Death Of Love : Sweet But Killer

Death Of Love : Sweet But Killer
Chapter 18 : William memperhatikan Evelyne?


__ADS_3

“Yoona!!” kata William seraya menggenggam tangan Evelyne yang tengah terangkat di udara. Tangan itu gemetar dengan hebat, bahkan suhu tubuh dari evelyne secara perlahan mulai menaik. Karna tidak tahu harus berbuat apa, William pun langsung beranjak dari atas kasur dan berjalan cepat pergi kearah ruang ganti. Tak memerlukan banyak waktu, William pun keluar dari ruangan ganti dengan pakaian yang cukup rapih.


Setelah itu, William berjalan menghampiri evelyne yang masih memeluk selimut itu dengan erat. Terlihat dari samping, wanita itu masih menangis namun sudah tidak sekeras tadi. Awalnya William berniat untuk membiarkan Evelyne, tetapi saat melihat wajah dari wanita itu sedikit memerah dan nafasnya terlihat terengah-engah, membuat William dengan cepat menggelengkan kepala.


Lalu dengan perlahan, kedua tangan William mengangkat tubuh mungil evelyne dari kasur. Menggendong evelyne dalam posisi bridal style, dan hal itu membuat evelyne semakin meringkuk ditubuh bagian depan William. Tangan dari evelyne juga terus meremas kemeja putih yang dikenakannya, hingga terlihat sedikit kusut.


William yang tidak mempermasalahkan itu pun langsung berjalan keluar dari kamar, menuruni tangga dengan cepat seraya berkata “Buka pintunya!”


Kepala asisten yang tadinya ingin mengunci pintu utama pun langsung segera membukakan pintu untuk William, serta ia tertegun sejenak saat melihat William tengah terburu-buru saat menggendong evelyne. William yang tidak peduli dengan pandangan kepala asisten pun hanya berjalan terus melewatinya hingga sampai di halaman rumah tua.


Disana terdapat mobil yang tengah terparkir dan William cukup mensyukurinya karna ia tidak perlu pergi ke bagasi untuk mengambil mobil. Setelah sampai didekat mobil, William langsung membukakan pintu mobil tersebut lalu dengan perlahan meletakkan tubuh evelyne dikursi penumpang depan.


Sementara William berlari ke sisi lain mobil untuk duduk di kursi pengemudi. Menyalahkan mesin mobilnya, tetapi saat itu William tidak langsung menjalankan mobil tersebut. Melainkan ia malah mengambil hpnya dari dalam saku celana. William juga menekan beberapa tombol yang berada di layar hpnya, dan tak lama kemudian, terdengarlah suara seorang lelaki yang menjawab telpon dari William.


“Wihh Tuan besar Maxime, ada apa nih telpon malam-malam? Tumben sekali?”


“Dimana kamu?!”


“E-eh... Kenapa suaramu begitu? Apakah terjadi masalah disana?”


“Dimana kamu?!!”


“ck.. Masih dirumah sakit. Ada apa? Kenapa kau tampaknya seperti sedang ke..”


“Tunggu disana, aku segera sampai.”

__ADS_1


“Hah? Apa maksudmu?”


Tanpa menjawab pertanyaan seorang lelaki itu, William langsung mematikan hpnya lalu menyimpannya kembali ke dalam saku celananya. Dan secara sekilas, manik mata dari lelaki itu langsung tertuju kearah evelyne yang sudah agak sedikit tenang dalam tidurnya. Namun kerutan di dahinya masih terlihat begitu jelas, serta air mata yang masih meneteskan.


“Tidak perlu menahannya, jika kau ingin menangis maka menangislah!”


William mengusap kepala evelyne dengan lembut lalu menariknya kembali untuk menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Sementara evelyne yang merasakan kelembutan itu pun merasa tubuhnya sedikit terasa tenang


...__🥀🕊__


...


“Lagi dimana? Sibuk gak?” .


“Lah kok gitu? Kenapa? Dapat tugas lagi dari William?”


“Yah... Begitulah, tapi gak tahu buat kali ini apa.”


