki itu terdiam, memikirkan semua perkataan William ada benar juga. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana lagi melakukan sesuatu agar lelaki itu dapat di masukkan dengan penjara. “Lalu, apa keputusanmu kali ini tuan besar?”


__ADS_2