“Yaelah, paling gak jauh-jauh dari pengobatan Yoona. Tuh cewek kan biasanya suka cari masalah”


“Iya sih.... Oh ya, ada apa telpon? Tumben banget malam-malam gini”


“hehehe... Biasalah ajak ngumpul, udah lama kan kita gak kumpul-kumpul lagi gara-gara masalah pekerjaan”


“Hm... Iya sih, yaudahlah kapan-kapan lagi aja. Nanti aku sempatkan kalau ada waktu”

__ADS_1


“okey”


Lelaki dengan jas putih panjang pun mematikan telponnya saat melihat sebuah mobil masuk dan terparkir disana. Tatapan mata dari lelaki itu seketika berubah menjadi dingin, dan manik matanya terus mengunci kearah mobil tersebut.


Sampai seorang lelaki keluar dari mobil tersebut seraya menggendong seorang wanita di tangannya. Lelaki berjas putih itu pun mengerutkan keningnya, sembari berjalan menghampiri lelaki yang baru saja keluar dari mobil. “Kenapa lagi?” tanyanya dengan menatap wanita itu. “Entahlah, berteriak begitu keras dan menangis dalam mimpinya. Itu sangat mengganggu istirahatku saja” jawab lelaki itu dengan nada dinginnya.


“Yasudah, bawalah masuk! Nanti akan ku periksa apa yang terjadi dengan-Nya”


Lelaki berjas putih pun memandu jalan pada lelaki yang tengah menggendong wanita untuk masuk kedalam rumah sakit. “Apa lagi yang ia perbuat? Sampai-sampai membuatmu secara pribadi yang membawanya kesini” kata lelaki berjas putih itu di sela-sela perjalanan mereka. Sementara lelaki yang berada dibelakangnya hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan.


Hingga sampai di ruang pemeriksaan, lelaki itu terus terdiam seraya menunggu Evelyne di luar ruang pemeriksaan. Tak lama, seorang lelaki yang memakai jas putih keluar dari ruangan pemeriksaan yang membuat willian melirik nya secara sekilas. “Kupikir kau sudah pulang, ternyata masih menunggu disini?” tanya lelaki itu sembari memegang salah satu bahu william.


“Ada apa dengannya?” tanya singkat william.


Sementara lelaki berjas putih ini hanya tertawa kecil seraya duduk di samping william , “Tidak ada masalah, hanya mengalami mimpi buruk saja. Tapi kau tenang, aku sudah memberikannya sedikit obat penenang” mendengar hal itu william hanya mengangguk tanpa mengeluarkan pernyataan lagi.


“Kau tampak berbeda dari sebelumnya, ada apa?” tanya lelaki berjas putih itu yang bergantian bertanya pada william. “Tidak ada, ini masih sama seperti diriku yang dulu” bantah Williams seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. “Bukan sikap dirimu, tapi perlakuan kau terhadap wanita itu” kata lelaki berjas putih itu sembari menolehkan kepalanya kearah pintu ruang pemeriksaan.


William yang mendengar perkataan itu pun hanya terdiam, lalu kedua tangannya terangkat untuk mengusap wajah serta rambut miliknya dengan kasar. “huh... Bukan aku yang berubah, tapi dia!” William berkata dengan nada dingin namun dianggap lelucon oleh lelaki berjas putih ini. “Dia? Kau tidak bercanda kan? Dia saj...”


“Kalo gua bilang dia berubah ya berubah!” bentak William yang membuat perkataan lelaki berjas putih ini terhenti, serta memandang William dengan tatapan yang kebingungan. “William, kau?”


William yang melihat reaksi terkejut dari lelaki berjas putih itu pun membuatnya menghela nafas dengan kasar “Tatapan, perilaku, sifat dan cara bicaranya... Semua berubah! Dia seperti bukan orang yang kukenal dulu.” Kata William yang membuat lelaki berjas putih ini dengan serius menatap datar kearahnya.


“Ingin berubah seperti apa, jika dia memiliki niatan untuk menjebak mu seperti sebelumnya maka hiraukan saja!! Lagipula, kenapa kau begitu memperhatikannya? Apakah kau sudah masuk dari jebakan yang dibuat oleh wanita itu?!”

__ADS_1


__ADS_2